Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
RR2 Cinta dan Pernikahan


__ADS_3

⚘Red Rose Season2: Bercinta dengan Cinta⚘


.


.


.


"Apa tidak ada cara lain?"


Kini Jhonathan mengerti, semua akar masalah dari kesedihan sahabatnya itu adalah karena teman masa kecil mereka sedang dalam masalah besar. Meskipun tidak terlalu dekat dengan Aprilia, namun Jhonathan tau, bahwa Aprilia adalah wanita yang baik dan selalu ramah. Sudah lama sekali mereka bertiga tidak pernah bertemu, dan ketika takdir akan mempertemukan mereka kembali, justru dalam keadaan yang tidak baik.


"Aku tidak tau" Menunduk pasrah. Thomas memejamkan mata nya, berharap semua hanyalah mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi, dan ketika ia membuka mata kembali, maka ia akan bangun dan tidak terjadi apa-apa.


"Hufh... maaf Thom. Aku tidak berguna, menolong teman pun tidak tau harus bagaimana. Oh... apakah kamu sudah bertemu Aprilia? Dan, kita juga harus bertanya pada pengacara dulu tentang hal ini. Mungkin saja masih ada harapan untuk Aprilia, bisa bebas tanpa kamu harus menikah dengan Lili."


"Aprilia tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Ia bahkan berpesan pada petugas, untuk tidak membiarkan siapa pun datang berkunjung menemui dirinya. Aku juga sudah menemui pengacara. Dan, masalah ini, tidak bisa ditangani dengan mudah. Ibu mertua Aprilia adalah orang yang sangat berpengaruh di Australia. Semua orang segan terhadap dirinya dan itu juga berlaku pada pihak kepolisian disana. Mereka tidak ingin sampai menyinggung wanita tua itu."


"Hah... Semua nya adalah jalan buntu." Jhonathan ikut merebahkan dirinya pada sandaran sofa. Kedua pria itu sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Semua seperti kubangan lumpur hisap, semakin lama, semakin menyedot mereka, sehingga tidak berdaya.


Thomas merasa sangat tidak berguna dan lemah. Tanggal pernikahan nya dengan Lili pun sudah di tentu kan. Memang benar seperti yang dikatakan Tuan Rey, Thomas hanya perlu menikahi Lili, maka dengan mudah nya, Nyonya Rey setuju untuk membebaskan Aprilia. Dan lucu nya, tidak ada penolakan dari wanita itu, Lili. Tentang rencana pernikahannya dengan pria yang baru beberapa kali ia temui.


.


.


.


Beberapa minggu kemudian.


Rencana pernikahan Thomas sudah tersebar dimana-mana. Keluarga besar Zohran yang sudah menganggap Thomas sebagai bahagian dari mereka, sangat antusias menyambut kabar gembira itu. Meskipun sebenarnya dibalik kabar gembira itu, ada hati yang remuk berkeping-keping.


Kebenaran dari pernikahan itu, sengaja ditutup-tutupi, hanya Thomas dan Jhonathan lah yang mengetahui semua nya.


Apalagi keluarga besar Rey J.Tasmin, yang sangat berpengaruh di Australia. Semua akan orang berpikir pernikahan itu adalah sebuah berkah, karena hampir tidak mungkin bagi keluarga Rey J.Tasmin, mau menerima menantu dari golongan orang biasa. Karena sejatinya Thomas hanyalah anak dari pekerja keluarga Zohran, yang di didik bersama Jhonathan dan Alexander, sehingga Thomas sudah dianggap sebagai bahagian dari keluarga Zohran. Meskipun begitu, darah tetap darah, bagaimanapun dekatnya mereka tetap tidak memiliki hubungan darah.


"Thomas, akhirnya kau dewasa. Kakek sudah khawatir, jika tidak bisa melihat kau menikah dan berkeluarga, di sisa akhir hidup Kakek ini." Kakek Jhonathan tertawa sumringah. Duduk di samping Thomas, seraya menepuk-nepuk punggung pria muda itu.


"Kakek bicara apa? Kakek selama nya akan bersama kami. Kita menua bersama ya, Kek?" Thomas tersenyum dan memeluk Kakek Zohran. Seorang pria paruh baya, yang selalu hangat dan ramah padanya. Meskipun terkadang memarahi dirinya dan Jhonathan, karena selalu membuat keributan, namun Kakek adalah orang yang dikenal sangat penyayang dibalik ketegasan nya.


"Hahaha... kamu benar-benar cucu yang berbakti. Tapi Thomas, perlu kamu ingat bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan, Kakek sudah sangat tua, sudah bau tanah, hanya menunggu waktu sampai malaikat maut datang."


"Kakek bicara apa? Kakek masih sehat dan bugar, masih harus menemani cucu mu ini menikah dan mempunyai anak." Jhonathan ikut menimpali. Ia duduk diantara Kakek dan Thomas, memisahkan kedua orang itu.

__ADS_1


"Kematian itu pasti, dan tidak mengenal umur, Kek. Bisa saja yang muda lebih dulu." Thomas tersenyum getir, pahit perkataan nya, namun adalah sebuah kebenaran yang ada.


Memang siapa yang tau, kapan ajal akan menjemput. Kematian tidak pernah bisa di tunda, ataupun di majukan. Pada akhirnya semua yang hidup, pasti akan merasakan yang namanya mati.


"Aduh... kenapa suasana nya jadi sedih seperti ini? Kita disini untuk membahas pernikahan Thomas, dan tentu saja itu adalah sesuatu yang membahagiakan. Jadi, berhenti mengungkit masalah kematian, oke?" Jhonathan merangkul kedua pria di samping nya itu. Ia mencoba untuk tidak memperburuk suasana, dengan tidak mengungkit hal-hal berbau kematian.


"Jadi kapan kita akan ke rumah calon pengantin wanita, untuk membicarakan lebih lanjut tentang pernikahan?" Alexander yang baru saja tiba, langsung duduk di samping calon mempelai pengantin pria.


.


.


"Kak April...." Lili segera menghamburkan diri ke dalam pelukan wanita yang baru saja keluar dari penjara. Ia sangat senang bisa melihat wanita itu bisa menghirup udara bebas lagi, setelan bertahun-tahun terkurung di balik jeruji besi.


Berbeda dengan nya, wanita itu terlihat murung dan seperti tidak ada semangat untuk hidup.


"Beberapa tahun di dalam sana, hidup ku seperti jalan di tempat. Tapi, setelah ku pikirkan lagi, ternyata itu jauh lebih baik dari kehidupan ku sebelum nya." Tatapan wanita itu terlihat kosong, seakan menerawang jauh dari dirinya.


"Kakak sudah bebas, dan tidak akan pernah kembali lagi kesana. Jadi, tolong lupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, dan jalani lah kehidupan baru yang Kakak punya, sekarang. Dengan baik dan penuh kebahagiaan." Lili menatap wajah wanita itu, yang mana terlihat kusam dan tidak terawat. Ia merasa sedih, juga sakit, mengingat apa saja yang telah dialami wanita di depan nya saat ini. Melihat dirinya yang sekarang, berbeda jauh dari sebelum nya, yang selalu cantik dan manis, bersih dan rapi. Tapi sekarang, wajah itu telah berbeda, tidak ada lagi kesegaran, dan semangat hidup. Bahkan keluarga wanita itu telah meninggalkan nya, memutuskan hubungan demi menghindari tekanan dari keluarga Rey J.Tamani.


"Apa aku bisa? Kemana aku akan pergi, sedangkan tidak ada orang yang mengharapkan diriku. Bukankah akan lebih baik jika selamanya aku tidak ada?"


"Kamu bicara apa? Masih ada aku yang menginginkan dirimu, Lia." Thomas tiba-tiba muncul dan langsung memeluk wanita itu, dengan sangat erat.


Betapa terkejutnya Aprilia, dengan kehadiran pria itu disana. Ia tidak pernah menyangka bahwa akan bertemu kembali dengan Thomas, setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah bertemu lagi.


"Benarkah ini kamu, ThomCat? Hiks... hiks...."


"Iya, ini aku, Lia. Aku, ThomCat. Sudah, jangan menangis lagi."


"Aku malu... sekarang, aku tidak layak untuk kamu lihat. Huhuhuhu...." Tangis Aprilia pecah dalam pelukan hangat yang diberikan Thomas nya. Pria masa lalu, yang penuh dengan kenangan indah.


.


.


.


**


SEOUL, KOREA SELATAN.


"Sayang, aku tidak ikut pergi ya? Aku malas. Hari ini ingin tiduran saja di kamar." ucap Yijia, manja m. Ia masih berbaring di atas tempat tidur, dan terkadang berguling-guling seperti anak kecil.

__ADS_1


Andrew duduk di tepi tempat tidur. Gemas dengan tingkah lucu Yijia, ia pun mencubit kedua belah pipi Istrinya itu.


Cup! Ciuman selamat pagi yang manis, terasa lembut dan halus. Bibir seksi itu tidak pernah puas meluma* bibir lawannya. Selalu bertahan lama, dan menggairahkan. Jika bukan karena ia akan terlambat jika tidak pergi ke perusahaan sekarang, Andrew mungkin akan dengan senang hati menemani Istrinya seharian di rumah.


"Sayang. Baik-baik di rumah ya? Jangan rindu pada aku ya? Tapi, kalau rindu harus bertemu."


"Iya, Sayang."


"Kenapa tiba-tiba 'sayang'? Biasanya kan Oppa?" Andrew mencoba menirukan suara manja Yijia, ketika memanggilnya.


Yijia tertawa riang, melihat wajah suami nya yang juga menirukan ekspresi dirinya


"Jelek!Hahaha... Sudah berangkat bekerja saja, nanti terlambat, dimarahin Ayah."


"Baik, boss."


Cup! Satu ciuman singkat mendarat di kening Yijia. Setelah ritual pagi, pengantar kepergian suami nya bekerja, Yijia kembali ke kamar nya, melanjutkan pekerjaan nya, yaitu bermalas-malas an.


Sebenarnya, alasan Yijia tidak ingin ikut suami nya pergi ke perusahaan adalah untuk memberikan waktu pribadi pada suami nya itu. Ia tidak ingin selamanya terlihat seperti seorang Istri yang tidak mempunyai kepercayaan terhadap Suami nya, dan selalu mengikuti kemanapun pergi. Ia ingin orang-orang tau, bahwa dirinya pun sangat mempercayai kesetiaan Suami nya.


Selain itu, Yijia juga ingin memberikan waktu pada dirinya sendiri dan Andrew, agar saling merindu. Dengan adanya jarak, mereka akan saling merindukan. Ketika rindu ada, maka sebuah pertemuan akan terasa sangat manis.


Dalam cinta, jarak dan waktu hanyalah alasan. Yang membuat seseorang tidak tahan pada jarak pemisahan adalah rindu, ketika rindu sudah merasuki hati, maka setiap pertemuan akan selalu dinanti.


Setelah beberapa menit, Yijia pun akhirnya tertidur. Suasana rumah yang tenang itu benar-benar membuat Yijia tertidur lelap. Ibu mertua nya sedang pergi keluar kota untuk menghadiri pelelangan, sedangkan Ayah mertua dan Suami nya pergi bekerja. Tidak ada siapa pun yang mengganggu dirinya, bahkan para pelayan di rumah besar itu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Waktu berlalu, pagi berganti sore.


Yijia dipaksa membuka mata, ketika sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya.


Dengan setengah sadar, ia menyentuh sesuatu yang dingin di kulitnya itu. Di dapatinya tangan yang besar telah selesai melepas semua kancing baju nya, dan aksesoris lain yang menempel di tubuhnya.


Yijia sangat terkejut dan segera bangkit dari tidur nya. Sedetik kemudian kewaspadaan nya menurun kembali, dilihatnya sang Suami yang tersenyum jahil sedang duduk di atas kaki nya.


"Kamu tidur nyenyak sekali. Aku bahkan bisa memperk*sa dirimu sekarang, sayang. " ucap Andrew penuh kemenangan. Ia dengan penuh semangat mendorong perlahan tubuh Istrinya, agar kembali berbaring di atas tempat tidur.


"Oppa belum mandi!"


"Sttt... tidak baik menolak nya sekarang, sayang. Ini sudah terlanjur, mau bagaimana lagi? Nanti setelah selesai, baru mandi. Setelah itu, baru kita ulang lagi."


*Bersambung


Tetap sehat selalu

__ADS_1


I ❤ U All


Always, Keep Spirit.⚘⚘⚘⚘⚘


__ADS_2