Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
RR2 Bertemu Dengan Mu


__ADS_3

Red Rose Season2: "Reuni dengan Orang Masa lalu


.


.


.


.


"Wah... sudah lama tidak bertemu dengan Syifa, rasa nya sangat rindu." Amat memeluk Yijia dan Andrew bersamaan, ketiga orang itu saling berpelukan.


Meskipun sebenarnya Andrew sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Amat dengan nya. Ia hanya tersenyum, agar tidak membuat Amat tersinggung. Dan bodoh nya, Amat justru memanfaat kan kesempatan tersebut untuk mengata-ngatai nya di depan Yijia. Ia mengata-ngatai Andrew, mulai dari kulit putih nan mulus itu terlihat seperti kulit perempuan, sampai bentuk tubuh nya yang kurus, seperti kulit yang melapisi tulang, tidak ada daging dan lemak nya. Yijia tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan Amat, karena ia tau, bahwa Amat hanya bercanda, paman nya itu tidak benar-benar mengatakan hal itu dari hati, tapi hanya sebagai lelucon. Berbeda halnya dengan Sari. Ia mendengus kesal, dan menjewer salah satu telinga suami nya. Pria itu meringis, dan mengusap-usap bekas jeweran di telinga nya. Andrew yang tidak mengerti bahwa dirinya sekarang di jadikan bahan perolok-olokan Amat. Ia tetap ikut tertawa, melihat tingkah konyol kedua pasangan suami istri itu. Ia meraih tangan Yijia, dan menggenggam nya erat. "Apa yang mereka ributkan?" menyandarkan kepala nya di atas pundak Yijia. Ia sangat senang mengendus aroma parfum dari tubuh Istrinya, yang membuatnya merasa nyaman dan tenang.


"Tidak ada, mereka hanya bercanda."


Yijia memberikan kecupan singkat di atas pucuk kepala Suami nya, membuat pria itu mendongak kan kepala nya. Cup! sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Yijia, pria itu memeluk erat tubuh Istrinya dengan penuh kasih. Sari yang melihat hal itu merasa terenyuh, ia sangat bahagia melihat keharmonisan pasang muda itu. Begitu juga Amat, ia merangkul pundak istrinya.


"Betapa manis nya mereka. Mengingatkan diriku, sewaktu dulu kita masih jadi pengantin baru."


"Apa kita harus menikah lagi?" goda Sari. Tanpa mereka sadari, malaikat kecil yang tadi tertidur, datang menghampiri. Dengan masih mengucek-ngucek mata nya, Humair kecil yang rupawan datang mencari Ibu nya.


"Mama...."


"Ah, Humair. Anak Mama, sudah bangun ternyata." ucap Sari, membawa tubuh Humair kedalam gendongan nya.


"Humair kecil...." Yijia segera berlari menghampiri Sari, dan meminta anak itu dari Ibu nya, agar diberikan padanya. Seperti ada ikatan batin yang dalam, Humair kecil dengan cepat melompat masuk ke dalam pelukan Yijia. Ia terlihat sangat akrab dengan Yijia. Mengelus wajah cantik Yijia, Humair tersenyum riang. Melihat hal itu, Andrew ikut menghampiri.


"Oppa... lihat, ini Humair. Waktu Bibi bersalin, aku yang menemani. Aku juga pernah memandikan Humair, waktu masih sekecil ini." mengisyarat tangan nya dengan separuh dari tubuh Humair yang berada di dalam gendongan nya. Yijia terlihat sangat senang, menceritakan banyak hal tentang Humair, pada Suaminya.


Andreas merasa sedikit bersalah karena sepertinya istrinya sangat menginginkan seorang anak, bahkan setiap kali bertemu anak-anak kecil, wanita itu dengan penuh semangat memberikan perhatian nya. Ia juga ingin segera memiliki anak, bukan hanya untuk istrinya, tapi juga untuk dirinya. Anak, buah dari cinta mereka, seperti sebuah lambang cinta yang berharga. Akan selalu kekal, karena setiap melihat nya, mereka akan ingat bahwa mereka saling mencintai.


"Astaga, Syifa?!" seru seorang pemuda, yang berdiri diambang pintu rumah. Sebelum nya pemuda itu sudah memberi salam ketika masuk, namun semua orang terlalu sibuk berbicara sehingga tidak menyadari kehadiran nya.

__ADS_1


"Jadi benar, apa yang dikatakan Pak kepala desa tadi, bahwa Syifa sudah pulang." Dimas berjalan menghampiri Yijia. Ingin rasa nya ia segera menghambur diri ke dalam pelukan wanita itu, namun ia tahan, mengingat sopan santun dan norma agama yang ada, jika ia menuruti keinginan nafsu nya itu, maka ia akan sangat berdosa.


"Assalamu'alaikum. Dimas. Apa kabar?"


"Wa'alaikumussalam. Syifa. Aku baik."


Dimas menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, ia sedang berpikir bagaimana harus bersikap pada Yijia, karena sekarang wanita di hadapannya itu sudah menjadi wanita yang menikah.


"Dimas. Perkenalkan, ini Suami ku, Jae-woo."


Deg! Dimas bersalaman dengan Andrew. Senyum kaku Dimas, membuat Andrew mengkerut kan keningnya. Ia bertanya-tanya apa gerangan yang membuat pria di hadapannya itu terlihat ketakutan. Mereka baru pertama kali bertemu, tapi mengapa sudah ada hawa dingin di sekitar kedua pria itu.


"Dimas, ada apa kamu kesini?" tanya Amat tiba-tiba, tidak ingin suasana canggung itu terus berlanjut. Di raihnya pundak Dimas, lalu dibawa nya pemuda itu duduk di ujung kursi samping jendela.


.


.


.


SYDNEY, AUSTRALIA.



Dan, berakhir di sinilah acara 'liburan' Thomas. Sydney, kota terbesar di Australia, dan Ibu kota negara bagian New South Wales.


Sebuah villa mewah, megah nan indah bergaya klasik. Seluruh hamparan taman di depan villa itu di penuhi dengan bunga-bunga berbagai macam warna. Sejauh mata memandang, hanya ada keindahan ciptaan Tuhan tiada tara.


Tapi, sangat disayang kan, kedatangan Thomas ke Sydney bukanlah untuk berlibur sungguhan, melainkan menjalankan misi. Misi mencari kebebasan untuk wanita yang ia cinta. Tanpa memperdulikan harga diri dan ego nya, Thomas memohon pada Nyonya rumah untuk melepaskan wanita nya itu, dari balik jeruji besi.


"Tidak sopan!" hardik wanita tua itu, ketika mengetahui maksud kedatangan Thomas ke tempat nya.


" Siapa yang memberikan mu keberanian untuk mengungkit hal ini? Kau tau, selama 2 tahun, aku hidup dengan penyesalan dan rasa bersalah. Aku berdosa, karena telah menikahkan putra ku, dengan wanita kejam seperti Aprilia itu!" teriak wanita tua itu semakin kencang, bahkan urat lehernya pun terlihat menonjol keluar. Benar-benar menakutkan. Seandainya saja bukan demi kelangsungan hidup cinta pertamanya, selama nya Thomas tidak akan berani mengusik singa ganas di hadapannya saat ini.

__ADS_1


"Tidak semua salah April, dia juga adalah korban. Anda jangan menutup mata, dari kebenaran yang ada. Putra Anda lah yang menghianati dirinya terlebih dulu, berselingkuh lalu membunuh janin yang ada di dalam kandungan nya. Anda hanya memikirkan kebahagiaan Putra Anda, dan membiarkan dia berbuat semaunya. Tapi, bagaimana Anda akan bertanggung jawab dengan hidup April? Dia adalah wanita lemah, juga seorang manusia biasa, bisa merasa sakit dan lelah. Coba Anda pikirkan baik-baik, bagaimana jika hal itu justru terjadi pada Putri Anda, Lili! Apa yang Anda akan lakukan? Cobalah sedikit saja, bayangkan posisi Anda, saat itu berada di posisi Aplir...."


"Cukup! Pergi kamu sekarang juga, kami tidak diterima disini." wanita tua itu semakin menggila, ia berusaha menyeret Thomas keluar. Namun mau bagaimana lagi, ia sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu, sehingga membuat nafasnya menjadi sesak, dan tiba-tiba saja Bruk! tubuh wanita itu jatuh ke lantai, terlentang tidak berdaya. Thomas sangat panik, ia bersama beberapa pelayan mencoba membangunkan wanita tua itu, tapi nadi nya berdenyut lemah. Kebetulan saat itu Lili baru saja pulang ke Sydney, setelah mengambil cuti kerja di London. Ia yang mendapati Ibu nya jatuh pingsan, dan Thomas yang berada di kediaman nya merasa sangat kaget. Wanita tua itu pun dibawa ke Rumah sakit.


Sesampai nya di Rumah sakit. Wanita tua itu segera mendapat perawatan medis oleh dokter ahli. Sungguh kekayaan benar-benar bisa membeli segala nya, tapi apakah ia juga bisa membeli nyawa yang sudah diujung kehidupan? Sungguh ironis jika ia berpikir 'Ya'.


Istri lebih penting daripada pekerjaan. Contoh Pria setia dan baik hati, yang selalu mengutamakan keluarga di atas segalanya. Ayah Lili segera datang ke Rumah sakit, bersama Nathan, saudara kembar Athan, Suami Aprilia, ketika Lili menelpon nya.


"Bagaimana dengan kondisi Ibu mu?"


"Ayah... Belum, dokter masih belum memberitahu bagaimana keadaan Ibu sekarang."


Tuan Rey segera memeluk tubuh putri nya, yang terlihat sangat khawatir. Lili membenamkan wajah nya di depan dada bidang sang Ayah, dan menangis dalam pelukan hangat yang menenangkan itu.


Tuan Rey melirik ke arah Thomas berada, menimbulkan tanda tanya besar di dalam benaknya. Siapakah gerangan pria itu, dan apakah tujuan nya berada disana.


"Lili, siapa pria ini? Apakah dia pacar mu?" Tuan Rey memandangi wajah putri nya, menantikan jawaban yang akan dikeluarkan. Karena sebelumnya, beberapa hari yang lalu, anak bungsu nya itu meminta izin untuk mengikuti acara perjodohan. Meskipun sebenarnya ia melarang, namun putri nya itu tetap bersikeras untuk pergi. Hingga akhirnya, ia pun melunak, dan memberikan izin, dengan syarat pria pilihannya nanti harus di nilai langsung oleh nya.


"Ayah... bukan, dia memang pria yang aku temui di perjodohan. Tapi, sebenarnya dia adalah teman Kak Aprilia."


"April?!" Nathan yang mendengarkan pembicaraan Lili dan Ayah nya dari jauh. Ia berjalan menghampiri Thomas, dan menahan kedua bahu pria itu di hadapan nya.


"Kau harus membawa April pergi. Dia sudah sangat tersiksa. Aku sudah berulang kali mencoba membujuk dirinya, tapi dia tidak pernah mau mendengar." Nathan terlihat sangat sedih, menyesali dirinya yang tidak mampu menolong Kakak ipar nya itu.


"Seandainya saja, aku bisa mengulang waktu. Aku akan lebih berani untuk mengakui perasaan ku padanya. Aku sangat mencintai dirinya, tapi saat itu aku lebih memilih mengalah pada Kakak ku terkasih. Sungguh, aku tidak menyangka, akan berakhir seperti inilah kami pada akhirnya. Aku lemah dan bodoh, sehingga tidak bisa memperjuangkan dirinya, kebebasan nya." Nathan menyesali kebodohan nya. Cinta yang ia miliki, tapi tidak berani ia perjuangkan, dan membuat akhir dari cerita dengan sebuah tragedi berdarah.


Tuan Rey menghampiri kedua pria itu. Ia menepuk-nepuk perlahan pundak putra nya, yang terlihat sangat sedih. Ia mengerti dan juga merasakan hal yang sama. Kejadian beberapa tahun yang lalu, meninggalkan luka yang begitu dalam. Seharusnya mereka bisa menolong April dari ketidak adilan yang diberikan Athan. Namun sayang, mereka terlambat menyadari. Kalah oleh waktu, dan tertipu dengan sandiwara yang dimainkan Athan bersama selingkuhan nya.


Aprilia yang gelap mata, kalap dan akhirnya melampiaskan amarah nya yang menggunung, dengan membunuh Suami nya sendiri. Sebahagian orang sangat menyayangkan tindakan wanita itu, dan sebahagian lagi mereka justru mendukung. Karena itu adalah balasan yang pantas di terima oleh pria jahat, bajinga*, dan tidak bermoral. Bahkan hukuman itu terbilang masih sangat mudah, harusnya ia di siksa atau di mutilasi hidup-hidup. Namun itu semua hanyalah pemikiran-pemikiran salah, karena meskipun disakiti bukan berarti kita harus membalas dengan hal yang lebih kejam. Jika bisa memaafkan, lalu mengapa harus ada dendam. Tapi, manusia tetaplah manusia, mempunyai batasan dan bisa merasa sakit.


*Bersambung


Jangan lupa sebelum komentar tap ❤ dulu, atau mau promosi juga jangan lupa ❤ Biar sinkron jumlah ❤ dan komentar nya.⚘⚘⚘😊Maaf ya slow respon❤

__ADS_1


__ADS_2