Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Jangan!


__ADS_3

"Iya sayang, aku akan terus berada di samping-mu, hingga akhirhayatku."


"Benar Oppa? janji?'


"Apa aku terlihat seperti seorang pembohong?"


"Tidak, Oppa adalah pria sejati, jadi tidak mungkin berbohong padaku."


"Kalau begitu jangan menangis lagi ya sayangku? aku ada disini, selalu bersamamu."


"Iya Oppa, terimakasih karena selalu ada untukku."


"Iya sayang. Jadi, bolehkah aku tau, kamu tadi bermimpi apa? sehingga sangat ketakutan seperti itu, bahkan menangis."


"Aku takut kehilangan Oppa, aku tidak ingin berpisah dari Oppa.


"Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, kalau mimpiku tadi berkaitan dengan Jhonathan. Oppa pasti akan sedih, jika aku menceritakan semuanya. Sebaiknya aku tidak menceritakan yang sebenarnya, biarlah semua menjadi rahasiaku dan Tuhan."


"Tenanglah, itu semua hanya mimpi."


"Oppa, apakah tidak bekerja? seingatku, tadi pagi Oppa bilang...."


"Sayang, kamu harus lihat jam dulu."


"Eh, jam?"


"Kamu terlalu banyak tidur sayang, he... he... ini sudah jam makan siang, tentu saja rapatnya sudah selesai."


"Astaga, apakah aku tidur sangat lama? setelah Oppa pergi bekerja tadi pagi, aku langsung tertidur, dan sekarang sudah jam makan siang?"


"Iya, sudah waktunya kita makan siang bersama. Ayo ganti baju dulu, lalu aku akan mengajakmu makan siang di luar."


"Benarkah?" tanya Yijia bersemangat


"Iya. Ya sudah, kamu bersiap-siaplah, aku akan menunggumu diluar."


"Baiklah"


....


"Yijia!"


Seru sorang pria, memanggil nama Yijia. Tepat, ketika ia baru saja keluar dari toilet.


"Jhon!?" Yijia sangat gugup, ketika tiba-tiba langsung berhadapan dengan Jhonathan.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, ikutlah denganku sebentar." pinta Jhonathan


"E... maaf Jhon, tapi Andrew sedang menungguku di depan. Aku tidak ingin membuat Andrew khawatir, karena terlalu lama di toilet."


"Kalau begitu, beri aku kesempatan untuk berbicara denganmu lain kali, bisakah kau memberikan nomor ponselmu padaku?"


"Bagaimana ini? aku malas bertemu Jhonathan, tapi aku juga tidak ingin memberikan nomor ponselku padanya. Huh... dasar sia* sekali aku hari ini, tadi pagi memimpikannya, sekarang justru bertemu orangnya langsung. Ah tau akan begini, aku dan Oppa makan di hotel saja."


"Besok, jam 1 siang, kita bertemu di kedai kopi Kak Roy." ucap Yijia, dengan segera ia berlari menjauh dari Jhonathan. Tidak ingin memberitahukan nomor ponselnya pada Jhonathan, akhirnya Yijia memutuskan untuk membuat janji bertemu secara langsung, jika tidak, maka Jhonathan akan terus mengganggunya.

__ADS_1


"Roy? ah... aku lupa memberitahunya, bahwa Yijia telah kembali." gumam Jhonathan seorang diri


 


\*


 


"Jixu?"


"Hai Kriss, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Yah... lama tidak bertemu, aku baik Jixu. Bagaimana dengan dirimu?"


"Aku juga, hanya saja sekarang ada masalah di perusahaan Kakek-ku, jadi aku harus kebih giat berpergian keluar negara."


"Wah sibuk ya, aku tidak menyangka bahwa seorang Jixu, yang semasa kuliah dulu terkenal dengan seni lukis luar biasa, akan berakhir mengurus perusahaan, bukan kanvas ataupun kuas lagi."


"Ha... ha... semua orang memiliki jalan yang berbeda-beda, ada yang bisa dengan sesuka hati menentukan masa depan, dan ada yang terpaksa harus mengalah pada takdir. Lalu kau? apakah sekarang masih bermain dengan Coffee?"


"Aku tidak bermain, Jixu. Tapi, menyeduh kopi itu juga termasuk seni."


"Aku tau, sama halnya seperti melukis, diperlukan kesabaran dan ketelitian, agar karya yang kita tuangkan dalam seni bisa dinikmati dan diterima semua orang."


"Kriss, siapa dia?" Lisa yang merasa terus diabaikan oleh kedua pria itu, akhirnya memberanikan diri untuk bicara.


"Ah sayang, maafkan aku. Perkenalkan ini Lin Yi-Jixu, temanku saat masih kuliah dulu. Jixu, ini Istriku, Lisa."


"Hallo Tuan Jixu." ucap Lisa formal


"Ah maaf, aku lupa. Kami menikah di Inggris, jadi hanya beberapa keluarga dekat yang datang."


"Keterlaluan, kamu pasti sudah tidak menganggapku sebagai temanmu lagi ya?"


"Kau terlalu berlebihan Jixu. Daripada itu... bagaimana dengan dirimu sendiri? apakah sudah menikah?"


"Aku belum menikah, masih setia dengan kesendirian ini."


"Kenapa? ah... aku jadi takut, jikalau ternya temanku ini belok."


"Kau bercada? aku ini masih sehat, buang jauh-jauh pikiran kotormu itu."


"Ha... ha... maafkan aku."


"Hah sudahlah, lupakan saja. Oh iya... Nyonya Kriss, sudah berapa bulan kandunganmu?" tanya Jixu ramah


"Eh? kamu tau aku hamil?"


"Tentu saja. Dengan perut besar seperti itu, semua orang juga bisa tau, kalau kau sedang hamil."


"Bohong! usia kandunganku baru beberapa bulan, seharusnya tidak terlalu besar, sehingga orang bisa dengan mudah mengetahui bahwa aku hamil." bantak Lisa, tidak mau mengakui ucapan Jixu.


"Ha... ha... benar sekali sayang. Tapi kamu jangan marah dulu, Jixu hanya mencoba menggodamu."


"Aku tau, tapi ucapannya tepat sasaran." jawab Lisa seraya tersipu malu

__ADS_1


"Wah kamu benar-benar hebat Kriss, berapa kali dalam satu malam kalian melakukannya? ah... maaf, selamat... sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ayah, Kriss."


"Terimakasih Jixu. Tapi menikah benar-brnar menyenangkan, tidur, mandi dan makan ada yang melayani dan selalu menemani, benar-benar surga dunia."


"Huh... teruslah menyombongkan diri, dasar tukang pamer."


"Haha... maaf. Oh ya, aku hampir lupa, perkenalkan ini Rania dan Steve, teman satu tempat kerja."


"Hallo, saya Jixu." ucap Jixu seraya mengulurkan tangannya, menyalami Steve dan Rania secara bergantian.


"Rania"


"Steven"


"Ayo kita bicara di tempat lain, sekalian makan siang bersama. Sudah lama kita tidak makan bersama, sejak berpisah, ini adalah kali pertama kita berlumpul lagi. Tolong, jangan tolak aku." ucap Jixu memohon


"Baiklah, ayo pergi." jawab Kriss


Akhirnya, dengan sedikit rayuan dari Jixu, Kriss, Lisa, Rania dan Steve pun pergi, berjalan mengikuti Jixu yang memasuki kawasan restorant yang terkenal mewah dan berkualitas.


"Silahkan duduk."


"Sayang, kamu mau makan apa?' tanya Kriss penuh perhatian.


"Jomblo cukup jadi penonton"


"Kamu senang sekali ya?"


"Apa?"


"Jadi penonton! ayolah... sekali-kali coba untuk membuka hatimu pada para gadis, kasihan mereka yang menunggumu, membawakan balasan dari cinta mereka."


"Sudah cukup Kriss, jangan terlalu drama, tidak baik untuk kesehatan calon anakmu."


"Memang apa hubungannya dengan anak, Jixu?"


"Maaf menyela, tapi Tuan Lin...."


"Ada apa?"


"Maaf, entah kebetulan atau apa, tapi, aku merasa Tuan Lin mungkin mengenal Yijia."


"Yi? kamu mengenal Yijia?"


"Iya, aku adalah temannya, waktu dia masih tinggal di Inggris."


"Wah, syukurlah. Senang bisa mengetahuinya. Dia pasti akan merasa bangga, karena dia mepunyai seorang teman seperti Nona Rania yang baik hati ini. Aku Jixu, adalah sepupu Yijia, salam hangat dariku."


"Aku juga merasa senang. Tapi kami merasa sangat sedih, karena kehilangan kabar dari Yijia."


"Yijia sekarang berada di Inggris, melakukan perjalanan bisnis bersama bosnya."


"Apa!? Yijia kembali ke Inggris? bukankah Yijia berada di Indonesia?"


"Tidak semua benar, beberapa bulan yang lalu, Yijia telah kembali ke Korea."

__ADS_1


__ADS_2