
"Sean, apa yang kamu lakukan disini?" seorang gadis manis tiba-tiba datang menghapiri pria muda bernama Abhiseana itu, yang sedang memandangi langit dengan sendu.
Sean menatap gadis itu dengan heran, jelas ia tidak mengharapkan kedatangannya.
"Sean"
"Ada apa?" tanya Sean datar dan terkesan dingin
"Aku, kesini untuk menemani mu jalan-jalan. Onni bilang kamu akan berada di Korea selama beberapa bulan kedepan, jadi ku pikir kamu mungkin membutuhkan teman untuk mengobrol." jelas gadis itu hati-hati, suaranya yang lemah lembut dan halus, sangat menggoda.
"Nona Lee Kwang-Soo! sepertinya saya sudah sangat jelas mengatakannya pada Anda waktu itu, bahwa saya tidak tertarik tentang perjodohan keluarga kita. Jadi tolong, jangan berpura-pura menjadi teman saya."
"Aku...."
"Apa Kakak saya yang memberitahukan pada Anda, bahwa saya berada disini?"
"Onni, tidak bersalah. Saya lah yang memaksanya."
"Nona Lee tidak perlu berpura-pura baik, dengan menutupi kesalahan Kakak saya." ucap Sean sinis
"Sean...."
"Dengar! perlu Nona Lee ketahui, bahwa saya bukanlah anggota keluarga Choi, jadi berhentilah mendekati saya. Saya hanyalah orang luar, yang masuk ke dalam keluarga itu karena Ibu saya menikah dengan Tuan Choi Min-suk."
"A-aku... tidak mempersalahkan hal itu, aku tulus ingin berteman denganmu, Sean."
"Bertemanlah dengan Choi Hyo-rim, karena dia adalah Putri kandung keluar Choi."
"Sean, Onni Hyo-rim benar-benar menganggap kamu sebagai adiknya."
"Aku tidak bertanya. Sudah, pergilah dari hadapanku." bentak Sean
"Huh... dasar sombong, keras kepala. Jika bukan karena Tuan muda Jae-woo telah menikah, memangnya aku mau mendekati dirimu? di bandingkan dengan Tuan muda, kamu benar-benar tidak ada apa-apanya. Onni Hyo-rim juga keterlaluan, sebenarnya apa alasan dia memintaku mendekati bocah tengik ini? merepotkan saja."
"Baiklah, aku akan pergi. Jika nanti kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku. Aku akan sebisa mungkin segera membantu...."
"Cukup! pergilah."
Lee Kwang-Soo pun pergi meninggalkan Sean. Usahanya mendekati Sean jadi sia-sia, karena ternyata Sean jauh lebih sulit di hadapi daripada Tuan muda gunung es, Jae-woo.
"Aku harus bagaimana lagi? sangat sulit mendekatinya, apa mungkin dia tidak suka wanita?" gerutu Lee, ia terlihat mulai berasumsi yang tidak-tidak tentang sikap Sean yang acuh.
*
"Kenapa kamu memandangiku seperti itu?"
"Aku tidak apa-apa, hanya saja anak kita memang sedang ingin memandangi Ayahnya."
"Benarkah? sini biar aku bicara dengannya." ucap Kriss seraya duduk di samping Lisa, mereka terlihat sangat bahagia menantikan kehadiran calon anaknya.
"Anak Ayah, yang baik ya di perut disini, jangan menyusahkan Mamah. Nanti kalau sudah besar, bantu Ayah jaga Mamah mu yang cantik ini."
"Uh...." rintih Lisa, seraya terus memegangi perutnya.
"Ada apa sayang?" tanya Kriss mulai khawatir, melihat Istrinya yang merintih kesakitan.
"Sepertinya anak kita mulai menendang-nendang di dalam. Ini sedikit sakit karena tiba-tiba sekali, aku jadi kaget." jawab Lisa seraya tersenyum malu
"Apa itu artinya dia merespon apa yang Ayahnya ini ucapkan barusan?" ucap Kriss bersemangat
"Aku tidak tau, tapi menurutku ini pertanda baik. Sepertinya anak kita adalah anak yang sehat, dia sangat aktif."
__ADS_1
**
"Yusuf!"
"Assalamualaikum, Liya."
"Wa'alaikumussalam."
"Dimas, kenapa tidak memberi salam padaku? tapi memberi salam pada Liya?" protes Yusuf
"Ah, maaf. Tapi kan sama saja, mau kamu atau Liya yang di beri salam, pahalanya tetap ada kalau di jawab."
"Sudah jangan bertengkar. Ada apa Kak Dimas? tidak biasanya kamu kesini?"
"Ustadz Rahim ada?"
"Oh Kakak lagi pergi ke Martapura"
"Pulangnya kapan?"
"Li juga tidak tau. Tapi, Kakak Ipar sedang sakit, jadi mungkin akan lama bagi Kakak di Martapura."
"Jadi begitu, padahal ada yang ingin aku tanyakan padanya."
"Apa?!" ucap Yusuf dan Liya bersamaan
"Bukan hal serius. Sudahlah, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam "
"Kak Yusuf"
"Ya?"
"Kata Bibi, Kak Yusuf masih mengingat Yijia, apa itu benar?" tanya Liya ragu-ragu, ia sebenarnya segan untuk bertanya. Namun karena rasa penasaran nya lebih kuat, akhirnya mau tidak mau ia terpaksa mengatakannya.
"Ya, aku memang masih mengingat Yijia. Namun, sekarang aku sedang berusaha mengikhlaskan dirinya bersama pilihannya. Mungkin kami memang tidak di takdirkan berjodoh."
"Kak Yusuf, bagaimana dengan rencana perjodohan Kakak dengan Kak Asma? apa Kakak menolaknya?"
"Ada apa? kenapa kamu tiba-tiba bertanya hal itu?"
"Tidak baik bagi Kakak, jika terus menunda-nunda jawaban dari perjodohan itu." kilah Liya, mencoba memberi alasan.
Yusuf diam sesaat, ia mulai menyadari gelagat Liya yang terlihat sedang berbohong. Jelas bukan itu maksud Liya menanyakan hubungannya dengan Asma.
"Ada apa Liya? apa kamu tidak ikhlas aku menikahi Asma?"
"Bu-bukan seperti itu Kak. Hanya saja... Kak Asma mencintai orang lain, dia tidak ingin perjodohan ini sampai terjadi." jawab Liya cepat-cepat, tidak ingin Yusuf salah paham pada sikapnya.
"Sejak kapan kamu pandai berbohong Liya?"
"Kak!"
"Asma bilang sudah menyetujui rencana perjodohan kami, lalu bagaimana bisa kamu mengambil kesimpulan seperti itu?"
"Kakak sudah bicara dengan Kak Asma?"
"Liya, katakan yang sejujurnya."
"Maaf Kak, Liya salah."
__ADS_1
"Katakan"
"Itu... sebenarnya, Kak Fahri dan Kak Asma saling mencintai. Namun, tiba-tiba saja Kak Asma memutuskan untuk menyetujui perjodohan dengan Kakak. Kasihan Kak Fahri, Kak. Aku...."
"Fahri?"
"Iya, Kak Fahri adalah Guru bahasa Indonesia di SDN Smart1." jelas Liya
"Hm, baiklah. Terimakasih sudah mengatakan yang sebenarnya Liya. Kamu tidak perlu khawatir, masalah ini mungkin Asma mempunyai alasannya sendiri, nanti aku akan bicara dengannya."
"Baiklah Kak"
***
"Sayang, aku mau minum susu." rengekan manja seorang pria dewasa yang kekanak-kanakan, seraya terus mengekor di belakang sang Istri yang sedang menyiapkan makan malam.
"Iya, sabar sayang."
"Aku sudah tidak sabar, ayolah cepat."
"Oppa benar-benar sangat haus?"
"Aku haus akan cintamu sayang" jawab Andrew seraya memeluk tubuh Istrinya dari belakang, tangannya berada tepat di depan Istrinya, menempel pada dua gundukan besar di dada sang Istri.
Yijia sedikit meringis, karena Andrew mulai merem*s dua gundukan besar di dadanya. Namun ia tahan, karena rasa nyaman yang menjalar di tubuhnya seperti mendidih, tubuhnya sedikit bergetar karena sensasi dari sentuhan itu.
"Apa ini? Ternyata rasanya tidak buruk juga. Sakit, namun sangat membangkitkan gairah." pikir Yijia, yang terus menikmati setiap sentuhan dari sang Suami.
Ketika sampai pada puncak nafsunya yang sudah tidak tertahankan, Yijia segera berbalik menghadap sang Suami yang melemparkan senyum nakal ketika melihatnya. Tanpa basa-basi Yijia segera memeluk tubuh Andrew, kemudian mulai menciumi bibir sang Suami, dan melum*t habis bibir seksi itu.
Bukan laki-laki normal namanya, jika tidak tergoda dengan inisiatif sang Istri yang mulai menggila melum*t dan sesekali menggigit bibirnya itu. Andrew sangat bahagia, mendapati reaksi Yijia yang diluar dugaannya itu, saat-saat yang memang sudah di tunggu-tunggu nya sejak lama.
"Sayang... pelan-pelan." ucap Andrew disela-sela jeda pergulatan bibir mereka, memandangi wajah sang Istri yang sudah memerah membuatnya semakin bersemangat. Kini giliran Andrew yang mendominan pergulatan sengit itu. Ia menggendong tubuh sang Istri, membawanya ke tempat tidur dan merebahkannya perlahan.
Secara perlahan Andrew mulai menaiki tubuh sang Istri dan menindihnya dengan satu tangan yang menopang dirinya, agar tidak benar-benar menindih tubuh Istrinya itu.
Yijia mulai menggeliat geli, ketika secara perlahan Andrew mulai menciumi lehernya dan sesekali menggigitinya, meninggalkan bekas merah tanda kepemilikan. Andrew terus menciumi leher Istrinya, sampai ke bawah dan semakin kebawah. Sementara itu tangannnya yang kain bergerak bebas di dalam baju sang Istri, mengelus dan merem*s, membangkitkan seluruh gairah panas yang berada di dalam dirinya.
"Ah... emh...."
"Sayang, bertahanlah."
Tok... tok....
Tiba-tiba pintu kamar Yijia dan Andrew diketuk dari luar, tepat ketika Andrew akan melepaskan seluruh pakaian Yijia.
"Si*l! mengganggu saja." umpat Andrew kesal, karena moment berharganya justru di ganggu.
"Siapa?" teriak Andrew seraya memakai kembali bajunya, yang tadi telah ia lepas dan lempar kesembarang tempat.
"Maaf Tuan muda. Saya Sekertaris Ma, ada hal penting yang harus saya serahkan pada Anda."
Pintu di buka, Andrew memandangi Sekertaris Ma dengan tatapan sinis. Melihat hal itu Sekertaris Ma sedikit berkeringat dingin, ia tau bahwa dirinya pasti telah melakuakan kesalahan besar karena datang di waktu yang tidak tepat.
"Hal penting apa itu? aku harap cukup kuat untuk menyelamatkan mu dari hukuman" ucap Andrew dingin dan datar
"Be-begini Tuan muda, Nyonya besar mengirimkan ini untuk Tuan dan Nyonya muda. Beliau berkata, bahwa tonic ini sangat ampuh untuk menambah stamina." jawab Sekertaris Ma, gugup.
"Ibu?"
"Iya, Tuan mua."
🙄:Entahlah, aku juga tidak tau harus berkata apa lagi, yang pasti minta dukungan dari kalian ya🇲🇨dengan like, rate 5, vote dan jika bisa tip juga boleh 😁
__ADS_1