Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
H-2 (Bucin )


__ADS_3

H-2 Bucin?


*Tuhan


Beri Aku Cinta


Meski Tidak Semanis Gula


Setidaknya Dia Ada


Menjadi Penanda Bahagia


Tuhan


Bantu Aku Menanti Hari Bahagia


Berharap Semua Lekas Menjadi Nyata


Bersama Mimpi Dan Cinta


Aku Bersamanya Selamanya*


*


Keesokan Harinya....


Pagi yang cerah, hangatnya Mentari menyinari dunia, menyapa Yijia dengan rengekan Andrew di telpon.


"Sayang, aku merindukanmu."


"Oppa, sabar ya? tunggu besok, kita sudah bisa bertemu."


"Tapi, aku sangat merindukanmu sekarang. Ayolah, kita bertemu diluar sebentaaaar saja."


"Oppa, maaf. Ibu sudah pesan padaku, untuk sementara tidak boleh bertemu Oppa dulu."


"Tidak! aku ingin bertemu sekarang sayang, ayolah akuisaja kalau kamu juga merindukanku."


"Aku memang merindukan Oppa, tapi Ibu...."


"Sayang, kamu lebih mendengarkan ucapan Ibu dibandingkan Suami mu?"


"Bukan Suami, tapi masih calon, Oppa."


"Tapi , sebentar lagi aku akan menjadi Suamimu. Jadi, sekarang atau nanti, itu sama saja, aku akan tetap jadi Suamimu."


"Itu berbeda, nanti ya nanti, sekarang kan masih belum."


"Ayolah sayang, ayo-ayo mau ya bertemu sekarang?"


"Besok saja!"


"Sayang...."


Belum sempat Andrew menyelesaikan perkataannya, Yijia buru-buru mematikan ponselnya. Ia merasa lelah, hampir 2 jam lebih terus berdebat dengan Andrew, dari pagi buta.


"Entah kenapa, Oppa sekarang jadi lebih cerewet. Bawel dan suka merengek seperti anak kecil, membuat khawatir saja, he... he...." gumam Yijia seraya terkekeh geli, mengingat betapa lucunya Andrew.


"Yijia? kamu kenapa?"


"Eh, Jixu? kamu membuat aku kaget." protes Yijia seraya memonyongkan bibirnya

__ADS_1


"Aduh cantiknya bibir calon pengantin, yang sebentar lagi akan jadi milik Tuan muda Jae-woo."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, kamu tadi kenapa bicara sendiri? aku jadi khawatir melihatnya."


"Tidak ada, aku hanya ingin berbicara sendiri. Sudahlah, itu juga bukan urusanmu."


"Huh sombongnya, yang sebentar lagi akan menikah."


"He... he... maaf sepupuku yang tampan, kamu hari ini sama seperti Oppa, sangat cerewet."


"Oppa-Oppa, aku muak mendengarnya." cibir Jixu


"Ha... ha... iri ya? aku sarankan kamu sebaiknya cepat-cepat cari Istri, jadi tidak cemberut terus." ucap Yijia seraya mencubit kedua belah pipi Jixu, dengan riang.


"Memangnya ada yang mau denganku?"


"Ada, tidak ya? hem... Aku juga penasaran, ha... ha... bagaimana kalau kita tanya pada Kakek?"


"Kamu jangan bandel ya Yi, kalau Kakek tau, bisa-bisa aku diminta mengikuti kencan buta lagi. Aku malas melakukannya, bertemu dengan para Tuan Putri manja yang sangat menjengkelkan."


"Kenapa begitu? lalu aku, apa tidak menjengkelkan mu?"


"Kamu sepupuku, Tentu saja berdeba dengan mereka."


"Sungguh? terimakasih Jixu."


"Yijia, Jixu, cepat turun dan sarapan." teriak Ibunya Jixu dari lantai satu


"Baik Ibu, kami datang." jawab Jixu setengah berteriak, tidak ingin kalah dari Ibunya.


"Ayo" ajak Jixu, mengisyaratkan pada Yijia untuk mengikutinya ke ruang makan, yang berada di lantai 1.


"Sayang!"


"Aaaah Oppa! " teriak Yijia keget, ketika tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Sayang, aku merindukanmu."


"Oppa sedang apa disini? bagaimana bisa ada di kamarku, sementara pintu sudah aku kunci?"


"He... Aku manjat jendela kamarmu."


"Astaga Oppa, apa Oppa baik-baik saja? itu berbahaya tau, bagaimana kalau Oppa jatuh atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? apa Oppa mau aku jadi janda sebelum menikah?"


"Maaf sayang, aku sangat merindukanmu. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, percayalah padaku, ini yang pertama dan terakhir."


"Oppa janji?"


"Iya sayangku." Cup... Andrew mencium lembut kening Yijia, yang kini tengah berdiri dihadapannya. Menatapnya dengan pandangan penuh cinta, seakan tidak mau lepas darinya.


"Oppa bandel, Ibu sudah pesan untuk tidak bertemu dulu, tapi Oppa malah tidak patuh."


"Maaf sayangku."


"Tapi, aku juga sangat senang bisa bertemu Oppa."


Kini justrus Yijia yang memeluk Andrew terlebih dulu, melepas kerinduan yang menggebu-gebu.


"Em... manisnya Istriku, cantik dan perhatian."

__ADS_1


"Suamiku yang tampan dan baik hati, apa sudah sarapan?"


"He... dipelarianku kesini, aku sudah makan di resto siap saji."


"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Oppa sudah bertemu denganku, apa ini artinya Suamiku yang tampan ini akan segera pulang?"


"Aku tidak mau pulang, aku ingin terus berada disini, bersama Istriku sayang."


"Tapi, aku sibuk Oppa. bBesok adalah hari pernikahan kita, ada banyak persiapan yang harus aku kerjakan."


"Ah aku lupa, maaf-maaf. Baiklah, aku akan pulang sekarang, tapi aku ingin dipeluk dulu." ucap Andrew seraya merentangkan tangan lebar-lebar, berharap mendapat pelukan hangat dari calon Istri.


Yijia pun tersenyum, dan tanpa diminta 2kali ia segera memeluk Andrew dengan erat. Begitu juga Andrew yang sudah menantikan nya, ia sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama Yijia, meski hanya sebentar.


"Kau akan jadi milik-ku, Yi. Segera setelah hari ini, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi. Selamanya kamu adalah milik-ku, cintaku , Istriku, selamanya.


....


"Yijia, aku oleskan lulur nya di badan mu dulu ya, nanti baru di wajah."


"Bibi, apa ini perlu?" rengek Yijia


"Ini sudah menjadi tradisi keluarga, Kakekmu tidak ingin ada yang terlewat dari itu semua."


"Merepotkan saja."


"Kamu tenang saja, ada Bibi disini semua pasti beres."


"Maaf, sudah merepotkan Bibi."


"Iya sayang, tidak apa-apa."


Ting....


Sebuah E-Mail baru masuk ke ponsel Yijia, membuat Yijia terlihat sangat gugup. Ia tahu bahwa itu mungkin E-Mail balasan dari Dimas, yang ia kirim tadi malam untuk memberitahukan kepada keluarganya di Indonesia, bahwa ia akan segera menikah.


**E-Mail


Assalamualaikum wr.wb


Syifa, ini Dimas. Bagaimana kabarnya?


Aku baru saja membaca pesanmu, selamat atas pernikahannya. Aku turut senang, akhirnya kamu akan segera menikah, meski sedikit kecewa karena pria beruntung itu bukan aku, he... he...


Aku hanya bisa mendo'a kan mu dari jauh, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Aamiin....


Assalamualaikum, Syifa.


Selamat atas pernikahan mu. Bibi, Humair, dan Paman mu, sangat senang mengetahui bahwa kamu akan segera menikah. Maaf karena tidak bisa hadir di acara pernikahmu, sayang. Kami akan selalu mendo'a kan kebahagiaan rumah tangga kalian nanti. Semoga kamu dan Suami selalu bahagia, dan kelak di berkahi anak-anak yang saleh-salehah.


Dan, jika nanti ada waktu, bawalah Suami mu berkunjung ke Indonesia. Kami disini juga ingin bertemu, berkenalan dan menjadi keluarga dengannya.


Oh iya, warga desa juga mengucapkan selamat atas pernikahan mu, dan mendo'a kan semoga kamu dan Suami selalu bahagia. Aamiin


Mungkin ini saja yang dapat Bibi tuliskan, walaupun sebenarnya ada banyak kata yang ingin Bibi ucapkan. Selamat menempuh hidup baru, sayang.


Wassalamu'alaikum wr.wb*


Perlahan air mata haru Yijia mulai menetes, ia merasa bersyukur karena ada banyak orang yang memberikan dukungan dan do'a untuk pernikahannya.


Ia sempat khawatir keluarganya di Indonesia akan kecewa dan marah padanya, karena tidak memberi kabar terlebih dulu, namun ternya mereka justru sangat senang dan bahagia.

__ADS_1


Akhirnya, keraguan dan kegundahan hatinya yang sempat dirasakan, hilang seketika, bersamaan dengan datangnya E-Mail balasan itu.


"Tuhan, terimakasih atas kebahagiaan yang kau berikan padaku."


__ADS_2