
"Selamat Ustadz Rahim, semoga rencana lamarannya berjalan dengan lancar."
"Aamiin, terimakasih Syifa." ucap Ustadz Rahim seraya tersenyum ramah pada Yijia, membuat hati Yijia merasa sakit. Meskipun di depan dapat tersenyum, namun hati tidak bisa di bohongi. pedihnya sebuah perasaan yang tidak berbalas, membuat siapa pun pasti merasa kecewa dan sedih. Apalagi ia harus mengucapkan selamat dan mendo'akan-nya, bagaimana mungkin hatinya tidak tersiksa.
"Jadi seperti inilah sakitnya perasaan Yusuf, ketika perasaannya padaku tidak terbalas. Aku benar-benar bodoh, karena telah mengecewakannya. Jika aku tau akan begini, aku tidak akan meremehkan sebuah perasaan, apalagi jika itu hati. Hati ini terasa sangat sakit, meski hanya sepatah kata "Selamat". Tuhan apakah ini karmaku, hukumanku, karena telah mengecewakan laki-laki sebaik Yusuf, aku benar-benar tidak tau bahwa akan sesakit ini." Batin Yijia
"Aduhh, ini adalah kabar gembira, Bibi tidak sabar untuk memberitahu Yusuf, ia pasti sangat terkejut, karena keduluan Ustadz Rahim. He... he...." Bibi Asih tersenyum lebar, menatap Yijia dengan lembut. Sebuah sindiran untuk Yijia, dengan harapan Yijia mau membalas perasaan Yusuf, dan Yusuf bisa segera menikah dengannya.
......
*Di Rumah
"Bibi, apa ini...."
Air mata Yijia mulai mengalir dari kedua matanya, ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, ia tidak percaya dengan apa yang ia temukan.
"Maaf Syifa, maafkan Bibi, Bibi tidak bermaksud menyembunyikannya dari Syifa. Huhuhuhu...."
"Bibi... kenapa?"
"Maaf...."
"Menurut tanggal di surat ini, surat ini di kirim 3 bulan yang lalu, tapi kenapa? kepana baru sekarang Bibi?"
"Ibu...."
"Nenek?" Yijia terlihat sangat terkejut ketika Sari menyebut Neneknya, yang sudah tiada.
"Aku mengerti Bibi, tidak apa-apa." Yijia memeluk erat Sari, ia mengerti Neneknya sangat menyayangi dirinya, sehingga menyembunyikan surat itu demi membuatnya tetap tinggal. Jika saat itu ia mendapatkan suratnya, ia mungkin tidak akan bisa melihat Nenek untuk yang terakhir kalinya lagi.
"Tapi Bibi, maaf ... sekarang Syifa harus pergi"
"Syifa?"
"Menurut surat ini, Kakek Syifa di Korea sedang sakit dan ingin bertemu dengan Syifa. Syifa tidak ingin, tidak bisa mengabulkan keinginan Kakek Syifa, apalagi setelah Nenek tiada, Syifa jadi mengerti, bahwa waktu itu berharga. Sebisa mungkin Syifa ingin menghabiskan waktu Syifa bersama orang-orang yang Syifa sayangi, selagi masih di berikan kesempatan oleh Tuhan."
"Kalau begitu keinginan Syifa, maka baiklah. Bibi tidak akan mencegah Syifa, tapi ingat, jika Syifa ingin kembali kesini, maka pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk Syifa, kami akan selalu menerima Syifa kembali."
__ADS_1
"Iya Bi, terimakasih"
"Jadi kapan Syifa akan pergi? biar Bibi bisa membantu Syifa menyiapkan segalanya."
"Tidak apa-apa Bi, Syifa bisa sendiri. Syifa akan pergi besok, untuk sekarang sebaiknya kita tidur dulu, sudah malam."
"Ah iya, kamu benar. Ayo tidurlah...."
"Iya Bi, selamat malam" Yijia pergi ke kamarnya, meninggalkan Sari yang masih berdiri diam menatap ke pergiannya.
"Ibu,semoga Ibu tidak marah padaku, maaf karena tidak bisa membuat Syifa tetap berada di sini. Tapi Ibu... Ibu dengan sendirikan, apa yang dikatakan Syifa itu benar, sebuah keluarga tetaplah keluarga, meski merasa berada jauh dari kita. Kekeknya ataupun Ibu adalah orang-orang yang sangat berarti bagi Syifa." ucap Sari lirih
Sementara itu Yijia di kamarnya, hanya duduk diam menatap keluar jendela kamarnya. Merasa hembusan angin malam mengenainya, tidak membuat ia merasa kedinginan. Ia tetap diam mematung berpangku tangan diatas meja, tanpa menghiraukan hal-hal di sekitarnya.
" Bodoh! memangnya apa lagi yang bisa aku harapkan disini? Alasanku kesini adalah Nenek, dan sekarang... Nenek telah tiada. Laki-laki yang kusuka juga akan segera menikah, aku sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal. Keputusanku untuk pergi mungkin adalah yang terbaik, ini adalah waktunya bagiku untuk belajar mengikhlaskan segalanya, apalagi Kakek sedang sakit, jadi ini sudah benar untukku pergi.
Tapi... Tuhan mengapa aku tidak begitu beruntung dalam hal cinta? kenapa aku selalu di kecewakan, kenapa aku tidak bisa mendapatkan cinta? apa benar tidak ada cinta untukku? mengapa? mengapa?" Pikir Yijia, ia terus tenggelam dalam pikiran-pikirannya, sampai tidak terasa, ia pun tertidur disana.
.....
*Keesokan Harinya
"Tidak apa-apa Syifa, pergilah. Tenang saja Bibi tidak sendiri disini, masih ada Humair dan Paman-mu yang menemani Bibi."
"Iya Bi, terimakasih karena selama ini sudah menjaga dan menemani Syifa."
"Iya, sayang" Sari memeluk hangat Yijia.
"Syifa baik-baik disana ya? jangan lupa jaga kesehatan dan jika bisa kirimi surat, kabari Bibi disini."
"Iya Bi, Syifa akan mengingat pesan Bibi."
"Syifa ingat ya, jangan lupakan kami jika sudah disana?" suara lembut Amat, Suami Sari. Membuat Yijia menoleh kearahnya berada, Amat sedang berdiri menggendong Humair kecil yang lucu dan menggemaskan.
"Paman... hiks... Syifa pasti tidak akan pernah melupakan Bibi, Paman dan Humair. Kalian semua adalah keluarga Syifa, hiks... hiks...." Yijia memeluk Amat dan Humair, sebenarnya berat bagi Yijia untuk meninggalkan keluarganya, orang-orang yang sudah dengan setia menjaga dan merawatnya. Namun Kakeknya di Korea juga adalah keluarganya, sudah menjadi tugasnya untuk memenuhi keinginan Kakeknya itu, apalagi ia sedang sakit.
"Bibi, Paman, tolong sampaikan salam dan maafku kepada semua orang-orang di desa. Terutama Bi Asih, Kak Yusuf dan Ustadz Rahim, maaf karena tidak bisa berpamitan secara langsung."
__ADS_1
"Syifa tenang saja, nanti Bibi akan sampaikan"
"Terimakasih Bi, nanti di perjalanan Syifa akan mampir ke rumah Kepala desa untuk berpamitan secara pribadi."
"Iya, baiklah"
Tit...tit....
"Ah itu tukang ojeknya sudah datang Syifa."
"Iya Paman, terimakasih karena sudah membantu memanggilkan tukang ojeknya kesini."
"Sama-sama Syifa"
"Bibi, Syifa pergi...."
"Iya sayang, hati-hati di jalan ya?"
"Iya Bibi, Syifa sayang Bibi" Yijia langsung memeluk Sari, lalu memeluk Amat dan Humair secara bergantian.
"Paman, Humair...."
"Jaga diri baik-baik Syifa." ucap Amat seraya tersenyum lembut, yang langsung di balas anggukan kecil dari Yijia.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati Syifa, kami akan selalu menyayangimu sampai kapanpun"
"Iya Bi, Syifa juga sayang kalian semua, hiks... hiks...." ucap Yijia yang sudah berada diatas ojek.
"Dahh Syifa...."
Ojek yang di tumpangi Yijia mulai berjalan meninggalkan halaman rumah Sari, rumah yang sudah hampir 3 tahun lebih memberikan naungan, kehangatan sebuah keluarga bagi Yijia. Yijia menatap rumah penuh kenangan itu dengan sedih, berat bagi Yijia untuk meninggalkannya, namun mau bagaimana lagi, meski berat ia tetap harus pergi.
"Dahh Bibi, Humair...." Yijia melambaikan tangannya, hingga akhirnya ia sudah pergi jauh dan rumah penuh kenangan itu sudah tidak terlihat lagi, begitujuga Sari, Amat dan Humair kecil.
Jalanan pagi di desa masih terasa sepi, orang-orang masih sibuk menyadap karet di perkebunan hingga tidak terlalu memperhatikan orang yang berlalu lalang di jalanan.
__ADS_1
Yijia melewati jalanan desa dengan sedih, ia terus diam membisu, kenangan-kenangan selama 3 tahun ia lalui di desa terus bermunculan, menari-nari di benaknya.
Desa yang memberikannya banyak kebahagiaan, orang-orang yang ramah dan selalu menyayanginya.