
* Keesokan Harinya
Azan subuh berkumandang, samar-samar terdengar dari kejauhan. Ayam-ayam jantan mulai berkokok, saling bersahutan, memperlihatkan keperkasaannya.
Pagi buta yang gelap dan tenang, sebahagian orang masih terlelap dalam tidurnya, dan sebahagian lagi pergi menunaikan kewajiban masing-masing, salat subuh berjamaah, atau juga ada yang pergi menyadap karet.
Pagi yang tenang itu tiba-tiba berubah, dengan adanya raungan tangis beberapa orang dari sebuah rumah.
"Ibuuuu..., huhuhuhu...,"
"Hiks...,hiks..., Nenek,"
"Huhuhuhu...,"
"Ibu...,"
"Huhuhuhuhu...,"
Suara jerit tangis yang memilukan, tidak hentinya terdengar, mengundang orang-orang yang mendengarnya menjadi penasaran, hingga kerumunan orang mulai berdatangan dan berkumpul.
Terlihat di atas tempat tidur, seorang wanita tua terbaring kaku, wajahnya pucat, matanya tertutup rapat, sekujur tubuhnya di selimuti Tapih bahalai (kain khas Kal-sel), ia terlihat sangat tengan dan damai.
Berbeda dengan orang-orang yang dia ditinggalkan, mereka menatap sedih kearahnya, kehilangan orang yang mereka cintai, sungguh telah menghancurkan hati mereka.
"Nenek, jangan tinggalkan Syifa, hiks...,hiks..., Syifa janji akan menuruti semua perkataan Nenek, tolong jangan pergi Nek," Yijia terus memohon pada Neneknya untuk tidak meninggalkannya, berharap ini cuma sekedar mimpi belaka, namun apalah daya, ketika raga tidak lagi bernyawa, semua janji dan permohonan tidak lagi berarti.
"Ibu..., maafkan Sari yang belum bisa membahagikan mu, maafkan anakmu ini yang selalu menyusahkan mu, hiks...,"
"Sari, Syifa yang sabar ya?" Bi Asih mengelus-elus pelan punggung Sari, air mata menetes perlahan, berjatuhan mengenai baju Sasirangannya.
__ADS_1
"Huhuhuhu, Ibu...,"
Sari terus menangis tersedu-sedu, hatinya terasa pedih, ketika menatap Ibunya yang tidak lagi bernyawa.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," Ustadz Rahim duduk di samping tempat tidur, menatap lekat wajah tenang dan damai Neneknya Yijia, matanya terlihat merah berkaca-kaca.
Sosok Nenek yang lemah lembut, penuh kasih sayang dan selalu ramah, berhasil mencuri tempat di hati semua orang. Orang-orang desa yang mendengar kabar duka ini, segera pergi melayat ke rumah Neneknya Yijia, membacakan do'a-do'a dan surah yasin.
Mereka berkumpul dari pagi buta, saling membantu mengurus jenazah Neneknya Yijia, ada yang membantu memandikan jenazah, juga ada yang mengkafankan dan menggali kubur. Semua di kerjakan bersama, hingga proses penguburan jenazah berakhir.
Yijia duduk termenung di samping kubur sang Nenek tercinta, air matanya terus mengalir tanpa henti-hentinya.
Mengingat 3 tahun yang mereka lalui bersama, kebahagiaan yang ia rasakan semasa hidup sang Nenek, kehangatan sebuah keluarga yang telah diberikan oleh sang Nenek, benar-benar membuat Yijia merasa kehilangan.
"Syifa sayang, jangan sedih terus-terusan seperti itu, biarkan Nenek pergi dengan tenang. Jika Syifa terus seperti ini, Nenek pasti juga akan sedih ," Aminah mengelus pelan kepala Yijia, yang terus menangis di samping kubur sang Nenek, yang masih basah.
"Iya Syifa, bersabarlah. Segala sesuatunya itu sudah di tentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'alla, baik itu jodoh, maut ataupun rezeki. Semuanya sudah tertulis di Lauh mahfuz, jauh sebelum manusia itu dilahirkan.
"Bersabarlah, biarkan Nenekmu pergi dengan tenang, do'akan Nenek agar bahagia disana. Di sisi sang penciptanya, sebaik-baik tempat kembali. Tugas Syifa sekarang adalah mendo'akannya, mengiriminya hadiah-hadiah, seperti surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq, surah Yasin, dan hal-hal lain yang bermanfaat, jangan biarkan kesedihan mempengaruhi," ucap Ustadz Rahim, memberi nasehat pada Yijia. Mendengar hal itu membuat Yijia merasa tenang, ia sadar tidak ada gunanya menangisi kepergian sang Nenek, bagaimanapun menangis tidak akan dapat mengembalikan hidup Neneknya lagi. Apa yang telah pergi, tidak akan berubah hanya dengan air mata, satu-satunya jalan adalah bersabar dan mengikhlaskannya.
"Terimakasih Ustadz, atas nasehatnya, juga karena telah membantu mengurus jenazah Nenek,"
"Sama-sama Syifa, itu memang sudah sewajarnya, sebagai sesama ummat Muslim, hidup saling membantu, bahu membahu agar kehidupan bisa berjalan lebih mudah."
Yijia senang dengan adanya Ustadz Rahim, di sekitarnya. Keberadaannya membuat Yijia merasa tenang dan nyaman, sesuatu yang sulit ditemukan dari diri orang lain.
Sosok Ustadz Rahim yang ramah, hangat dan penyayang, juga sikapnya yang penuh sopan santun itulah yang berhasil memenangkan hati Yijia.
Seseorang dengan hati lembut, menyentuh hati orang lain, hanya dengan memandang wajahnya yang teduh. Ketika ia tersenyum, maka tidak ada lagi, madu yang lebih manis darinya. Namun terkadang sungguh di sayangkan, senyumnya mahal, ia memang sering tersenyum, tapi tanpa pemanis, senyum yang terkesan datar dan ramah.
__ADS_1
"Syifa, sudah sore, sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Sari tiba-tiba, ia yang sedari tadi hanya diam sambil memeluk kuburan sang Ibu, kini duduk menatap Yijia. Matanya merah dan sembab, wajahnya pucat karena belum makan dari tadi pagi, begitu kehilangannya ia, membuatnya melupakan segala hal, untungnya ia masih tidak melupakan Tuhannya, serta kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba.
"Iya Bi, Syifa akan mengikuti Bibi,"
"Ayo"
"Iya, sini Bibi bantu berdiri,Syifa." Bi Asih meraih lengan Yijia, membantu Yijia berdiri dan membimbingnya berjalan.
Sedangkan Yusuf berjalan tepat di belakang mereka, Bi Asih dan Yijia.
Di sebelah kanannya Sari dan Aminah, di susul Ustadz Rahim yang berjalan mengikuti.
......
Malam itu setelah acara tahlilan Neneknya Yijia selesai, rumah itu kembali sepi. Baik Yijia ataupun Sari, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara, semuanya larut dalam pikiran masing-masing, satu persatu kenangan-kenangan yang telah lalu mulai muncul, layaknya orang gila, kadang tersenyum, kadang juga menangis.
Begitu kehilangan, barulah akan mengerti, apa arti dari menghargai waktu yang di miliki, kesempatan-kesempatan bersama, menghabiskan waktu, berbagi cinta kasih bersama. Ada banyak hal bahagia yang bisa di lakukan, namun apalah daya, ketika maut memisahkan, semua hanya akan menjadi anang-angan saja.
Yijia duduk termenung, berpangku tangan. Menatap sendu keluar jendela kamarnya, pikirannya melayang jauh entah kemana, hanya ada tetesan air yang terus mengalir dari ke dua belah matanya yang sudah bengkak itu.
Sudah hampir satu jam Yijia duduk diam menatap keluar jendelanya, tidak jua ia merasa lelah, penat, ataupun jenuh. Ia terlelap dalam kenangannya bersama sang Nenek, sosok Ibu ke dua baginya. Setelah kepergian Ibu kandungnya, Neneklah, Ibu ke dua bagi Yijia, Ibu yang dengan tulus merawat dan memberikannya cinta, sepenuh hati.
"Padahal baru kemarin malam, aku duduk bersama Nenek disini, tapi rasanya sudah sangat rindu,"
"Baru kemaren, aku bercerita tentang sebuah kejadian menyeramkan pada Nenek, tapi ternyata kehilangan Nenek adalah hal yang paling menakutkan. Ketika Syifa tidak bisa menemui Nenek lagi, tidak bisa melihat Nenek lagi, hati ini bebar-benar merindukan kehangatan Nenek, Nenek Syifa."
"Nenek, semoga Nenek bahagia disana, tolong perhatikan Syifa, jangan lupakan Syifa,"
"Nenek, Syifa sangat menyayangi Nenek, Nenek adalah cahaya dalam hidup Syifa. Dulu jika bukan karena Nenek, entah bagaimanakah Syifa akan menjalani hidup, berkat Nenek Syifa berhasil melewati masa-masa sulit di tiga tahun belakangan ini,"
__ADS_1
"Andaikan saja Syifa bisa menukar kehidupan Nenek dengan Syifa, hiks...,"
"Huhuhuhu..., Nenek, Syifa sangat menyayangi Nenek,"