
"Tuan muda?"
"Ah, maaf. Apa masih ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Andrew setelah sadar dari lamunannya, ia tersenyum dan menatap heran kepada Sekertaris Ma yang masih berada disana.
"Tidak Tuan"
"Oh kalau begitu pergilah. Aku masih ada urusan yang harus dikerjakan."
"Ah maaf, baiklah Tuan muda. Maaf telah mengganggu waktu berharga Anda."
"Tentu saja berharga. Jika Ibu masih berniat mengirimi tonic lagi, katakan padanya bahwa Ibu mungkin akan kesulitan mendapatkan seorang cucu yang mungil." ucap Andrew dengan senyum yang ia paksakan. Tanpa mendengar jawaban dari Kesertaris Ma, Andrew buru-buru menutup pintu kamarnya.
Sementara itu, Sekertaris Ma hanya tersenyum dengan sesekali ia menggelengkan kepalanya, menyadari kebodohan nya yang telah datang di waktu yang tidak tepat. Sebelum Andrew menutup pintu, ia sempat melihat tanda merah di leher pria muda itu, dengan baju yang terkancing asal-asalan menandakan bahwa ia tengah menikmati waktu bersama Istrinya.
Sungguh tidak beruntung baginya, karena telah mengganggu Andrew, padahal sudah jelas itulah yang diharapkan oleh semua orang. Semakin banyak waktu Andrew yang ia habiskan bersama Istrinya, semakin cepat kemungkinan pewaris baru keluarga Kim muncul.
Dengan langkah gontai, Sekertaris Ma berjalan pergi, menjauh dari kamar Andrew.
Setelah menutup pintu, Andrew kembali menghampiri Istrinya ke tempat tidur. Namun sangat disayangkan, Yijia menyambutnya dengan senyum hangat di depan meja, seluruh pakaiannya telah dipakai utuh.
Gagal sudah. Kesenangannya untuk bercinta ternyata harus ditunda lagi, susah payah ia berusaha membuat moment yang tepat ternyata gagal karena beberapa botol tonic.
"Kenapa tersenyum? apa kamu senang?" Andrew mendengus kesal
"Sabar Oppa, ini ujian." jawab Yijia seraya menutup ke dua mulutnya rapat-rapat agar tidak tertawa
"Kamu memang senang mengerjai Suami mu ini."
"Sudah, jangan marah lagi. Ayo makan."
"Tapi aku ingin memakan kamu sayang"
Andrew memeluk tubuh Istrinya dari belakang, menyandarkan kepalanya pada bahu sang Istri yang tengah sibuk menyiapkan makanan.
Lagi-lagi tangan Andrew mulai bergerilya di tubuh Istrinya. Menyentuh perlahan setiap inci lekuk tubuh wanita yang kini telah resmi menjadi miliknya. Tidak ada penolakan dari pemilik tubuh, ia hanya menikmati setiap sentuhan-sentuhan sensitive dari sang pelaku yang tidak malu-malu mulai menerobos masuk ke dalam bajunya.
Kruruukkkkkkk
"Oppa... Aku benar-benar lapar" ucap Yijia dengan rona merah di wajahnya, ia benar-benar malu dengan suara perutnya di saat-saat seperti ini.
"Ha...ha... baiklah, maafkan aku sayang."
Kini wajah Andrew kembali ceria. Kejadian memalukan tadi seperti hanya angin lalu baginya, ia tidak ingin membuat Istrinya bertambah malu jika terus mentertawakannya.
"Ayo makan"
\=\=\=\=\=
Waktu berlalu, kini Andrew dan Yijia tengah menikmati hari yang indah mereka berdua di taman.
"Nona Yijia?"
Tiba-tiba seseorang memanggil nama Yijia, membuat si pemilik nama segera menoleh ke arah pemilik suara.
"Oh? Sean!" seru Yijia ketika mendapati seorang pria muda dan tampan tengah berdiri di depannya. Ia segera melebarkan senyumnya, membuat pria yang berada di samping nya mendadak cemberut.
"Iya, kita bertemu lagi. Senang Nona Yijia masih mengingat diriku."
"Lagi? kapan kalian pernah bertemu?" ucap Andrew, menyela pembicaraan Sean dan Yijia.
__ADS_1
"Yi, kenapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku?"
Terpancar aura dingin dan kecemburuan di setiap penekanan katanya. Tatapan matanya yang tajam, membuat Yijia merasa merinding.
"Oppa, jangan salahpaham. Ini Sean. Sean, ini Suami ku." ucap Yijia mencoba mencairkan suasana. Ia berniat memperkenalkan ke dua pria itu, namun tidak mendapat tanggapan dari Andrew.
"Suami?"
"Iya! aku Suaminya" jawab Andrew dingin
"Oh maaf, aku tidak bermaksud mengganggu. Aku dan Nona Yijia hanya berteman."
"Berteman lah dengan wanita lain, dan jauhi Istriku." tegas Andrew mengintimidasi
"Oppa... jangan seperti itu. Berteman itu pada siapa saja, tidak ada batasan dalam pertemanan."
"Aku tidak suka kamu berteman dengan pria manapun."
"Oppa cemburu?"
"Iya, karena kamu Istriku."
"Uh manisnya."
Yijia segera memeluk tubuh sang Suami seraya mencubit pipinya dengan gemas, wajahnya terlihat sangat senang mengetahui sang Suami yang mulai posesif padanya.
"Cemburu itu tanda cinta"
"Uhuk... uhuk... maaf Nona Yijia, seperti saya harus pergi dulu. Sampai jumpa di lain waktu." ucap Sean dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ia berjalan pergi menjauh dari ke dua suami istri yang tengah asik bermesraan itu.
"Sampai jumpa Sean... terimakasih ya... hati-hati di jalan." ucap Yijia riang gembira
"Sayang, kamu sedang menggoda ku?"
"Oppa menggunakan parfum apa? sangat wangi" Yijia mendongakkan kepalanya, memandangi wajah sang Suami.
"Benarkah? ayo cium lagi... tebak parfum apa yang aku gunakan."
"Tidak mau. Aku hanya ingin bilang, sebaiknya Oppa tidak menggunakan parfum itu lagi."
"Kenapa?"
"Baunya sangat menggoda. Aku tidak ingin ada wanita lain yang menciumnya."
"Jadi sekarang Istriku sedang khawatir akan ada wanita yang tergoda dengan parfum ku?"
"...."
"Kamu khawatir sama parfum atau sama aku?"
"Aku lebih khawatir jika kehilangan Oppa"
"Jangan khawatirkan apa pun. Aku hanya milik mu, Kim Yijia."
"Kim?"
"Mulai sekarang, kamu adalah Nyonya Kim... Nyonya Kim Jae-woo. Selamanya hanya akan ada satu Nyonya di rumah kita, yaitu dirimu sayang."
"He... he... sangat manis Oppa. Oppa selalu memberi kehangatan padaku, sesuatu yang selalu aku inginkan di hidup ini."
__ADS_1
"Semoga kita selalu bersama... Selamanya." ucap Andrew, perlahan ia mendekatkan kepalanya ke depan kepala Yijia, menyatukan keduanya, sehingga mereka saling bertatapan.
Perasaan hangat menyelimuti hati mereka. Kebersamaan, manisnya cinta, benar-benar terasa ketika kita bersama dengan orang yang benar-benar di cinta.
"Oppa adalah Matahari di hidupku. Hangat dan nyaman."
"Dan kamu adalah bumiku, rumahku tempat dimana seharusnya aku berada."
"Oppa...."
"Hm? iya sayang?"
"Sampai aku menutup mata. Aku ingin hanya Oppa orang yang berada disisi ku... Selamanya."
"Menantikan hari dimana kita menua bersama, hidup dalam kebersamaan, menikmati sehari-hari an yang bahagia berdua. Aku janji akan selalu berada disisi mu sayang... Selamanya."
Keduanya kembali berpelukan. Nuansa romantis di bawah pohon sakura yang rindang, bunga-bunga sakura mulai berjatuhan bersamaan dengan hembusan angin yang mulai bertiup.
"Andai waktu bisa berhenti. Aku ingin menghentikan waktu disaat ini, bukan karena tidak bahagia, tapi ini adalah hari yang paling bahagia di hidupku."
"Tidak sayang... aku janji masih akan ada hari-hari bahagia lainnya yang menunggu mu. Kita masih harus berjalan ke depan, membangun rumah kita sendiri dan memilik anak-anak kita sendiri."
"Iya Oppa. Selama itu bersama Oppa, maka aku pasti akan selalu bahagia."
"Mari berjalan bersama-sama, menuju masa depan bahagia milik kita."
"Hanya milik kita"
"Selamanya milik kita"
\*
1 Bulan Kemudian
Hari demi hari berlalu, waktu ke waktu berjalan. Kini Yijia dan Andrew tengah duduk bersama di balkon kamar mereka. Menatap kedepan, jauh... sejauh mata memandang.
"Aku ingin terus seperti ini bersama Oppa"
Yijia menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang Suami, yang perlahan mulai mengulus kepala nya dengan penuh perhatian.
"Aku juga ingin seperti ini selamanya. Hanya ada kamu dan aku, tanpa ada gangguan dari luar. Tapi, sayang, meskipun begitu, kita tetap masih memiliki tanggung jawab pada pekerjaan dan orang-orang rumah."
"Jadi... apa kita akan pulang?"
"Kalau tidak pulang, memangnya kamu tidak merindukan Kakek?"
"Aku rindu, bahkan sangat rindu. Kakek, Paman Yi-jui, Jixu dan Ayah, Ibu."
"Kalau begitu berarti kita harus pulang"
"Hm... baiklah."
\=\=\=
😁: see all, seperti janji update di akhir bulan😆 Jangan lupa, Like, Rate 5, dan Vote✔
__ADS_1
See you next update😘