
*
Setelah penuh pertimbangan Jhonathan akhirnya terpaksa menyetujui permintaan sang Kakek untuk segera melangsungkan pernikahan dengan Willona. Begitu juga keluarga besar Julius, meskipun Tuan Julius cukup memperhatikan keadaan Yijia sekarang, tapi kebahagiaan Putri-nya jauh lebih penting untuknya.
Willona sangat bahagia akhirnya dapat segera menikah dengan Jhonathan, cinta yang sempat tertunda 3 tahun, kini akhirnya benar-benar akan berlabuh ke jenjang pernikahan. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, merupakan tingkat tertinggi dari sebuah hubungan, yang akan menyatukan mereka satu sama lain.
Tanpa menunda terlalu lama, pernikahan Jhonathan dan Willona pun segera di gelar.
Mesjid Sentral London atau The London Central Mosque and Islamic Cultur Centre (ICC) bertempat di Regent's Park. Mesjid yang begitu terkenal di Inggris Raya. Dibangun sebagai bentuk penghargaan kepada kaum muslimin di Inggris Raya yang telah turut serta membela inggris dan sekulu selama perang dunia II.
Akad nikah dan resepsi pernikahan dilaksanakan pada hari yang bersamaan,setelah akad nikah berjalan, maka akan segera di lanjutkan dengan acara resepsi pernikahan.
Proses akad nikah di selenggarakan di masjid yang di pimpin langsung oleh salah satu dari imam Masjid. Selama proses akan nikah berlangsung, Jhonathan tampak sangat serius dan berkonsentrasi. Bagaimanapun ini adalah hari pernikahannya, yang akan menjadi begitu bersejarah dalam hidup-nya, ia tentu saja tidak ingin ada kesalahan.
Sedangkan resepsi pernikahan diselenggarakan di ruang serbaguna ICC yang sudah di tata sedemikian rupa untuk penyelenggaraan resepsi pernikahan yang sesuai dengan syariah islam. Willona dan keluarga besar Julius dan Zohran sudah berkumpul disana, menunggu pengantin pria datang.
Tidak lupa Roy dan kelurga nya juga turut hadir memeriahkan acara pernikahan tersebut. Keluarga Marcus, Maharani dan kedua orang tuanya dan beberapa pejabat penting lainnya juga ambil bagian dalam acara itu.
Setelah proses akad nikah selesai, Jhonathan segera pergi menuju ruang serbaguna ICC. Diikuti Thomas dan Ayah Jhonathan, lalu Ayah dan Kakak Willona, Morgan Julius. Untuk segera melangsungkan resepsi pernikahan, agar tidak membuat para tamu undangan menunggu terlalu lama.
Kebahagiaan terpancar dari raut wajah Willona. Dengan balutan gaun pengantin berwarna biru muda, mahkota tiara emas, Willona menghampiri Jhonathan yang baru tiba, sedang menunggu-nya diatas singgasana pengantin mewah berwarna putih dan keemasan.
Setelah hampir sampai pada Jhonathan, Willona menghentikan langkah-nya. Ia tertunduk malu, kedua pipi nya merona. Jhonathan mengulurkan tangan-nya kearah Willona berdiri, disusul senyum menawan Willona meraih tangan Jhonathan dan berjalan mendekat.
Pemandangan yang benar-benar membuat orang menjadi iri.
Acara pernikahan Jhonathan juga mendapat sorotan dari Media massa, Koran dan Televisi. Para Wartawan berlomba-lomba mengambil gambar terbaik yang bisa mereka dapatkan, walaupun mereka hanya dapat masuk sampai halaman Masjid dan tidak di perbolehkan masuk ke dalam ruang serbaguna ICC. Namun untung-nya para Wartawan juga masih disuguhkan makanan dan minuman pesta oleh pihak Masjid yang mengatur penyelenggaraan nya.
Acara pesta pernikahan berjalan dengan lancar, tidak ada satu pun masalah yang terjadi. Semua telah di persiapkan dengan matang dan terperinci, semua orang berpendapat bahwa pernikahan Jhonathan dan Willona adalah pernikahan paling sempurna abad ini.
* Sementara itu dilain tempat
....
__ADS_1
* "St Thomas 'Hospital"
Lisa dan Rania sedang menonton Televisi yang di sediakan oleh Rumah sakit di ruang VVIP, kamar Yijia dirawat. Lisa menyaksikan siarang langsung dari acara pernikahan Jhonathan dan Willona yang di selenggarakan di Masjid Sentral London. Meskipun tidak terlalu banyak gambar yang mereka dapat dari menonton Televisi.
"Akh akhirnya mereka menikah juga"
"Itu mungkin sudah jodohnya Lisa, jalan mereka untuk bersama lebih mudah dari Yijia kita"
"Tapi apa mereka tidak keterlaluan yah? masa menyelenggarakan pesta yang begitu mewah, sementara Yijia masih terbaring lemah."
"Orang kaya memang begitu, wajarkan mereka punya uang dan kekuasaan. Sayang jika tidak digunakan, apalagi ini adalah pernikahan Tuan Muda dari keluarga Zohran, tentu saja harus mewah.
"Kamu bicara seperti itu, memuji apa mencibir?" Lisa tertwa menanggapi pernyataan Rania, yang masuk akal dan logis, tapi juga tajam.
Tanpa mereka sadari, jari-jari tangan Yijia mulai bergerak-gerak pelan, matanya juga mulai bergerak seakan merespon sinar matahari yang sedikit mengenai matanya.
Semakin lama gerang tangan Yijia mulai bertambah, bukan hanya tangannya kini mata-nya mulai terbuka. Saat itu Rania menoleh kearah Yijia, ia terkejut saat melihat Yijia membuka matanya.
"Yijiaaaaa" Rania berlari menghampiri Yijia yang berada diatas tempat tidur, begitu juga Lisa yang segera ikut menghampiri setelah tau Yijia telah bangun.
"Oh iya" dengan cepat Lisa berlari keluar ruangan memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Yijia.
Tidak memakan waktu lama Lisa sudah kembali keruangan bersama seorang dokter. Segera setelahnya dokter langsung mulai memeriksa keadaan Yijia dengan teliti.
Tidak lupa seorang suster juga ikut masuk dan mulai mencatat apa saja yang dikatakan oleh dokter.
Lisa dan Rania berdiri dibelakang, mereka tidak ingin jika dokter merasa terganggu dengan keadaan mereka. Setelah dokter selesai memeriksa Yijia, barulah Lisa dan Rania berani bertanya.
"Bagaimana?"
"Pasien sekarang baik-baik saja, masa kritis nya sudah berlalu. Dan tidak ada kerusakan pada organ dalamnya yang dapat membahayakan nyawa-nya lagi. Begitu juga dengan jahitan operasi-nya, masih bagus."
"Jadi apa Yijia akan sembuh?" Lisa penuh harap, ia berharap agar Yijia dapat menjalani hidup nya dengan normal lagi.
"Tentu saja, ini hanya masalah waktu saja. Dengan beristirahat yang cukup dan menjaga pola asupan makanan, pasien akan akan dapat segera pulih sepenuh-nya."
__ADS_1
"Lalu apa sekarang dia sudah di bolehkan pulang?" kali ini giliran Rania yang bertanya.
"Tidak, untuk sekarang anda tidak bisa membawa pasien pulang dulu, pasien harus banyak beristirahat disini agar kami dapat terus memantau perkembangan kesehatan pasien"
"Ah iya Dokter, terimakasih atas penjelasan dan bantuan anda, kami benar-benar bersyukur Yijia dapat kembali sadar" Lisa menyalami dokter dengan kedua tangan-nya.
"Tentu, itu sudah jadi tugas kami sebagai Dokter"
"Kalau tidak ada apa-apa lagi yang ingin ditanyakan lagi, maka saya permisi dulu. Masih ada beberapa pasien yang harus saya periksa."
"Iya Dok, terimakasih" Lisa dan Rania membungkuk secara bersamaan sebagai rasa terimakasih kepada dokter yang telah memeriksa Yijia.
Dokter dan Suster pergi meninggalkan ruangan Yijia dirawat, kepergiannya diantar Lisa sampai di depan pintu. Setelah dokter pergi, Lisa segera menutup pintu dan kembali menghampiri Rania dan Yijia.
"Yi, bagaimana perasaan mu sekarang? apa sudah baikan?"
"Apa ada yang sakit Yi?"
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Apa kamu mengingat kami?
Rania dan Lisa terus menerus melemparkan pertanyaan tanpa memberi Yijia kesempatan untuk menjawab, Yijia tersenyum melihat kedua temannya itu, pertanyaan yang terus bersambung seperti Rel Kereta Api.
Pelan Yijia mulai menggerakkan tangan-nya, ia menunjuk kearah depan, tempat Televisi diletakkan menempel di dinding. Terlihat Televisi sedang menyala dan masih menayangkan secara langsung proses pesta pernikahan Jhonathan dan Willona.
Lisa kaget, ia lupa mematikan Televisi ketika Yijia sadar tadi. Lisa sangat menyesal karena menyebabkan Yijia harus menyaksikan pesta pernikahan Jhonathan, ia yakin Yijia pasti merasa terluka lagi, hatinya pasti akan sakit.
"Ja..ngan be..rita..hu Jho..n, bah..wa a..ku su..dah sadar" pekan Yijia, suara nya masih terdengar bergetar. Mungkin karena barusaja tersadar kembali.
"Eh baik Yi, jika kamu mau kami merahasiakan ini, maka kami tidak akan memberitahukan-nya pada siapa pun" Lisa menggenggam tangan Yijia
"Te..rrrima..ka..s..sih" Yijia tersenyum kearah Rania dan Lisa.
"Iya Yi, kamu tenang saja" Rania memeluk Yijia.
__ADS_1