
*
* Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta
" 09 . 02 " Pagi, Waktu Indonesia.
Indonesia dan Inggris, memiliki perbedaan waktu 6 jam. Jika Indonesia jam 9 pagi, maka Inggris masih jam 3 pagi.
Pesawat terbang yang Yijia tumpangi sudah mendarat di Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta, atau yang juga sering di sebut sebagai Bandar Udara Cengkareng. Karena letaknya yang berdekatan dengan wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Meskipun secara geografis berada di kecamatan Benda, Kota Tangerang.
Bandar Udara ini merupakan sebuah Bandar Udara Utama yang melayani penerbangan untuk Jakarta, Indonesia. Bandar Udara ini juga diberi nama sesuai dengan nama Dwitunggal Tokoh Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Mohammad-Hatta, yang sekaligus merupakan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama.
Setibanya Yijia di Indonesia.Setelah melewati penerbangan selama 16 jam lebih, dan harus Transit ke Singapura dulu. Walaupun selama perjalanan Yijia dapat tidur di pesawat, namun ia tetap merasa lelah. Maka dari itu, setelah keluar dari Bandara, Yijia segera pergi mencari Hotel untuk menginap, dan agar dapat segera beristirahat.
Berdasarkan saran dari sopir Taxi yang Yijia tumpangi, ia menyarankan agar pergi ke Bandara Internasional Hotel, Managed by AccorHotels.
Hotel Bandara ini berjarak 1,5 Km dari Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta dan 13 Km dari Museum Benteng Heritage. Selain karena dekat, Hotel ini juga merupakan Hotel Bintang Lima.
Setelah mendapatkan kamar di Hotel Bandara, Yijia segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
.....
* Keesokan Harinya
Setelah beristirahat dengan cukup dan sarapan pagi di Hotel, Yijia memutuskan untuk pergi jalan-jalan keliling Jakarta. Memulai petualangan baru hidupnya, mengunjungi tempat-tempat yang sangat asing bagi Yijia, dan budaya yang beragam. Ia mulai menyusuri jalanan Ibu Kota Jakarta, Indonesia.
Mengunjungi tempat-tempat baru, Tugu Monas (Monumen Nasional), Mesjid Istiqlal, Kota Tua Jakarta, dan tempat-tempat lainnya yang merupakan Icon kota Jakarta.
Setelah beberapa hari tinggal di Ibu Kota Jakarta, mengunjungi berbagai tempat-tempat yang menarik. Yijia akhirnya siap berangkat kembali, menuju Pulau Kalimantan.
Yijia memutuskan untuk segera menemui keluarga dari Ibunya. Berharap akan ada perubahan baru didalam hidupnya.
*
__ADS_1
* Bandar Udara Internasional Syamsuddin Nor
Hanya memerlukan waktu kurang lebih dua setengah jam dari Jakarta untuk sampai di Bandara Udara Internasional Syamsudin Noor, Banjarmasin. Kini Yijia sudah berada di Kalimantan.
Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor, adalah Bandar Udara yang melayani Banjarmasin di Kalimantan Selatan,Indonesia.
Letaknya di Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Kalimantan selatan, mempunyai sebuah Kota bernama Banjarmasin yang juga dikenal sebagai Kota Seribu Sungai, Kota terbesar di Kalimantan Selatan. Tidak hanya Banjarmasin, juga masih ada Martapura yang juga disebut sebagai Kota Serambi Makkah. Namun perjalan Yijia tidak terhenti di dua Kota itu saja, karena keluarga Ibunya berada di Rantau Kota Bastari.
Sesampainya Yijia di Rantau, ia mulai menelusuri jalanan pedesaan. Berbeda dengan Ibu Kota Jakarta, yang dipenuhi bangunan-bangunan tinggi dan mewah. Kalimantan selatan di dominan dengan Perkebunan Karet dan ada juga Pertambangan Batu bara.
Selama perjalanan yang Yijia lihat hanyalah Perkebunan Karet yang berpuluh-puluh hektar luasnya.
"Nona, kita sudah sampai" tukang ojek memberhentikan motorny tepat di depan rumah Kepala desa.
"Terimakasih" Yijia turun dari atas motor dan kemudian mengeluarkan uang yang sudah ia tukarkan di Bank, untuk membayar tukang ojek tersebut.
"Terimakasih kembali" tukang ojek segera memutar balik motornya dan tidak perlu lama ia sudah memacu cepat motornya meninggalkan Yijia.
"Cari siapa?" tanya wanita paruh baya itu ramah
"Em ini benar rumah Kepala desa Citra Permai?"
"Iya, ayo sini masuk, kita bicara didalam" ajak wanita paruh baya itu, sebuah senyum terukir di wajahnya, membuat Yijia merasa tenang mengikutinya.
"Ayah, ada yang datang, katanya mencari ayah" panggil wanita paruh baya itu pada seorang pria tua, dari dalam rumah.
"Iya, sebentar" ucap pria itu berjalan menghampiri
Wanita paruh baya itu mempersilahkan Yijia duduk disalah satu kursi kayu yang tersusun rapi, Yijia menatap dinding kayu didepannya, disana terpajang sebuah lukisan cantik.
Didalam lukisan itu terlihat sebuah sungai yang bening, di dalam sungai itu ada sebuah batu besar mencuat di permukaan. Juga ada sebuah rumah dipinggir sungai itu dan sepanjang aliran sungai terlihat banyak pohon-pohon besar dan rindang, daun-daunnya ada yang berwarna hijau, juga ada daun-daun kering, berwarna jingga. Mungkin sang pelukis mengisyaratkan bahwa saat itu sudah berada di musim gugur.
Yijia menatap lama lukisan itu, dari dalam lukisan terpancar sebuah ketenangan dan kedamaian, seperti ada angin sejuk yang mengenainya. Yijia terlelap dalam lamunannya tentang lukisan tersebut.
"Nona ini siapa dan darimana?" Kepala desa membuyarkan lamunan Yijia, kemudian ia duduk di kursi kayu yang berada tidak jauh dari Yijia.
__ADS_1
"Ada keperluan apa Nona kemari?" pria tua itu bertanya ramah dan juga terlihat berwibawa.
"Perkenalkan, saya Lin Yijia, saya dari Inggris." Yijia memperkanalkan dirinya sopan
"Inggris? jauh sekali"
"Iya, saya kesini untuk mencari keluarga Ibu saya"
"Siapa nama Ibu mu?"
"Nandea Afathonah"
"Oh, dimana dia sekarang?"
"Ibu saya sudah meninggal dunia, satu tahun yang lalu"
"Maaf, saya turut berbela sungkawa" Kepala desa merasa tidak nyaman mengungkit Ibunya Yijia, yang sudah tiada.
"Tidak apa-apa" Yijia tersenyum ramah
"Hm jika tidak salah, Fathonah itu adalah anak dari Almarhum Bapak Terbani dan Ibu Nanda, yang kurang lebih 23 tahun lalu pergi meninggalkan desa ini. Iyakan Bu?" Kepala desa itu terlihat ragu-ragu, ia bertanya kepada sang Istri yang kemudian dibalas anggukan kecil oleh sang Istri yang baru saja datang dari dapur, membawa teh untuk Kepala desa dan Yijia.
"Saat itu saya masih baru menjadi Kepala desa. Fathonah saat itu berusia 20 tahun, sama seperti anak perempuan sulung saya. Ia dipersunting oleh pria asing yang sedang bekerja disini waktu itu, setelah menikah mereka pergi dari desa ini dan tidak ada kabar apa pun lagi" Kepala desa kembali mengingat-ngingat. Dilihat dari fisiknya, Kepala desa diperkirakan sudah berusia 60 tahunan lebih.
"Benar, Ayah saya awalnya berkebangsaan Korea. Namun karena pekerjaan, lagi-lagi Ayah harus dipindah tugaskan ke Inggris."
"Ah benar ya, tidak menyangka dalam hidup ini aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan, dapat bertemu dengan anak dari Fathonah." Kepala desa tersenyum lebar, ia merasa bersyukur dapat bertemu Yijia.
"Benar dan kau sangat cantik Nak" wanita paruh baya, yang merupakan Istri dari Kepala desa ikut berbica. Ia tersenyum lembut menatap Yijia
"Terimakasih"
"Sayang sekali Ibumu sudah tiada, nenek mu pasti sangat merindukannya" Kepala desa terlihat muram saat menyayangkan kepergian Ibunya Yijia
"Tapi karena kamu sudah disini, tinggalah. Temui Nenek mu, dia pasti senang dapat bertemu dirimu."
"Iya, bisakah anda memberitahu saya, dimana rumah Nenek?"
"Tentu-tentu, mari kita pergi kesana. Saya akan langsung membawa mu pergi kerumah Nenek mu itu" Kepala desa terlihat begitu bersemangat, ia segera berdiri dan mengajak Yijia pergi.
__ADS_1