Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Lelahku Sirna


__ADS_3

"Iya, kalau begitu aku keluar sekarang. Kamu bersih-bersih dulu dan segera istrahat, tunggu pelayan membawakan makanan di kamar saja."


"Siap bos."


Jixu berjalan keluar dari kamar Yijia, membiarkan Yijia beristirahat setelah berkerja seharian, adalah hal yang tapat ia lakukan.


"Oh Ayah?"


"Apa Yi baik-baik saja?"


"Iya, dia baik-baik saja, tapi, kelihatannya dia cukup kelelahan. Ayah tau sendiri, bekerja dengan Tuan muda Jae-woo itu tidak mudah."


"Aku rasa pemuda itu tidak akan menyusahkan Yi, dia...."


"Kenapa Ayah begitu yakin? dan lagi, kenapa Presdir Kim tiba-tiba membatalkan permintaannya mengenai pengalihan saham itu, apa sebenarnya yang dia inginkan? ini tidak sesederhana yang aku bayangkan."


"Jixu, kamu terlalu banyak berpikir. Sudahlah, sebaiknya kamu pergi istrahat ke kamar, sekarang."


"Ayah, katakan padaku, Presdir Kim pasti menginginkan hal lainkan?"


"Nanti kamu akan tau, lagipula itu bukan hal yang buruk, jadi tenanglah."


"Bukan hal buruk?"


"Aku tidak ingin membahas ini lagi, sebaiknya kamu patuh pada perkataan Ayah."


"Apa Kakek juga mengetahui hal itu?"


"Ya, selama itu menguntungkan untuk keluarga. Kakek pasti akan setuju, lagi pula Presdir Kim dan keluarganya bukanlah orang yang jahat. Bisnis tetap bisnis, tapi keluarga... adalah hal terpenting."


"Apa ini ada hubungannya dengan permintaan Presdir Kim? meminta Yi menjadi Sekertaris Tuan muda... Ayah! apa...."


"Cukup Jixu, Ayah pergi sekarang." belum sempat Jixu menyelesaikan ucapannya, Tuan Lin buru-buru mencegatnya.


"Ayah!" seru Jixu, ia mencoba mengejar kembali sang Ayah yang berjalan pergi, meninggalkannya.


"Jixu, sudah cukup. Jangan ganggu Ayahmu, sebaiknya kamu pergi ke kamar."


"Ah... Ibu, sejak kapan Ibu ada disini?"


"Sejak tadi, sudah sekarang kembalilah ke kamarmu. Besok kamu harus kerja lagi, jangan sampai kelelahan."


"Baik Ibu."


"Oh iya, tolong minta pelayan mengantakan makanan ke kamar Yi, dia belum sempat makan."


"Iya."


"Terimakasih Bu, kalau begitu aku pergi sekarang. Selamat malam." ucap Jixu seraya mengecup kening Ibunya


"Iya sayang, pergilah."


*

__ADS_1


"Hufh... akhirnya... Korea! aku datang."


"Hei Rania, pelan-pelan jalannya."


"Iya sayang."


"Akhirnya kita bisa liburan."


"Iya Lis, aku sangat senang." ucap Rania seraya merangkul pundak sahabatnya itu.


"Steve, kamu kenapa diam saja?


"Kriss, Steve memang begitu. Kamu ini seperti baru pertama kali kenal dia saja, kita udah berteman berapa tahun? masih tidak mengerti?"


"Iya bawel, mentang-mentang pacarnya dibela terus."


"Sudahlah sayang, biarkan mereka. Jangan berdebat sama 'Ratu Bucin' ini, nanti calon Baby mu sakit pendengannya." ucap Lisa seraya mengelus-elus perutnya pelan. Kriss yang melihat tingkah Istrinya itu, ikut mengelus pelan perut Istrinya dan sesekali menciuminya.


"Semoga anak Ayah, selalu sehat di dalam perut Ibu, ya sayang."


"Baru tiga bulan Kriss, mana bisa dia mengerti ucapanmu." ucap Steve datar


"Yang belum nikah, sebaiknya diam. Kamu hanya belum merasakan senangnya, seorang Suami yang akan segera memiliki anak."


"Iya sayang, sebaiknya jangan ganggu mereka. Aku jadi 'Baper' huhuhu... kapan kita nikah?" rengek Rania pada Steve


"Uh manjanya, iya sayangku, nanti kita juga akan seperti mereka." jawab Steve seraya mencubit kedua pipi chabi Rania


"Ah... benar-benar diluar dugaan, Steve yang dulu pendiam dan sedingin es, ternyata dapat diluluhkan oleh Rania. Ternyata aku tidak salah, berhenti mengejar Steve dan memulai kehidupan yang baru bersama calon Ayah anakku, Kriss."


"Tidak apa-apa, aku hanya teringan tentang Yi. Ini sudah 3 tahun lebih, tapi kita tidak pernah mendapatkan kabar apapun darinya." terlihar raut wajah Lisa berubah, ia merasa sangat kecewa karena telah kehilangan kontak dengan sahabat baiknya itu.


"Iya, bagaimana keadaan Yijia sekarang ya, luka di hatinya pasti sudah sembuhkan?"


"Jangan khawatir, dia pasti baik-baik saja. ucap Steve, mencoba menenangkan Rania.


"Aku selama ini terus bertanya-tanya, seandainya saja Yi tidak pergi, apa mungkin dia akan kembali bersama Jhonathan."


"Untuk apa memikirkan hal itu, berandai tidak akan pernah merubah kenyataan yang ada."


"Benar, sudah lupakan saja. Barangkali Yijia sekarang juga sudah memiliki keluarganya sendiri, kita do'akan saja semoga dia baik-baik saja, dan selalu bahagia dimanapun dia berada."


"Aamiin. Ayo kita pergi, sayang kamu benar sudah pesan hotel untuk menginapkan?"


"Sudah, kamu tenang saja. Aku sudah mengatur segalanya untuk kita semua. Ayo pergi." ucap Kriss


**


Ting...


Sebuah pesan pribadi masuk ke ponsel Andrew


[Apa sudah tidur]

__ADS_1


Seketika senyum Andrew merekah, wajahnya terlihat berseri-seri, seperti musim semi, hatinya dipenuhi bunga-bunga sakura merah muda.


Tidak ingin membuang waktu untuk membalas, Andrew segera menelpon si pengirim pesan.


"Hallo?"


"Aku belum tidur, apa kau merindukanku?"


"Eh... Oppa...."


Andrew terkekeh geli, mendengar jawaban sang lawan bicara yang tergagap-gagap.


"Oppa pasti lelah, istirahatlah. Aku akan menutup telponnya, sekarang."


[Aku memang lelah, tadinya. Tapi... mendengar suaramu, energiku seperti telah terisi kembali. Benar-benar bukan wanita biasa, siapa dirimu sebenarnya? apa ada hubungannya denganku dimasa lalu?]


"Tidak, aku baik-baik saja. Maaf tadi aku tidak mengajakmu makan, kau pasti kelaparan. Aku benar-benar lupa, karena terlalu bersemangat menyelesaikan pekerjaan dan akan pergi ke Inggris."


"Tidak apa-apa, ini aku barusaja makan. Apa Oppa juga sudah makan?"


"Aku sudah kenyang" [*Berada di dekatmu, bagaimana mungkin aku masih bisa mengingat makan,he....]


"Oppa, apa kau ingin tidur sekarang*?"


"Ya... aku ingin tidur... di pangkuanmu...." ucap Andrew tanpa sadar, yang seharusnya tidak ia ucapkan, akhirnya terucap jua.


"Eh... Oppa! he...he... dasar gombal."


Andrew yang hanyut dalam lamunannya, akhirnya tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan. Ia merasa sangat malu, bagaimana mungkin ia bisa kehilangan kontrol terhadap kata-katanya.


"Apa kamu senang? aku merindukanmu. Jujur saja, entah mengapa rasanya aku seperti sudah mengenalmu lama."


"Aku juga merindukan Oppa, meski kelihatannya palsu, karena baru beberapa kali bertemu...."


"Aku tidak mendengar itu seperti sebuah kepalsuan, oh iya... maaf waktu itu tidak menyapamu dengan baik, jika saja bisa mengulang waktu...."


"Aku tidak ingin mengulang waktu, karena saat-saat ini adalah sesuatu yang berarti bagiku. Untuk apa minta maaf, Oppa tidak melakukan kesalahan apapun."


"Benarkah? kamu sangat baik. Terimakasih...."


"Oppa sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku akan pergi tidur sekarang, aku tutup telponnya ya, Oppa?"


"Iya, baiklah. Selamat tidur, semoga mimpimu indah."


"Iya Oppa, Good night."


Panggilan itu berakhir, Andrew merebahkan tubuhnya ke tempat tidur perlahan, membayangkan wajah Yijia yang setiap kali tersenyum lembut kepadanya.


"Senyuman itu... terlihat begitu familir, wajahnya... sifatnya...."


Andrew tersenyum dan terus tersenyum, membayangkan setiap detik waktu yang ia habiskan bersama Yijia.


Tidak peduli itu dulu atau sekarang, cinta sejati tidak akan pernah hilang ataupun tergantikan. Seseorang yang sudah berakar di lubuk hati terdalam, akan sangat sulit ditarik keluar.

__ADS_1


"Lin Yijia" ucap Andrew, sebelum akhirnya ia terlelap tidur.


__ADS_2