Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Firasat


__ADS_3

" * Satu Minggu Kemudian * "


* " BC (Bio Coffee) "


"Bagaimana?"


"Apa-nya?"


"Itu lho..."


"Apa sih?"


Lisa terus menempel seperti perangko pada Yijia, ia terus mengikuti kemana Yijia pergi. Rania yang melihat akhirnya juga ikut-ikutan mengikuti Yijia.


"Hey apa kalian tidak ada kerjaan lain?"


"Kenapa terus mengikuti aku?"


"Hey ayolah Yi, ceritakan pada kami berdua bagaimana."


"Apanya yang bagaimana?"


Yijia bingung dengan kelakuan ke dua temannya itu, apa sebenarnya yang ingin ditanyakan oleh mereka.


"Itu lho, Pangeran-mu itu."


"Apa dia baik?"


"Apa dia romantis?"


"Apa dia perhatian?"


"Apa dia sangat kaya?"


Lisa dan Rania terus menerus bertanya tanpa henti, secara bergantian.


"Apa badannya bagus, apa kau dan dia sudah....."


Tap....


Belum sempat Lisa menyelesaikan kata-katanya Yijia buru-buru menutup mulut Lisa dengan tangan kanannya.


"Hei apa sih yang kalian bicarakan?" ucap Yijia perlahan, ia malu jika ada orang lain yang mendengarnya.


"Aku tidak seperti itu, hingga dibutakan nafsu."


"Iya-iya, maaf"


Akhirnya Lisa mengalah jua, namun tetap saja ia merasa senang dapat melihat wajah Yijia yang memerah karena malu.


"Jadi kamu belum pernah melakukannya?" pertanyaan dari Rania itu cukup membuat Yijiia kesal. Polos! benar-benar polos.


Lisa tertawa cukup keras, mendengar pertanyaan Rania yang konyol itu, membuat orang-orang yang sedang berada di dalam Kedai kopi, jadi memandang ke arahnya, denga tatapan heran.


"Hei apa yang kalian bicarakan sih? sepertinya seru." Steve tiba-tiba muncul dan menghampiri Lisa yang sedang asik tertawa. Sementara Rania yang sedang kebingungan melihat Lisa tiba-tiba tertawa, malah menatap Yijia seraya mengernyitkan dahi. Yijia menaikan bahunya, tanda juga tidak mengerti, walau dia sebenarnya tau, tapi ia enggan menjelaskannya pada Rania si gadis "polos" atau lebih tepatnya bodoh?

__ADS_1


"Bukan apa-apa, laki-laki mana mungkin tau."


"Hei ayolah, beri tau aku juga." Steve merangkul bahu Lisa dan mencubit pipi Lisa dengan gemas.


"Hei Steve lepas, sakit tau." Lisa mengusap pipinya perlahan.


"Uuuh manisnya"


Kini giliran Yijia yang balas menggoda Lisa, melihat kemesraan Lisa dan Steve memberi kesempatan bagi Yijia untuk mengalihkan topik pembicaraan yang panas tadi.


"Agh... apaan sih Yi?"


"Apa kalian sudah jadian?"


Kini pertanyaan Rania benar-benar tepat sasaran. Lisa kaget mendengan pertanyaan Rania itu dan ketika ia akan menyangkalnya, tanpa di duga Steve justru lebih dulu bicara.


"Apa kami cocok?"


"Tentu saja Steve." Yijia dan Rania secara bersama menjawab, mendengar hal itu wajah Lisa memerah.


"Konyol, pertanyaan macam apa itu Steve?" Batin Lisa


Ting!!


Lonceng yang digantung di depan pintu Kedai berbunyi, itu berarti ada pelanggan yang datang, membuat Yijia dan teman-temannya menoleh. Steve buru-buru menyambut tamu baru mereka itu.


Seorang wanita muda tiba, cantik dan elegan. Dua kata itu pantas untuk menggambarkan dirinya.


"Hallo, apa Kak Yijia ada disini?"


"Ah Maharani!" seru Yijia kaget


Maharani Marcus, putri satu-satunya Haris Marcus. Ia adalah tunangan Alexander Zohran saat ini.


"Baiklah, tunggu sebentar ya aku izin dulu."


"Oke."


Setelah meminta izin pada Roy, Yijia mengganti bajunya, dan setelah itu pergi bersama Maharani.


 


*


 


" * Resort Pribadi Jhonathan.* "


"Ada apa?" Jhonathan, membuyarkan Yijia dari lamunannya.


"Dari tadi aku lihat kamu terus diam saja, apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Jhon, tadi aku pergi ke Restoran bersama Hani, dan tidak sengaja aku bertemu Willona."


"Oh lalu?"

__ADS_1


"Kami mengajaknya makan bersama."


"Itu bagus."


"Yah itu memang bagus. Hani juga, ternyata adalah orang yang ramah dan mudah bergaul, meskipun baru pertama kali bertemu mereka langsung cocok."


"Lalu apa masalahnya, yang mengganggu pikiranmu itu?"


"Setelah mengenal Willona, aku menyadari ada begitu banyak persamaan dia dan dirimu, sedang diriku, jauh bertolak belakang denganmu, kita benar-benar berbeda jauh."


"Yi jangan bicara seperti itu."


"Jhon aku akan memberimu satu kesempatan untuk memilih, jika...."


"Sudah cukup Yi, aku tidak ingin membahas itu denganmu, pernikahan kita akan berlangsung sebentar lagi, jadi jangan berpikir macam-macam." Kali ini Jhonathan terlihat gusar, walaupun begitu ia tidak bisa menyangkal perasaannya sendiri, bahkan Yijia pun dapat melihat perubahan yang ada di diri Jhonathan.


"Jhon aku serius, tolong setidaknya jujurlah pada dirimu sendiri, tanyakan pada dirimu sendiri seberapa penting diriku bagimu, apakah aku ada disana? di hatimu?


"Setelah Ibuku, kamu satu-satunya wanita yang penting untukku."


"Semoga itu benar."


Yijia berusaha memantapkan hatinya, ia berusaha untuk mempercayai ucapan Jhonathan. Tapi ia juga tidak ingin menutup mata dengan kebenaran yang ada didepannya.


Jhonathan merupakan cinta pertama bagi Yijia, jelas ia takut kehilangannya, tapi ia juga tidak ingin memaksakan sesuatu yang bukan untuknya, apa lagi itu cinta. Mulut bisa saja berbohong, tapi hati tidak akan pernah dapat di bohongi.


Memaksakan sebuah hati untuk mencintai, dapatkah bahagia dengan itu.


Dia bisa saja tersenyum, tapi bagaimana dengan hatinya? dapatkah kita menyentuh hati seseorang, sementara hati itu telah di patri dengan nama orang lain.


"Yi, berjanjilah padaku, kau akan selalu bersamaku."


"Harusnya aku yang bicara seperti itu, berjanjilah untuk tidak meninggalkan diriku!"


Sebuah hubungan, setidaknya harus di dasari rasa saling kepercayaan, bukan kecurigaan dan was-was.


Dalam menjalin hubungan bukan hanya cinta, tapi komitmen dan saling keterbukaan, jangan ada rahasia dan kebohongan diantara hubungan yang suci itu.


Setidaknya itulah yang di pikirkan Yijia, ia tidak pernah berharap adanya hubungan palsu, yang kelak akan menyakitinya. Bahkan mungkin akan menghancurkan hidupnya.


Jhonathan memeluk erat Yijia, pelukan hangat Jhonathan itu berhasil menenangkan pergolakan hati Yijia, yang sedari tadi terus gelisah.


"Jadi seperti ini ya, ketika calon Istri-ku cemburu dan iri pada wanita lain."


"Aku hanya memikirkanmu Jhon."


"Aku tau, kau mencintai aku, dan aku adalah milikmu, jika cemburu katakanlah, marahilah aku. Aku akan segera menjauh dari wanita itu, jika itu bisa membuatmu percaya padaku."


"Benarkah boleh seperti itu?"


"Tentu, bukankah sudah aku bilang, aku ini milikmu." Senyum manis menawan Jhonathan lagi-lagi menggetarkan hati Yijia.


"Jhon, semoga apa yang kamu katakan itu benar, semoga yang aku khawatirkan tidak menjadi nyata"


"Yi, maafkan ketidak mampuanku, aku berusaha dengan keras memantapkan hati ini, aku akan selalu meyakinkan diriku, agar tidak mengecewakan dirimu lagi"

__ADS_1


Dalamnya lautan masih dapat dikira, tapi dalamnya hati manusia, siapa yang dapat mengetahui.


Malam yang dingin itu terasa begitu panjang, kebersamaan dan cinta, siapa yang tau akan hari esok.


__ADS_2