
*
"Selamat pagi Oppa. Wah... Oppa seksi." Mata Yijia tidak hentinya menatap tubuh Andrew yang putih mulus, tanpa ada cacat sedikit pun.
"Yi, kamu sudah mulai berani ya, masuk ke kamarku tanpa permisi. Bagaimana kalau tadi aku telanjan*?" Andrew mulai melingkar-kan kedua tangannya ke pinggang Yijia, dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya.
"He... he... maaf Oppa. Aku terlalu bersemangat, sehingga lupa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar Oppa."
"Aku hanya bercanda. Kamarku adalah kamarmu, semua yang aku miliki adalah miliki mu, sayang. Kapanpun kamu mau, kamu bisa datang kesini, sekali pun aku sedang telanjan* juga tidak apa-apa."
"He... he... Oppa pagi-pagi sudah merayu. Tapi anehnya, aku justru senang...."
"Itu karena kamu milik-ku."
"Oppa milik-ku, hanya untukku, sekarang dan selamanya."
"Iya-iya, bawel banget sih sayangku."
"Uuh... manisnya, rasanya ingin aku makan." Andrew mencubit ke dua pipi Yijia dengan gemas.
Cup....
Sebuah ciuman selamat pagi mendarat di kening Yijia, dalam dan hangat. Yijia memeluk erat Andrew, yang kini tengah telanjan* dada.
"Sayang, mulai sekarang sepertinya kita harus jaga jarak."
"Eh? kenapa tiba-tiba...."
"Aku takut tidak bisa mengontrol diri, jika terus berada di dekatmu."
"Oppa... nakal ya." ucap Yijia seraya mencubit pinggang Andrew, bukannya merasa kesakitan, ia justru merasa geli karena tangan kecil Yijia seperti sedang menggelikinya.
"Ha... ha... berhenti sayang, aku minta maaf. Tapi kamu memang sangat menggoda, apa ini artinya... kita memang harus segera menikah?"
"Eh menikah?"
"Ah... tidak pernah terpikir olehku, menikah? dengan Andrew? apa... itu mungkin. Setelah kegagalan yang ku alami dulu, aku menjadi takut untuk terlalu tinggi berharap. Aku takut jika harus jatuh dan merangkak dari awal lagi."
"Aku tau mungkin ini terlalu cepat, jadi sebaiknya kita tidak terburu-buru ya?"
"Iya Oppa, aku pikir juga begitu. Sebaiknya kita nikmati saja masa sekarang, dan menjalaninya dengan bahagia."
"Hufh... sebenarnya aku ingin sekali, segera mengesahkan dia, agar tidak perlu merasa cemas lagi tentang Jhon. Tapi, dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia belum siap. Mau tidak mau, aku terpaksa harus mengalah dulu, mengesampingkan segala ego-ku tentangnya."
"Kenapa wajahmu terlihat sedih?"
"Tidak apa Oppa, aku hanya merasa sangat senang karena bersama Oppa. Tapi juga merasa sedih, karena tidak bisa membagi berita baik ini pada Jixu."
__ADS_1
"Kenapa tidak telpon saja?"
"Ah... Jixu tidak bisa di hubungi. Kata Paman Yijui, Jixu sedang pergi ke Shanghai, entah berapa lama ponselnya baru aktif."
"Bersabarlah, nanti pasti bisa. Jixu... mungkin sedang sibuk saat ini, jadi jangan khawatir."
"Iya Oppa."
"Baiklah, bagaimana kalau sekarang aku mengajakmu jalan -jalan? apa kamu mau?"
"Tapi... bukannya kita harus pergi ke kantor? ada banyak pekerjaan disana."
"Tenang saja, aku ini bosnya sayang. Kamu tidak perlu khawatir, oke?"
"Iya Oppa. Kalau begitu aku ganti baju sekarang ya?"
"Iya, pergilah."
.....
"Oppa... aku senang, sangat-sangat senang." ucap Yijia riang, membuat Andrew merasa sangat senang. Tingkah manis dan manja Yijia padanya, membuat Andrew yang dulu selalu serius dan sedingin es, berubah menjadi pria yang hangat.
"Benar kata orang-orang, kalau cinta itu mampu mengubah sifat seseorang. Bahkan Jae-woo yang seperti bongkahan es besar pun, bisa cair karenanya. Sungguh besar keagungan Tuhan... hanya karena cinta, seseorang dapat berubah." gumam Tuan Kim, seraya terus mengawasi Andrew dan Yijia dari kejauhan.
"Presdir, sepertinya Anda memang sudah menduga ini semua akan terjadi. Itu sebabnya Anda secara pribadi menerintahkan saya untuk langsung datang ke Inggris, menggantilan Tuan muda menjalankan tugas kantor."
"Aku mengerti Tuan, hanya saja... kenapa Anda juga datang ke Inggris?"
"Aku mengkhawatirkan keluarga Zohran, aku takut mereka akan menjadi batu sandungan bagi Jae-woo dan Yijia."
"Sepertinya tidak akan Tuan, sebab Nona Lin sepertinya sudah melupakan Tuan muda Jhonathan dari hatinya. Apa lagi sekarang Tuan muda dan Nona Lin telah bersama, kecil kemungkinan keluarga Zohran bisa mengganggu mereka."
"Aku harap juga begitu, maka kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Baik Tuan."
"Jhon, sebaiknya kau lupakan Yijia, biarkan dia bahagia bersama Andrew." ucap Thomas pada Jhonathan, kini ke dua pria itu tengah duduk di dalam mobil, memperhatikan setiap gerak gerik Yijia dan Andrew.
Thomas sudah seperti Detektif, yang terus saja dibuat pusing oleh Jhonathan, karena diminta untuk selalu membuntuti Yijia, padahal pekerjaannya di perusahaan sangatlah banyak.
"Apa maksud mu Thom?"
"Kau sudah cukup dewasa Jhon, jangam berlaku bodoh, kau tau apa yang ku maksud tadi."
"Hentikan Thom, aku hanya ingin menebus kesalahan di masa lalu, karena telah menyakiti Yijia."
"Kalau begitu biarkan dia bahagia dengan pria pilihannya, jangan kau ganggu dia lagi. Itu semua sudah cukup bagimu menebus kesalahan, dan merupakan sebuah bantuan besar bagi Yijia."
__ADS_1
"Thom, kata-kata itu memang mudah diucapkan, tapi hatiku... aku tidak rela melepasnya."
"Kau bisa Jhon. 3 tahun lalu kau bisa, lalu mengapa sekarang tidak?"
"Itu... berbeda Thom, aku...."
"Itu hanya alasan. Selama kau mau, kau bisa Jhon. Jangan beralasan lagi, aku sudah tidak bisa membantu mu. Aku pergi dulu, masih banyak pekerjaan di perusahaan." Thomas keluar dari mobil dan berjalan pergi, menjauh dari Jhonathan.
Jhonathan diam seribu bahasa di tempatnya sekarang, terus menatap lurus ke depan menerawang jauh, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi.
Perlahan mobil Jhonathan mulai bergerak memacu jalanan, sedetik kemudian mobil itu telah hilang dari pandangan mata.
.....
"Oppa"
"Hmm?"
"Lain kali ayo jalan-jalan ke Indonesia."
"Oh? Indonesia?"
"Iya, disana juga ada banyak tempat-tempat menarik untuk di kunjungi."
"Apa kau ingin kesana?"
"Iya Oppa."
"Baiklah, tapi aku tidak bisa janji kapan. Kamu sendiri tau, aku selalu sibuk, jadi...."
"Aku tau Oppa, aku tidak akan memaksa. Lagi pula asalkan bisa bersama Oppa terus, aku juga sudah cukup senang. Aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Oppa, tidak peduli dimanapun itu."
"Manisnya sayangku, bolehkah aku gigit?" ucap Andrew dengan gemas, seraya mencubit kedua belah pipi Yijia.
"Oppa jangan. Kita sekarang sedang berada di depan umum, aku malu." rengek Yijia manja, seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Andrew.
"Malu tapi mau. Jadi, kalau tidak di depan umum berarti tidak malu ya? akan ku ingat kata-katamu ini."
"Oppa terus saja menggodaku, aku marah nih."
Cup....
"Jangan marah ya, sayangku." ucap Andrew seraya mengecup perlahan kening wanitanya itu, dengan penuh kelembutan.
"Iya, aku hanya bercanda, bagaimana bisa aku marah pada Oppa? kau adalah pria-ku, milik-ku, selamanya."
"Benar?"
__ADS_1
"Saranghae... Oppa"