
Red Rose Season2: "Cinta atau Pengorbanan demi Cinta
.
.
.
"Aku ingin melakukannya, tapi... Ibu mu tidak mengizinkan nya. Ibu mu... jadi seperti ini juga karena kesalahan ku, yang bersikeras memohon pada nya. Tadi beliau sangat
marah dan berusaha mengusir diriku, namun sepertinya kondisi beliau sangat lemah hingga akhirnya jatuh pingsan." Thomas menundukkan kepala nya, ia merasa malu menatap wajah Nathan ataupun Tuan Rey. Karena perbuatan nya, justru mengakibatkan nyawa seseorang terancam.
"Tidak mengapa, Ibu ku memang sudah tua, dan kondisi nya terkadang memang tidak stabil. Emosinya juga sering di luar kendali, apalagi kalau itu menyangkut masalah Kakak ku."
"Lili... bisakah kamu pergi, dan membeli beberapa minuman untuk kami?" Tuan Rey terlihat sangat ramah pada Putri nya, namun sebenarnya alasan mengapa ia meminta putri nya pergi membeli minum adalah karena ada hal serius yang ingin ia bicarakan dengan Thomas, yang mana pembicaraan itu tidak boleh diketahui oleh Lili. Lili pun menuruti permintaan Ayah nya. Ia segera pergi membeli minuman, sementara Tuan Rey dan Nathan masih disana berbicara secara rahasia dengan Thomas.
Walaupun sebenarnya Lili menyadari ada hal aneh yang ingin dibicarakan oleh Ayah nya pada Thomas. Ia tau betul bagaimana sifat Ayah nya, jelas ada sesuatu yang disembunyikan pria tua itu dari dirinya. Meskipun ia sangat penasaran, namun sebagai anak yang berbakti, ia tidak mungkin menentang pemintaan Ayah nya, apalagi hanya untuk membeli minuman.
Setelah Lili pergi. Ketiga pria itu pun duduk di kursi tunggu yang telah disediakan oleh pihak Rumah sakit. Thomas duduk di tengah-tengah, antara Tuan Rey dan Nathan.
"Thomas... kau tau? Ada satu cara yang paling efektif, yang tidak akan pernah bisa ditolak oleh Istriku. Aku jamin, dia akan langsung setuju melepaskan Aprilia, jika kau mau melakukan hal ini." Tuan Rey berbicara sangat pelan dan penuh dengan teka-teki. Raut wajah nya sangat serius ketika mengatakan nya. Membuat Thomas menjadi bertanya-tanya, dan sangat penasaran. Disisi lain, ia jadi khawatir, jika apa yang akan dikatakan Tuan Rey itu adalah sesuatu yang besar, yang harus ia lakukan, atau bahkan dikorbankan untuk mendapatkan kebebasan teman masa kecil nya.
"A... apa itu?"
"Menikah lah dengan Lili."
Dhuar! Bag petir yang menyambar di siang bolong, Thomas benar-benar tidak mengira bahwa Tuan Rey bisa memberikan ide yang menurut nya sangat gila. Pria itu membelalakkan mata nya, tidak percaya dan memang tidak ingin mempercayai nya apa yang baru saja dituturkan oleh pria paruh baya di samping nya saat ini.
"Bagaimana bisa ada hubungan nya antara menikahi Lili dan menyelamatkan April?" Thomas benar-benar kehabisan akal. Ia tidak mungkin dengan mudah menyetujui perkataan Tuan Rey, sedangkan cinta nya untuk wanita lain.
"Tentu saja ada. Jika kamu menikahi Lili, Istriku tidak akan mungkin mengecewakan permintaan mu, menantu nya. Kau tau? Istriku sangat menyayangi Lili, karena dia adalah satu-satunya anak perempuan kami. Apa pun permintaan Lili, dia tidak pernah menolak. Jadi, jika kamu ingin membebaskan April...."
"Tunggu dulu! Jika memang seperti itu, lalu mengapa tidak minta Lili untuk langsung memohon pada Ibu nya, membebaskan Aprilia?"
__ADS_1
"Itu sesuatu yang cukup rumit. Awalnya aku juga berpikir demikian. Tapi, karena suatu alasan tertentu kami tidak bisa membiarkan Lili melakukan itu."
"Bodoh! Bagaimana bisa aku memberitahu yang sebenarnya padamu, kalau semua ini sudah direncanakan. Aku dan Istriku sengaja mempersulit dirimu, agar mau menikahi Lili kami. Memang iya, awal nya Istriku tidak ingin melepaskan April. Tapi karena Lili yang tergila-gila pada pria seperti dirimu, mau tidak mau kami harus merencanakan hal ini." Tuan Rey berusaha untuk tetap tenang. Se-bisa mungkin ia memasang wajah serius, untuk menutupi kebohongan nya.
"Alasan apa?" Thomas semakin kebingungan. Ia terus menuntut jawaban yang masuk akal, karena pernikahan bukanlah hal yang mudah bagi dirinya, apalagi harus membagi cinta, sedangkan cinta nya satu, dan itu untuk Aprilia.
"Maaf, itu adalah hal yang sangat pribadi. Tidak semua orang boleh mengetahui nya."
Tepat nya satu hari yang lalu, ketika Lili meminta izin kepada kedua orang tua nya untuk pergi ke London, menghadiri acara perjodohan. Ia bercerita tentang pria yang akan ditemui nya. Sosok pria tampan dan berhati hangat. Pria yang akan ditemui nya itu adalah pria yang sering diceritakan Aprilia pada dirinya beberapa tahun terakhir.
Dengan gembira, pergilah Lili ke London, untuk bertemu dengan pria itu. Lalu, setelah malam perjodohan yang diatur oleh biro jodoh. Lili kembali menghubungi keluarga nya yang ber ada di Australia, menggunakan telpon. Ia bercerita banyak hal, tentang sifat Thomas yang ramah juga lembut, tampan dan mempunyai karir yang bagus. Semua sempurna di mata Lili. Membuat Ayah dan Ibu nya merasa senang, karena putri tercinta mereka terdengar sangat bahagia ketika berbisa dengan mereka lewat telpon. Kemudian, Lili juga bercerita tentang Thomas yang ingin teman masa kecil nya bisa bebas. Lili pun juga meminta pada Ibu nya untuk melepaskan April, namun Ibu nya justru berkata bahwa ia tidak akan pernah melepaskan April, kecuali Thomas menikah dengan Lili, putri tercinta nya itu.
Lili marah, dan segera menjelaskan kepada Ibu bahwa mungkin Thomas tidak menyukai dirinya. Sebagai suka antara wanita dan pria pada umum nya, melainkan suka sebagai suka antara Kakak dan adik. Lili tidak ingin memaksakan sebuah hati yang bukan untuk nya, apalagi jika mengingat tragedi pernikahan Kakak nya. Semua hancur, hanya karena tidak memiliki cinta yang kuat. Membuat Lili tidak berani, membayangkan Thomas yang terpaksa menikah dengan nya, lalu lambat laun ia akan merasa jenuh, bosan karena tidak memiliki cinta untuk istrinya, dan akhirnya berselingkuh dengan wanita lain. Seperti apa yang terjadi pada rumah tangga Kakak nya dan aprilia.
Dan berakhir seperi inilah, saat Ibu nya Lili tau bahwa Thomas datang ke rumah mereka. Ia mengambil kesempatan untuk menyudutkan Thomas, agar tidak bisa lari dari perangkap nya. Sebelum nya, ia bahkan sudah terlebih dulu memberitahukan hal tersebut pada Suami nya yang berada di perusahaan, untuk bekerja. Rencana dadakan itu berjalan dengan mulus, semua sesuai dengan apa yang mereka kehendaki.
Bahkan Nyonya Rey yang jatuh pingsan pun, ada hal yang di sengaja. Sebenar nya saat ini ia sedang bersantai-santai di dalam kamar rawat, dan tidak mengizinkan dokter ataupun suster memberitahu yang sebenarnya pada orang yang berada di luar kamar.
Satu-satu nya orang yang tidak bersandiwara adalah Nathan. Ia benar-benar tidak terlibat, bahkan tidak mengetahui semua kebenaran yang ada. Tentang perasaan adik nya, Lili, dan rencana kedua orang tua nya itu. Ia yang tulus, hatinya begitu lembut, dan hanya mengharapkan yang terbaik untuk semua orang.
Dihadapkan pada dua pilihan, antara cinta dan pengorbanan. Thomas harus siap dengan keputusan nya. Jika ia ingin membebaskan Aprilia dari belenggu keterpurukan di masa lalu, maka ia harus siap melepas cinta nya, dan menikah dengan wanita lain, yang tidak pernah terpikir oleh dirinya. Tapi, jika ia bersikeras mempertahankan cinta nya itu, juga tidak ada guna nya, karena selama nya mereka akan tetap dipisah oleh jerat jeruji besi. Justru akan semakin menyakitkan membiarkan orang yang ia cinta menderita, kesepian, dan jauh dari orang-orang yang mencintai dirinya.
"Karena itu adalah satu-satunya pilihan mu. Di
dunia itu tidak ada yang lebih di inginkan Istri ku, selain menikah kan Lili dengan orang yang ia suka."
"Apa maksud Anda, Lili menyukai saya? Bagaimana bisa?"
"Yah... Aku tidak yakin tentang hal itu. Tapi, kemaren malam aku dengar Lili menelpon pada Ibu nya, ia bercerita bahwa bertemu dengan seorang pria yang ia suka di acara perjodohan. Aku yakin itu pasti dirimu, dan menurutku Istriku juga akan percaya hal itu."
Thomas diam mematung, lama ia berpikir, namun yang ia temui hanyalah jalan buntu. Tidak bisa membantah, karena memang dirinya lah yang ditemui Lili.
.
__ADS_1
.
.
**
KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA.
"jadi begitu...." Pria itu menundukkan kepala, otak nya sedang berpikir keras, bagaimana dan apa yang harus ia perbuat. Ternyata semua sudah ditentukan, apalagi yang bisa ia katakan jika memang tidak ada kesempatan untuk menolak. Dilirik nya gadis yang berada di depan nya saat ini, hanya menundukkan kepala nya, dan tersenyum malu-malu.
"Dengar Nak Yusuf. Semenjak hari itu, saya selalu mengingatkan pada Alyya, untuk tidak berpacaran, atau menyukai orang lain. Karena hanya Nak Yusuf lah, pilihan menantu saya." Tuan Hendra berbicara dengan penuh penekanan, wajah nya terlihat sangat serius. Bagaimanapun janji dirinya dan Almarhum Ayah nya Yusuf, adalah sebuah janji persahabatan, yang mana janji itu seperti sebuah hutang yang harus di bayar.
"Hm... Anda benar. Baiklah, sebuah keberuntungan bagi saya dapat menikah dengan putri Anda. Hanya saja, saya tidak yakin apa Alyya juga akan berpikir demikian."
"Tidak Kak Yusuf. Alyya juga senang, dan merasa sangat beruntung bisa menjadi Istri, Kak Yusuf. Seperti yang Ayah katakan, Alyya tidak pernah mencintai pria mana pun, dan hanya mempersiapkan diri untuk menjadi Istri Kak Yusuf, suatu saat nanti." tutur gadis itu dengan lembut, tetap dengan menundukkan kepala nya.
Yusuf mengangguk dan tersenyum, tanda mengerti. Mereka pun sepakat untuk menentukan tanggal pernikahan Yusuf dan Alyya.
.
.
.
Sore yang tentram dan tenang. Hawa pedesaan yang nyaman, tenang, dan dingin karena rimbun nya pepohonan, membuat Andrew yang sore itu tengah menikmati waktu bersantai nya bersama sang Istri, merasa sangat relaks.
Sangat jarang bagi dirinya, bisa menikmati waktu seperti itu tanpa beban pikiran.
Gemericik air menghantam bebatuan kecil di aliran sungai yang cukup deras, jernih nya air memanjakan mata dengan ikan-ikan yang berenang. Andrew sangat senang bisa datang ke tempat seperti ini bersama wanita yang paling ia cintai. Saling berpelukan dan berciuman, tanpa merasa takut akan terlihat orang lain.
"Sayang...."
*Bersambung
__ADS_1
Tetap Favorit kan ya😊