Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Tentang Hati


__ADS_3

* " The Tower Hotel ,London " *


*Restaurant


"Apa maksud anda?" tanya Lisa


" Bukan kah anda teman Andrew? tanya pria yang menjadi lawan bicara Lisa


"Ya, saya memang teman nya, tapi saya tidak punya hak untuk memaksanya pulang, tuan maafkan saya, saya benar- benar tidak dapat membantu anda." tegas Lisa, ia yakin betul Andrew pasti tidak ingin urusannya diikut campuri oleh siapapun.


"Tolong pikirkan lah lagi, bantu bujuk Andrew untuk pulang ke rumah nya." ucap pria itu memohon dengan sangat.


"Andrew sudah dewasa, jelas dia sudah mampu untuk memutus kan apa yang inginkan." singkat Lisa, tidak ingin berbasa basi terlalu lama lagi.


"Nona Lisa, anda hanya harus membujuknya pulang, Ibu nya...."


"Ibu? ada apa dengan Ibunya Andrew?" tanya Lisa kaget


"Anda harus memikirkan bagaimana perasaan seorang Ibu, yang sudah lama terpisah jauh dari anaknya , beliau jelas sangat merindukan nya."


"Apa Ibu nya baik- baik saja?" terlihat Lisa cukup khawatir, mendengar kata "Ibu" di sebut, sangat jelas yang dimaksud adalah Ibu nya Andrew.


"Beliau baki-baik saja, hanya saja sudah sangat lama Andrew tidak pulang ke rumah." jelas pria itu mencoba untuk tenang


"Kenapa anda tidak menemuinya langsung saja? dia pasti sangat bahagia mengetahui anda mengkhatir-kan nya." jelas Lisa memberi saran


"Nona Lisa, tolong mengertilah keadaan nya, ini tidak semudah yang anda lihat."


"Tuan, anda adalah Pamannya Andrew, dan Ibunya Andrew adalah Kakak anda, hubungan itu tidak dapat di pungkiri."


"Mengenai masalah yang terjadi antara Andrew dan Ayahnya, itu adalah urusan mereka berdua, anda ataupun Ibunya Andrew, sama-sama hanyalah korban dari per-masalahan yang terjadi saat itu." tambah Lisa


"Percaya lah Andrew tidak akan membenci anda, atau pun mendorong anda menjauh."


"Nona Lisa."


"Maaf, saya harus segera pulang." ucap Lisa lalu berdiri, dan merapikan tas nya, ia tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga Andrew, ia tau Andrew akan merasa sedih jika mengungkit hal ini.


"Pikirkan lah lagi apa yang saya katakan barusan, saya permisi." ucap Lisa berlalu pergi


 


*


 


* " 2 Hari Kemudian "


"Lisa, dimana Yijia, apa Yijia tidak ikut bersama mu? sudah lama aku disini, tapi kenapa Yijia tidak datang menjenguk ku." tanya Andrew tidak sabaran, saat melihat Lisa memasuki ruangan kamar nya di rawat.


"Oh Andrew sejak kapan kau bersikap seperti anak kecil begini? aku atau pun Yijia yang datang mengunjungi mu itu sama saja." ucap Lisa seraya tersenyum lembut


"Apa dia baik- baik saja?" tanya Andrew khawatir


"Oh pahlawan ku, sebaik nya kau pikirkan dirimu dulu, sebelum menanyakan keadaan orang lain, nih minum obat nya." Lisa sambil menyodorkan beberapa pil obat dan segelas air putih.


"Terimakasih." ucap Andrew, lalu mengambil obat yang Lisa sodorkan padanya, dan langsung menelan beberapa obat itu sekaligus, barulan ia meminum air putihnya.


"Ya wajar jika kau menanyakan keadaan nya, bagaimana pun kau sudah jadi sang Pangeran, Pahlawan yang menyelamat kan "Putri". ucap Lisa bercanda


"Tapi...bagaimana yah? Tuan Putri sekarang sedang sibuk dengan pacar nya, bolak balik Bc selalu di antar jemput. Ah ...manis nya, jika aku jadi Yijia pasti aku akan sangat bahagia." ucap Lisa dengan wajah berbunga- bunga, membayang kan betapa enak nya jadi Yijia.


"Pasar? eh pacar ya? " Andrew,candaan itu ia lontar kan untuk menutupi gejolak hati nya sekarang


"Iya! pa-ca- r r r, jadi kamu sebaiknya jangan mengkhawatirkan nya lagi, istirahatlah baik- baik, kau bahkan tidak meminum obat mu, jika bukan aku yang mengingatkan nya. Jadi tolong perhatikan dirimu, mengerti?" ucap Lisa seolah-olah sedang menasehati seorang anak kecil.


"Baik Bu guru" ucap Andrew seraya memberi hormat pada Lisq


"Anak pintar" Lisa puas, melihat Andrew begitu patuh.


Tidak berselang lama Roy tiba, membawa kan sekantung buah-buahan bersama istri nya, Airin.


"Hey Kakak ipar, sudah lama tidak bertemu" sapa Andrew pada Airin


"Ya, memang sudah lama, kau juga tidak pernah datang main lagi ke rumah." Airin

__ADS_1


"He..he.. maaf Kak, bagaimana kabar kakak dan anak-anak?." tanya Andrew mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku baik, Rafael dan Rafayila juga baik- baik saja."


"Bagaimana keadaan mu sekarang?." tanya Airin


"Aku baik- baik saja, Kakak tidak perlu khawatir."


"Hey apa kalian mengabaikan ku? aku juga datang bersama, tapi kenapa kau hanya menyapa Ibu nya Rafa?" protes Roy pada Andrew dan Airin yang masih sibuk berbicara.


Suasana yang hangat dan riang begitu terasa, Andrew merasa sangat bersyukur karena mempunyai teman-teman yang begitu baik dan dengan tulus mem-perhatikannya.


...


 


* "Mobil Roy"


"Ada apa? mengapa dari tadi wajah mu begitu, jangan cemberut oke?" bujuk Roy, karena bingung dengan sikap sang istri.


"Andrew yang sekarang,mungkin Willona...." Airin tidak dapat meneruskan kata-kata nya lagi, seakan ada tekanan berat di dada-nya.


"Ada apa dengan Willona? apa dia sudah kembali?"


"Entahlah, aku dengar dari Ibunya, Willona mungkin akan kembali tahun ini." ucap Airin pelan, seakan seluruh tenaga nya telah terkuras habis.


"Itu sudah cukup lama ya, itu tidak akan berdampak pada Andrew, tapi aku tidak tau bagaimana dengan Jhon." ungkap Roy.


Roy pun merasa frustasi, memikirkan bagaimana Jhonathan dan Andrew berselisih selama ini.


"Jhon lagi, selalu Jhon, jika bukankan karena Jhon." Airin terdengar kesal, ia tidak sanggup lagi melanjutkan perkataan nya itu


"Jangan begitu, ini juga bukan salah Jhon, hanya saja waktu itu."


" Willona sangat menyukai Jhon, tapi Jhon justru menuduh Willona berselingkuh dengan Andrew, teman baiknya sendiri." Airin


"Jika bukan karena terdesak, mana mungkin Willona mau mengakui perbuatan yang sama sekali tidak ia lakukan. Ia sengaja memilih mengakui Andrew, karena waktu itu Jhon benar-benar sudah kelewat batas." Airin kesal


"Airin..."


"Andrew, dia adalah anak yang baik, dia tidak berniat bertentangan dengan Jhon, dia juga tidak menyimpan perasaan cinta pada Willona, hanya saja tuduhan itu benar- benar menyakiti perasaannya." ucap Roy, dari nada bicara nya terdengar kesedihan yang mendalam.


"Aku yakin dengan kembali nya Willona kali ini, dapat memperbaiki kesalah pahaman antara Jhon dan Andrew." Airin


 


*


 


* "Pentle Bay, Tresco, Isler of scily"


*Resort Pribadi Milik Jhonathan Zohran


Berada di dekat Pantai Pentle Bay, menyisiri pasir putih, rerumputan, samudera berwarna biru toska dengan titik-titik pulau kecil, sejauh mata memandang hanya ada 1hal! "Keindahan".


Yijia berdiri di atas balkon kamarnya, merasakan terpaan angin segar menyelimuti dirinya, gauh putih yang ia pakai seakan akan menari-nari terkena tiupan angin


"Yi, tidakkah kau merasa ini dingin? kenapa kau justru berdiri disini? masuk lah." ucap seorang pria muda, dengan begitu lembut dan hangat.


"Ya Jhon,tapi ini benar-benar menyegar kan."


"Apa kau nyaman tinggal disini?" ucap Jhonathan seraya memeluk Yijia dari belakang.


"Ya, aku sangat senang, disini pemandangan nya begitu cantik." Yijia begitu bersemangat, ia sangat senang berada di dekat Jhonathan, orang yang ia sukai itu.


"Baguslah, aku senang jika kau menyukai nya." Jhonathan seraya mengusap kepala Yijia dengan lembut.


"Apa kamu akan makan malam disini?" Yijia.


"Maaf, seperti nya aku tidak bisa makan malam bersama mu, aku masih harus ke kantor lagi." Jhonathan seraya mencium kepala Yijia dalam dan lembut.


"Tidak apa-apa, aku tau kamu sibuk, terimakasih sudah menemaniku setiap hari." Yijia


Jhonathan pun memutar tubuh Yijia, agar berhadapan dengannya.

__ADS_1


Jhonathan mendekatkan wajahnya ke arah Yijia, seketika wajah Yijia memerah, bibir mereka mulai bersentuhan, dengan lembut Jhonathan mengecup bibir Yijia.


"Ciuman pertama ku", batin Yijia


Ciuman yang terasa begitu hangat dan manis, namun juga bergairah membuat Jhonathan dan Yijia larut dalam suasana.


Penandangan indah, laut nan biru terpancar begitu memukau, terpaan angin yang begitu lembut namun juga menyegarkan, menambah nuansa romantis itu seperti belenggu, membuat setiap orang tak dapat meninggal kan nya.


Tok...tok...


Dari luar kamar terdengar seseorang sedang mengetuk pintu.


"Tuan,mobilnya sudah siap." ucap seorang pria kepercayaan Jhonathan, dari luar.


Menyadarkan Jhonathan dan Yijia, menghentikan ciuman diantara kedua nya.


Yijia tertunduk malu, seluruh wajah nya memerah.


"Yi, aku sudah harus pergi."


"Ya, pergi lah."


"Besok aku akan menjemput mu." Jhonanthan


"Iya, berhati-hati lah di jalan." Yijia lembut


"Baiklah,aku pergi." Pamit Jhonathan pada Yijia.


"Ya Jhon."


" I LOVE YOU "ucap Jhonathan seraya berjalan meninggalkan Yijia.


" I LOVE YOU TO " Yijia dengan malu-malu


Tring...tring...Tidak lama setelah kepergian Jhonathan, ponsel Yijia berdering, panggilan nomer yang tidak di kenal, sejenak Yijia merasa ragu menjawab panggilan itu, namun ia justru merasa penasaran, akhir nya ia memutus kan untuk mengangkat nya.


" Hallo,ini siapa ya?" tanya Yijia setelah mengangkat panggilan.


"Hallo Nona Yijia, bagaimana kabar mu?"


"Alexander!" seketika mata Yijia membesar mengetahui bahwa yang menelponnya adalah Alexander


" Kenapa kaget begitu? aku hanya ingin menyapa Nona Yijia."


" Ada perlu apa? cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu meladeni mu." ucap Yijia ketus.


"Kenapa kasar begitu? baru jadi simpanan Jhonathan saja sudah berani membentak ku, huh?." ejek Alexander


"Si..simpanan? apa maksud mu, aku bukan simpanan!" teriak Yijia marah


"Jika Nona Yijia tidak suka, kenapa tidak meminta Jhonathan menikahi Nona Yi saja? toh juga sudah tinggal bersama kan? apa lagi yang ditunggu?"


"Tidak berani? ha..ha..ha." terdengar tawa Alexander begitu puas.


"Nona Yi terlalu naif, hanya karena dia menyatakan cinta lalu Nona Yijia sudah merasa dia akan jadi milik Nona selama nya?"


"Dia tidak begitu, dia tulus menyayangi ku, kamu jangan mencoba untuk mem-provokasi aku dan Jhonathan." sanggah Yijia


" Jhonathan bahkan tidak bisa membela Nona Yi, tapi Nona Yi masih begitu percaya pada nya?" Alexander


"Nona tau? dia bahkan lebih memilih untuk menyelamatkan nama baik keluarga "Zohran", dibanding membela mu."


"Jhon bukan orang seperti itu, dia punya alasan sendiri." bela Yijia


"Bagaimana dengan Andrew? hah kau pasti tidak memikirkan nya kan?"


"Sudah lah, aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan mu." jawab Yijia dingin


Tut..tut..


Yijia mematikan ponsel nya, mengakhiri panggilan tersebut.


 


*

__ADS_1


 


__ADS_2