
Red Rose Season2: Kebahagiaan Cinta dan Duka dari Pengorbanan
.
.
.
"Ya, Oppa?"
"Maaf...."
"Maaf? Maaf karena apa?"
Yijia menatap lekat wajah murung sang Suami. Ia merasa heran, mengapa tiba-tiba suami nya meminta maaf pada dirinya. Sepengetahuan nya, pria itu tidak pernah melakukan kesalahan, ataupun membuat dirinya merasa kecewa.
"Aku tau, Yiyi ku sayang sangat menginginkan kehadiran bayi kecil di antara kita. Tapi...."
"Itu bukan kesalahan Oppa. Hanya saja Tuhan memang belum memberi. Anak adalah hadiah dari Tuhan, untuk setiap suami istri sebagai pemberian yang berharga. Jadi jika belum dikasih, mungkin karena kita masih belum dipercaya untuk memiliki nya. Sabar, dan percaya kan semua pada Tuhan. Di samping itu kita tetap harus berusaha kan Oppa?" Menyandarkan kepala nya di atas pundak suami nya, Yijia menjuntai kan kaki nya masuk ke dalam air. Dingin yang tidak menusuk tulang, terasa nyaman di kaki. Ada banyak ikan-ikan kecil mengerumuni kaki Yijia, membuat nya merasa sedikit geli. Andrew juga melakukan hal yang sama. Ia memasukkan kaki nya ke dalam air, dan terkadang secara sengaja menggelitik kaki istrinya dengan ibu jari kaki nya.
"Terimakasih sayang. Kau adalah bidadari dengan hati yang putih, aku merasa sangat beruntung memiliki dirimu sebagai belahan jiwaku."
Zrass! Yijia mencipratkan air ke arah Andrew, membuat pria itu menjadi basah kuyup. Tidak ingin kalah, Andrew balas Yijia dengan menggendong wanita itu masuk ke dalam air. Keduanya kini berada di dalam air, yang meskipun tidak terlalu dalam, namun cukup deras arusnya. Bermain, dengan saling menyemburkan air ke arah lawan. Suami istri itu terlihat sangat bahagia, layaknya dua orang anak kecil yang sedang bermain air, tanpa takut akan dimarahi orang tua.
"Sungguh lucu, biasa nya dalam novel-novel romantis bermain air itu saat berada di pinggir kolam renang, atau di tepi pantai. Tapi sekarang, yang pertama ada, bermain air di sungai. Hehehe...." Yijia yang merasa lelah setelah ber jam-jam berendam di sungai dan main air bersama suami nya duduk kembali di tepian. Andrew segera menyusul istrinya. Ia duduk di samping Istrinya, lalu merebahkan kepala nya di atas pangkuan sang Istri.
"Sepertinya kita tidak perlu terlalu buru-buru memilik anak." Yijia mengelus-elus perlahan kepala Suami nya, yang terlihat sangat nyaman berbaring di atas pangkuan nya.
"Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?"
"Bagaimana tidak? Lihat, Oppa sangat manja seperti anak kecil. Coba Oppa pikirkan, kalau kita punya anak, Oppa mungkin tidak akan bisa bermanja-manja lagi."
"Bohong. Masih bisa kok, ketika anak kita nanti tidur, Ayahnya yang anak manja-manja sama Mamah nya." goda Andrew. Memutar-mutar rambut Istrinya yang terjuntai dengan jari telunjuk nya, layak nya sorang anak kecil yang manja. Andrew selalu bisa membuat ekspresi lucu, apalagi rambutnya yang lepek karena basar, membuat Yijia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Dasar mesum! Hahaha...."
"Kenapa?"
"Oppa lucu. Jadi penasan bagaimana ya nanti anak kita, mirip Oppa atau Ibu nya?" Yijia terus mengusap-usap pucuk kepala Suami nya yang basah, tanpa disadari Andrew, rambut nya di buat aneh-aneh oleh tangan jahil Yijia.
"Kalau anak laki-laki akan mirip Ayah nya, kalau perempuan maka akan tetap mirip Ayah nya juga."
"Salah Oppa, itu tidak adil!" Yijia dengan gemas nya mencubit kedua belah pipi Andrew, membuat pria itu sedikit meringis.
"Sayang, jangan kuat-kuat mencubit pipi suami mu ini. Aku paham, aku ini memang tampan, wajar jika kamu senang mencubit pipi ku, tapi jangan kuat-kuat juga, nanti rusak gak ada yang bisa kamu cium lagi."
__ADS_1
"Dasar narsis!"
"Tapi kamu sayang kan?" Andrew bangkit dari pangkuan istrinya, dan langsung memeluk tubuh wanita itu dengan mesra. Memberikan ciuman hangat di kening, pipi, lalu bibir merah cery nya. Semua yang ada pada diri wanita itu, adalah milik nya, yang harus dijaga dan dihormati.
.
.
.
Setelah puas bermain di sungai. Andrew dan Yijia pun kembali ke rumah. Mereka diledek habis-habisan oleh Sari, yang mengatakan bahwa mereka seperti anak kecil, dan bukan pasangan suami istri.
"Syifa, berapa sih umur Suami mu ini? Lihat, dia sangat manis dan lucu, bahkan Humair saja kalah menggemaskan nya dibandingkan suami mu ini." Sari tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya, melihat gaya rambut Andrew yang lucu. Ditambah dangan kulit Andrew yang awal nya sudah putih, menjadi putih pucat, karena terlalu lama bermain air, sehingga membuatnya kedinginan.
Yijia hanya tersenyum menanggapi perkataan Bibi nya, dirinya sendiri pun sebenarnya juga sudah sangat kedinginan, semakin kencang angin bertiup, semakin dingin jua dirinya karena masih menggunakan pakaian yang basah.
"Sudahlah, cepat ganti baju sana. Nanti masuk angin, sakit, tidak bisa jalan-jalan lagi."
"Iya, Bi. Kami masuk dulu."
Yijia dan Andrew pun pergi ke kamar mereka. Kamar yang dulu pernah di tempati Yijia saat pertama kali datang ke Indonesia. Kamar yang penuh dengan sejarah, dimana ia pernah menghabiskan waktu bersama mendiang Nenek nya, mengenang masa-masa kecil Ibu nya dulu.
Waktu terus berlalu. Hari demi hari, waktu demi waktu terus berputar. Sudah satu bulan Yijia dan Andrew di Indonesia. Besok mereka akan pulang ke Korea. Saat yang menyedihkan, karena berpisah kembali dengan keluarga, tapi mau bagaimana lagi, Yijia harus selalu menemani sang Suami, kemanapun dia pergi.
"Selamat atas pernikahan nya, Kak Yusuf." Yijia segera menyalami tangan mempelai pengantin pria di atas pelaminan. Lalu berpindah menyalami dan mencium pengantin wanitanya, yang berada di samping pengantin pria. Pasangan pengantin baru itu terus mengumbar senyum. Mereka terlihat sangat serasi dan bahagia.
Karena jodoh tidak akan pernah tertukar, dan tidak akan salah alamat. Semua sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa, dan itulah yang dibuktikan oleh Yusuf dan Alyya. Di hari yang penuh kebahagiaan itu, Yusuf dan Alyya telah resmi menjadi pasangan Suami Istri.
.
.
*
Keesokan Harinya.
Yijia dan Andrew pun berangkat kembali ke Korea. Mereka diantar dengan penuh suka cita dari semua orang.
Sari, Amat dan Humair kecil mereka. Terlihat sangat sedih, dan berpesan agar nanti Yijia dan Suami, akan datang kembali mengunjungi mereka di Indonesia. Dan saat ini, Dimas adalah orang yang paling merasa kehilangan, karena saat ini hanya dirinya lah yang belum menikah diantara kedua sahabatnya, Yusuf dan Ustad Rahim. Lalu kepergian Yijia, semakin terpuruk lah dirinya. Meskipun wanita itu sudah bersuami, namun perasaan Dimas ternyata masih belum ubah.
Yusuf dan Istri, juga turut hadir, mengantar kepergian Yijia dan Suami nya, sampai ke Bandara Internasional Syamsuddin Nor.
Bersama dengan lepas landas nya pesawat terbang yang membawa Yijia dan Andrew pergi. Sudah tidak ada lagi cerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti dulu, sekarang hanya ada cinta sejati yang bersemi di hati yang tepat.
.
__ADS_1
.
.
**
LONDON, INGGRIS.
Crang! Sebuah gelas kaca jatuh menghantam lantai, pecah menjadi berkeping-keping. Pecahan gelas berserakan di lantai, begitu juga dengar air yang ada di dalam nya, tumpah kemana-mana.
"Kamu serius akan menikah?!" Jhonathan berseru girang, suara nya menggema se-isi ruangan. Berbeda hal nya dengan pria yang duduk di depan nya. Duduk diam, memasang wajah serius, dan tidak sedikit pun mengumbar senyum ketika mengatakan hal yang membahagiakan sahabatnya itu. Berita yang menggemparkan itu sepertinya tidak berpengaruh pada dirinya, yang mana seharusnya ia merasa senang karena akan menikah.
Seorang pria akan menikah dengan wanita yang cantik dan baik hati, kebanyakan pria pasti akan merasa sangat beruntung, tapi ternya semua itu tidak berlaku pada pria kesepian itu. Hatinya terasa sesak dan perih, karena ia menikah dengan wanita yang tidak ia cinta. Pernikahan tanpa cinta, adalah sesuatu yang tidak pernah terpikir akan terjadi di dalam hidupnya.
"Sudah ku duga, kamu pasti akan menyukai wanita yang dipasangkan biro jodoh dengan mu. Kali ini kamu harus berterimakasih pada ku, jika bukan karena aku yang mendaftar kan dirimu pada biro jodoh, maka kamu mungkin tidak akan bertemu dengan wanita itu secepat ini." Jhonathan terus berspekulasi, tanpa melihat ke arah orang yang menjadi lawan bicara. Ia terlalu senang, sehingga tidak memperhatikan raut wajar sahabat nya, yang sudah seperti akan mengamuk.
"Terimakasih, Jhon."
Setelah mendengar suara sahabatnya yang bergetar, Jhonathan barulah menyadari ada sesuatu yang aneh. Ia memalingkan wajah nya, menatap pria di seberang nya, dan betapa terkejutnya dirinya, bahwa sahabat nya itu terlihat sangat serius, dan juga sedih.
"Ada apa?" Jhonathan berjalan mendekati sahabatnya nya. Ia pun duduk di samping nya dan merangkul pundak sahabatnya itu.
"Kau ingat Aprilia?" Thomas terlihat sangat lesu, ia melipat kedua tangan nya di dada, dan menyandarkan punggung nya di sandaran sofa.
"April? Dia... bukan kah sudah menikah?"
"Ya. Dan, wanita yang akan ku nikahi itu adalah adik ipar nya."
Thomas menghembuskan nafas nya kasar, dada nya benar-benar terasa sesak. Otak nya kusut, seperti baju basah yang terlalu keras diperah air nya.
"Lalu... apa masalahnya?" Jhonathan masih belum bisa memahami sepenuhnya perkataan sahabatnya itu, karena memang tidak ada yang salah, jika Thomas menikah dengan adik ipar dari teman masa kecilnya.
"Aprilia, sekarang ada di penjara! Dan, jika aku ingin membebaskan dirinya, maka aku harus menikahi adik ipar nya, Lili."
"Apa?!"
Jhonathan membelalakkan mata nya, dan tanpa sadar mulutnya terbuka lebar, yang mana jika ada nyamuk lewat, maka akan bisa masuk.
"Penjara? Kenapa?"
"Dia membunuh Suami nya sendiri."
Dengan putus asa, Thomas menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Aprilia, dan alasan-alasan mengapa ia harus menikah dengan Lili, jika ingin membebaskan Aprilia dari penjara.
*Bersambung
__ADS_1
Tetap semangat
⚘Red Rose selalu di hati