
"Benarkah? ah sungguh tidak aku sangka, bahwa hubungan mereka akan seperti itu." ucap Yijia seraya tersenyum simpul
"Itu benar, awalnya aku juga tidak percaya. Tapi, setelah melihat semuanya secara langsung, aku baru mengerti, bahwa cinta mereka tulus."
"Ah begitu... syukurlah."
"Yijia, sampai kapan aku harus menunggu? ayo bicara sekarang." ucap Jhonathan datar
"Iya-iya, baiklah.
Kalau begitu kami pergi duduk kesana ya Kak Roy?"
"Iya, pergilah. Kopi seperti biasakan?" ucap Roy yang dibalas anggukan kecil oleh Yijia, ia pun berlalu pergi.
"Ayo" ajak Jhonathan, seraya berjalan kearah meja kosong yang tidak berada jauh darinya.
Kini Jhonathan dan Yijia telah duduk saling berhadapan. Dari jauh Roy terus mengamati ke duanya, ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari Jhonathan dan Yijia. Rasa cemas mulai menghantuinya, menyerang sendi-sendi otaknya yang terus berpikiran buruk tentang Jhonathan.
"Langsung pada intinya saja, Jhon. Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" tanya Yijia datar
"Jadilah temanku, tolong biarkan aku berada disisimu sebagai seorang teman lama. Aku tidak ingin, kau menjauh dariku. Sudah cukup aku kehilanganmu tiga tahun yang lalu, sekarang... meski aku tidak bisa memilikimu lagi, setidaknya aku bisa mendampingimu sebagai seorang teman."
"Pertemanan seperti apa yang kau harapkan dariku? aku rasa kita sama sekali tidak cocok satu sama lain."
"Biarkan aku berada di dekatmu, aku akan selalu siap nembantu, jika kau meminta."
"Baiklah. Kalau begitu, permintaanku sebagai seorang teman, tolong jauhi kehidupanku sekarang." jawab Yijia ketus
"Yi"
"Maafkan saya mengganggu" tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di telinga Yijia, ia segera menoleh ke asal suara, dan mendapati si pemilik sedang berdiri di belakangnya.
"Sekertaris Ma?"
"Iya Nona, maaf mengganggu. Presdir Kim sedang menunggu Anda di luar, beliau ingin berbicara dengan Anda secara pribadi."
"Baguslah, akhirnya aku terselamatkan dari suasa canggung antara aku dan Jhonathan."
"Oh baiklah, aku akan segera menemui Preadir." ucap Yijia bersemangat, ia segera bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan pergi.
"Jhon, semua sudah jelas, Kita sudah selesai, selamat tinggal." ucap Yijia seraya terus berjalan pergi, tanpa menoleh sedikitpun pada Jhonathan.
"Saya permisi dulu Tuan muda." ucap Sekertaris Ma sopan, ia membungkuk-kan sedikit badannya, tanda hormat pada Jhonathan.
Jhonathan diam saja, ia membiarkan Sekertaris Ma pergi, tanpa mengatakan sepatahkatapun.
"Apa Ayahnya Andrew sengaja melakukan ini? pasti mereka sudah tahu, kalau aku dan Yijia dulunya adalah sepasang kekasih."
__ADS_1
"Presdir, Anda disini? ah maaf, maksud saya Oppa... Tuan muda...." ucap Yijia gelagapan, ketika tiba di depan Tuan Kim.
"Kenapa kamu sangat gugup? bicaralah seperti biasa."
"Presdir... Anda, ada perlu apa mencari saya?"
"Aku kesini karena sudah mengetahui, bahwa Jae-woo dan kamu sudah resmi berpacaran. Jadi kenapa tidak secepatnya saja kita mengatur pernikahan untuk kalian, kamu sendiri sudah mengetahui betapa besar cinta Jae-woo padamu, oh bukan, Andrew! dia sangat mencintaimu, bahkan ketika dia melupakan segalanya, tapi tidak melupakan cintanya."
"Anda... sudah mengetahuinya?"
"Hahaha... hebat sekali hidupku, baru berpacaran, tiba-tiba saja akan langsung menikah. Entah mengapa, aku merasa kehidupanku ini adalah sebuah cerita novel cinta, yang berakhir mulus dan Happy Ending."
"Bagaimana menurutmu? Jae-woo sekarang hampir memasuki kepala tiga, aku pikir sudah saatnya dia menikah. Sebaiknya kau mulai bicarakan ini padanya, karena jika aku yang mengatakan mungkin dia tidak akan mau mendengar."
"Em... baik Presdir." jawab Yijia patuh, ia tidak mungkin bisa membantah ucapan orang yang sangat berkuasa di depannya ini.
"Baiklah. Mulai sekarang kau tidak perlu bicara terlalu formal lagi, kau bisa memanggilku dengan sebutan 'Ayah'."
"Baik, Ayah."
*
"Oppa...."
"Ada apa sayang? kamu darimana saja seharian ini?" ucap Andrew, mendapati dirinya yang tiba-tiba di peluk oleh sang kekasih.
"Tentu saja aku tau. Oh ya, kita bicara nanti, aku ingin mandi dulu sebentar." ucap Andrew seraya melepaskan pelukannya pada Yijia.
"Baiklah, aku akan pergi ke kamarku dulu."
"Iya sayang." jawab Andrew seraya memasuki kamar mandi, tanpa menoleh kearah Yijia berada. Setelah beberapa saat pintu kamar mandi di tutup dari dalam, tepat setelahnya terdengar suara.
Dukh....
Suara yang sangat keras terdengar dari dalam kamar mandi, Yijia buru-buru berlari masuk ketika mendengar jeritan Andrew, sebelum akhirnya tidak ada suara apa pun lagi terdengar. Sunyi senyap, hanya ada suara air yang mengalir
Tubuh Andrew terhempas ke lantai, kepalanya membentur tembok beton, darah segar mengalir dengar bersamaan guyuran air dari shower, membasahi lantai kamar mandi.
"Oppa!" seru Yijia, ketika ia lihat Andrew terbaring lemah, tidak sadarkan diri.
"Oppa bangun, hiks... hiks...." Yijia mencoba mengguncang tubuh Andrew, berharap pria itu membuka matanya. Namun sayang, itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
Yijia meletakkan kepala Andrew yang di penuhi darah, di atas pangkuannya. Air matanya terus mengalir tanpa henti, benerapa kali ia mengelap darah di kepala Andrew dengan bajunya, namun darah itu terus keluar, tanpa henti.
Segera setelahnya, ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Sekertaris Ma. Memberitahukan keadaan Andrew yang sedang dalam bahaya, dan memintanya untuk segera datang menolong.
"Sekertaris Ma, tolong cepat datang. Aku hiks... aku tidak kuat, tolong...."
__ADS_1
"Mohon besabarlah Nona Lin, sa-saya akan segera kesana." jawab Sekertaris Ma gelagapan, suaranya bergetar hebat. Jelas ia sangat khawatir dengan keadaan Andrew saat ini.
"Baik, tolong cepatlah."
....
*Rumah Sakit
"Bagaimana keadaan Tuan muda, Dok?" Sekertaris Ma segera menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi
Belum sempat Dokter memberikan jawaban, Tuan Kim datang dengan terburu-buru, dari raut wajahnya dapat terlihat bahwa ia sangat khawatir.
"Bagaimana?" tanya Tuan Kim setengah berteriak
"Mohon tenang dulu, Tuan. Tuan muda sudah baik-baik saja sekarang, hanya terkena benturan sedikit. Dan luka di kepalanya juga sudah di jahit, seharusnya sekarang sudah tidak apa-apa lagi."
"Hufh... syukurlah, terimakasih Dok." akhirnya Tuan Kim datap bernafas lega, begitupun dengan Sekertaris Ma.
"Nona Lin, berdirilah. Tuan muda akan baik-baik saja." ucap Sekertaris Ma, seraya membantu Yijia berdiri. Yijia yang sedari tadi duduk di lantai, dengan wajah dan pakaian yang di penuhi darah, terlihat sangat frustasi.
"Sayang, apa yang terjadi dengan Jae-woo. Mengapa dia bisa sampai seperti itu?"
"Presdir... tadi, Oppa bilang mau mandi. Lalu dia pergi ke kamar mandi, dan... hiks... aku dengar suara benturan yang sangat keras, aku panik dan langsung masuk. Aku lihat Oppa sudah terbaring di lantai dengan bersimbah darah, aku tidak tahu harus berbuat apa, makanya aku langsung menelpon Sekertaris Ma."
"Baiklah, jika memang seperti itu. Tidak apa-apa sayang, karena itu hanya kecelakaan, yang terpenting sekarang Jae-woo sudah baik-baik saja. Sebaiknya kamu pulang dulu dan bersih-bersih, lihat pakaianmu sudah kotor, ada banyak darah di tubuhmu. Kalau nanti Jae-woo sadar, dan melihat keadaanmu seperti ini, dia pasti akan sedih dan menyalahkan dirinya sendiri." ucap Tuan Kim penuh kasih sayang, ia menatap lembut Yijia dengan seksama, wanita yang akan segera menjadi Menantunya itu.
"Baiklah, tapi kalau Oppa sudah sadar...."
"Kamu tenang saja, nanti kalau Jae-woo sudah sadar, Sekertaris Ma pasti akan segera menghubungimu."
"Baiklah." jawab Yijia dengan kepala yang masih tertunduk lesu
" Pergilah sayang, tenangkan dirimu."
\*
*Kediaman Keluarga Besar Lin
"Jixu, apa sudah ada kabar dari Yijia?"
"Belum Ayah, jangan terlalu khawatir. Yi sekarang berada di Inggris bersama calon suaminya, bukan Tuan muda gunung es lagi." jawab Jixu santai
"Itu benar, tapi tetap saja aku merasa khawatir padanya."
"Ayah khawatir tentang apa? bukankah sudah jelas, Presdir Kim meminta keluarga kita dan keluarganya untuk segera mempersiapkan pesta pernikah Yi dan Jae-woo, setelah mereka kembali ke Korea?"
"Tapi, apa Yijia sudah mengetahui rencana pernikahan itu, aku takut ini hanyalah pernikahan sepihak."
__ADS_1
"Ayah, jika memang seperti apa yang di katakan Presdir Kim, bahwa Yijia dan Tuan muda kini telah berpacaran. Itu berarti Yijia juga sudah menyetujui rencana pernikahan ini, yah... walaupun aku juga tidak menyangka bahwa Yi akan segera menyetujuinya."