Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Flashback(1)


__ADS_3

 


*


 


3 Tahun yang lalu....


"Jhon...." Willona yang baru saja keluar dari kamar mandi, berlari memeluk Jhonathan.


"Ada apa? kenapa kamu hari ini begitu bersemangat?" goda Jhonathan, ia berbisik tepat di telinga Willona dan sesekali meniupinya, membuat Willona merona malu.


"Aku sudah selesai Menstruasi." jawab Willona malu-malu


"Jhon...." belum sempat Willona menyelesaikan kata-katanya, bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Jhonathan. Willona mempererat pelukannya, tubuhnya dibawa Jhonathan menuju ranjang mereka. Jhonathan merebahkan perlahan tubuh Willona, dengan bibir mereka yang masih menyatu, perlahan Jhonathan mulai melepas satu persatu kancing baju yang dikenakan Willona saat ini, sampai habis. Memperlihatkan tubuh indah, putih dan bersih, menggoda setiap mata yang memandang. Hingga tidak ada satu pun mata yang bisa mengalihkan pandangannya, bahkan Jhonathan mulai terbuai, hanyut dalam romantis-nya malam pertama sang pengantin baru.


.....


"Bagaimana keadaan Yi, Thom?" seorang pria berdiri di balkol kamarnya, menggengam sebuah ponsel yang sedikit ditempelkan di daun telinganya.


"Keadaan Yijia baik-baik saja, masih sama seperti terakhir kali."


"Baiklah, tolong tetap awasi dia, Thom. Aku mempercayakannya padamu, ingat untuk terus mengabariku mengenai perkembangan keadaannya."


"Baiklah, aku mengerti. Kamu jangan terlalu khawatir Jhon, Yijia pasti akan segera sadar. Sekarang nikmatilah bulan madu-mu dan Willona dengan tenang."


"Sayang, kamu bicara dengan Thomas lagi?" seorang wanita tiba-tiba datang dan memeluk tubuh Jhonathan dari belakang.


"Wi, kamu belum tidur?"


"Bagaimana aku bisa tidur, jika kamu tidak ada di sampingku?" rengek manja wanita itu, membuat Jhonathan tersenyum bahagia.


"Thom, aku tutup dulu. Sampai jumpa nanti."


"Baik, bersenang-senanglah Jhon. He...."


Jhonathan memutus sambungan telpon luar negri itu, ia menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


"Jhon...."


"Hm?"


"Aku cemburu."


"Cemburu? siapa?"

__ADS_1


"Apa kamu masih menyukai Yijia? kenapa kamu begitu mengkhawatirkan dirinya, dia dan selalu dia yang kamu pikirkan."


"Sayang, apa yang kamu katakan? Yijia sekarang terbaring lemah, tidak sadarkan diri di Rumah sakit karena demi menyelamatkan kita berdua. Bukan hanya satu, tapi dua nyawa, sangat wajar bagiku, jika terus mengkhawatirkan dirinya."


"Tapi, ini adalah bulan madu kita berdua. Sangat mengganggu jika kamu terus menerus menelpon Thomas yang berada di Inggris."


"Sayang, kamu jangan egois begitu. Aku...."


"Apa maksud mu aku egois? aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu berdua dengan mu, memang apa salahnya jika aku merasa terganggu dengan itu?" Willona mulai kesal, karena Jhonathan terus beralasan, dan membela Yijia di depannya. Sebagai seorang wanita, tidak pernah ada yang suka jika pria-nya terus memikirkan wanita lain, meski hanya sekedar menanyakan kabar.


"Tenangkan dirimu, jangan kekanak-kanakan Wi. Yijia sudah berkorban banyak, bahkan dia mau merelakan kita bersama, tidak cukupkah bagimu, pengorbanannya itu?" sergah Jhonathan


"Kenapa kamu terus membela dirinya? aku muak mendengar namanya!" teriak Willona


"Cukup! kamu benar-benak keterlaluan, tidak tau terimakasih."


"Jhon!"


"Hufh... aku lelah, jika diteruskan kamu akan merusak bulan madu kita Wi. Sebaiknya tenangkan dirimu, aku akan pergi mandi, sekarang." ucap Jhonathan, ia lalu pergi ke kamar mandi, meninggalkan Willona sendiri di balkon kamar.


"Hah, apa aku terlalu berlebihan? aku hanya terlalu mencintai mu Jhon... aku tidak suka jika kamu terus mengkhawatirkan wanita lain, meski hanya sedikit. Aku tau itu memang egois... ya aku egois, karena aku terlalu serakah mencintai mu." gerutu Willona pada dirinya sendiri


*


"Lisa, katakan padaku sekarang!"


"Bohong, kalian pasti tau kemana Yijia menghilang. Bagaimana bisa orang sakit, tiba-tiba menghilang sendiri?" bentak Thomas


"Sudah cukup! jika dia bilang tidak tau, maka tidak tau." bentak Kriss tidak kalah sengit dari Thomas, ia sangat marah jika ada orang yang membentak Lisa di delannya.


"Kamu diamlah. Aku peringatkan pada kalian, kalian sedang berhadapan dengan keluarga Zohran, jika mereka tau kalian menyembunyikan Yijia, maka akibatnya akan sangat buruk."


"Memangnya kamu pikir, kami takut? kamu harus ingat, Yijia bukan anggota dari keluarga Zohran. Kemana Yijia pergi, kalian tidak berhak mengetahuinya." tegas Lisa


"Aku salah, telah mempercayakan pengawasan Yijia pada perempuan seperti mu."


"Thomas... kamu sendiri tau, apa alasan Yijia pergi. Tidakkah kamu merasa bahwa ini yang terbaik untuknya, dia terluka bukan hanya fisik tapi hati, Thom. Dia sekarang mungkin sedang berusaha membenahi perasaannya yang hancur berkeping-keping, mencoba mengumpulkan segenap kekuatannya untuk kembali berjalan kekehidupan normal yang ia inginkan."


"Benar Thom, Yijia sangat mencintai Jhonathan. Tapi, kamu tau sendiri, kenyataannya sekarang Jhonathan sudah menjadi Suami Willona, tidak ada apa-apa lagi yang bisa Yijia harapkan darinya." tambah Rania


"Aku pergi...." ucap Thomas pelan, ia berjalan dengan gontai, lemah dan lesu. Ia sadar apa yang dikatakan Lisa dan Rania itu memang benar, tidak adil bagi Yijia jika terus berada di dekat Jhonathan, menjadi penonton cerita bahagia orang yang dicinta, bersama orang lain. "Tuhan... apa aku jahat? Jhonathan berbahagia di atas luka Yijia, dan aku... aku justru ingin mencegah Yijia pergi? bukankah aku egois. Setiap orang berhak untuk menemukan kebahagiaannya, bahkan jika lari dari kenyataan yang ada pun bisa membuatnya bahagia, maka itu layak untuk dilakukan."


"Thomas, bagaimana?" ucap Alexander tiba-tiba, dari samping Thomas berjalan. Alexander bersama Istrinya, Maharani. Mereka menatap iba, wajah Thomas yang dipenuhi keringat dingin, mengkhawatirkan keberadaan Yijia.


"Aku... entahlah, mereka bilang tidak tau." ucap Thomas pasrah, seluruh tenaganya seperti terkuras habis.

__ADS_1


"Apa kau menyerah?" tanya Maharani


"Thom, menyerahlah," ucap Alexander tiba-tiba " Sejak awal Yijia memang korbannya, aku sudah pernah memperingatkan Jhon, tentang hatinya yang masih mencinta Willona, dan sekarang... Yijia-lah yang tersakiti." sambung Alexander, matanya menerawang jauh, mengingat waktu ia datang pada Jhonathan, untuk memberikan kejelasan hatinya.


"Sayang, apa yang kamu katakan? bagaimana bisa kamu bicara seperti itu?" protes Maharani


"Jhonathan dan Willona sudah menikah, biarkan Yijia belajar melupajan Jhonathan."


"Ah...." Maharani terlihat kecewa, menyadari apa yang dikatakan Suaminya itu memang benar adanya.


"Sudahlah... ayo pergi makan." ajak Alexander pada Istrinya dan Thomas.


"Bagaimana aku akan menjelaskan hal ini pads Jhon?" keluh Thomas


"Nanti aku yang akan memberitau-nya, sekarang ayo ikut kami pergi makan." ucap Alexander seraya merangkul bahu Thomas. Tidak ada penolaksn dari Thomas, ia mengikuti setiap langkah Alexander yang membawanya pergi.


Lisa, Rania dan Kriss yang berada tidak jauh dari mereka tersenyum lega, karena Thomas tidak lagi memaksa mereka untuk memberitau keberadaan Yijia.


*


"Wi, kita akan pulang ke Inggris, besok."


"Kenapa tiba-tiba? bukannya masih ada beberapa hari lagi?"


"Aku ada pekerjaan penting."


"Bohong, kamu pasti ingin segera menemui Yijia kan? apa kamu merindukan mayat hidup itu?"


"Willona, kenapa kamu begitu kasar?" protes Jhonathan


"Maaf... aku... aku...." Willona segera memeluk Jhonathan


"Hufh... jangan ulangi lagi." hanya dengan satu pelukan dari Willona, berhasil meluluhkan hati Jhonathan.


"Jhon... ayo ke kamar, aku...."


"He... kamu ini, harusnya aku yang meminta itu, tapi katu ternyata lebih agresif dariku ya?" ucap Jhonathan seraya mengangkat tubuh Willona, dan membawanya ke atas ranjang. Willona hanya dapat membenamkan wajahnya yang sudah memerah, ke depan dada bidang sang Suami.


"Ada apa?"


"Malu...."


"Apa kamu malu? malu tapi mau?" ejek Jhonathan.


"Jhon... emh... ah...."

__ADS_1


\=\=\=\=


🌹Uthor: Beri Tip💕💕(Like,Komen,Vote)


__ADS_2