
"Oppa? Anda bercanda Tuan muda?"
"Tidak, memang aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?"
"Eee...."
"Hari pertama bekerja, apa kamu sudah berani membantah atasan?"
"Eh... tidak." Yijia dibuat kikuk oleh tingkah labil Andrew, terkadang ia berbicara formal dan dilain waktu ia berbicara non formal. Benar-benar membuat Yijia bingung, seperti tidak menemukan sosok Andrew yang dulu ia kenal.
"Apa dia benar-benar bukan Andrew? apa iya ada di dunia ini ada 2 orang yang berbeda, mempunyai wajah dan bentuk tubuh sama."
"Ayo pergi" ucap Andrew seraya menarik tangan Yijia
"Umm... Tuan muda, pelan-pelan." Yijia seperti terseret, ia mencoba mengimbangi setiap langkah besar Andrew, yang berjalan di depannya.
.....
*Kediaman Keluarga Lin
"Ingat, besok kita akan ke Inggris, jadi persiapkan semua berkas yang kuserahkan padamu tadi, malam ini. Aku akan datang besok menjemputmu, saat itu kau harus sudah siap, mengerti?"
"Mengerti Tuan, eh... um... Oppa?"
"Saat bekerja tetap harus formal."
"Baik Tuan."
"Huh dasar Plin-plan, saat hamil dulu Ibunya ngidam apa sih, sampai-sampai punya anak seperti ini? kalau Andrew tidak mungkin seperti orang satu ini, pasti mereka cuman kebetulan mirif aja."
"Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa besok."
"Iya, hati-hati di jalan Oppa."
"Ya, masuklah ke dalam."
Yijia melangkah pergi, meninggalkan Andrew yang masih berdiam diri disamping mobilnya.
Sebelum masuk kedalam rumah, Yijia sempat menoleh kearah Andrew, dan tersenyum riang keahnya.
"Selamat malam Oppa" ucap Yijia seraya melambaikan tangannya, yang hanya dibalas Andrew dengan senyum kecil.
"Ya, selamat malam." jawab Andrew ketika Yijia sudah benar-benar masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu.
*Fashback
*Kediaman Keluarga Besar Kim
1 hari sebelum pertemuan Tuan Kim Min-woo dan Lin Yijia. Sekertaris Ma telah menyelesaikan tugasnya, memeriksa latar belakang Yijia.
__ADS_1
"Tuan besar, ini...."
"Baca-kan." suara tegas dan berwibawa itu memerintah, hinggal tidak ada siapapun yang berani membantah.
"Baik."
"Nama Lin Yijia. 4 tahun yang lalu, Ayah dan Ibunya telah meninggal dunia, karena kecelakaan lalu lintas...."
"Baca-kan yang penting saja."
"Menurut catatan riwayat penerbangannya, sebelum ke Korea. Nona Lin sempat tinggal di Indonesia, tapi hanya selama 3 tahun, dan baru-baru inilah dia kembali ke Korea."
"Hm, jadi dia baru kembali ke Korea, lalu ada apa lagi?"
"Yang menarik disini adalah, sebelum tinggal di Indonesia, ia juga sempat tingga di Inggris.
Nona Lin dan Tuan muda juga sempat dekat disana...."
"Apa? jadi inilah sebabnya Jae-woo memiliki kesan terhadap wanita itu?"
"Saya akan lanjutkan, Tuan."
"Ya, lanjutkan."
"Saya tidak tau pasti, tapi menurut pernyataan Tuan Roy, cinta Tuan muda "bertepuk sebelah tangan". Nona Lin bahkan hampir menikah dengan Tuan Jhonathan Zohran, namun berakhir dengan kegagalan, karena pada kenyataannya Tuan Jhonathan masih mencintai mendiang Nona Willona, yang saat itu masih hidup. Tapi sekarang... apa yang akan terjadi jika Nona Lin tau, Tuan Jhonathan tidak lagi menikah, Nona Willona telah tiada, apa mungkin mereka akan kembali...."
"Tuan, Anda memang seorang Ayah yang baik. Tapi... bukankah itu terlalu egois? jika dulu Nona Lin tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Tuan muda, apa sekarang dia akan memilikinya?"
"Sekertaris Ma"
"Ya, Tuan."
"Berikan informasi ini pada Jae-woo, tapi bagian yang ini, harus tetap dirahasiakan. Jangan biarkan Jae-woo mengetahui masa lalunya, biarkan dia memulai semuanya dari awal lagi bersama Yijia."
"Baik Tuan, akan saya lakukan sesuai keinginan Anda. Kalau begitu saya permisi dulu, saya akan menyerahkan ini semua pada Tuan muda." ucap Sekertaris Ma seraya membereskan beberapa lembar kertas, dan membiarkan beberapa kertas lainnya tetap berada di atas meja sang Tuan.
"Ya, pergilah."
"Saya permisi Tuan."
Sekertaris Ma pergi meninggalkan ruangan Tuan Kim, dan berjalan menghampiri Andrew yang berada tidak jauh darinya.
"Tuan muda, ini hasil penyelidikan saya tentang Nona Lin." Sekertaris Ma menyerahkan selembar kertas pada Andrew, yang sedang berdiri tepi kolam renang.
"Terimakasih, kamu boleh pergi, aku akan membacanya sendiri." meskipun terkesan dingin, namun sikaf Andrew terhadap orang umurnya tidak berbeda jauh darinya, tetaplah dalam batas sopan.
"Baik Tuan muda, saya akan pergi sekarang, Permisi."
Setelah menyerahkan kertas berisi hasil penyelidikannya pada Andrew, Sekertaris Ma pun pergi.
__ADS_1
"Hm? Lin Yijia aku merasa seperti familir dengannya, apa dulu dia ada hubungannya dengan masalalu ku? tapi sepertinya tidak mungkin, jika benar, dia pasti sudah mengenaliku kan? aku harus memastikannya lagi." gumam Andrew
**Fashback Off
"Selamat malam, Yi." ucap Andrew pelan, ia lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Jalan."
"Baik Tuan."
Mobil Andrew mulai berjalan, meninggalkan pekarangan besar keluarga Lin. Penjaga pintu gerbang dengan sigap membuka pintu dan menutup kembali, ketika mobil Andrew sudah pergi.
Yijia menatap kepergian mobil yang membawa Andrew pergi, dari balik tirai jendela yang berada di kamarnya.
"Tuhan... jika dia memang Andrew, kuatkan hatiku, beri aku kekuatan jika memang nanti aku harus membalas perasaannya. Dulu... aku mengecewakannya, hingga akhirnya aku yang dikecewakan. Aku banyak belajar dari itu, untuk menghargai setiap cinta yang kudapat. Aku tidak ingin menyesal untuk kali kedua, sudah cukup, baik itu Jhonathan ataupun Ustadz Rahim. Aku telah banyak mengecewakan hati mereka yang tulus, hanya untuk cinta yang ternyata bukan untukku."
"Yusuf... cukuplah kita seperti orang yang bertemu di jalan, hanya lewat sebentar, lalu berpisah lagi. Andrew... beri aku kesempatan untuk membalas perasaanmu dulu, setidaknya aku yakin, kamu tidak pernah melupakanku dari hatimu" gumam Yijia
"Yi, bolehkah aku masuk?" ucap Jixu dari balik pintu kamar Yijia
"Oh, masuklah."
"Kamu baru pulang?" Jixu membuka pintu kamar Yijia perlahan, ia lalu berjalan menghampiri Yijia yang kini telah duduk di tepi tempat tidurnya.
"Iya."
"Sudah makan?"
"Belum"
"Kenapa? apa Tuan muda tidak memberimu makan?"
"Dia itu gila kerja, diri sendiri saja tidak dikasih makan, apalagi aku yang hanya Sekertarisnya."
"Ha...ha... benar-benar yah, pantas saja dia sangat hebat dalam dunia bisnis, ternyata memang orang yang pekerja keras. Oh iya... pasti sulit ya, bekerja dengan orang sepertinya? bongkahan es super dingin dan angkuh."
"Tidak Jixu, dia tidak seangkuh yang kamu pikir. Hanya saja dia memang tidak suka diganggu, dan sangat menyukai ketenangan. Dia juga tidak begitu dingin, bahkan tadi aku terus diajak berbica olehnya, sepanjang perjalanan pulang."
"Benarkah? apa artinya kamu spesian baginya? bisa saja dia tertarik pada mu, Yi."
"Jixu, jangan bicara yang aneh-aneh. Oh iya, kamu tau darimana, aku bekerja jadi Sekertaris Tuan muda Jae-woo?"
"Dari Ayah."
"Oh begitu...."
"Apa kamu lelah Yi? sebaiknya kamu mandi sekarang, nanti aku akan minta pelayan mengantarkan makanan ke kamar mu."
"Baiklah, terimakasih Jixu."
__ADS_1