Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 100_Keluarga Baru


__ADS_3

“Sayang, anak kita cantik seperti kamu,” ucap Bara dengan senyum sumringah. Matanya menatap lekat ke arah sang putri yang tengah berada dalam dekapannya. Sejak tadi, senyum di bibirnya tidak pernah menghilang sama sekali.


Alice yang mendengar hanya tertawa kecil dan menatap suaminya lekat. Rasanya, dia benar-benar bahagia dengan apa yang menjadi pemandangan di depannya kali ini. Rasanya, dia benar-benar bersyukur karena Tuhan memberikannya hidup yang sempurna.


Bara mendekat ke arah istrinya dan duduk di pinggir ranjang. Matanya tetap fokus dengan putri mungilnya. Sampai sebuah dekapan mulai dirasakannya, membuat Bara menatap ke arah sang istri dengan senyum sumringah.


“Kamu terlihat senang hari ini, Sayang,” ucap Alice sembari memeluk Bara lembut.


Bara menghela naps pelan. Dia mulai melepaskan dekapan Alice dan memilih mendekap istrinya lembut. “Aku senang karena kamu dan anak kita selamat, Sayang,” jawab Bara sembari mencium kening istrinya pelan.


Alice hanya menutup mata pelan ketika merasakan dekapan yang diberikan oleh suaminya. Sampai Bara mulai melepaskan kecupannya dan menatap Alice lekat.


“Terima kasih karena sudah menghadirkannya dalam hidup ini, Sayang. Terima kasih karena kamu mau berjuang untuknya,” ucap Bara tulus.


Alice hanya mengangguk pelan, menatap wajah suaminya yang perlahan mulai mendekat. Namun, ketika Bara sudah sampai di ujung bibir dan siap menciumnya, seseorang mengetuk pintu ruang rawat Alice pelan. Membuat keduanya menghentikan niat dan menatap ke asal suara.


“Maaf mengganggu. Saya hanya mau mengambil anak anda untuk dibawa ke ruang rawat bayi,” ucap perawat tersebut dengan senyum tipis.


Bara mengangguk pelan dan melepaskan dekapannya. Perlahan, dia mulai melepaskan putrinya dan memberikan kepada sang perawat. Matanya masih menatap ke arah sang perawat, sampai pintu tersebut tertutup kembali.


“Mas, kamu ini,” protes Alice dengan wajah memerah.


Bara yang mendengar hanya tertawa kecil karena cubitan istrinya. Namun, dia tidak berusaha menghindar sama sekali. Bara memilih mendekap istrinya dan tertawa kecil.


“Itu perawat dari ruangan kamu, kan?”


Alice dan Bara menatap ke asal suara, di mana Dara baru saja masuk dengan pandangan bingung.


“Kalian memangnya habis ngapain kok perawatnya tertawa sendiri tadi di lorong?” tanya Dara dengan tatapan penuh tanya.


Bara yang mendengar hanya diam dan menatap Dara lekat, tidak berniat untuk menjawab sama sekali, termasuk Alice. Keduanya hanya diam dan menatap Dara dengan bibir mengulum senyum.


“Hei, kenapa diam? Kalian memangnya habis ngapain?” tanya Dara dengan tatapan curiga. Mengamati tingkah Bara dan Alice yang hanya diam dan berusaha mengalihkan pembicaraan darinya.

__ADS_1


“Atau jangan-jangan kalian mau buat adik, ya?” tuduh Dara dengan tawa kecil. Dia berdecak dan menggeleng pelan.


“Kalian itu harus belajar sabar, jangan main nambah aja,” ucap Dara tanpa rasa bersalah sama sekali.


“Enak saja,” protes Alice dan menatap Dara kesal. “Aku hanya sedang berpelukan saja tadi. Terus perawatnya datang,” jelas Alice tanpa mengatakan niatnya yang akan berciuman.


Dara hanya tertawa kecil dan menatap Alice tidak percaya. Namun, dia hanya mengangguk dengan bibir mengulum senyum tipis. Hingga dia mendapat tatapan mengancam dari arah Alice.


Dara menghentikan tawa dan membuang napas pelan, berusaha menghentikan tawa yang sejak tadi ditahannya dan menatap Alice lekat. “Baiklah. Lagi pula aku datang bukan untuk mengejek kalian. Aku datang untuk mengucapkan selamat untukmu, Alice. Selamat atas kelahirannya dan semoga keluarga kalian semakin bahagia dengan kehadiran si kecil,” ucap Dara yang langsung bangkit.


Dara mendekap sahabtnya dan menepuk pelan. “Kalau sekarang sudah tidak tahan, jangan lupa pakai pengaman,” bisik Dara sembari melepaskan pelukannya.


Seketika, wajah Alice memerah karena ulah sahabatnya. Namun, dia hanya diam dan menatap kesal. Dia takut kalau nantinya Bara mendengar dan memiliki ide konyol seperti saran Dara.


Aku akan balas saat kamu melahirkan, Dara, batin Alice dengan mata mengamati.


_____


Dave yang mendengar menatap ke arah istrinya dan tersenyum tipis. “Kamu mau juga?” tanya Dave sembari melirik ke arah istrinya sekilas.


Dara yang mendengar diam dan menatap Dave lekat. Bibinya hanya mengulum senyum tipis, mengamati suaminya. Sampai dia membuang napas pelan dan kembali menatap jalanan di depannya.


“Semua wanita pasti mau, Dave. Aku juga sama dengan mereka, mau melahirkan dan memiliki anak yang sehat,” jawab Dara dengan tatapan polos.


“Kalau begitu, aku rasa malam ini kamu tidak akan bisa tidur,” ucap Dave dengan bibir mengulum senyum tipis.


Dara mengerutkan kening dalam dan menatap ke arah Dave penuh tanya. “Memangnya kenapa?” tanya Dara bingung.


“Katanya kamu mau punya baby seperti Alice. Itu artinya, kita harus berjuang bersamakan, Sayang?” jawab Dave sembari menahan tawa.


Seketika, Dara menepuk lengan Dave dan mendengkus kasar. Bibirnya dimanyunkan dengan tatapan kesal setengah mati. Bahkan, pipinya sudah memerah karena ulah suaminya.


Astaga, kenapa aku tidak terpikir sampai situ, batin Dara merutuki kebodohannya.

__ADS_1


“Kalau mau cepat jadi, kita harus melakukannya setiap hari, Sayang,” kata Dave menggoda Dara.


“Dave, diam,” tegur Dara yang sudah benar-benar malu.


Padahal dia yang bilang, kenapa aku yang malu banget, batin Dara sembari menutup telinganya dengan kedua tangan, tidak menghiraukan ucapan suaminya sama sekali.


“Hey, aku benar, kan? Kalau kam....”


“Sudah diam,” sela Dara tanpa menatap ke arah Dave sama sekali. “Aku tidak akan mendengarnya.”


Dave yang melihat tingkah Dara tertawa kecil dan bergumam pelan. Matanya menatap ke arah sang istri, sampai dia mulai membelokan mobil ke arah rumahnya dan menghentikan pelan.


Dara yang merasa mobil ditumpanginya sudah berhenti langsung melepaskan sabuk pengamannya cepat. Namun, ketika dia akan membuka pintu, Dave mengunci pintu, membuat niat Dara terhenti seketika.


“Dave,” tegas Dara dengan tatapan lekat.


Dave mengulum senyum tipis dan menatap istrinya lekat. “Aku rasa kita bisa melakukanya di sini, Sayang. Aku sudah tidak tahan,” ucap Dave masih menggoda Dara yang mulai memerah.


“Dave,” teriak Dara mulai kesal. “Aku akan pulang ke rumah kalau kamu tidak membuka pintunya sekarang,” tegas Dara dengan tatapan mengancam.


Dave yang mendengar berdecak kecil dan memutar bola mata kesal. Dia mulai menurut apa yang dimau dan tidak menatap Dara sama sekali. Memasang wajah kesal yang membuat Dara menjadi ikut terdiam.


Kenapa dia yang marah?, batin Dara dengan perasaan bersalah. Sampai dia mengulum senyum tipis dan menatap ke arah suaminya lekat. Tanpa aba-aba, dia langsung mendekat dan mencium pipi Dave sekilas.


“Aku tunggu di kamar,” bisik Dara yang langsung membuka pintu dan keluar dari mobil.


Dave yang mendengar mengulas senyum tipis. Dia segera turun dari mobil dan mengikuti ke mana istrinya melangkah. Aku harap malam ini akan ada keberhasilan dengan usahaku dan Dara, batin Dave penuh harap.


_____


Huwaaa,,,,, akhirnya Kim bisa hadir di sini lagi. Maaf ya sayang, Kim liburnya pakai lama banget. Soalnya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Oh iya, kali ini Kim baru datang, senang dong. Namun, Kim juga bawa kabar lain nih.


BESOK, RELATIONSHIP GOALS AKAN RILIS BAB TERAKHIR. Yeheeyyy....senang atau sedih kalian? Komen dan lika ya sayang. Jangan lupa vote supaya Kim tetap semangat. Sampai ketemu di chapter akhir sayang.

__ADS_1


__ADS_2