Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 87_Daddy?


__ADS_3

“Tidak ada yang perlu kamu cemaskan, Dave. Dia hanya sedang berada dalam pengaruh obat bius saja. Sebentar lagi dia akan sadar,” jawab seorang pria di dekat Dave. Tangannya masih sibuk mengemasi barang bawaannya dan mengabaikan Dave yang masih memandang Dara lekat.


“Apa ada efek samping dari obat tersebut?” tanya Dave dengan cemas.


Pria dengan snelli tersebut mulai menatap ke arah Dave dan menepuk pelan pundak sahabatnya. “Apa dia kekasihmu?” tanya Boy, dokter pribadi sekaligus sahabat Dave dengan wajah serius.


“Iya,” jawab Dave. Dia merasa ada yang aneh dengan tatapan sahabatnya tersebut.


“Aku rasa, sekarang kamu harus berusaha keras untuk kembali membuatnya mengingatmu,” celetuk Boy dengan wajah serius.


“Apa maksudnya? Ada hal buruk yang terjadi?” tanya Dave semakin tidak karuan.


“Maaf, Dave. Karena terlalu banyak obat bius yang digunakan, dia akan mengalami amnesia. Dia tidak akan mengingatmu dan bisa jadi perasaannya denganmu berbanding terbalik. Dari dia yang menyukaimu bisa menjadi dia menjadi membencimu,” jelas Boy dengan wajah yang tidak meragukan sama sekali.


Dave kembali terdiam. Rasanya dia tidak rela kalau pada akhirnya, Dara akan melupakan semua tentangnya. Apa aku yang harus mulai berusaha lagi, batin Dave bimbang.


Boy yang sejak tadi menatap Dave segera menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Sampai dia memutuskan untuk tertawa keras karena melihat wajah mellow Dave yang tidak pernah dilihatnya sama sekali. Membuat Dave yang tengah berduka menatapnya lekat.


“Apa kamu menipuku, Boy?” tanya Dave dengan suara tegas. Tidak ada lagi wajah sendu yang sempat ditunjukan olehnya.


Boy yang ditanya hanya diam dengan mulut terkunci rapat. Menahan tawa yang sudah ingin sekali diledakan. Sampai dengusan dan umpatan Dave mulai keluar, membuat Boy semakin tidak tahan dan langsung tertawa keras. Bahkan, tangannya sudah memegang erat perutnya.


Dave yang melihat berdecak kecil dan langsung menepuk kepala Boy keras. “Dasar kurang ajar. Aku bahkan sudah begitu percaya dengan ucapanmu,” keluh Dave dengan wajah kesal.


Boy yang menerima perlakuan sedemikian rupa hanya mampu pasrah dan menahan tawa. Dia hendak memprotes tindakan Dave yang sama tidak berhatinya, tetapi terhenti karena erangan kecil dari seseorang di dekatnya. Membuat Boy menatap ke asal suara dan memandang lekat.


“Aduh,” pekik Dara ketika matanya baru saja terbuka. Tangannya langsung memegang pelan keningnya, membuat Dave segera menunduk dan menatap Dara lekat.


“Dara, ada yang sakit?” tanya Dave dengan pandangan cemas.


Dara yang ditanya hanya diam dan menggeleng pelan. Masih mencoba meredam rasa sakit yang baru saja menyerang. Dia bahkan merasakan genggaman jemarinya pelan dan hanya mengabaikan saja.

__ADS_1


“Ada yang salah dengannya?” tanya Dave sembari menatap Boy lekat.


“Itu efek dari obat bius yang masih tertinggal. Sebentar lagi dia juga akan kembali membaik. Aku akan berikan resep agar kondisinya cepat membaik. Anak buahku yang akan membawakannya. Jadi, aku pulang dulu,” jelas Boy dengan suara formal.


Dave mengangguk mendengar usulan Boy. Lagi pula, dia juga tidak mungkin keluar dari rumah dan meninggalkan Dara seorang diri. Hingga matanya menatap kepergian Boy dan mulai berpaling menatap Dara lekat.


“Tidurlah lagi, Dara. Aku ada di sini. Jangan takut,” ucap Dave dengan nada lirih. Berharap Dara akan kembali membaik setelah tidur yang akan dilakukannya nanti.


Aku mohon, jangan ada hal buruk yang terjadi dengannya, batin Dave memohon.


_____


“Jadi, bagaimana kondisi saya, Dok?” tanya Alice dengan pandangan lekat. Dia baru saja bangun dan turun dari ranjang rumah sakit. Ya, dia memutuskan untuk ke rumah sakit setelah mengantar Bara ke bandara. Dia merasa ada yang aneh dengan perutnya.


Alice mulai melangkah ke arah meja kerja wanita dewasa yang sejak tadi memeriksanya. Dengan pandangan cemas, dia segera menarik kursi di depan sang dokter dan duduk. Tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan kepadanya.


Ada apa denganku sebenarnya, batin Alice penuh tanya.


“Apa ada hal lain yang ingin kamu keluhkan?” tanya sang dokter dengan senyum ramah.


“Jangan terlalu kaku,” celetuk sang dokter dengan wajah sumringah. “Seharusnya anda mulai tersenyum bahagia, Nyonya."


“Bahagia?” ulang Alice dengan wajah bingung. “Kenapa?” tanya Alice lirih.


Sang dokter yang mendengar mulai mengulas senyum tipis dan mengulurkan tangan. “Selamat, anda saat ini hamil, Bu,” ucap sang dokter dengan senyum lebar. “Usia kandungan anda saat ini sudah mencapai dua minggu.”


"Apa dokter yakin? Saya bahkan baru saja melakukan pemeriksaan beberapa hari yang lalu dan dinyatakan tidak hamil,” sahut Alice dengan wajah tidak percaya.


“Jika anda merasa tidak yakin, anda bisa mengecek di toilet ruangan ini,” ujar sang dokter sembari memberikan alat tes kehamilan dan menunjuk ke arah toilet di dekatnya.


Alice menangguk dan menerima alat tersebut. Aku harap ini memang benar, batin Alice sembari melangkah masuk.

__ADS_1


_____


Alice mengelus pelan perut ratanya dengan senyum sumringah. Kakinya sudah melangkah masuk ke dalam rumah dan kembali menguncinya. Setelah melakukan tes dengan alat kehamilan, dia mulai percaya dengan apa yang dikataka sang dokter.


“Aku benar hamil,” gumam Alice dengan kebahagiaan berlebih. “Aku yakin, mas Bara akan suka dengan kabar ini,” lanjut Alice semakin bersemangat.


Alice memasuki kamarnya dan menutup pelan. Dia mulai meletakan tasnya di pinggir ranjang dan mengambil hasil pemeriksaannya, ditambah dengan alat tes kehamilan yang semakin menguatkan.


Alice memlih duduk di pinggir ranjang dan menekan ponselnya. Dia mencoba melakukan vidio call dengan sang suami dan berniat membagi kebahagiaannya. Namun, tidak juga mendapat jawaban dari arah Bara, membuat Alice mendesah kasar.


“Ke mana ini mas Bara,” ucap Alice menahan perasaan kesal. Dia mencoba kembali menghubungi sang suami, tetapi hasilnya sama. Tidak mendapat jawaban sama sekali.


“Mungkin masih banyak tugas,” gumam Alice. Dia sadar kalau Bara bahkan baru saja datang beberapa jam yang lalu.


Alice tersenyum menyadari pikiran jahilnya. Dengan cepat, dia mulai mengambil salah satu buku dan pena di dekatnya. Dengan cepat, dia menuliskan sesuatu yang membuat senyumnya semakin sumringah. Setelahnya, dia segera melatakan tulisan tersebtut bersama dengan bukti dari rumah sakit dan juga benda pipih dengan dua garis.


Alice mulai memfoto benda tersebut dan tersenyum senang. Tangannya kembali mengetikan sesuatu dan mengirimkannya ke Bara.


“Aku rasa aku akan mandi dulu,” ucap Alice yang langsung meletakan ponselnya di dekat nakas. Mengabaikan baterai yang sudah memerah.


Sedangkan di tempat lain, Bara baru saja masuk hotel dan setelah mengerjakan tugasnya. Tangannya segera meraih ponsel yang sejak tadi diabaikan olehnya. Namun, ketika melihat pesan gambar dari istrinya, Bara segera membuka dan menatap lekat.


Come back quickly, daddy. We are waiting for you.


“Apa?” Bara yang membaca pesan Alice langsung membelalak tidak percaya. “Alice hamil?”


_____


Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.


Jangan lupa juga baca cerita Kim berjudul “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.

__ADS_1


Untuk kalian yang suka cerita tamat, Kim punya dua cerita tamat yang bisa kalian nikmati dengan judul “Wedding Drama” dan “Wedding with My Lecturer”. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan berikan vote untuk cerita Kim.


See you next chapter 😘😘


__ADS_2