Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 99_Selamat Datang, Sayang


__ADS_3

Bara menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah sakit. Dia merasa tidak menemukan tempat kosong untuk mobilnya. Saat ini pikirannya masih berkutat dengan Alice yang tengah berjuang untuk melahirkan anaknya. Bahkan, saat ini dia sudah keluar dan tidak memusingkan mengenai peraturan rumah sakit yang melarang parkir sembarangan. Tujuannya hanya satu, meja resepsionist unutk menanyakan ruang persalinan.


Bara segera melangkah lebar dan mendatangi meja yang terletak di tengah gedung tersebut, menatap dengan pandangan cemas ke arah petugas rumah sakit.


“Sel ....”


“Di mana ruang persalinan?” tanya Bara cepat.


Sang petugas segera mengarahkan Bara ke arah ruangan yang dimaksud. Bara yang mengerti segera melangkah. Namun, baru dua langkah kakinya terayun, dia harus kembali menghentikan langkah karena seseorang memanggilnya. Membuat Bara berdecak kecil dan menatap ke asal suara.


“Maaf, Pak. Anda harus memarkirkan mobil an ....”


“Tolong parkirkan, Pak. Saya sedang buru-buru. Istri saya sedang melahirkan dan saya harus segera datang untuk menemani,” sela Bara semabri mengeluarkan kunci mobil dan memberikan kepada satpam rumah sakit.


Bara langsung melangkah cemas dan meninggalkan satpam yang jelas enggan menerima permintaannya. Namun, mereka hanya diam dan memilih mengalah. Rasanya, memprotes Bara juga tidak ada guna sama sekali.


“Alice, aku yakin kamu bisa,” gumam Bara dengan ekpresi cemas. Kakinya terus melangkah ke arah ruang persalinan. Jantungnya terasa tidak karuan sama sekali. Bahkan, dia merasa bahwa saat ini adalah saat di mana dia meraskaan cemas untuk pertama kalinya. Saat di mana dia merasa takut akan sebuah kehilangan.


Astaga, lindungi anak dan istriku, Tuhan, batin Bara dengan tangan yang mulai berkeringat. Sampai matanya menatap Dara yang masih berlalu ke sana-sini dengan tatapan cemas. Membuatnya segera berlari dan melangkah ke arah wanita tesebut berada.


“Dara,” panggil Bara.


Dara yang mendengar namanya dipanggil segera menatap ke asal suara. Seketika, dia merasa lega ketika melihat Bara ada di depannya. Menatap pria tersebut lekat.


“Bagaimana dengan Alice? Apa dokter yang menangani sudah keluar?” tanya Bara dengan pandangan cemas.


Dara menggeleng pelan. “Belum ada yang keluar sejak tadi, Bara,” jawab Dara tidak kalah cemas.


Astaga, batin Bara dengan tubuh melemah. Matanya mulai menatap ke arah pintu yang masih tertutup dengan kabut kecemasan.


Alice, berjuanglah, batin Bara dengan tetes air mata yang mulai mengalir.

__ADS_1


Dara yang melihat hanya diam dan menatap Bara lekat. Perlahan, dia mengelus pelan punggung pria tersebut dan tersenyum tipis. Seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, Bara yang melihat hanya diam dengan tatapan cemas. menunggu takdir Tuhan yang benar-benar tidak membuatnya tenang.


Alice, kamu harus berjuang. Di sini ada suamimu yang menunggu. Jangan buat dia terluka dan menyalahkan takdir. Dia membutuhkanmu, batin Dara dengan senyum tipis.


“Sayang.”


Dara yang mendengar segera menatap ke asal suara. Dia memilih melangkah ke arah Dave berada dan mendekap tubuh tegap suaminya keras. Rasanya, kali ini dia mampu menuangkan semuanya. Bahkan, tetes yang sejak tadi ditahan mulai mengalir dengan sendirinya.


“Hey, kenapa menangis?” tanya Dave bingung. Matanya menatap ke arah Bara berada dengan pikiran buruk yang kian melayang.


“Sejak tadi Alice belum ada kabar, Mas. Aku takut kalau terjadi hal buruk dengannya,” jawab Dara dengan suara terisak.


Dave yang mendengar tersenyum kecil. Dia baru akan membuka mulut dan menjawab ucapan istrinya. Namun, niatnya terhenti karena suara tangis yang terdengar. Membuat mereka semua menatap ke asal suara dengan pandangan berbinar. Terlebih, Bara yang langsung menghapus air mata pelan.


Dara melepaskan dekapan dan melangkah ke arah Bara berada. Menunggu pintu tersebut terbuka. Berharap cemas dengan keadaan Alice. Bahkan, dia sampai mengabaikan Dave yang sudah merangkulnya dari samping. Dia hanya fokus dengan pintu mencekam tersebut.


“Kenapa tidak ada yang keluar? Aku takut ada hal buruk terjadi dengan Alice,” gumam Bara dengan tatapan cemas.


Bara hanya diam dengan pandangan cemas. Dia yakin, jika bukan karena keselamatan anak dan istrinya, dia akan membuka dan memaki dokter yang ada di dalamnya. Rasanya begitu cemas ketika tidak ada yang keluar sama sekali. Sampai pintu di depannya terbuka, membuat Bara menatap dengan napas tertahan.


“Tuan Bara?” tanya seorang suster dengan senyum tipis.


“Saya,” jawab Bara dengan jantung yang kian berdetak tidak karuan. Matanya menatap ke arah bayi dalam gedongan sang perawat.


“Selamat, Pak. Anak anda perempuan dan lahir dengan sehat,” ucap sang dokter dengan wajah berbinar.


Bara yang mendengar mengangguk pelan dan menerima bayi mungil tersebut. Menatap wajah ayu yang jelas mirip dengannya. Hanya saja, tatapan matanya sama persis dengan milik Alice. Hal yang membuatnya menitikan air mata dengan perasaan haru.


Dave yang melihat tersenyum tipis dan menepuk pelan pundak Bara. “Selamat, Bara. Sekarang kamu sudah menjadi ayah,” ucapnya pelan.


Bara yang mendengar hanya diam dan mendekap putrinya erat. Rasanya begitu lega karena anaknya lahir dengan selamat. Sampai dia teringat dengan Alice dan menatap ke arah sang perawat lekat.

__ADS_1


“Lalu istri saya? Bagaimana kondisinya?” tanya Bara cemas.


“Nyonya Alice baik. Anda bisa menjenguknya di dalam,” jawab sang perawat.


Bara semakin menghela napas lega dan mendekap putrinya erat. Mengabaikan tubuh mungil yang masih penuh dengan darah. Rasanya begitu bahagia dengan kehidupan barunya. Sampai dia melepaskan dekapan dan menatap putrinya lekat.


“Selamat datang, Sayang. Terima kasih karena sudah datang dan melengkapi kehidupan kami,” ucap Bara pelan.


Dara yang mendengar tesenyum tipis. Dia hanya diam, merasakan pusing yang terasa berdenyut keras. Namun, melihat Bara di depannya, dia berusaha menahan semuanya. Menatap wajah mungil gadis kecil yang membuatnya bahagia.


“Kapan aku juga memiliki anak,” gumam Dara dengan senyum pilu.


Dave yang mendengar mengeratkan rangkulannya dan tersenyum tipis. “Nanti juga kamu akan memiliki anak, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Dave sembari mengecup kening Dara pelan.


Dara hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sedangkan Bara, dia mulai kembali memberikan putrinya dan menatap sang suster lekat.


“Boleh saya masuk?” tanya Bara dengan penuh harap dan mendapatkan anggukan.


Bara yang melihat tersenyum tipis dan melangkah masuk. Mencium baru obat yang menyengat. Sampai dia menatap Alice yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit dengan mata terpejam. Melihat deru napas Alice yang terasa memburu.


Bara melangkah mendekat dengan air mata menitik. Sampai dia menghentikan langkah dan duduk di dekat Alice berada. Membuat raut wajah lelah mulai kembali menatapnya lekat.


“Mas,” panggil Alice lirih.


Bara meraih jemari Alice dan mencium pelan. “Terima kasih. Terima kasih karena sudah berjuang sejauh ini,” ucap Bara pelan.


Alice hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


“Aku mencintaimu, Sayang. Sangat,” ucap Bara sembari mencium kening Alice. Mengabaikan dokter dan suster yang tengah tersenyum menatapnya.


_____

__ADS_1


__ADS_2