
“Kamu mencarinya, Bara?” tanya Rony dengan nada mengejek. Senyumnya mulai terukir ketika melihat wajah tegang seisi ruangan yang menatapnya lekat.
“Lepaskan dia, Rony. Jangan macam-macam dengannya,” teriak Bara dengan emosi menggebu.
“Lepaskan? Jangan bermimpi. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskannya. Dia hanya milikku dan saat aku tidak bisa memilikinya, siapa pun tidak akan bisa,” desis Rony dengan pandangan serius. Sudah tidak ada senyum yang melekat. Sama sekali tidak ada.
“Rony!” bentak Margareth dengan mata membelalak tegas. Dia takut jika Rony benar nekat akan melukai Alice.
Rony mengalihkan pandangan dan menatap ke arah Margareth lekat. Terselip tawa meremehkan dari pandanganya. “Kamu di sini juga, Nenek?” tanya Rony dengan pandangan lekat. “Apa kamu datang untuk melihat cucumu untuk yang terakhir kali?”
“Rony!” teriak Surya menggelegar, membuat seisi ruangan langsung diam dan menatap Surya yang sudah menahan amarah.
“Apa, Paman? Kamu mau mengatakan sesuatu untuk anak kesayanganmu?” tanya Rony masih merasa di atas awan.
Surya hanya diam dengan tangan mengepal. Matanya menatap lekat ke arah pria yang sangat dibencinya sejak dulu. Hal yang sama terjadi dengan Bara. Wajahnya sudah menatap ke arah Roy dengan pandangan tegang. Dia takut jika ada hal buruk terjadi dengan calon istrinya.
“Aku harus menyelamatkannya,” gumam Bara yang mulai melangkah ke arah Rony. Namun, baru satu langkah, kakinya mulai terhenti ketika seseorang menahan pundaknya. Matanya menatap ke arah Michael yang sudah berdiri tepat di sebelahnya.
“Rony, apa yang kamu inginkan?” tanya Michael dengan tatapan tegas. Matanya menatap lekat ke arah Rony yang juga mulai menatapnya.
“Kamu di sini, Ael??” ucap Rony dengan pandangan terkejut. Sejak tadi dia hanya berceleteh tanpa tahu jika Michael ada diantara kerumunan tersebut.
“Ya, aku di sini,” jawab Michael dengan pandangan tajam. “Jadi, apa yang kamu inginkan sekarang? Kamu sudah mengambil Alice di hari pernikahanya. Mengancam semua dan aku yakin, itu tanpa alasan. Kamu pasti menginginkan sesuatu. Jadi, katakan itu.”
Rony yang mendengar tersenyum sinis dan menatap Micahel lekat. “Kamu memang pandai, Michael. Tidak salah jika kamu dijadikan sebagai pewaris tunggal keluarga Aditama.”
Michael hanya diam ketika mendengar pujian dari pria di hadapananya. Mengabaikan Vinda yang sudah terlihat tegang tidak jauh darinya. Michael hanya menatap lurus, mempercayaan istri dan anaknya kepada Adam yang saat itu memang ikut denganya.
“Keinginanku simple, aku ingin menikah dengan Alice sekarang juga,” jawab Rony dengan wajah serius.
“Permohonanmu diterima," jawab Michael membuat tamu yang ada lagsung menatapnya, termasuk Bara yang sudah membelalak dengan rahang mengeras.
__ADS_1
Dia baru akan memprotes tindakan Michael, tetapi terhenti ketika matanya menatap ke arah Dave yang sudah memberinya tanda agar tidak melawan. Dengan berat hati, Bara mengendurkan genggaman tangannya dan menatal Alice yang sudah semakin deras mengeluarkan air mata.
Apa yang sebenarnya terjadi, batin Bara merasa tidak berdaya. Dia ingin maju, tetapi takut hal buruk terjadi pada Alice.
“Kamu yakin dengan itu?” tanya Rony dengan pandangan tidak pecaya.
“Kamu bisa percaya denganku, Rony. Kamu lihat? Bahkan sudah tidak ada pengamanan di ruangan ini. Aku tidak membawa anak buah satu pun yang bisa menyakitimu. Jadi, turun dan cepat kita langsungkan pernikahannya,” ucap Micahel dengan wajah meyakinkan. “Kamu mau secepatnya menjadikan Alice milikmu, bukan?” imbuh Micael mengabaikan ucapan para tamu dan juga Surya yang seakan menyalahkannya.
Rony menatap sekitar. Matanya memang tidak melihat anak buah Micahel sama sekali. Sampai akhirnya, dia memilih turun dan menyerat Alice agar ikut dengannya. Hinga di tangga terakhir Rony tersenyum dengan penuh kemenangan.
“Kamu akan menjadi milikku, Alice,” gumam Rony tepat di telinga Alice, membat Alice srmakin menangis dan merasa begitu jijik.
“Berhenti atau anda akan lumpuh dengan segera, Tuan.”
Rony yang merasakan patukan di belakangnya menatap langsung menegang. Dia sangat mengenal suara yang ada di belakangnya dan menatap wajah santai Michael.
“Kurang ajar kamu, Michael,,” teriak Rony dan langsung mendekatkan kepala Alice, menarik pistolnya dengan rahang mengeras.
Jika ini terakhir aku melihatnya, aku berharap dia akan menemukan penggantiku, batin Alice dengan mata memejam, menunggu saat di mana Rony akan menghabisinya. Namun, lama tidak ada yang terjadi. Perlahan, Alice membuka mata, menatap satu per satu tamu undangan menatapnya lekat.
“Apa yang terjadi?” gumam Alice merasa genggaman tangan Rony semakin mengendur.
Alice mulai membalikan badan, menatap ke arah Rony yang sudah berada alam dekapan Roy dengan mata memejam. Seketika, tubuhnya luruh dengan air mata yang mengalir.
“Alice,” teriak Bara untuk pertama kali. Dengan cepat dia mendekati Aloce yang sudah menangis dan mulai membuka satu per satu tali yang mengikat.
“Kamu baik-baik saja? Ada yang luka?” tanya Bara dengan wajah cemas.
Alice yang mendengar hanya diam dan memeluk Bara erat. Rasanya dia benar-benar takut jika sampai Rony menarik pelatuknya.
“Sayang, kamu baik-baik aja?” tanya Glauh yang langsung duduk dan memeluk Alice erat.
__ADS_1
Bara menatap Michael yang sudah tersenyum tipis di dekatya. Dengan perlahan, dia mulai bangkit dan mendekat ke arah Michael.
“Terima kasih,” ucap Bara dengan tulus.
“Tidak masalah, Bara. Kamu bisa mengatakan hal ini kepada Dave. Dia sudah merencanakan ini semua,” jawab Michael dengan senyum tipis.
Bara menatap ke arah Dave dan tersenyum kecil. “Terima kasih. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak medapat batuan dari kalian semua. Aku benar-benar berterima kasih untuk semuanya,” ujar Bara dengan wajah senang.
“Tidak masalah. Aku tahu kamu memang tidak akan pernah berpikir sejauh itu,” jawab Dave mencoba mencairkan suasana mellow diantara para undangan.
"Tuan, dia mau dibawa kemana?” tanya Roy sembari membawa Rony yang tengah dalam keadaan pingsan.
“Bawa dia ke tempat seharusnya dia berada. Gabungkan dengan para anak buahnya, Roy. Pastikan mereka tidak akan pernah bisa pergi lagi,” perintah Michael dengan nada tegas.
Roy yang mendengar langsung mengangguk dan melangkah pergi, meninggalkan kerumunan yang masih menatapnya. Ya, Michael memang sudah mempersiapkan semuaya dan itu atas usul Dave yang merasa takut akan ancaman Rony. Sampai seorang gadis datang diantara ketiganya.
“Bara, Alice sudah siap melangsungkan pernikahan,” panggil Dara tanpa memperhatikan sekitar.
Bara yang mendengar mengangguk patuh dan segera melangkah ke arah tempat di mana dia akan melangsungkan pernikahan. Menatap Alice yang sudah duduk di dekatnya. Micahel yag melihat Dara mulai menyadarkan Dave yang sejak tadi diam.
“Apa?" tanya Dave bngung.
“Bukankah dia cantik? Bisa sebagai pengganti Alice,” goda Michael dengan pandangan tajam.
Dave haya berdecak kecil dan tidak menanggapi ucapan Michael. Pandangannya hanya fokus menatap ke arah Bara yang tengah mengucapkan janji suci bersama dengan Alice. Hingga tepukan keras terdengar, mengiringi status keduanya yang sudah berubah.
Aku harap kalian akan selalu bahagia, batin Dave dengan senyum tipis.
_____
Selamat membaca semuanya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Jagan lupa juga baca cerita kim yang berjudul “Wedding With My Lecturer” dan “Wedding Drama 2”. tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili untuk tahu info cerita Kim dan updatenya. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh.😘😘
__ADS_1