
“Bara,” gumam Alice dengan tatapan tidak percaya. Matanya kembali melihat ke arah wanita yang tengah memakan es krim di hadapan Bara dengan kening berkerut heran.
“Bella,” gumam Alice yang langsung terpaku. Matanya menatap kedaunya dengan tatapan yang sangat lekat, bahkan dia tidak mau beralih sedikit pun, membuat Dara yang ada di sana mengikuti arah pandang temannya.
Dara mengerti apa yang membuat sahabatnya kali ini diam. Dengan perlahan, Dara langsung bangkit dan menuju ke arah Alice dengan langkah semakin cepat. “Kenapa aku tidak sadar ada Bara di sini,” gumam Dara sembari melangkah mendekati Alice.
“Alice,” sapa Dara yang langsung menepuk pelan pundak sahabatnya.
Alice tersentak dari lamunannya dan menatap ke asal suara. Di gadapannya sudah ada Dara yang tersenyum menenangkan. Sampai helaan napasbkeras diiringi senyuman tipis langsung muncul di wajah Alice.
“Kita pindah cafe yuk, Alice. Aku merasa di sini kurang bagus,” kata Dara mencoba membawa Alice pergi dari cafe yang saat ini mereka singgahi.
Dara baru akan menarik tangan Alice, ketika gadis tersebut mencegahnya pelan. Kepalanya menggeleng dan menatap Dara lemah. “Kita akan tetap di sini, Dara. Aku rasa sekarang adalah waktunya aku harus mulai menerima kenyataannya,” jawab Alice dengan lembut.
“Tetapi, Bara.” Dara menatap ke arah Bra yang tidak menyadari kehadiran mereka di tempat yang sama.
“Tidak masalah. Mungkin aku memang harus menyelesaikan semuanya sekarang,” sahut Alice mencoba menguatkan dirinya.
Alice melepaskan genggaman tangan Dara di pundaknya dan melangkah mendekati Bara, hingga semua ingatan yang suda terserap olenya langsung terpitar bagaikan kaset lama yang sudah usang.
Karena aku tidak mau gadis yang aku cintai terluka.
Dulu kamu bilang tidak mau aku terluka, tetapi sekarang aku terluka karenamu, Bara, batin Alice dengan mata menutup perlahan
Iya, selama ini aku memang selalu menyangkal perasaanku, Alice. Tetapi, melihatmu bersama dengan Dave aku merasa tidak rela. Aku mencintaimu Alice Surya Pranata dan aku tidak tahu itu terjadi sejak kapan. Yang aku tahu, sekarang aku mulai takut kehilanganmu.
“Dan sekarang kamu melepaskanku,” gumam Alice semakin merasa sakit.
Iya dan kalau sampai kamu dekat dengannya, aku akan benar-benar marah denganmu.
__ADS_1
Aku berniat melamarmu, Alice. Aku pernah mengatakannya, tetapi aku tidak pernah memberikan keseriusan. Jadi, sekarang aku bertanya lagi denganmu, Alice. Will you marry me? Kamu mau hidup selamanya denganku? Mencintai dalam suka dan duka. Hanya denganku sampai maut memisahkan.
Alice semakin tergugu ketika mengingat kalimat Bara yang terasa membahagiakan. Bahkan, dia sudah merencanakan hari-hari bahagia bersama dengan Bara. Namun, hasilnya semakin membuatnya terluka.
Alice menghentikan langkahnya ketika tepat berada diantara Bara da juga Bella, membuat keduanya menatap ke arah Alice dengan tatapan terkejut, termasuk Bara yan sudah melihat air mata Alice jatuh di pipi mulusnya.
“Bara,” panggil Alice pelan, “beberapa minggu aku menunggumu. Berharap kamu akan datang atau setidaknya mengubungiku. Aku mengkhawatirkanmu. Memikirkan apa kamu baik-baik saja. Tetapi, ternyata aku salah. Kamu bahkan tidak memikirkanku sama sekali.”
_____
“Bara,” panggil Alice pelan, “beberapa minggu aku menunggumu. Berharap kamu akan datang atau setidaknya menghubungiku. Aku mengkhawatirkanmu. Memikirkan apa kamu baik-baik saja. Tetapi, ternyata aku salah. Kamu bahkan tidak memikirkanku sama sekali.”
Bara hanya diam mendengar ucapan Alice. Dia memilih mengabaikan wajah pilu yang ditunjukan Alice di hadapanya. Dia masih merasa tidak sanggup melihat Alice saat ini. Hatinya merasa sakit ketika menyadari mamanya jauh lebih memilih merawat anak yang bukan lahir dari kandungannya dari pada anak kandungnya sendiri.
Andai saja sat itu Alice tidak hadir, pikir Bara masih dengan egonya.
“Apa menurutmu aku bukan lagi prioritas, Bara?” celetuk Alice denagn air mata yang kian deras mengalir.
Alice menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya beralih mentap Bella yang hanya diam sembari menatap keduanya bingung. Dia masih belum selesai mendengarkan curhatan Bara ketika Alice datang dan menyela.
“Kamu bilang sudah tiak memiliki perasaan apa pun dengannya, Bella. Aku bahkan percaya dengan itu. Tetapi, hari ini aku melihat hal lain yang terasa menyakitkan. Semua orang yang aku percaya malah menusukku dengan begitu tega,” ucap Alice dengan rahang mengeras.
Dara yang ada di sana segera meraih pundak sahabatnya dan memeluknya erat. Matanya menatap Bara dan Bella secara bergantian. Dia yakin, Bara pun merasakan hal yang sama karena dia melihat setitik air mata di pelupuk mata pemuda tersebut.
Kenapa kamu melukai dirimu sendiri dari pada meraih bahagia, batin Dara dengan tatapan kesal. Namun, dia tidak ikut memojokan Bara dan juga Bella.
“Kamu anggap aku ini apa, Bara? Aku hanya pajangan yang bisa kamu lihat dan kamu buang kapan saja kamu mau, hah?” tanya Alice dengan suara bergetar.
Bara yang mendengar menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya langsung menuju menatap ke arah Alice yang masih menatapnya lekat.
__ADS_1
“Bukankah semua sudah jelas, Alice? Aku pergi ketika acara pertunangan kita. Bukankah itu sudah menjelaskan apa yang ada dihubungan kita, Alice?” ucap Bara dengan wajah datar.
“Maksud kamu?” tanya Alice merasa tidak mengerti dengan ucapan Bara.
Bara menatap Alice lekat. Dia yakin setelah ini gadis di hadapanya akan pergi sejauh mungkin. “Aku rasa kita memang sudah seharusnya berakhir, Alice. Aku melepaskanmu. Aku harap kamu bisa mendapatkan pria lain yang mau menikah denganmu. Aku juga sudah tidak memiliki perasaan apa pun denganmu,” jeas Bara dengan hati setegar besi.
“Bara,” protes Bella dengan wajah tidak suka.
“Aku masih mencinai Bella,” lanjut Bara membuat Bella yang ada di dekatnya membelakak kaget.
Aliice yang mendengar luruh seketika. Air mata yang sejak tadi dibendung langsung keluar dengan begitu derasnya, membuat Dara yang ada di sana seakan merasakan sakit yang sahabatnya alami.
‘”Aku harap kalian bahagia,” ucap Alice yang langsung memilih pergi.
Dara melihat Alice dan menatap Bara yang masih diam dengan tatapan penuh kebecian. “Kamu egois, Bara. Kamu hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan pearsaan Alice,” celetuk Dara yang langsung mengejar Alice.
Setelah kepergian keduanya, Bella menatap ke arah Bara tajam. “Aku tahu semua yang kamu katakan adalah kebohongan, Bara. Kamu bahkan tidak mencintaiku sama sekali. Aku tahu, di hatimu hanya ada Alice. Terus kenapa kamu lakukan semua itu? Kamu benar-benar menyakiti perasaannya, Bara,” ujar Bella dengan kekesalan yang memuncak.
Bara menatap cangkir berisi kopi dan mengaduknya pelan. Matanya tidak berkedip sama sekali. “Aku harus melakukannya, Bella. Aku harus membuat dia melupakanku. Aku tidak yakin akan mudah memaafkannya. Setiap melihat Alice, aku selalu teringat dengan kenangan pahit kita di masa lalu,” jawab Bara tanpa melihat ke arah Bella.
Bella yang mendengar menatap ke arah Bara dengan rahang mengeras. Dia segera bangkit dan berkata, “Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, Bara. Tetapi yang aku tahu kamu benar-benar bodoh karena sudah melepaskan gadis sebaik Alice.”
Bella akan melangkah ketika dilihat Bara tidak menjawab apa pun. Namun, baru beberapa langkah, Bella memutuskan berhenti dan menatap Bara lekat. “Kamu masih belun bisa mengendalikan egomu, Bara. Kamu menyalahkan seseorang untuk masalahmu dan menjadikan Alice alasan kebencianmu. Padahal, Alice tidak bersalah sama sekali dalam hal ini.”
“Aku harap kamu akan bisa berpikir dengan baik mulai sekarang. Jangan sampai kamu kehilangan wanita yang sangat kamu cintai hanya karena pikiran bodohmu.”
Setelah mengatakan hal tersebut panjang lebar, Bella segera melangkah meninggalkan Bara yang hanya termenung. Sampai helaan keras membuat Bara merasa gundah. Ingatannya masih merekam tangis pilu yang baru saja dikeluarkan Alice di hadapannya.
“Sial! Kenapa kamu selalu mampu membuatku merasa tidak karuan, Alice,” geram Bara yang langsung bangkit.
__ADS_1
_____