
Dave menatap ruangan di depannya dengan pandangan lekat. Mengamati satu per satu barang yang terletak di dalamnya. Hingga pintu di sebelahnya terbuka. Menghadirkan Herman dengan beberapa orang bertubuh kekar. Dave yang melihat hanya mengamati santai dan bangkit. Bibirnya masih mengulum senyum ke arah Herman dan bersikap sopan.
“Dave Wijaya. Berani juga kamu datang ke kantorku,” ucap Herman dengan tatapan sinis. “Apa yang kamu membuatmu begitu berani datang ke kantorku?” tanya Herman tajam.
“Putri anda,” jawab Dave santai. “Putri anda yang membuat saya berani datang ke kantor ini.”
Herman yang mendengar terkekeh kecil dan melangkahkan kaki. Dia memilih duduk di bangku lain tidak jauh dari Dave dan menatap dengan pandangan mengamati. “Jadi, apa yang kamu ingin bicarakan denganku?” tanya Herman masih dengan suara dingin.
“Saya datang untuk melamar putri anda. Saya berniat menikahinya dalam waktu dekat ini,” sahut Dave penuh rasa percaya diri.
“Kamu mau menikahi putriku?” ulang Herman dengan pandangan mengejek dan mendapat anggukan dari arah Dave. Membuatnya tertawa keras dan menatap Dave lekat. Bibirnya bahkan masih mengulum senyum tipis ketika mengingat ucapan Dave yang baru saja terlontar.
“Aku sangat mengahargai keberanianmu, Dave. Aku salud karena kamu masih mau dan bahkan berniat menikahi putri yang bahkan sudah dinikmati oleh papa tirinya. Aku sangat berterima kasih dengan kemuliaanmu yang menerima Dara apa adanya. Namun, sangat disayangkan karena aku tidak akan pernah memberimu restu. Aku menolak lamaranmu untuk Dara,” lanjut Herman dengan pandangan tajam.
Dave membuang napas pelan dan menatap lelaki tua di depannya. Dia bahkan yakin jika usia pria tersebut bahkan sudah sama dengan papanya. Hal yang membuatnya merasa miris karena sikap Herman yang tidak bisa ditolerir sama sekali.
“Saya datang hanya untuk melamarnya, Tuan. Saya tidak berniat meminta izin anda. Jadi, ada atau tidaknya restu anda, saya akan tetap menikahi Dara,” ucap Dave dengan senyum tipis.
“Kamu mencoba melawanku, Dave?” desis Herman dengan rahang mengeras.
“Saya tidak melawan anda. Sama sekali tidak. Saya hanya mengatakan apa yang sebenarnya saya pikirkan. Bahkan, restu anda itu tidak terlalu penting. Anggap saja kedatangan saya ke sini hanya sebagai formalitas seperti calon menantu pada umumnya,” celetuk Dave yang mulai hilang kesabaran.
Herman mengeraskan rahang dan menatap Dave dengan penuh kebencian. Dia baru akan bangkit dan melayangkan tangan, tetapi terhenti karena pintu ruangannya terbuka, menghadirkan sosok yang membuatnya terdiam seketika.
“Michael,” panggil Herman dengan mata membola. Niatnya mulai diurungkan dan bibirnya mulai mengulas senyum tipis.
“Maaf, tadi saya harus ke toilet sebentar,” ucap Michael santai. Kakinya segera melangkah masuk, diikuti Roy dan Adam yang setia di belakangnya. Hingga dia memutuskan duduk dan melempar senyum ramah ke arah Herman berada.
__ADS_1
"Apa kabar, Tuan Herman. Sudah lama sepertinya saya tidak singgah kemari,” ucap Michael dengan senyum ramah.
“Ah, saya baik, Michael. Kamu bagaimana? Sepertinya terlihat lebih ceria dari sebelumnya,” celetuk Herman membuat Michael tertawa renyah. Membuat ruangan yang tadinya mencengkram mulai terlihat lebih cerah.
Herman menghentikan tawanya dan menatap ke arah Michael lekat. “Apa yang membawamu ke sini, Michael? Tumben sekali kamu mau datang ke perusahaanku,” ucap Herman dengan pandangan lekat.
“Saya datang hanya untuk menemani Dave, Tuan. Dia bilang dia akan melamar Dara, putri anda. Jadi, saya menemaninya ke sini,” jelas Michael santai.
“Dave?” ulang Herman sembari menatap Dave lekat. “Memangnya dia siapa sampai kamu menemaninya? Bukannya dia hanya karyawan di kantormu?”
“Anda salah, Tuan. Dia saudaraku. Itu sebabnya aku datang untuk menemani Dave melamar Dara,” jelas Michael dengan senyum ramah.
Herman menatap ke arah Dave dengan rahang mengeras. Mengamati wajah yang sudah tersenyum dengan penuh kemenangan. Membuat tangannya mengepal menahan amarah yang kian memuncak.
Kurang ajar kamu, Dave, batin Herman dengan tatapan kesal.
“Bagaimana, Tuan? Anda merestuinya, kan? Dave sangat menyayangi Dara dan saya pastikan dia akan membahagiakan Dara,” ucap Michael mengabaikan raut wajah Herman yang terlihat kesal.
Michael yang mendengar tersenyum lega dan menatap Dave dengan penuh kemenangan. Sedangkan Dave yang mendengar menghela napas lega.
Aku tahu, kamu pasti kan tunduk dengan Michael, batin Dave.
“Kalau begitu, kami pamit dulu, Tuan. Saya rasa anda juga memiliki pekerjaan lain,” ucap Michael sopan.
Herman hanya mengangguk mengiyakan. Matanya menatap rombongan Dave yang mulai keluar ruangannya dan menutup pintu pelan. Membuat kekesalannya semakin memuncak dan tanpa aba-aba segera melempar vas bunga di depannya.
“Kurang ajar kamu, Dave. Kurang ajar. Aku benar-benar akan membalasmu sialan!” teriak Herman masih merasa kesal.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Michael menatap Dave dengan pandangan kesal. Kakinya terus melangkah keluar dari perusahaan Herman dan menuju ke arah parkiran.
“Kamu benar-benar memanfaatku, Dave. Aku merasa diperalat olehmu,” ucap Michael sembari berdecak kecil.
Dave yang mendengar tertawa kecil dan menepuk pundak Michael pelan. “Jangan berkata begitu, Ael. Aku tidak seburuk itu sampai memperalatmu,” jawab Dave enteng.
“Lalu? Datang ke perusahaan papa tiri Dara dengan membawaku. Apa itu namanya kalau bukan memperalat?” tanya Michael dengan pandangan datar.
“Aku hanya memanfaatkan apa yang sudah Tuhan siapkan untukku, yaitu kamu,” ucap Dave tanpa rasa bersalah sama sekali.
Michael yang mendengar berdecak kecil dan memutar bola mata malas. “Aku yakin, jika sampai Vinda tahu ini, aku akan benar-benar mati dimarahi olehnya,” gumam Michael pelan.
“Tenang saja, Michael. Aku akan merahasiakan ini. Lagi pula dia pasti tidak akan marah karena semua untuk membantuku. Kamu tahu siapa aku, kan? Penyelamatnya dulu," ucap Dave dengan tawa tertahan.
Michael mengetuk kepala Dave pelan dan mendengus kesal. “Kamu menculiknya, bukan menyelamatkannya. Bahkan aku sendiri tidak percaya bisa berteman dengan pria yang pernah mencelakai istriku sendiri.”
Dave yang mendengar terkekeh kecil dan menatap Michael santai. Tidak ada rasa dendam sama sekali. Hingga mereka masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
Sedangkan di tempat lain, Dara tengah asyik mengaduk bahan kue, membantu Renita yang tengah sibuk di dapur. Hingga dering ponsel terdengar, menandakan pesan masuk yang membuat pandangannya teralihkan.
Dara menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah layar ponsel dengan kening bekerut heran. Hingga jemarinya memilih membuka pesan masuk dan membacanya pelan. Matanya membelalak dan tanpa sadar ponsel di tangannya terlepas. Membuat Renita yang sibuk mengalihkan pandangan dan menatap Dara.
“Ada apa, Nak?” tanya Renita dengan pandangan lekat.
Dara yang tersadar segera menatap ke arah Renita dan mengulas senyum tipis. “Tidak ada, Ma. Tadi tangan Dara terlepas. Jadi, ponselnya jatuh,” jawab Dara dengan senyum tipis.
Renita yang mendengar hanya mengangguk mengiyakan. Dia kembali menatap ke arah oven di depannya dan kembali sibuk. Meninggalkan Dara yang masih terdiam dengan pandangan cemas.
__ADS_1
Apa maksudnya pesan itu, batin Dara merasa tidak nyaman.
_____