Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 43_Ketemu Pacar


__ADS_3

Dave menatap mamanya yang sudah memandangnya lekat. Dia sudah menjelaskan mengenai perasaannya kepada Alice dan berniat membatalkan petunangan. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari arah mamanya. Wanita tersebut masihnsaja bungkam dengan keputusannya kali ini.


“Ma,” panggil Dave dengan wajah tegang. Ini pertama kali baginya tidak mendapat jawaban dari mamanya. Biasanya, mamanya selalu menanggapi apa yang dikatakannya.


Renita menghela napas perlahan ketika tatapan mata anaknya berubah sendu. Dengan perlahan, jemarinya mulai mengelus wajah Dave yang terlihat begitu murung di hadapannya. “Apa kamu benar tidak mencintai Alice, Dave?” tanya Renita yang langsung mendapat anggukan dari Dave.


“Bukannya kamu pernah bilang bahwa dia wanita yang baik dan menyenangkan. Lalu apa yang membuatmu tidak bisa mencintainya?” ucap Renita dengan suara lembut. Dia tidak ingin memaksakan anaknya, dia hanya membutuhkan alasan jelas untuk keputusan Dave kali ini.


Dave menghela napas perlahan dan mendekap telapak tangan mamanya yang masih betah di pipinya. Matanya menatap Renita dnegan begitu lembut dan mulai menarik sudut bibirnya, membentuk senyum yang begitu menenangkan.


“Ma, Dave bertemu dengan Alice tanpa sengaja, menjalin hubungan hanya sebatas teman. Dia memang baik, tetapi Dave tidak bisa hidup dengannya, Ma. Dave jauh lebih bisa menerima Alice sebagai sahabat dari pada kekasih. Rasanya berbeda ketika menjalani status kami yang berbeda. Jadi, Dave memutuskan untuk mengakhiri semua dengannya,” jawab Dave dengan perlahan, berharap mamanya akan mengerti dengan perkataannya dan bisa menerima semua keputusannya.


“Kamu tidak memiliki perasaan dengan Rensi, kan, sayang,” sahut Renita dengan pandangan menyelidik. Dia takut jika anaknya masih mencintai Rensi yang sudah menjadi milik orang lain.


Dave tersneyum kecil dan menggeleng. “Dave sudah melupakan Rensi sejak saat dia membuat keluarga kita bermasalah, Ma. Sekarang Dave hanya mau membuat Mama bahagia.”


Renita hanya mampu berpasrah dan menghela napas lelah. “Mama percaya dengan semua keputusanmu, Dave. Kamu yang akan menjalani dan kamu yang berhak memutuskan akan di bawa ke mana hubungan kalian. Mama yakin, kamu sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan.”


“Tetapi, Dave,” imbuh Renita dengan penuh selidik, “jangan terlalu fokus dengan mama, nanti kamu bisa menjadi lajang seumur hidup,” canda Renita dan langsung membuat Dave tertawa.


Dave yang mendengar merasa begitu bahagia. Dia bersyukur memiliki orang tua yang sepenuhnya percaya dengan dirinya. Bahkan, mamanya tidak menanyakan lebih lanjut tentang keputusannya kali ini.


Dave segera mendekap tubuh mamanya erat. “Terima kasih karena selalu percaya dengan Dave, Ma.”


Renita mengelus pelan punggung anaknya dan mengangguk pelan. “Mama selalu percaya dengan semua keputusanmu, Dave. Mama juga menunggu kamu datang membawa calon menantu untuk mama.”


Dave hanya diam dan mengabaikan semua ucapan mamanya. Dia sedang tidak mau memikirkan apa yang baru saja mamanya katakan. Sekarang fokusnya hanya bekerja dengan benar dan membahagiakan mamanya. Sudah itu saja cukup.

__ADS_1


_____


“Pacar,” sapa Alice ketika melihat Bara yang baru datang.


Bara yang sedang menutup pintu mobil menatap Alice yang ada di depannya. Keningnya berkerut melihat wajah Alice yang berbeda. Hari ini Alice memang sengaja dandan untuk menyambut Bara. Namun, melihat ekpresi Bara yang terkejut dan hanya diam, Alice merasa keputusannya kali ini untuk ber-make up adalah salah.


“Bara,” panggil Alice ketika kekasihnya hanya diam dan menatapnya dengan pandangan aneh.


Bara menghela napas panjang dan menatap Alice dengan tatapan datar. “Kenapa kamu berdandan seperti itu, Alice. Kamu terlihat seperti badut,” celetuk Bara membuat Alice merasa kesal.


Alice menatap Bara dengan wajah murung dan bibir memberengut kesal. Dia berharap Bara akan memuji dandanannya kali ini. Namun, sepertinya mengharapkan pujian dari seorang Bara adalah hal yang tidak akan terjadi.


Dulu Bella apa juga seperti ini, ya, tanya Alice dalam hati. Dia bertekad akan menanyakan kepada Bella mengenai masalah ini. Dia sudah tidak cemburu dengan Bella karena nyatanya Bara memilih dirinya.


Alice berniat pergi dari hadapan Bara dan menyembuhkan lukanya. Namun, belum juga dia melangkah, Bara sudah menghentikannya. Alice menatap Bara yang masih memandang dengan tatapan datar.


Bara kembali membuka pintu mobilnya dan memasukan kepala, membuat Alice mengerutkan kening heran. Tidak berapa lama kemudian, Bara kembali keluar dan membawa tisu basah di tangan.


Bara menatap wajah Alice dan mulai menghapuskan tisu ke wajah Alice, menghilangkan make up yang melekat di wajah kekasihnya. Alice sendiri hanya pasrah dan ketika semua sudah hilang, Bara mulai mengukir senyum tipis di bibirnya.


“Kamu terlihat cantik meski tanpa make up, Alice,” ucap Bara membuat Alice langsung bersemu merah.


Bara terkekeh kecil melihat wajah Alice yang sudah memerah karena ucapannya. “Kamu cantik apa adanya dan itu yang membuatku mencintaimu,” imbuh Bara semakin membuat Alice tidak karuan.


Alice yakin, saat ini wajahnya sudah benar-benar memerah. Dia dapat merasakan hal tersebut. Bibirnya mengulum senyum dan menatap Bara, berpura-pura kesal karena sifat dingin kekasihnya. Namun, sebesar apa pun dia mencoba tetap saja luluh.


Alice mendengus kesal karena sifat Bara yang tidak pernah di sangkanya. “Aku benci kamu, Bara,” celetuk Alice sembari memanyunkan bibir, menatap Bara lekat.

__ADS_1


“Hey, kenapa?” tanya Bara dengan kening berkerut.


“Kamu membuat aku tidak pernah bisa marah denganmu. Tidak adil,” gerutu Alice dengan wajah kesal.


Bara yan mendengar terkekeh kecil dan menarik tengkuk Alice, meletakan kepala kekasihnya tepat di dada bidangnya. Dia mengabaikan tempat mereka bermesraan saat ini. Tanpa peduli jika nanti karyawan melihat kedekatan keduanya.


“Aku hanya mengatakan apa yang ada di hatiku, Alice. Apa itu salah?”ujar Bara santai.


Alice menggeleng dan mendongak, menatap mata yang sudah terlalu jauh menghipnotisnya. “Kamu tidak salah, hanya saja aku takut jika nanti terlalu jatuh denganmu. Aku takut nantinya kamu pergi meninggalkanku,” aku Alice dengan bibir manyun.


Bara tetawa kecil dan mengecup puncak hidung kekasihnya tersebut. “Kalau begitu maka terjunlah, Alice. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” jawab Bara dengan penuh keyakinan.


“Janji?” Alice mengacungkan jari kelingkingnya, berharap jika semua yang dikatakan Bara adalah benar.


Bara mengangguk dan mendekap Alice erat, mengaitkan kelingkingnya dengan Alice. “Kamu tahu apa yang membuatku merasa senang hari ini?”


Alice menggeleng. “Apa?”


“Karna hari ini aku bertemu dengan pacarku tersayang,” jawab Bara sembari mencubit gemas pipi temben Alice.


Alice diam seketika. Perasaanya mulai tidak terbendung sama sekali. “Bara,” teriak Alice karena kesal dengan sikap Bara yang terlalu manis menurutnya.


Bara hanya tertawa mendengar teriakan Alice dan semakin mengertakan pelukannya. Dia berharap, setelah ini tidak ada hal yang membuat mereka berpisah.


_____


Hallo sayangkuh, selama membaca ya. Jangan lupa tinggalkan like dan comment, ya.

__ADS_1


Untuk yang belum baca Wedding With My Lecturer, boleh dong mampir. Jangan lupa tinggalkan like dan comment sayangkuh. See you, sampai ketemu lagi di cahapter selanjutnya.


_____


__ADS_2