
“Jadi, Bella ada di rumahmu?” tanya Michael dengan tatapan mengamati. Menatap Dave yang masih asyik dengan pena dan juga kertas didepannya. Sesekali menatap layar laptop yang masih menyala, berusaha menghindari tatapan Michael yang terasa menusuk baginya.
Michael yang mengerti segera menarik pulpen di tangan Dave dan menutup laptop pria tersebut. Matanya menunjukan keseriusan dalam hal yang akan dikatakannya, membuat Dave menghela napas kasar dan menatap atasannya lekat.
“Aku menyesal meceritakan hal ini denganmu, Ael. Aku rasa aku harus mulai menyimpan banyak rahasia darimu dari pada aku mendapat introgasi darimu seperti hari ini,” celetuk Dave dengan tatapan kesal. Dia merasa Michael terlalu berlebihan dalam hal satu ini.
Michael menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Aku hanya bertanya dan apa susahnya dijawab?” sahut Michael dengan tatapan kesal.
Dave berdecak kecil dan memutar bola mata jengah. “Iya, saat ini Bella ada di rumahku. Semalam aku menemukannya dan tidak mungkin meninggalkannya. Terlebih, dia sedang dikejar Ryan,” jelas Dave dengan suara ketus.
Aku bahkan sudah menceritakan dengannya pagi ini, batin Dave dengan tatapan dongkol.
Michael menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Bukannya kamu masih mau menjalani bersama dengan Dara, Dave?” tanya Michael dan mendapat anggukan dari Dave.
“Lalu, kamu tidak memikirkan apa yang akan Dara pikirkan mengenai kamu dan Bella nantinya?” tanya Michael lagi.
“Aku yakin, dia akan mengerti dengan apa yang aku lakukan,” jawab Dave dengan penuh keyakinan.
Michael tertwa kecil. “Aku harap kamu harus mulai memikirkan dengan benar, Dave. Jangan bertingkah sesukamu atau nantinya mereka malah akan pegri. Lagi pula kamu berurusan dengan Ryan jika mengurung Bella di rumahmu. Kamu tidak takut kejadian seperti kita dulu terulang lagi?” ucap Micael santai.
Dave kembali diam. Dia menatap ke arah Michael ragu. Dia masih sangat ingat bagaimana sifat Michael yang menyelamatkan Vinda dari tangannya.
“Ryan bukannya berniat menjahati Bella, Dave. Dia hanya belum sadar dengan apa yang dia rasakan. Dia belum tahu bagaimana caranya memperlakukan orang yang dicintainya dengan benar. Dia belum tahu bagaimana cara mempertahankan wanita yang dicintainya,” jelas Michael dengan penuh pengertian.
Dave baru akan membuka mulut ketika seseorang mengetuk pintu ruangan Dave, membuat percakapan diantara keduanya terhenti. Hingga Roy datang dengan tatapan datar.
“Ada apa, Roy?” tanya Michael tegas.
“Ada orang yang sedang mencari Dave, Tuan. dia menunggu di bawah,” jawab Roy.
Dave yang merasa penasaran segera bangkit dan melangkah keluar. Diikuti Michael dan juga Roy di belakangnya. Sampai mereka berada di lantai dasar dan menatap Ryan yang tengah menunggu dengan pandangan congkak.
Ryan tersenyum menatap ke arah Dave yang memandangnya santai. “Apa kabar, Tuan Dave Wijaya yang terhormat? Senang bisa melihat anda sehat pagi ini,” sapa Ryan dengan pandangan misterius.
__ADS_1
“Apa maumu, Ryan? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladenimu,” jawab Dave dengan tatapan dingin.
“Kamu tahu apa yang aku mau, Dave,” sahut Ryan dengan tawa kecil. “Aku mau kamu mengembalikan Bella denganku. Dia adalah kekasihku dan kamu tidak berhak dengannya.”
“Kalau aku tidak mau?” tanya Dave menantang.
“Aku akan menghabisimu,” desis Ryan dengan tatapan serius.
Dave tertawa kecil dan menatap Ryan dengan pandangan merendahkan. Dia baru akan maju dan mengatakan pendapatnya, tetapi terhenti ketika tangan Michael menahannya.
Dave menatap ke arah Michael dengan tatapan lekat. Mengamati gerak pria yang sudah melangkah di depannya. Michael menatap Ryan dengan tatapan dingin. Hal biasa yang selalu saja diberikan untuk para pesaing bisnisnya.
“Apa yang kamu mau darinya, Ryan? Aku rasa kali ini aku harus ikut campur dengan urusanmu. Jika kamu membawanya hanya untuk menyiksa, aku tidak akan pernah membiarkan kamu mengambilnya,” tegas Michael.
“Ini bukan urusan anda, Tuan Michael Aditama,” tegas Ryan dengan pandangan serius.
“Awalnya memang bukan. Namun, saat kamu membahasnya di perusahaanku, itu menjadi masalahku. Jangan mencoba mengusik karyawan perusahaanku, Ryan. Atau kamu akan berurusan denganku.”
Michael menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Tangannya menutup map tersebut dan memandang Ryan lekat. “Aku memiliki dua pilihan untukmu, Ryan. Kamu akan mendapatkan Bella atau kamu mendapatkan uang. Jadi, apa yang kamu pilih nantinya?” tanya Michael serius.
“Jangan bercanda, orang tuanya sudah menyerahkan Bella denganku,” jawab Ryan.
“Bagaimana kalau aku membayarnya? Tiga triliun hari ini juga,” sahut Michael membuat Dave membelalak tidak percaya.
Ryan menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Aku tidak mau berunding apapun di sini. Aku hanya mau mengambil Bella kembali,” kekeh Ryan mengabaikan tawaran Michael.
Michael yang mendengar mengulum senyum tipis ke arah Ryan. “Aku akan tunjukan dia di mana. Tetapi, saat dia tidak mau bersama denganmu, aku harap kamu jangan memaksanya. Aku akan membayar semua hutangnya dan kamu berhak memberikan kebebasan untuknya. Bagaimana?”
“Deal,” jawab Ryan enggan berurusan dengan Michael.
Michael hanya diam dan menatap kepergian Ryan. Hingga tatapannya mulai beralih ke arah Dave yang sedang mengamatinya lekat.
“Jika Bella enggan bersama dengan Ryan, kamu yang akan melunasinya denganku. Bekerja denganku seumur hidupmu,” ucap Michael santai.
__ADS_1
“Apa?” Dave membuka mulut lebar, menatap ke arah Michael tidak percya.
Dia yang bayar dan aku yang dianggap berhutang. Dasar gila, batin Dave.
____
“Aku harap mama Dave suka,” gumam Dara sembari menatap kotak kue yang dibawanya. Matanya berbinar, mengagumi hasil karyanya pagi ini.
Dara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Tangannya mulai membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Melangkah mendekat ke arah rumah Dave dengan degup janutng berdetak sangat cepat.
“Tenang, Dara. Tante Renita pasti sangat suka dengan kue buatan kamu,” gumam Dara meyakinkan diri sendiri.
Dara mengetuk pintu di depanya, menunggu seseotang membukakan. Matanya mengamati sekeliling dengan senyum yang tidak luntur sama sekali. Sampai terdengar suara pintu terbuka, membuat Dara segera memalingkan wajah menatap ke asal suara.
“Tan....” Dara menghentikan ucapannya dan menatap lekat. Keningnya bahkan sudah berkerut dalam, mengingat wajah yang tidak asing untuknya.
“Kamu siapa, ya?” tanya Bella dengan suara lembut.
“Aku Dara. Kamu siapa?”
“Aku Bella. Mau bertemu siapa?”
“Tante Renita,” jawab Dara dengan pandangan lekat.
“Tante Renita di dalam. Ayo masuk,” ajak Bella dengan senyum tipis.
Dara hanya diam menatap Bella yang mulai melangkah. Matanya mengamati wanita tersebut hingga tidak terlihat. Membuat bibirnya membentuk senyum kecil. “Jadi, dia sudah kembali? Aku rasa ini terakhir aku bersama denganmu,” gumam Dara mulai sadar dengan siapa Bella dalam hidup Dave.
______
Hallo sayangkuh. Tarik napas, hembuskan. Biar tenang, kan lagi puasa heheh.
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, komen dan tambah ke daftar favorit kalian. Vote sekalian juga boleh kok. Kim sangat berterima kasih. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1