
Bella menatap ke arah Ryan dengan pandangan takut. Kakinya hanya diam dengan wajah yang mulai berubah menjadi pucat pasi. Terlebih, ketika Ryan sudah mulai melangkah mendekatinya. Rasanya dia ingin kabur dari hadapan pria kejam di depannya. Namun, gerakannya terhenti karena beban berat yang seakan menimpa kakinya.
Ryan yang melihat Bella tersenyum lega dan melangkah mendekatinya. Mengabaikan tatapan takut yang terasa melukainya. Hingga kakinya berhenti tepat di depan wanita tersebut. Dengan cepat, dia segera mendekap Bella erat dan mengembuskan napas lega.
“Aku senang kamu baik, Bella,” ucap Ryan dengan tulus. Dia memang mengatakan akan memberi pelajaran saat Bella ditemukan. Namun, nyatanya dia tidak melakukannya sama sekali.
Bella yang mendengar hanya diam dengan mata menatap Michael. Mencoba menafsirkan tatapan dengan senyum tipis dari atasannya. Hingga manik matanya menatap Michael yang mulai melangkah dan berhenti tepat di belakang Ryan. Menepuk pelan pundak pria tersebut, membuat pelukan Ryan terlepas dan menatap Michael dengan pandangan lekat.
“Kamu sudah bertemu dengan Bella. Sekarang aku mau bertanya denganmu, Ryan. Kamu masih yakin untuk menyuruh Bella pulang bersama denganmu?” tanya Micael dengan suara tegas.
“Aku memang datang untuk mengambilnya, Micahel. Dia adalah kekasihku dan aku berhak membawanya pulang,” jawab Ryan dengan wajah serius.
Michael terdiam dan berganti menatap Bella lekat. “Sekarang aku bertanya denganmu, Bella. Apa kamu mau pulang dengannya? Kalau kamu mau pulang, aku melepaskanmu. Kalau kamu tidak mau, aku yang akan melunasi hutang keluargamu. Dengan begitu, kamu bisa terbebas dari Ryan selamanya,” jelas Michael santai.
Bella yang mendengar membelalakan mata dan menatap Michael lekat. Kali ini, pikiranya mulai bingung menentukan keputusannya. Sesekali melirik Ryan yang tampak berharap banyak. Hingga dia menghela napas dan menatap Ryan lekat.
“Kalau aku memilihmu, apa kamu masih akan bersikap kejam dan menyiksaku?” tanya Bella dengan suara tegas. Matanya menunjukan keseriusan yang belum pernah ditunjukannya sama sekali.
Ryan yang mendengar terdiam seketika. Bukan karena tidak rela melepaskan acara penyiksaannya. Namun, dia merasa bingung dengan keputusannya. Matanya menatap ke arah Bella dengan tatapan bingung.
Apa kalau aku tidak menyiksa dan mengekangnya, dia akan tetap bersama denganku, batin Ryan dengan pandangan bingung.
Michael yang mendengar menghela napas perlahan dan menepuk pelan pundak Ryan, membuat pria tersebut menatap Micahael lekat.
“Kalau kamu memang mencintainya, kamu tidak perlu melukainya, Ryan. Dia berhak bahagia dan kamu bisa menjadi sumber kebahagiaannya. Bella sudah bertahan selama ini dengan siksaanmu. Jadi, bisa kamu bawa dia bahagia dengan perasaan cintamu? Dia tidak akan pergi kalau benar kamu bisa membuatnya nyaman,” ucap Michael dengan senyum tipis.
Bella yang mendengar hanya diam. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Michael saat ini. Hingga dia mendengar helaan napas perlahan dari arah Ryan yang sudah menggenggam jemarinya. Membuat Bella semakin bingung dengan tingkah dua pria di dekatnya.
“Aku akan berhenti melukaimu. Tetapi, aku harap kamu bsia berjanji untu tidak pergi dariku seperti ini,” ujar Ryan dengan perasaan takut.
Bella yang mendengar masih terdiam. Menimang apa yang akan menjadi jawabannya. Hingga dia memutuskan untuk mengangguk dan menatap Ryan lekat. “Aku akan kembali,” jawab Bella pasrah. Membuat Ryan tersenyum kecil dan merasa lega seketika.
__ADS_1
Lagi pula kalau aku di rumah Dave terus, aku bisa mengganggu hubungannya dengan Dara, batin Bella cukup sadar diri dengan posisinya yang sudah terganti.
_____
“Terima kasih. Aku malah menyusahkanmu lagi,” ucap Dara dengan senyum tipis.
Dave yang mendengar mengangguk pelan dan mengulas senyum tipis. “Tidak masalah. Aku rasa besok lagi kamu tidak perlu membawa mobil sendiri. Aku akan menjemputmu,” ujar Dave dengan senyum tipis.
Dara hanya mengangguk beberapa kali dan menghela napas perlahan. “Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu,” kata Dara dengan senyum salah tingkah. Hatinya terasa aneh ketika melihat tatapan Dave yang mengamati lekat.
“Kamu tidak mau mengajakku mampir dulu?” tanya Dave membuat Dara menghentikan gerakanya.
Dara menatap ke arah Dave dengan tatapan bingung. “Kamu mau mampir? Kalau iya, tidak masalah juga.”
Dave yang mendenar tertawa kecil dan mendekatkan tubuh ke arah Dara. Mengamati wajah kaku Dara yang berbeda dari sebelumnya. Hingga dia mendekatkan bibir dan mengulum lembut bibir Dara. Hanya sebentar dan dia kembali melepaskan ciumannya. Bibirnya bahkan sudah mengulas senyum melihat wajah memerah Dara.
“Dave, kamu suka banget cium bibir orang,” gerutut Dara dengan wajah kesal. Pasalnya, dia selalu merasa aneh ketika Dave menciumnya. Jantungnya juga berdetak sangat keras karena ulah pria di depannya.
Dara yang mengalihkan tatapan yang terasa canggung. Dia memilih mengalihkan pandangan, membuat Dave tertawa kecil. membuat Dara mendengus kesal. Dia segera menjauhkan tubuh Dave dan mentap lekat.
“Aku mau turun,” ucap Dara yang langsung mengalihkan pandangan. Dengan cepat, dia segera turun dan melangkah cepat. Bahkan, matanya tidak menatap Dave sama sekali.
Dara membuka pintu dan menutup rapat. Dia menghela napas perlahan merasakan degup jantung yang terus saja berpacu. Sampai dia mendengar mobil yang mulai menjauh dri pekarangan rumah. Membuatnya menghela napas lega.
“Senang dicium pria yang baru dikenal?”
Dara yang mendengar menatap ke asal suara dan berdecak kesal. Dia hanya diam dengan tatapan dingin. Dalam hati dia merutuki kesalahannya yang lupa mengganti kunci pintu rumah. Hingga manik matanya menatap langkah sang papa yang kian mendekat, membuat Dara menatap dengan mata membelalak.
“Jangan mendekat,” tegas Dara dengan tatapan mengancam.
“Kenapa? Aku juga mau merasakan bibirmu, Dara. Apa itu saja kamu tidak mau berbagi?” ucap sang papa dengan senyum sinis.
__ADS_1
Dara yang melihat papanya kian mendekat langsung membalik badan dan mencoba membuka pintu. Namun, belum juga dia bisa membukanya, tangan sang papa lebih dulu menariknya keras.
“Aaww!” teriak Dara ketika sang papa menjatuhkannya di sofa dengan sangat keras. Membuat bagian kepalanya sedikit terbentur.
Siapa saja, tolong aku, batin Dara masih mencoba berontak.
_____
Dave mengemudikan mobilnya dengan senyum tipis. Dia menatap ke arah jalanan yang terasa sepi. Hingga dia menatap ke arah bangku di dekat Dara dan menatap benda pipih tergeletak di sebelahnya.
Dave segera menghentikan laju mobil dan berdecak kecil. “Ini pasti milik Dara. Aku harus mengembalikannya,” ucap Dave yang langsung memutar arah kendaraan.
Dave segera melaju kembali ke arah rumah Dara. Bibirnya masih mengulas senyum tipis. Hanya butuh tiga menit sampai dia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Dara. Dengan cepat, dia mulai keluar dari mobil dan melangkah mendekat. Sampai dia mendengar suara gaduh dari dalam rumah Dara. Membuat Dave segera melangkah cepat.
“Tolong,” teriak Dara tertahan.
Dave yang mendengar menghentikan tangan yang hendak mengetuk pintu. Dengan cepat, dia memegang gagang pintu yang tidak terkunci. Dave membuka dan menatap seorang pria tengah berniat buruk degan Dara.
Dave segera menarik pria tersebut dan menjauhkan dari Dara. Membuat pria tersebut menggeram kesal.
“Siapa kamu? Kenapa ikut campur urusan orang?” teriak papa tiri Dara dengan tatapan kesal.
“Aku calon suaminya dan aku tidak menyukai perilakumu,” tegas Dave membuat Dara membelalak tidak percaya.
Sedangkan di tempat lain, Bara tengah mengusap wajah kasar karena mencari keberadaan Alice yang tidak juga ditemukan. “Kemana dia sebenarnya?” gumam Bara dengan wajah cemas.
_____
Penasaran apa kisah selanjutnya? Ikuti terus kisahnya, ya.
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan jangan lupa vote cerita Kim. Sampai ketemu di chapter selanjutnya sayangkuh. 😘😘
__ADS_1