Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 88_Mulai Tumbuh


__ADS_3

Alice membuka pintu kamar mandi dan segera keluar. Kaki jenjangnya mulai melangkah ke arah ranjang besar di ruangan tersebut. Hal pertama yang dituju adalah ponsel yang tergeletak di meja nakas dekat ranjang. Tangannya segera meraih ponsel tersebut dan mulai menghidupkannya.


“Yah, mati,” gumam Alice dengan wajah masam.


Dengan cepat, Alice segera meraih kabel di dekatnya dan memasukan ke dalam lubang charger. Namun, saat dia hendak menghidupkan ponsel, gerakannya terhenti karena suara bel rumah yang terus berbunyi. Membuat Alice kembali meletakan ponsel dan melangkah ke asal suara.


Alice segera menuju ke arah pintu ruang tamu dan segera membukanya pelan. Hingga bibirnya mulai menyunggingkan senyum ketika meihat seseorang yang berdiri tepat di depannya.


“Vinda, Rika,” panggil Alice sembari membuka kedua tangan dan tersenyum senang.


Vinda dan Rika yang melihat langsung mendekap Alice erat. Membuat Randy dan Michael hanya tersenyum senang. Hingga dekapan ketiganya mulai terlepas.


“Aku suka kalian datang,” ucap Alice dengan senyum sumringah.


“Ke mana Bara?” tanya Randy sembari mencari keberadaan adik iparnya.


“Dia sedang tugas di Singapura. Kantor papa yang ada di sana sedang ada masalah. Jadi, papa meminta mas Bara untuk menyelesaikannya,” jawab Alice dengan wajah masam.


“Terus kamu tidak berniat untuk menyuruh kami masuk, Alice?” tegur Michael dengan senyum tipis. Tangannya masih memegang Mikail yang tengah tertidur pulas.


“Sampai lupa,” ucap Alice sembari menepuk pelan keningnya. “Ayo masuk. Kalian mau minum apa?”


“Apa saja yang ada,” jawab Randy dengan kekehan kecil.


Alice hanya mendengus kesal menyadari tingkah sahabatnya. Namun, dia hanya diam dan segera melangkah ke arah dapur. Rika dan Vinda yang melihat mulai mengikuti langkah sang tuan rumah. Menatap ke arah Alice yang tengah sibuk menyiapkan gelas.


“Aku bantu,” ucap Rika sembari melangkah masuk.


“Gak usah. Kalian di luar saja. Biar aku yang membuatkan kalian minum,” ujar Alice merasa tidak enak hati.


“Sudah, ayo kita siapkan bersama,” sahut Vinda dengan senyum tipis.


Alice yang mendengar akhirnya pasrah. Dia segera menyiapkan besama dengan Rika dan Alice. Sampai beberapa menit, semuanya siap dan langsung membawa ke ruang tamu. Sedangkan di tempat lain, Bara melangkah dengan tergesa. Menyusuri lorong kantor yang terlihat sepi.

__ADS_1


Bara melangkah menuju ke ruangannya dan segera mengambil berkas yang dibutuhkan. Dengan cepat, dia mulai membuka satu per satu berkas yang diinginkan. Namun, fokusnya teralihkan ketika pintu ruangannya terbuka, menampilkan seorang wanita dengan pakaian santai.


“Maaf, Pak. Saya mengganggu waktu anda,” ucap wanita tersebut.


“Untuk apa kamu datang malam-malam begini?” tanya Bara dengan nada dingin. Matanya mengamati wanita di depannya dengan pandangan tidak suka.


“Maaf, tadi saya melihat anda masuk ke perusahaan saat saya hendak pulang. Jadi, saya mengikuti dan ternyata anda masuk ke ruangan,” jelas wanita di depan Bara dengan wajah menunduk.


Bara hanya diam dan menundukan kepala. Dia kembali fokus dengan dokumen di depannya. Namun, beberapa saat kemudian, kepalanya kembali mendongak, menatap ke arah wanita yang masih saja berdiri di pintu ruangan.


“Kamu tidak berniat pulang? Atau kamu mau menyelesaikan tugasku saja?” tanya Bara dengan pandangan sinis.


“Tidak, Pak. Hanya saja, ini sudah terlalu malam untuk Bapak bekerja,” cicit wanita tersebit lirih.


“Saya yang bekerja dan bukan kamu. Jadi, bisa jangan ikut campur?” desis Bara kesal. “Keluar atau saya akan memberikan sangsi untukmu.”


Wanita tersebut membelalak keget. Perlahan, dia mulai melangkah keluar dari ruangan Bara dan menutup pintu tersebut pelan. Meninggalkan Bara yang langsung menghela napas kasar.


“Aku harus pulang secepatnya. Aku harus segera menemui anak dan istriku,” gumam Bara.


_____


Sudah jam dua malam, batin Dara. Tangannya segera menyingkap selimut tebal yang sejak tadi membungkus tubuhnya dan hendak turun. Namun, gerakannya terhenti ketika menatap seseorang yang tengah tertidur di dekatnya, membuat Dara mengerutkan kening heran.


“Dave. Untuk apa dia tidur di lantai,” gumam Dara bingung. Perlahan, dia mulai bangkit dan menatap Dave lekat. Hingga bibirnya memunculkan senyum manis dan mengelus pelan rambut lembut pria tersebut.


Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini, batin Dara dengan wajah senang.


Dave yang merasakan elusan pelan mulai terganggu. Dengan perlahan, dia mulai membuka mata dan menatap ke arah usapan tersebut berasal. Menatap Dara yang sudah menatapnya lekat.


“Dara,” panggil Dave dengan suara serak. Tangannya mulai meraih tangan Dara dan menggenggamnya pelan. Dave berniat menegakan badan, tetapi terhenti.


Gila, kenapa punggungku sakit, batin Dave sembari menahan sakit.

__ADS_1


“Makanya, jangan suka tidur membungkuk, Dave,” ucap Dara dengan suara lembut.


Dave yang mendengar hanya diam dan mencoba meredam sakit di punggungnya. Dara yang melihat hanya tersenyum kecil dan memilih turun. Kakinya melangkah pelan dan berhenti tepat di balik punggung Dave.


“Dara, kamu mau apa?” tanya Dave ketika Dara duduk di belakangnya.


“Diamlah,” jawab Dara singkat.


Dave yang mendengar terpaksa diam. Dia memilih menahan nyeri karena pijitan Dara. Hingga perlahan, dia merasakan otot punggungnya mulai melentur. Dara masih setia memijat punggung Dave. Sampai dia mulai menegakan tubuh Dave perlahan, membuatnya mengulas senyum tipis.


“Kenapa malah tidur di sini?” tanya Dara ketika sesi pijatannya selesai.


Dave membalik badan dan menatap Dara lekat. “Kamu tadi kesakitan. Jadi, karena khawatir, aku tidur di sini. Karena takut dan akhirnya memutuskan tidur di lantai dekat ranjang saja,” jawab Dave.


Dara yang mendengar mengulas senyum tipis dan mengusap rambut Dave pelan. “Lain kali jangan lakukan itu lagi, ya?” sahut Dara lekat.


Dave hanya mengangguk pelan dan menatap Dara lekat. Dia pasrah dengan apa yang diinginkan wanita di depannya. Sampai tangan Dara mulai turun dan mengelus pelan pipi Dave.


“Terima kasih karena kamu sudah menjagaku. Terima kasih karean kamu sudah menolongku,” ucap Dara lirih.


Dave kembali mengangguk. “Asal kamu baik, aku sudah merasa lega.”


“Baiklah. Sekarang kamu bisa tidur di ranjang saja. Aku rasa punggungmu butuh istirahat,” ucap Dara sembari bangkit.


“Lalu kamu?” tanya Dave sembari menatap Dara yang sudah berbaring di sisi lain.


Dara menarik selimut dan menatap Dave lekat. “Aku tetap tidur di sini. Kalau kamu mau tidur di sini juga, tidak masalah. Namun, jangan macam-macam,” jawab Dara dengan tatapan tegas.


Dave yang mendengar terkekeh kecil. Dia memilih bangkit dan menaiki ranjang. Menatap Dara yang memandangnya lekat. “Aku tidak akan macam-macam,” ucap Dave meyakinkan.


“Aku tahu itu,” sahut Dara lirih. Dia yakin, Dave tidak akan melakukan hal buruk dengannya.


Aku yakin, kamu akan menjagaku, batin Dara.

__ADS_1


_____


__ADS_2