
Bara menarik napas dalam dan mengembuskannya berulang kali. Jantungnya masih terasa berdebar tidak karuan. Hari ini, untuk kedua kalinya dia datang ke rumah yang sama untuk melamar wanita yang sama. Bedanya kali ini Rika tidak ada bersamamnya. Dia tengah mengurusi bayinya yang baru saja lahir. Hal yang tidak pernah disangka sama sekali.
Sekali saja aku sudah deg-degan ini malah dja kali, batin Bara memprotes diri sndiri.
Fokus Bara mulai buyar ketika dirasa sebuah lengan menyenggolnya dengan keras, membuat tubuhnya sedikit tersentak dan menatap ke arah pria di dekatnya kesal. Dave hanya menatap Bara santai. Ya, Dave memutuskan untuk menemani Bara dalam prosesi lamarannya yang kedua kali.
“Dave, diam,” geram Bara ketika Dave masih saja menyikutinya.
Randy yang mendengar tertawa kecil dan memperhatikan Dave yang masih tampak santai. Bara mendengus kesal, bahkan saat tangan Dave menepuk pelan pundaknya.
“Hey bocah kecil, kenapa kamu diam saja? Kamu grogi? Makanya aku bilang juga apa? Harusnya aku dulu dan kamu jangan mendahului yang lebih tua,” bisik Dave tepat di telinga Bara.
Bara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dengan wajah santai, Bara memilih menyikut Dave tepat di perut pria tersebut. Membuat Dave mengaduh seketika.
“Aduh, Bara,” ucap Dave disertai ringisan kecil. Tangannya sudah memegang perutnya erat, merasakan sakit karena pemuda di depannya.
Bara yang mendengar hanya menatap Dave tanpa rasa bersalah sama sekali. “Wuah, maaf Dave. Gak sengaja,” kata Bara dengan ringisan kecil.
Dave yang mendengar menggeram tertahan. Dia segera menegakan badan dan melangkah ke arah pintu rumah Alice. Di sana sudah terlihat Surya yang sedang menungu rombongan Bara dengan senyum ramah.
“Sore, Pak,” sapa Bara dengan sedikit canggung.
“Sore, Bara,” jawab Surya sembari memperhatikan rombongan Bara yang hanya beberapa orang. “Wuah, cowok semua ya. Apa kabar, Michael? Lama gak ketemu sama kamu.”
“Baik, Om,” jawab Micael dengan anggukan kecil. Dia terpaksa datang karena Mikail yang memaksanya untuk ikut. Jika saja dia bisa menolak, dia akan menolaknya. Tetapi, rasanya percuma karena Mikail akan tetap memaksa.
Surya segera mempersilahkan Bara dan rombongan untuk masuk. Berbincang hangat sampai Galuh datang dengan senyum menawan.
“Bara,” panggil Galuh dengan pandangan canggung. Dia masih takut jika putra semata wayangnya masih membenci.
__ADS_1
Bara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Sampai kepalanya mengangguk ringan, menunjukan senyum tipis yang membuat Galuh menatap dengan pandangan lekat.
“Apa kabar, Ma?” tanya Bara sebesar mungkin menekan egonya. Meyakinkan jika dalam hal ini tidak ada yang salah.
Galuh menatap Bara dengan wajah berbinar. “Mama baik, sayang. Nama baik,” jawab Galuh dengan wajah penuh kebahagiaan. Rasanya dia lega mendengar Bara memanggilnya dengan sebutan ‘mama’.
“Sayang, bisa panggilkan Alice? Aku rasa sudah waktunya mereka saling bertemu,” ujar Surya sembari menatap Bara dengan tatapan menggoda.
Galuh mengulum senyum tipis dan mengangguk. Perlahan, langkahnya mulai menjauh, menaiki tangga satu demi satu menuju ke kamar Alice yang terletak di lantai dua dengan rasa penuh syukur. Bara sudah memaafkan ku, batin Galuh dengan rasa bahagia.
_____
Alice masih tertawa bersama dengan Dara ketika pintu kamarnya mulai terbuka, menghadirkan mamanya dengan balutan dres panjang. Menghentikan tawanya dan hanya berganti dengan senyum tipis dari arahnya.
“Mama,” panggil Alice dengan tawa yang mulai mereda.
Dara yang melihat Galuh hanya diam dengan mata menatap Alice lekat. Masih merasakan kebahagiaan yang terasa menguar dari wajah sahahabtnya. Kapan aku juga begitu, batin Dara. Sampai helaan napas perlahan terdengar dari arahnya. Berusaha menghilangkan pikirannya mengenai pernikahan dan sebaaginya. Dia tidak yakin akan ada pria yang mau menerima.
“Sudah datang, Ma?” tanya Alice sembari menelan salivanya kasar. Rasanya dia belum siap untuk bertemu dengan Bara dalam kondisi yang berbeda.
Dara yang mengerti tatapan Alice segera bangkit dan mendekati sahabatnya. Perlahan, dia mulai mendekap Alice dan menenangkan sahabatnya perlahan. “Jangan takut, Alice. Bukannya kamu sudah pengen banget nikah? Kalau pas lamaran saja kamu deg-degan, gimana pas kamu nikah nanti?” ledek Dara membuat suasana tegang di ruangan Alice menjadi cerah seketika.
Alice memberengut kesal karena perkataan Dara. Perlahan, dia mulai meraih jemari mamanya dan mulai melangkah. Galuh meremas pelan jemari Alice, menatap dengan pandangan melembut. Membuat Alice yang ada di sana ikut tersenyum. Sampai langkah kakinya mulai berhenti di tangga terakhir, menatap Bara yang ada di sana dengan pandangan lemah.
Dara yang baru saja turun menatap dengan seisi ruangan dengan senyum manis. Kakinya mulai melangkah mengikuti Alice yang sudah mendekat ke tengah ruangan. Memperhatikan Bara yang sudah tersenyum bahagia. Aku harap kalian akan bahagia, batin Dara penuh permohonan.
_____
“Jangan lupa berkedip, Bara,” tegur Dave yang sejak tadi melihat Bara hanya fokus memperhatikan Alice.
__ADS_1
Bara yang mendengar mulai berdecak kesal dan melirik ke arah Dave dengan tatapan tidak bersahabat. Dia tidak tahu jika Dave ternyata seberisik seperti saat ini. Rasanya dia menyesal membiarkan Dave untuk ikut bersamamnya.
“Harusnya dulu aku tidak melepaskannya,” goda Dave dengan bibir mengulum senyum.
“Dave,” geram Bara dengan tatapan kurang bersahabat.
Dave yang mendengar langsung tertawa pelan, menatap Michael yang sudah menatapmya dengan pandangan memperingati. Seketika, Dave langsung diam dengan tawa yang tertahan.
Bara mengabaikan Dave yang masih menyebalkan di dekatnya. Matanya kembali fokus menatap Aluce yang sudah duduk di dekatnya. Matanya menatap ke arah Alice dengan senyum tipis.
“Hai,” bisik Alice tanpa menatap Bara.
“Hai. Kamu cantik hari ini, sayang,” puji Bara dengan mata menatap Surya lekat. Mengalihkan pandangan dari orang disekitar.
Alice yang mendengar langsung bersemu merah. Bahkan, dia sudah tidak fokus ketika papanya mengatakan sepatah dua patah kata. Dia masih sibuk dengan jantungnya yang mulai berdetak dua kali lebih cepat. Sampai sebuah tangan menyentuhnya lembut, membuat Alice menatap ke arah Bara yang sudah menatapnya lekat.
Bara mulai memasukan cincin di jari Alice dengan mata yang menatap Alice lekat. Dia enggan memalingkan tatapannya, sampai akhirnya, Alice melakukan hal yang sama. Hingga terdengar tepukan keras yang mulai menyadarkan keduanya.
“Akhirnya, sebentar lagi kamu akan menikah. Selamat,” ucap Dave dengan semangat. Sia adalah orang pertama yang mengucapkan hal tersebut.
Bara hanya menggeleng pelan menyadari tingkah Dave yang tampak lebih semangat. Menatap Alice yang juga sudah bersemu malu ketika mendengar ucapan selamat dari keduanya.
Terima kasih karena sudah menunggu dan berjuang sampai sejauh ini, sayang, batin Bara sembari menatap Alice dari kejauhan.
Terima kasih karena sudah melakukan segala hal untukku, batin Alice merasa bahagia.
_____
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, commet dan tambah ke daftar favorit kalian. Jangan lupa juga baca cerita Kim dengan judul “Relationship Goals” dan juga “Wedding Drama 2”. Jangan lupa tinggalkan like, commet dan tambah ke daftar favorit kalian. Untuk tahu info update dan juga cerita baru Kim, kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili.
__ADS_1
Selamat membaca dan see you next time di chapter selanjutnya. Karena Kim masih punya beberapa chapter lagi. Jangan lupa tetap semangat dan jaga kesehatan. 😉😉