
lAlice menghela napas keras ketika hendak membuka pintu kamar. Pertemuannya dengan Dave memang berjalan lancar, tetapi rasanya dia benar-benar bingung dengan keputusannya. Dia masih menganggap Dave sebagai teman. Itu yang membuatnya merasa santai ketika bersama. Namun, kenyataan bahwa sebenarnya Dave adalah calon tunangannya membuat Alice kembali berpikir.
Jika aku terus menganggapnya teman, kapan aku bisa menerimanya sebagai tunangan.
Kalau aku mencoba menerima dengan hati yang sudah tidak lagi kosong, apa aku bisa.
Apa memang ini yang aku inginkan?
Apa aku akan bahagia dengan semua keputusan yang sudah aku ambil?
Rasanya pertanyaan-pertanyaan demikian benar-benar mengganggunya. Alice mengeratkan genggaman tangan pada gagang pintu dan menghela napas perlahan. Mulai menarik ujung-ujug bibirnya dan menekan semua pertanyaan yang selalu menghantuinya. Alice mulai keluar dengan wajah ceria.
Alice menuruni tangga dan mendengar sayup-sayup percakapan orang tuanya. Dengan segera dia melangkah dan mendapat tatapan dari keduaya, tepat saat dia baru menuruni anak tangga terakhir.
“Selamat pagi, Ma, Pa,” sapa Alice yang langusng melangkah mendekat. Matanya mengamati kedua orang tuanya yang sudah tersenyum penuh makna, membuat Alice menatap bingung.
“Mama sama Papa kenapa lihatin Alice begitu?” tanya Alice sembari meraih roti dan selai kacang di depannya.
Galuh mengulum senyum dan menatap anaknya. “Gimana dengan pertemuan kamu dan Dave kemarin, sayang? Kamu suka?” tanya Galuh penasaran.
Alice yan masih mengoleskan selai terdiam sejenak dan menatap mamanya dengan senyum tipis. “Senang, Ma.”
“Bagaimana penilaianmu tentang Dave?” Galuh masih penasaran dengan pikiran Alice mengenai pria yang dipilihkan olehnya.
“Dave baik. Asyik juga. Jadi, Alice merasa enjoy saja jika dengannya,” jelas Alice secara umum.
“Kamu tidak merasa keberatan menikah dengannya?” tanya Surya menyela. Matanya menatap Alice dengan lekat.
Alice mengangguk pelan. “Aku tidak akan pernah keberatan dengan apa yang Mama dan Papa pilihkan. Lagi pula, Dave juga pria yang baik. Jadi, Alice yakin dia akan bisa membahagiakan Alice nantinya.”
“Syukurlah kalau begitu. Setidaknya papa merasa tenang karena kamu juga bahagia, sayang,” ujar Surya dengan senyum lembut.
Alice hanya diam dan melanjutkan sarapannya. Aku akan bahagia ketika kalian bahagia, batin Alice berusaha sekuat mungkin.
__ADS_1
_____
“Halo, Rika,” sapa Bara dari seberang ponsel.
Bara masih asyik dengan sarapan dan meletakan ponselnya di meja makan, mengatur ke mode loudspeaker. Rika menelfon ketika masih pagi buta dan mengganggu waktu santainya.
“Kamu kapan ke sini?” tanya Rika dari seberang ponsel.
Bara yang mendengar menghela napas perlahan dan menelan sarapannya. “Aku sedang sibuk, Rika. Aku akan datang ketika semua pekerjaanku selesai. Memangnya kenapa?” jawab Bara dengan wajah datar. Dia hanya tidak ingin mengganggu keluarga Rika dan Randy. Dia ingin hidup dengan semua jerih payahnya sendiri.
“Kamu itu kapan selesainya? Aku mau mengadakan makan malam bersama dan kamu harus hadir. Ajak Alice sekalian,” celetuk Rika dengan suara memaksa.
Bara menghentikan sendok yang hampir masuk ke dalam mulutnya dan mengerutkan kening heran. “Dari mana kamu tahu mengenai Alice, Rika?” tanya Bara dengan wajah serius.
“Waktu itu dia datang menemuiku dan menanyakan mengenai kamu. Katanya kamu itu terlalu cuek dan dia susah jika bekerja sama denganmu. Makanya dia hanya ingin tahu mengenai masalah kamu,” jelas Rika polos.
Bara mengeratkan genggaman tangannya pada sendok di tangan, sejenak karena setelanya dia kembali menunjukan wajah normal dan datar. “Kamu katakan semuanya?” tanya Bara penasaran.
Rika yang berada di seberang berguman. “Jangan terlalu dingin dengannya, Bara. Bagaimana pun dia adalah gadis yang baik. Kamu tahu? Dia merelakan Randy yang sudah menjadi tunangannya saat itu hanya untukku. Dia selalu memikirkan perasaan orang lain dan mengorbankan perasaannya sendiri. Jadi, bisa tolong bersikap manis sedikit dengannya?” pinta Rika dengan suraa memohon.
Rika menghela napas keras mendengar sifat dingin adiknya. “Bara, setidaknya....”
“Setidaknya jangan ceritakan apa yang menjadi masalah kita dengan orang lain, termasuk Alice, Rika. Mereka hanya akan menertawakan kita dan memandang dengan wajah prihatin. Jadi, jangan ceritakan apa pun dengan siapa pun karena aku tidak pernah menyukainya,” tegas Bara dengan nada kesal.
Bara mematikan panggilan dan menghela napas perlahan. Jadi selama ini kamu menganggapku menderita, Alice. Itu sebabnya kamu bertingkah baik di depanku? Aku kecewa.
_____
Kabar perjodohan antara Alice dan Dave langsung menyebar dengan cepat di kantor termpatnya bekerja. Seisi gedung masih membicarakan kabar hangat yang benar-benar mendebarkan. Bara yang berangkat pagi pun hanya diam dengan pandangan datar. Dia tidak tertarik sama sekali dengan kabar yang saat ini tengah menjadi tranding di kantornya.
Bara akan masuk ke dalam ruangan ketika sebuah suara membuatnya berhenti sejenak. Keributan kecil yang terjadi di lorong ruang kerjanya. Matanya menatap seorang gadis berkacamata dengan Alice yang masih asyik berbincang sembari melangkah.
Bara kembali mengabaikan kedua gadis yang masih asyik bergosip dan hendak masuk. Tetapi, suara Alice kembali menghentikannya.
__ADS_1
“Bara,” panggil Alice dengan suara ceria.
Alice menatap Bara yang juga sudah menatapnya dengan senyum sumringah. Setidaknya melihat Bara dari kejauhan itu jauh lebih baik dari pada harus kehilangan Bara sepenuhnya.
“Pagi,” sapa Alie dengan ramah seperti biasa.
Bara menghela napas pelan dan menatap ke arah Alice datar. “Kenapa?” tanya Bara to the point. Rasanya hari ini dia enggan berbincang dengan gadis di depannya.
Alice yang sejak tadi memasang wajah bahagia mulai menatap Bara dengan kening berkerut. “Kenapa?” Alice merasa ada hal berbeda yang terjadi dengan pria di hadapannya. Bara tidak lagi hangat dan kembali dingin. Meski biasanya tingkah Bara memang dingin.
Bara berdecak kesal dan menatap Alice dengan tajam. “Kamu balik bertanya? Aku sedang banyak pekerjaan dan tidak ada waktu untuk meladenimu. Jadi untuk apa kamu memanggilku?” tanya Bara ketus.
Alice masih mengamati wajah Bara lekat. “Bara, kamu kenapa? Ada hal yang salah denganmu? Apa aku membuat salah? Kamu tampak begitu dingin,” jelas Alice dengan wajah bingung.
“Bukannya tiap hari aku begini? Jadi kenapa harus heran?” ucap Bara malas.
“Tetapi kamu tidak seperti ini, Bara,” kekeh Alice merasa Bara berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Bara menghela napas keras dan menatap Alice datar. “Aku sedang banyak sekali pekerjaan, Alice. Jadi permisi, aku masuk.”
Alice yang melihat Bara hendak masuk ke dalam ruangan hanya diam dengan wajah diselimuti rasa bingung. Dia masih tidak mengerti mengapa sifat Bara berbeda dari sebelumnya. Padahal, beberapa hari Bara tidak sejauh itu dengannya.
Bara baru akan menutup pintu ketika dua gadis yang ada di depan ruangan masih menatapnya. Bara beralih menatap Alice yang masih saja diam.
“Lain kali, jangan berusaha baik denganku karena kamu tahu masalahku, Alice. Aku tidak butuh belas kasihmu karena selama ini kami bisa menjalani hidup dengan baik. Selain itu, selamat atas perjodohanmu dengan Dave. Aku harap kalian bahagia,” celetuk Bara membuat Alice semakin nguilu.
Alice hanya diam ketika wajah Bara tidak lagi tampak. Matanya masih berkaca melihat kebencian dari arah Bara. Dara yang sejak tadi diam mendekat ke arah Alice dan menatap sahabatnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Dara dengan wajah bingung.
Alice menghela napas dan mengangguk. “Aku baik-baik saja. Ayo, aku akan mengantarmu keluar,” jawab Alice dengan senyum tipis.
Dara yang tahu isi hati Alice hanya diam dan menurut. Dia akan menunggu sampai sahabatnya jujur dengan hatinya sendiri. Alice sendiri hanya diam sepanjang perjalanan menuju ke pintu depan.
__ADS_1
Aku pikir kamu akan marah dan berusaha meraihku, Bara. Tetapi sepertinya salah. Kamu masih membenciku, batin Alice pilu.
_____