
“Iya, Pa. Alice menginap di rumah Bara. Besok akan pulang,” ucap Alice sembari melirik Bara yang masih sibuk di dapur.
“Iya. Gak akan macam-macam kok,” jawab Alice ketika mendapat peringatan dari papanya.
Alice menutup panggilan ketika sudah berpamitan dengan papanya. Bibirnya kembali mengukir senyum ketika melihat Bara yang begitu lincah di dapur. Dengan perlahan, Alice mulai membalik tubuh sehingga dapat dengan muda menatap Bara yang tengah sibuk.
“Bara, masih lama?” tanyaAlice dengan kepala yang diletakan di sandaran sofa.
Bara menatap Alice dan terseyum. “Kenapa?” Bara malah balik bertanya dan kembali sibuk dengan peralatan dapur.
"Aku lapar,” cicit Alice dengan wajah kesal. Pasalnya Bara terlalu lama di dapur dan meninggalkannya.
Bara terkekeh kecil dan menghentikan tangannya yang sibuk mengiris bawang putih. Matanya menatap kekasihnya dengan begitu lekat. “Apa tidak salah aku yang menyiapkan makan untukmu? Bagaimana aku bisa hidup denganmu nanti, Alice. Bahkan membuat makanan untukku saja tidak bisa. Harusnya kamu yang memasak di dapur,” ucap Bara dengan tatapan tidak percaya.
Alice menghela napas perlahan dan menatap Bara dengan pandangan memprotes. “Jadi, sekarang kamu mengeluh? Memangnya kamu lupa siapa yang melarangku tidak boleh masuk ke area dapur?” tanya Alice dengan tatapan tidak suka. Dia masih ingat ketika Bara memakinya dulu.
Bara yang mendengar terkekeh geli dan hanya menggeleng. Dia mengabaikan tatapan Alice yang kembali sibuk memasak. Sampai pada akhirnya dia mulai memasukan semua bumbu ke dalam penggorengan dan mulai mengaduk makannanya. Sesekali matanya menatap Alice yang masih saja diam dengan dagu diletakan di punggung sofa.
Setelah dirasa makanannya sudah matang, Bara segera meletakannya di mangkuk kaca dan membawa ke meja tamu yang sekaligus dijadiakn meja makan untuknya. Dengan perlahan, dia mulai meletakan makannya di meja. Namun, ketika dia hendak mengajak Alkce makan, matanya menatap wajah tenang gadis tersebut.
“Malah tidur,” gumam Bara dengan mengulum senyum tipis. Matanya memperhatikan Alice lekat.
Bara menghela napas perlahan dan segera meraih tubuh Alice. Dengan perlahan, dia mulai melangkah masuk ke dalam kamarnya dan meletakan Alice di ranjang besar miliknya. Jemarinya menyingkirkan beberapa helai rambut yang berada di pipi kekasihnya.
“Aku bersyukur karena dulu Randy memilih Rika. Dengan begitu, sekarang aku mendapatkanmu,” ucap Bara dengan senym tipis. Bahkan, dia hanya mampu tersenyum ketika bersama dengan Alice.
Bara mengecup pelan kening Alice dan menjauhkan tubuhnya. “Aku harap kita tidak akan berpisah, Alice. Aku harap tidak akan pernah ada yang membuat kita menjauh,” ucap Bara serius
Bara mengelus pelan wajah gadis tersebut dan segera melangkah pergi. Dia kembali ke ruang utama di apartemnya dan mulai memakan makananya. Sedangkan bagian untuk Alice langsung di simpan sampai nanti Alice bangun dari tidur.
__ADS_1
_____
Dave menghela napas ketika mobilnya sudah berhenti di rumah sederhana dengan penerangan minin. Matanya menatap sekitar dan melihat suasana yang sudah sepi. Padahal masih jam sepuluh malam dan hanya cicitan jangkrik yang mulai terdengar.
Dave menghela napas perlahan dan menatap ke arah Bella. Matanya melihat wajah teduh yang masih menyisakan sedikit air mata kering di pipinya. Ada hal lain yang membuat hatinya tergerak untuk meraih wanita tersebut. Namun, diurungkan karena dia sadar dengan posisinya.
“Jangan buat anak orang berharap denganmu, Dave. Bahkan kamu sediri tidak menginginkannya. Jangan buat dia salah paham,” ucap Dave mengingatkan diri sendiri.
Tangannya kembali terulur dan menepuk pundak Bella ringan, membuat tidur nyenyak wanita tersebut kembali terganggu. Namun, Bella tidak juga membuka matanya dan masih asyik dengan mimpi indah di bawah alam sadarnya.
“Bella, bangun,” ucap Dave merasa Bella tidak merespon sama sekali.
Dave menghela napas perlahan dan kembali membangunkan Bella dengan tepukan ringan. Sampai pada akhirnya, mata sembab tersebut mulai terbuka dan menatap sekitar dengan pandangan bingung. Dia masih menyesuaikan penglihatannya dengan lingkungan sekitar.
"Bella. Sudah sampai,” ucap Dave mencoba menyadarkan Bella.
Bella yang mendengar suara Dave segera menatap ke asal suara. Ketika melihat Dave tengah menatapnya lekat, Bella langsung tersentak kaget dan mulai membenarkan duduknya. Tangannya menghapus air liur yang baru saja keluar dengan tatapan canggung.
Dave tertawa kecil dan mengangguk. “Tidak masalah, Bella.”
Bella tersenyum kecil dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Matanya menatap sekitar dan baru sadar dia sudah sampai di rumahnya. Matanya kembali menatap Dave yang masih memandangnya lekat.
“Terima kasih, Pak karena sudah mengantar sampaibrumah,” ucap Bella dengan begitu sopan.
“Tidak masalah,” jawab Dave sembari menatap ke arah bangunan di belakang Bella lekat. “Itu rumahmu?” tanya Dave sembari menatap Bella lekat.
Bella mengangguk pelan. “Hanya ini yang ditinggalkan kedua orang tua saya sebelum pergi, Pak.”
Dave mengangguk mengerti. Dia tidak menyangka jika kehidupan seorang gadis dengan penuh semangat seperti Bella ternyata memiliki banyak luka. Bahkan, dia harus hidup sendiri di rumah kecil di ujung kota. Tetangganya saja tidak banyak dan jarak rumah yang terlalu jauh menurutnya.
__ADS_1
“Bapak mau mampir ke rumah terlebih dahulu?” tanya Bella membuat lamunan Dave buyar seketika.
Dave menatap Bella dan tersenyum tipis. “Tidak. Ini sudah malam, Bella. Aku harus pulang.”
Bella mengangguk mengerti dan segera merapikan tasnya. “Kalau begitu, sekali lagi saya berterima kasih, Pak.”
Dave hanya mengangguk dan melihat Bella sudah keluar dari mobilnya. Dia mengiktui gerakan Bella dan mulai membantu gadis tersebut mengeluarkan kopernya. Matanya menatap Bella yang sudah mulai melangkah dan masuk ke dalam rumah.
Dave menghela napas perlahan dan mengeluarkan posnelnya. Dengan wajah datar dia menekan nomor seseorang yang menurutnya memiliki banyak informasi yang diperlukan.
“Halo, Bara,” sapa Dave ketika panggilannya tersambung.
"Halo, Dave. Ada apa?” tanya Bara dari seberang panggilan.
“Besok bisa bertemu? Aku ingin menanyakan beberapa hal dengamu,” kata Dave sembari menatap rumah Bella lekat.
“Tentang?”
“Bella,” jawab Dave singkat.
“Kenapa kamu menanyakan mengenai Bella?” tanya Bara dengan nada suara cuirga.
Dave menghela napas keras. “Aku bertanya, Bara. Kenapa kamu malah balik bertanya. Kamu tinggal jawab bisa atau tidak. Itu saja sudah cukup.”
Terdengar helaan napas dari arah Bara. “Baiklah. Kamu kirimkan alamatnya dan aku akan datang,” putus Bara akhirnya. Dia tidak mau berdebat dengan Dave lebih lama.
“Baik. Aku akan tentukan tempatnya segera.” Dave mematikan panggilan dan menghela napas perlahan.
Dave menyadarkan tubuhnya di badan mobil dan menatap rumah Bella tajam. “Aku merasa penasaran denganmu, Bella,” gumam Dave yang kemudian kembali ke dalam mobil. Dia harus segera kembali ke rumahnya dan menjelaskan mengenai hubungannya dan Alice.
__ADS_1
Aku harap mama akan mengerti, pinta Dave dalam hati.
_____