Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 24_Cerita Kelam


__ADS_3

Surya menatap kedua orang yang ada di hadapannya dengan pandangan tajam. Tangannya masih mengepal dengan rahang mengeras. Dia benar-benar ingin memaki Rony yang saat ini tengah duduk santai tanpa rasa bersalah sama sekali. Padahal baru saja membuat putri semata wayangnya ketakutan dan menangis tersedu.


Margaret menghela napas tipis dan tersenyum ke arah Surya. “Apa kabar, anakku?” sapa Margaret dengan suara lembut.


Surya melirik ke arah mamanya dengan tatapan tajam. “Untuk apa Mama datang ke kantor Alice?” tanya Surya mengabaikan sapaan penuh kasih dari sang mama.


“Mama hanya ingin menyapa cucu mama. Apa itu salah?” ucap Margaret dengan suara tenang dan wajah tanpa rasa bersalah sama sekali.


Surya berdecih dengan satu bibir terangkat sebelah. “Jangan coba bohongi Surya, Ma. Surya bukan anak umur empat tahun yang bisa Mama bodohi. Sejak Alice kecil bahkan Mama ingin sekali membuangnya. Sekarang Mama bilang mau menyapa? Jangan konyol,” desis Surya dengan wajah masih menunjukan kekesalannya.


“Terlebih dengan mama membawa pria tidak tahu diri ini,” tegas Surya menunjuk Rony yang hanya tersenyum tipis, “aku benar-benar tidak mau melihat wajahnya.”


Rony tersenyum tipis dan mengabaikan ucapan Surya. Dia memilih diam dan memandang rendah Surya.


Margaret yang mendengar menghela napas dan menatap ke arah Surya tajam. Wajah datar dan santai yang sejak tadi ditunjukan hilang seketika. “Kalau kamu sudah tahu dengan itu, kenapa masih ngotot? Mama sudah bilang tidak mau menerima Alice sebagai keluarga kita dan kamu masih mempertahakannya. Kamu tahu, Surya? Mama gak sudi punya cucu dari wanita murahan,” jelas Margaret dengan suara tegas.


“Dia bukan anak wanita murahan, Ma! Dia adalah anakku dan sampai kapan pun akan begitu,” bentak Surya dengan emosi menggebu. Matanya menatap Rony yang masih merendahkannya.


Surya melangkah mendekat dan menarik baju Rony, membuat pria tersebut berdiri dan memandangnya lekat.


“Aku peringatkan kepadamu, Rony. Jangan pernah ganggu Alice atau kamu akan menerima akibatnya,” desis Surya dengan wajah sinis.


Rony tersenyum kecil. “Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya, Surya. Dia bahkan bukan keluargaku. Jadi, aku bisa menyentuh dan memilikinya.”


“Rony!” bentak Surya dengan mata membelalak dan tangan mengepal.

__ADS_1


“Hentikan teriakanmu itu, Surya,” sahut Margaret dengan suara lantang, “apa yang dikatakan Rony memang benar. Jadi apa salahnya dia menikah dengan Rony. Itu akan jauh lebih baik dari pada dia gagal menikah dengan Randy dan mencoreng nama baik keluarga. Dan setelah itu kamu menikahkannya dengan Dave yang jelas anak seorang tahanan? Sampai kapan kamu akan membuat keluarga kita malu, hah?”


Surya yang mendengar melepaskan genggaman tangannya dan menarik napas dalam, megembuskannya pelan. Matanya menatap Margaret dengan pandangan dingin dan tidak ada kehangata sama sekali.


“Sejak Alice hadir di kehidupanku, rasanya aku sudah kehilangan rasa simpati dengan Mama. Dulu aku selalu membanggakan Mama dan mengatakan bahwa Mama adalah orang tua terbaik. Namun, nyatanya berbeda. Mama adalah orang tua egois dan aku baru menyadarinya. Bahkan, sedikit pun Mama tidak memiliki perasaan ketika Rony dengan tega hampir memperkosa Alice. Mama hanya diam,” ucap Surya sembari menatap wajah mamanya yang mulai berubah.


“Mungkin sekarang saatnya Surya katakan. Jangan pernah urusi keluarga Surya dan jauhi kami, Ma. Aku tidak mau kalau pada akhirnya mama akan membuat Alice susah lagi. Cukup tidak sukai dia, tetapi jangan sakiti dia. Aku mohon.”


Surya menghela napas dan segera keluar dari ruangan anaknya. Membiarkan Rony dan mamanya tetap di sana. Dia bahkan mengabaikan teriakan Margaret yang memanggil namanya.


Aku cukup kecewa dengan sikap Mama, batin Surya.


_____


Setelah mendapat perintah dari Surya, Bara segera mengajak Alice keluar kantor. Mengabaikan tatapan penuh tanya dari semua karyawan yang tidak sengaja ditemuinya. Alice sendiri hanya diam dengan wajah tertunduk. Ini pertama kalinya selama belasan tahun dia menujukan wajah pedihnya di hadapan publik.


Alice menerima gelas yang diberikan Bara dan diam dengan suara tangis terisak. Bara memilih mengajaknya ke sebuah taman kecil yang biasanya digunakan anak-anak kecil untuk bermain, letaknya juga tidak jauh dari kantornya saat ini.


“Terima kasih,” ucap Alice pelan.


Bara hanya diam dan duduk di dekat Alice. Matanya hanya menatap ke jalanan yang terlihat begitu ramai. Dia tidak memperhatikan air mata Alice yang masih mengalir sampai saat ini.


Alice menyeruput sedikit kopi panas di tangannya dan menatap Bara yang masih menunjukan ekspresi dingin. “Maaf,” cicit Alice dengan wajah sendu.


Bara yang mendengar menatap ke arah Alice dengan kening berkerut. “Untuk?”

__ADS_1


“Karena aku selalu datang kepadamu dengan seribu masalah,” jawab Alice dengan senyum tipis. Dia masih ingat beberapa masalahnya hadir tepat di depan Bara. Mulai dari dia yang terluka dengan keputusan Randy sampai saat ini, ketika neneknya datang.


Bara yang mendengar hanya mengangguk santai dan tidak mengatakan apa pun, meski rasa penasaran sebenarnya masih menggerogoti hatinya.


Kenapa Alice menangis? Apa yang sebenanya terjadi? Pertanyaa-pertanyaan itu yang terus terngiang dalam benaknya. Dia pikir semua hanya perasaannya saja, tetapi nyatanya memang benar. Alice takut dengan neneknya.


Alice menghela napas panjang dan menunduk. “Aku takut dengan nenek,” cicit Alice sembari meniitkan air mata. Rasanya dia ingin menceritakan semua kepada pemuda yang tidak tampak tertarik dengan kisahnya. Namun, nyatanya Bara segera menatap dengan pandangan antusias.


“Sejak kecil nenek tidak pernah menyukaiku. Tepatnya sejak aku datang ke kehidupan papa. Nenek berulang kali memarahiku dan pernah akan membuangku. Nenek selalu menyiksaku ketika papa dan mama menitipkanku di rumahnya,” lanjut Alice dengan air mata mengalir. Dia menghela napas pelan dan kembali melanjutkan ucapanya. “Sampai suatu hari papa tahu perbuatan nenek. Papa marah besar, tetapi nenek masih merasa tidak bersalah sama sekali. Nenek malah menyalahkanku untuk semua kemarahan papa dan semakin membenciku.”


“Sedangkan Rony, dia adalah pamanku, anak dari kakak nenek. Dia pernah berusaha memperkosaku ketika usiaku baru menginjak enam belas tahun.” Alice berhenti sejenak dan kembali menitikan air mata. Ini pertama kalinya dia menceirtakan pengalaman memalukan dan menyedihkan dalam hidupnya.


Bara membelalak mendengar cerita Alice. Terlebih kali ini dai melihat kembali tubuh lemah di depannya.


“Aku takut kalau paman Rony akan melakukan hal yang sama. Tadi dia..dia...” Alice diam dan terisak mengingat perbuatan Rony yang membuatnya merasa takut.


Bara mengerti perasaan Alice. Dia tahu, wanita di hadapannya memang rapuh. Dengan pelan, Bara menarik Alice dan memeluk gadis di seblahnya dengan pelan.


“Jangan dipaksakan, Alice, aku mengerti ketakutanmu. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Tenanglah, tidak akan ada yang menyakitimu kembali. Mereka akan mendapatkan balasannya,” ucap Bara membuat Alice semakin terisak.


Alice mendekap pria di hadapannya dengan erat, enggan melepaskannya. Dia mengabaikan semua perasaan konyol yang berusaha melupakan Bara. Dia hanya ingin mrnjalani hari yang masih bisa dilaluinya, meski pada akhirnya dia hanya dianggap sebagai seorang teman.


Bara hanya diam. Kita merasakan luka berbeda, Alice. Kita mengalami ketakuan yang berbeda, tetapi aku tahu rasanya, batin Bara yang juga merasa memiliki masa lalu kelam. Masa lalu yang selalu ditutupinya.


_____

__ADS_1


__ADS_2