Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 34_Because, I Love You


__ADS_3

“Aku bahkan baru menjengukmu, sayang. Kenapa buru-buru sekali.”


“Nenek,” panggil Alice lemah.


“Jangan panggil aku Nenek!” bentak Margaret dengan rahang mengeras.


Bara yang saat itu tengah berdiri menatap Margaret dengan pandangan datar. Dia mengabaikan tetes merah yang merembes di lengan sebelah kiri. Telapak tangannya hanya menutupi luka karena goresan peluru yang dilayangkan oleh Margaret.


Alice yang mendengar diam seketika. Dia hanya menutup mulut rapat. Bara yang melihat mendekap Alice dari samping, memberi kekutaan untuk gadis yang ada di sebelahnya.


“Kenapa kamu kabur, sayang?” tanya Margaret dengan wajah sinis dan dibuat sedih, “aku bahkan baru mengatakan kepada Rony agar menjadikanmu miliknya. Aku benar-benar tidak mau menyakitimu kalau saja kamu menjadi anak yang penurut.”


Margaret berdecak kecil dan kembali mengubah raut wajahnya menjadi serius. “Tetapi, sekalinya pembangkang tetaplah pembangkang. Kamu keluar dari kamar dan memilih kabur dengan pria di sebelahmu. Dasar wanita murahan,” desis Margaret dengan penuh kebencian.


“Hentikan, Nek,” tegas Alice dengan tatapan lekat, “Alice bukan wanita murahan.”


“Kamu sudah berani memerintahku, Alice?” tanya Magaret dengan wajah tegas. Kerut ketegangan tercipta di wajahnya yang sudah semakin menua. “Kamu pergi dengan pria yang bukan siapa-siapamu. Padahal kamu tahu, di sana ada Dave yang juga tengah menyelamatkanmu. Lalu, sebutan apa yang tepat untukmu?”


Alice yang mendengar merasa sakit hati dan menitikan air mata. Hatinya hancur mendengar ucapan neneknya yang tidak memiliki rasa simpatik sama sekali. Bahkan, dia tidak memikirkan perasaannya.


"Sepertinya pepatah memang benar. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sama seperti kamu yang sama murahannya dengan ibumu,” celetuk Margaret dengan wajah sinis.


Alice menghapus air matanya kasar dan menatap Margaret dengan segala luka yang ditunjukan. “Nek, aku benar-benar menghormatimu. Selama ini aku hanya diam ketika Nenek menghinaku, tetapi bisakah Nenek jangan menghina ibu? Dia bahkan sudah tenang di sana,” ujar Alice merasa tidak terima. Dia memang tidak pernah melihat ibu yang melahirkanya, tetapi tetap saja hatinya tidak terima jika mendengar ibunya dijelekan.


“Kenapa? Kamu tidak terima? Hah? Karena kamu hadir di kehidupan anakku, menantuku menjadi korbannya. Kamu benar-benar anak sialan. Tidak seharusnya Surya mengambilmu dari rumah itu,” teriak Margaret dengan air mata berlianng. Dia masih mengingat wajah wanita yang begitu disayanginya. Istri pertama Surya.


Margaret menatap Alice dengan tatapan tajam yang sudah menunjukan amarah dan juga luka. “Kamu dan Galuh memang sama saja, Alice. Kalian membuat hidup menantuku menderita!” teriak Margaret membuat Bara diam.

__ADS_1


Galuh? Rasanya dia mulai tidak asing dengan nama tersebut. Namun, pikiranya kembali buyar ketika melihat Margaret hendak mendekat dan melukai Alice. Bara menjadikan dirinya sebagai tameng dan menatap Margaret dengan tajam.


“Apa pun yang terjadi, tidak seharusnya anda menyimpan dendam dengan cucu anda, Nyonya,” tegas Bara dengan mata menunjukan keseriusan.


“Menyingkir. Aku tidak memiliki urusan denganmu. Aku memiliki urusan dengan gadis pembawa sial ini,” ucap Margaret dengan nada sinis.


“Mama!”


_____


“Mama!” teriak Surya membaut Margaret menatap ke asal suara. Margaret membalik badan dan melihat Surya dengan tatapan datar.


“Sudah, Ma. Hentikan semua ini. Hentikan semuanya, Ma,” pinta Surya dengan nada lemah. Dia tahu, mamanya berhak marah dengan semua kekacauan yang melanda keluarganya.


"Berhenti katamu, Surya? Apa setelah aku berhenti Melly akan kembali kepadaku?” tanya Margaret dengan wajah serius dan menghela napas perlahan. “Tidak, kan? Sampai kapan pun Melly tidak akan kembali diantara kita dan itu semua karena ulah Alice!”


Magaret merasa aneh dengan ucapan anaknya segera menatap ke arah Surya dengan kening berkerut. Salah anaknya?


Surya menghela napas perlahan dan menatap Margaret lembut. “Maaf karena selama ini Surya diam, Ma. Sebenarnya sejak kami menikah, Melly sudah dinyatakan mandul, Ma. Dia takut Mama merasa terluka dan menyuruh Desi untuk menikah denganku. Sampai akhirnya hadirlah Alice dalam hidup kami. Desi mengalami pendarahan ketika melahirkan Alice dan akhirnya meninggal,” jelas Surya dengan wajah serius. Dia kembali menguak masa lalu yang terasa menyakitkan.


“Ma..maksud kamu?” tanya Margaret dengan nada gugup. Kenyataan yang mampir di depannya membuat ulu hatinya merasa sakit. Matanya menatap Surya yang hanya diam dan tidak mengatakan apa pun.


Surya menghela napas dan menatap mamanya pilu. “Alice adalah anakku. Kami berbohong ketika mengatakan bahwa kami mengadopsinya dari panti asuhan. Dia adalah anak kandung Surya, Ma. Dia benar-benar keturunan keluarga Pranata,” ungkap Surya dengan wajah serius.


Margaret yang mendengar langsung luluh seketika. Selama ini dia mengira bahwa Melly, menantu kesayangannya mengalami depresi karena Desi yang masih berhubungan dengan Surya. Namun, setelah mendengar penjelasan anaknya, rasanya dunianya runtuh. Melly mengetahui semua dan dia juga yang mencetuskan ide tersebut.


“Melly mengalami sakit-sakitan karena merasa bersalah terhadap Desi, Ma. Namun dilain sisi, Melly begitu bahagia dan Alice adalah alasannya. Dia merasa begitu beruntung mendapatkannya dalam hidup kami. Dan asal mama tahu, Alice jugalah alasannya kembali bangkit dan menjadi sehat.”

__ADS_1


Margaret menatap Alice yang masih saja menangis dengan pandangan lelah. Selama ini dia mengira bahwa Alice adalah sumber kepedihan menantunya. Mengurus anak dari wanita lain bukanlah hal mudah. Namun, ternyata pandangannya salah.


Margaret menghela napas perlahan dan menatap Surya lekat. Tidak ada ucapan sama sekali, bahkan ketika Dave datang dan melihat drama keduanya. Dave hanya diam dan melangkah mendekati Bara yang juga menyaksikan.


“Kamu tidak apa-apa?" tanya Dave melihat tangan Bara sudah banyak sekali darah.


Bara hanya mengangguk dan melihat Margaret yang melangkah menjauh. Sekarang giliran Surya yang hanya diam dengan air mata. Surya menatap anaknya dan tersenyum lembut. Langkahnya mendekat ke arah Alice dan menatap lekat.


“Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Surya dengan pandangan lembut.


Alice hanya diam dan langsung mendekap papanya. Selama ini dia mengira bahwa dia tidak memiliki orang tua sama sekali. Meski Surya selalu menyayanginya, tetap saja rasanya berbeda. Dia ingin bersama dengan orang tua kandungnya.


“Jangan menangus, sayang. Sekarang tidak akan ada lagi yang melukaimu,” ujar Surya dengan penuh rasa sayang.


Alice hanya mengangguk setuju dan mengabaiakan ucapan papanya. Dia hanya memeluk erat, sampai sebuah tangan kekar melepaskan pelukannya dan menghapus air pelan. “Sudah. Sekarang kita kembali dan obati luka kalian. Bara juga terkena tembakan, kan?”


Alice kembali sadar dan menatap Bara yang sudah tampak begitu pucat. Helaan napas terdengar dan mengangguk setuju. Surya mengajak Alice untuk pulang bersama, tetapi ditolak dengan alasan dia ingin mendampingi Bara. Bara hanya diam dan pasrah, pasalnya dia tidak kuat untuk menyetir sendiri.


Alice membimbing Bara masuk ke dalam mobil dan segera melaju meninggalkan hutan. Matanya sesekali melirik ke arah Bara yang masih saja diam.


“Bara, aku tahu kamu sengaja menyelamatkanku,” ucap Alice sembari melirik ke arah Bara lekat. “Kenapa?” tanya Alice mulai penasaran.


Bara menatap Alice dengan pandangan lembut. “Karena aku tidak mau gadis yang aku cintai terluka,” celetuk Bara dengan kewarasan yang sudah diambang batas. Dia merasa gila karena mengatakannya.


“Apa?” Alice menghentikan laju mobil dan menatap Bara dengan pandangan tidak percaya. Apa dia mulai berhalusinasi atau memang pendengarannya yang mulai bermasalah?


“Iya, selama ini aku memang selalu menyangkal perasaanku, Alice. Tetapi, melihatmu bersama dengan Dave aku merasa tidak rela. Aku mencintaimu Alice Surya Pranata,” tegas Bara dengan pandangan serius. “Dan aku tidak tahu itu terjadi sejak kapan. Yang aku tahu, sekarang aku mulai takut kehilanganmu.”

__ADS_1


_____


__ADS_2