Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 52_Keputusan Alice


__ADS_3

Alice menitikan air mata ketika mengingat uapan Bara yang terasa begitu menyakitinya. Hatinya terasa hancur. Bahkan sejak keluar dari cafe, Aljce tidak memperhatikan sekitar dan hanya fokus dengan perasaannya yang sudah hancur bekeping-keping.


Alice menepikan mobilnya dan segera mematikan mesin. Menundukan kepala dengan air mata yang sudah berlinang. Beberapa kali panggilan dari Dara juga sudah diabaikan begitu saja. Dia hanya ingin sendiri, menikmati rasa yang terasa membunuhnya.


“Kamu jahat, Bara. Kamu jahat,” lirih Alice sembari memukul keras setir mobil.


Air matanya semakin luruh ketika menyadari sikap Bara yang semakin dingin. Sampai dering ponsel mengagetkannya, membuat Alice yang tengah menangis mulai mengalihkan pandangan.


Alice menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dengan cepat jemarinya mulai meraih ponsel dan mengangkat panggilan dari papnya. Setelah dirasa siap, Alice segera menggeser pelan tombol hijau di layar ponsel pintarnya.


“Halo, Pa,” sapa Alice sembari menyembunyikan tangisnya, meski sesekali masih terdengar nyata.


“Halo, sayang. Kata mama kamu pergi keluar. Apa kamu sudah pulang? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Surya yang terdengar begitu khawatir.


“Alice baik-baik saja, Pa,” jawab Alice sembari menekan tangis yang siap meledak.


“Kamu yakin?” tanya Surya yang merasa bahwa anaknya berbohong.


Alice mengangguk pelan dan menitikan air mata. “Iya.”


“Baiklah. Kalau ada apaa-apa kamu bisa bicara sama papa, sayang. Papa akan mendengar semua keluh kesahmu. Papa siap mendengar ceritamu, baby,” ujar Surya dengan penuh kelembutan.


Alice hanya bergumam mengiyakan. Pikirannya masih berusaha mencerna apa yang terjadi dengannya. Sampai ketika papanya berniat menutup panggilan, Alice dengan cepat menghentikan niat sang papa.


“Apa, Alice?" tanya Surya ketika Alice mencegahnya untuk mematikan panggilan.


Lagi-lagi Alice menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Alica mau berangkat ke Paris, Pa,” celetuk Alice dengan air mata yang semakin deras mengalir. Hatinya berusa meyakinkan bahwa semua yang diputuskannya adalah yang terbaik.


“Apa? Kenapa kamu mau pergi ke sana, Alice? Apa yang akan kamu lakukan di sana?” tanya Surya dengan nada suara tidak suka.

__ADS_1


“Alice mohon, Pa. Biarkan Alice pergi ke Paris. Alice butuh menenangkan diri dan melupakan Bara. Jika masih di sini, Alice tidak yakin akan bisa melupakan Bara dengan cepat,” jawab Alice dengan mata menatap lurus. Matanya sudah berkaca dengan sisa air mata yang mulai mengering.


Terdengar helaan napas panjang dari arah Surya. “Baiklah. Jika memang itu pilihanku, papa akan memberi izin. Kapan kamu akan berangkat?” tanya Surya penasaran.


“Dua hari lagi,” sahut Alice tegas.


“Baiklah. Sekarang kamu pulang. Kita akan bicarakan semuanya di rumah,” ujar Surya masih tidak rela untuk melepaskan anaknya.


Alice mengangguk patuh. Dia seakan lupa jika saat ini papanya tidak akan bisa melihat gerakan tubuhnya. Sampai linangan air mata mulai kembali turun tanpa suara. “Tetapi, Alice masih harus ke suatu tempat dulu, Pa. Ada hal yang harus Alice lakukan.”


Surya hanya mengiyakan, membuat Alice merasa lega. Hingga panggilan kedunya mulai terputus. Alice kembali menjalankan mobilnya, menembus jalanan lengang di hadapannya.


_____


Rika melambaikan tangan ketika mobil suaminya sudah pergi bersama dengan Gibran. Matanya masih menatap lekat hingga suaminya tidak lagi terlihat. Sejak pagi, anaknya terus saja merengek meminta ke rumah Michael, bertemu dengan Mikail.


Rika hendak berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah, tetapi terhenti ketika suara mobil lain mulai terdengar di pelataran rumah, membuat Rika menghentikan langkah dan menatap ke asal suara. Matanya masih mengamati mobil yang terasa asing untuknya, sampai seseorang keluar dengan senyum tipis ke arahnya.


Alice melangkah mendekati ke arah Rika. “Hai, apa kabar?” tanya Alice dengan suara lembut.


“Baik,” jawab Rika sembari memperhatikan wajah Alice yang tampak sendu. Dia tahu, wanita di hadapannya baru saja menangis.


Dengan ramah Rika mengajak Alice mamasuki rumah dan duduk di kursi berseberangan. Rika menyuruh salah satu pelayan untuk membuatkan minuman. Hanya sebentar dan pelayan tersebut kembali dengan nampan berisi cemilan dan minuman.


“Diminum, Alice,” ucap Rika dengan wajah lembut dan mendapat anggukan dari wanita di hadapannya.


“Ada perlu apa kamu datang kemari, Alice?” tanya Rika dengan mata mengamati. Dia yakin, ada hal yang membuat Alice datang menemuinya.


Alice meletakan gelas berisi jus jeruk dan menatap Rika lekat. “Aku ingin meminta maaf denganmu, Rika. Maaf jika selama ini aku ada salah denganmu. Mungkin aku tidak tahu apa dan bagaiaman kehidupanmu selama ini, tetapi aku harap kamu mau berbicara dengan Mama.”

__ADS_1


Rika yang mendengar hanya diam. Ada rasa rindu ketika melihat wanita yang sudah lama tidak hadir di kehidupannya kembali berdiri di hadapannya. Namun, rasa sakit yang seakan menyerang membuatnya enggan melakukannya dan memilih bungkam.


“Aku masih merasa sakit dengan perbuatan mama, Alice. Mungkin aku egois, tetapi aku juga bisa merasakan marah dengan semua yang terjadi padaku. Aku harap kamu mengerti mengenai itu,” jawab Rika dengan senyum tipis.


Alice yang mendengar menunduk sejenak dan kembali mendongak. Matanya menatap lekat ke arah Rika dan kembali mengulas senyum. “Baiklah, itu adalah pilihanmu. Aku juga ingin mengatakan bahwa dua hari lagi aku akan pergi ke Paris. Aku akan memulai kehidupan baru di sana.”


Rika yang mendengar langsung diam. “Paris?” gumam Rika dan menapat anggukan dari Alice.


“Aku sudah memutuskan untuk hidup di sana, Rika. Aku akan memulai kehidupan baruku di sana,” kata Alice dengan senyum dipaksakan.


“Lalu Bara?” sahut Rika cepat. “Kamu sudah mengatakan dengan dia? Kamu sudah mencoba berbicara dengannya?” tanya Rika dengan mata menatap Alice lekat.


Alice yang mendengar menunduk lesu, menatap lantai putih hingga air matanya mengalir. Perlahan, dia kembali mendongak dan menahan air matanya dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya, ia menyerah dan membiarkan tetes bening terus mengalir. pandangannya menatap ke arah Rika dengan rasa yang teramat sangat pedih.


“Aku menyerah, Rika. Aku menyerah mengenai Bara. Aku sudah berusaha dan sepertinya memang ini takdir kami. Kami harus berpisah,” putus Alice.


“Tetapi kalian saling mencintai. Aku yakin Bara hanya butuh sedikit waktu sampai dia mau mengerti keadaan ini,” ujar Rika tidak rela jika Alice kembali merasakan luka.


Alice menggeleng perlahan. “Aku rasa semua ini memang sudah berada di akhir, Rika. Aku akan memul....”


“Aduh,” pekik Rika membuat Alice menatapnya lekat.


“Rika, kamu kenapa?” tanya Alice dengan wajah cemas. Dengan cepat dia mendekati Rika yang terlihat menahan sakit. Sampai matanya menatap sebuah cairan merembes dari sela kaki wanita di depannya.


“Astaga, Rika,” teriak Alice masih bingung apa yang harus dilakukan.


Rika menarik napas perlahan dan mengembuskannya pelan. “Tolong antar aku ke rumah sakit. Aku rasa aku akan melahirkan,” ucap Rika dengan peluh mulai membasahi keningnya.


Alice yang mendengar langsung mengangguk. Dengan sigap dia mulai memanggil seluruh pegawai di rumah Randy dan memasukan Rika ke dalam mobilnya. Dengan cepat dia segera menjalankan mobil, sesekali menatap Rika yang ada di belakangnya.

__ADS_1


“Aku harap dia baik-baik saja,” gumam Alice dengan sangat cemas.


_____


__ADS_2