
Bella membuang napas perlahan. Matanya menatap ke arah kolam di depannya dengan pandangan datar. Tangannya disedekapkan dengan mata memejam, menikmati angin yang mulai menerpa wajahnya.
Pada akhirnya, aku kembali ke tempat yang sama dan dengan orang yang sama, batin Bella dengan senyum tipis. Sampai sebuah dekapan pelan mulai terasa di bagian pinggangnya. Membuat Bella terdiam dan enggan menatap sang pelaku.
“Kenapa kamu pergi dari rumah ini?” bisik Ryan dengan suara lembut.
Bella yang mendengar hanya diam. Bibirnya masih saja bungkam dan enggan berbicara dengan Ryan. Dia memilih melepaskan pelan pelukan pria tersebut dan mulai melangkah menjauh. Namun, gerakannya terhenti karena tangan Ryan yang menggenggamnya erat.
“Kamu marah denganku?” tanya Ryan dengan nada lembut, berbeda dengan biasanya.
“Apa aku memiliki hak untuk marah?” Bella malah balik bertanya tanpa menatap Ryan sama sekali.
Ryan menutup mata erat, merasakan sakit dari ucapan Bella. Dia kembali membuka mata dan mendekap tubuh Bella erat. “Kamu mau mendengar suatu cerita dariku?” ucap Ryan sembari menatap wajah Bella dari samping. Mengamati wajah yang membuat senyum tipisnya mulai terlihat.
“Kamu tahu, kenapa dulu aku memberi orang tuamu begitu banyak uang padahal aku tahu, perusahaan mereka tidak akan pernah bisa bangkit lagi?” tanya Ryan membuat Bella terdiam. Dia juga merasa penasaran dengan alasan Ryan yang tetap memberikan suntikan dana, meski itu tidak akan berhasil sepenuhnya. Ya, Bella tahu mengenai kondisi keluarganya saat itu.
“Kamu sudah tahu mengenai itu?” sahut Bella dengan suara datar dan mendapat anggukan dari Ryan.
“Aku tahu tentang itu, Bella. Aku sangat tahu. Namun, jujur. Itu bukan aku yang melakukan. Aku hanya berusaha menolong mereka dan itu semua karena kamu,” jawab Ryan membuat Bella semakin terdiam.
“Aku?” ulang Bella dengan suara lirih.
Ryan mengangguk dan melepaskan dekapannya. Dia segera membalik tubuh Bella agar menatapnya. “Aku membantu mereka karena kamu, Bella. Kamu tahu? Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Jadi, saat mereka meminta kucuran dana dari perusahaanku, aku langsung memberikannya tanpa berpikir. Aku berharap itu akan bisa membuatmu menjadi milikku,” jelas Ryan dengan wajah serius.
Bella mengamati wajah Ryan, mencoba mencari kebohongan yang terlihat di wajah pria tersebut. Namun, tidak terlihat sama sekali. Dia hanya melihat keseriusan dari arah Ryan yang membuat hatinya kembali bimbang.
Benarkah apa yang dikatakannya, batin Bella tidak yakin.
__ADS_1
“Aku berbicara yang sesungguhnya, Bella. Aku sangat mencintaimu sejak pandangan pertama. Aku kesal saat tahu kamu memiliki kekasih. Jadi, aku menyuruh orang tuamu agar menyuruhmu berpisah dengan Bara saat itu,” tegas Ryan.
Bella menatap Ryan dengan tatapan lelah. “Tetapi kamu suka sekali menyiksaku, Ryan,” ujar Bella masih meragu.
“Maafkan aku untuk itu, Bella. Aku hanya takut kamu pergi dariku kalau aku bersikap lembut. Aku takut kamu seperti wanita di luar sana yang bertingkah seenaknya dan meninggalkanku. Padahal aku sangat mencintai mereka,” tegas Ryan dengan penuh kesungguhan.
Bella yang mendengar kembali diam. Apa dia mengatakan yang sebenarnya, batin Bella. Sampai dia merasakan remasan yang semakin erat di jemarinya, membuatnya menatap ke arah jemarinya dan berbalik menatap Ryan lekat.
“Aku mencintaimu dan kali ini serius akan menjadikanmu milikku. Apa kamu bersedia menikah denganku? Aku tahu, banyak kesalahan yang aku lakukan. Aku juga sadar tidak pantas untukmu. Namun, aku takut kehilangan dirimu, Bella,” aku Rya dengan pandangan memelas.
Bella tertawa kecil, seakan tidak percaya dengan yang terjadi saat ini. Aku dilamar pria kejam sepertinya?, batin Bella menertawakan nasibnya sendiri.
“Aku berjanji akan membahagiakanmu,” sambung Ryan ketika Bella hanya tertawa tanpa menjawabnya.
Bella mengulas senyum tipis. Matanya sudah beradu pandang, menatap mata yang begitu teduh di depannya. “Kamu berjanji tidak akan melukaiku lagi?” tanya Bella sembari mengelus pelan pipi Ryan.
“Aku berjanji dan kamu bisa memegangnya. Kalau sampai aku melukaimu lagi, aku akan melepaskanmu, Bella. Aku berjanji,” jawab Ryan dengan penuh rasa percaya diri.
“Dan aku akan menepatinya,” sahut Ryan yang langsung mendekap Bella erat.
Bella hanya membalas pelukan Ryan dan tersenyum kecil. Hanya begini dan aku yakin? Dasar bodoh, batin Bella merasa konyol dengan dirinya sendiri.
_____
“Morning, sayang,” sapa Bara dengan senyum tipis. Matanya menatap ke arah Alice yang ada di dekatnya.
Alice mulai menggeliat dan membuka mata pelan. Hal pertama yang dilihatnya adalah Bara, pria yang bebaring tepat di dekanya. Mengamati wajah cerah yang membuatnya tersenyum kecil.
__ADS_1
“Hari ini kamu mau ke mana? Ada yang mau kamu datangi?” tanya Bara dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya masih asyik mengamati wajah istrinya.
Alice terdiam. Otaknya mulai berkerja mengingat tempat mana saja yang ingin didatanginya. Sampai dia mengulas senyum dan menatap Bara. “Aku mau ketemu sama mama. Aku kangen,” jawab Alice dengan pandangan memelas.
“Mama?” ulang Bara dengan rasa tidak percaya sama sekali. “Kamu yakin mau ketemu mama? Kalau begitu, kita akan pulang sebelum waktunya, sayang.”
“Aku tahu,” cicit Alice lirih. Dia juga merasa tidak enak hati karena sudah membuat Bara susah. Padahal masih ada beberapa hari lagi sampai masa bulan madunya usai.
Bara yang mendengar memilih mengangguk. Dia segera menarik Alice dan mendekapnya lembut. “Baiklah kalau memang kamu maunya begitu. Kita ke pulang hari ini. Biar aku yang pesan tiket,” putus Bara dengan senyum tipis.
Alice tersenyum kecil dan menatap Bara yang sudah memejamkan mata kembali. “Terima kasih, sayang,” ucap Alice dengan senyum tipis.
Alice segera mendekat dan mencium pipi Bara singkat. Membuat suaminya membuka mata seketika. Bara hanya terkekeh kecil dan menarik Alice yang langsung jatuh di atas dada bidangnya. Mempermudah gerakan Bara yang memutar tubuh dan melatakan Alice tepat di bawahnya.
“Kamu yang mulai, sayang,” ujar Bara.
“Aku hanya mencium, Mas,” jawab Alice dengan kekehan kecil. Dia mulai merasakan kecupan dalam di bagian leher, membuatnya memejamkan mata. Bahkan, tangannya sudah meremas kaos oblong Bara erat.
Bara menghentikan aksinya. “Aku rasa, hari ini kamu harus tetap di kamar untuk membuatkan papa cucu sebelum pulang, sayang,” bisik Bara.
Alice yang mendengar hanya berdecak kecil dan membuka mata. “Aku siap asal bersamamu,” jawab Alice dengan senyum lebar.
Sedangkan di tempat lain, Dara tengah merapikan penampilannya dan tersenyum kecil. Setelah dirasa siap, dia segera melangkah keluar. Namun, gerakannya terhenti saat dia membuka pintu, menatap Dave yang ada di depannya.
“Aku mau bicara serius denganmu,” ucap Dave dengan pandangan lekat. Tidak ada senyum seperti biasanya.
Ada apa?, batin Dara.
__ADS_1
_____
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan jangan lupa juga tinggalkan vote. See you next chapter baby 😘😘