
Bara melangkah menuju ke apartemennya dengan wajah datar. Banyak mata yang menatap dengan senyum sumringah, tetapi diabaikan olehnya. Baginya saat ini, semua tidak ada gunanya sama sekali. Matanya hanya fokus kepada lorong menuju apartemannya.
Bara baru memasukan kode keamanan yang sudah terpasang dan hendak masuk ketika bunyi bip sudah terdengar. Namun, suara ponsel membutnya berhenti dan menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Surya. Dengan cepat dia langsung mengangkat pangilan dari atasannya.
“Halo, Bara,” sapa Surya yang berada di tempat lain.
“Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bara sembari menatap jam tangan yang melingkar dan menunjukan pukul enam sore. Jam kantornya sudah selesai sejak satu jam yang lalu.
“Maaf aku lupa mengabarimu bahwa besok kamu dan Alice akan mewakili perusahaan kita di acara sosialisasi. Hanya untuk tujuh hari,” ucap Surya terdengar santai.
Bara menghela napas pelan dan kembali menjawab. “Saya, Tuan? Tetapi saya masih baru dan tidak tahu apa pun. Bagaimana jika saya malah membuat Alice susah dan juga mempermalukan perusahaan.”
Surya yang berada di seberang tertawa mendengar jawaban Bara. “Kamu mengkhawatirkan hal semacam itu juga? Aku pikir kamu tidak pernah mengurusi hal semaam itu, Bara,” celetuk Surya masih dengan tawa tertahan. Bara masih bisa mendengra tawa yang nyaring.
“Tenanglah. Aku percaya denganmu dan jika itu terjadi, aku tidak akan pernah memarahimu. Aku rasa itu bisa menjadi pelajaran berharga untukmu. Lagi pula ini hanya sosialisasi saja,” jelas Surya dengan suara yang mulai serius.
Bara menarik napas pelan dan mengembuskannya perlahan. “Baiklah, Tuan. Saya akan berangkat besok pagi.”
“Baiklah. Alice dan supir kantor akan menjemputmu besok pagi. Jadi persiapkan semua keperluan kamu sekarang karena besok kamu akan berangkat pagi sekali,” jelas Surya.
“Baik, Tuan,” jawab Bara singkat.
Panggilan terputus dan Bara menghela napas pelan. Dia baru saja akan masuk ketika suara lain membuat langkahnya terhenti. Matanya menatap ke asal suara dan mengerutkan kening ketika melihta siapa yang datang.
“Rika,” lirih Bara dengan wajah datar. .atanya masih menatap Rika, Randy dan jagoan kecil mereka.
__ADS_1
Dari mana mereka tahu apartemenku, gerutu Bara yang sudah susah payah menyembunyikan alamat tinggalnya dari Rika dan keluarga.
_____
Setelah kehadiran Rika yang membuatnya terkejut, akhirnya Bara mempersilahkan Rika dan keluarga kecilnya masuk ke dalam. Rika yang sudah merasa kesal dengan tingkah Bara menatap dengan pandangan tajam.
“Jadi ini apartemen yang kamu beli secara sembunyi-sembunyi?” tanya Rika dengan suara sinis. Randy yang berada di sebelah istrinya hanya diam dan mengamati keduanya secara bergantian.
“Ini yang kamu sebut saudara, Bara? Kamu pergi tanpa mengatakan apa pun dan malah menyembunyikan alamat apartemen dari kami semua,” imbuh Rika masih dengan emosi menggebu. Dia selalu saja terpikir dengan kondisi adiknya, tetapi dia merasa Bara tidak memikirkannya sama sekali.
Bara yang mendengar menghela napas pelan dan menatap datar ke arah Rika. “Rika, aku merasa kamu sudah tidak perlu mengurusku lagi. Kamu sudah memiliki keluarga yang bahagia dan aku sudah dewasa. Sekarang adalah saatnya kamu fokus dengan kehidupanmu sendiri,” jelas Bara meminta pengertian.
Rika yang mendengar menghela napas pelan. “Aku tidak akan mengurusi kamu ketika kamu sudah memiliki pendamping hidup, Bara. Kamu pikir aku tidak tahu seperti apa pola hidup kamu, hah?”
“Penipu,” desis Rika dengan mata berkilat amarah, “aku melihatmua bersama dengan Alice dan aku yakin kamu mencintainya. Kenapa kamu tidak pernah jujur dengan perasaanmu sendiri, hah? Kenapa kamu berusaha menutupi masalahmu dariku dan itu selalu saja sama,” teriak Rika merasa kecewa dengan sikap Bara.
Bara menghela napas pelan dan menatap mata kakaknya yang berkaca. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama Rika tidak menunjukan amarahnya. Randy yang mendengar suara istrinya mulai meninggai segera mengelus pundak istrinya dan mencoba menenangkan.
Rika menghela napas pelan ketika dirasa napasnya mulai memberat. Matanya menatap Bara dengan pandangan lelah. “Baiklah, Bara. Aku akan turuti semua yang kamu mau. Kamu mau aku tidak mengurusimu lagi, kan? Aku akan lakukan. Anggap aku tidak pernah ada dalam hidupmu. Anggap kakakmu ini sudah tidak ada,” celetuk rika yang langsung bangkit dan pergi.
Bara yang mendengar membelalak dan hendak mengejar Rika yang sudah keluar dari apartemennya, tetapi Randy menggeleng mencegah.
“Jangan kejar, Bara. Kamu tahu bagaimana sifat kakakmu, kan? Dia tidak akan mau berbicara ketika emosinya meluap. Dia hanya merasa kecewa dengan keputusanmu. Lain kali, mainlah ke rumah jika ada waktu karena Rika merindukanmu. Bicarakan masalahmu ini baik-baik dengannya,” ujar Randy dengan penuh pengertian.
Bara yang mendengar mengangguk dan menatap Randy yang sudah pergi besama dengan anaknya. Bara hanya menghela napas panjang dan duduk di sofa ruang tamu dengan tangan menutupi wajah.
__ADS_1
“Kamu tidak mengerti posisiku, Rika. Kamu tidak akan pernah paham dengan sakit yang aku rasa,” gumam Bara masih merasa sulit meyakinkan perasaannya untuk menjalin hubungan lebih dengan siapa pun, termausk Alice.
_____
“Sial! Aku gagal lagi membuat gadis itu sengasara,” teriak Margaret sembari membanting tas yang sejak tadi ditentengnya. Wajahnya menunjukan seluruh emosi dan menatap dengan wajah menggelap.
Rony yang saat itu melihat Margaret tengah emosi hanya diam dan duduk dengan santai. Matanya menatap lekat wanita yang saat ini tengah menggeram dengan rahang mengeras dan tangan mengepal.
“Kenapa juga Surya itu harus datang disaat kita ada di sana, hah?” teriak Margaret masih merasa emosi.
Rony menghela napas dan berdecak singkat. “Tenanglah, Nek. Jangan terlalu emosi seperti itu,” celetuk Rony membuat Margaret menatap ke arah Rony tajam.
“Kamu bilang santai, Rony? Aku bahkan tidak pernah bisa santai sejak dia hadir di kehidupan Surya. Anakku itu jadi suka membantah dan tidak mendengarkanku sama sekali. Ditambah dengan wanita murahan yang saat ini menjadi istrinya. Aku benar-benar kesal,” ucap Margaret dengan napas tersengal.
“Memangnya kalau Nenek marah-marah, semua akan beres? Tidak, kan?” balas Rony dengan senyum tipis dan penuh misterius.
“Apa maksud kamu?” tanya Margaret dengan tatapan tajam dan kening berkerut.
Rony menatap Margaret dengan pandangan santai dan bibir mengulum senyum. “Aku akan membuat rencana yang bisa menjadikan Alice sebagai istriku. Pada akhirnya, Surya tidak bisa menghalangi takdir yang memang sudah digariskan oleh tuhan untuk Alice, kan?”
Margaret yang mendengar langsung ikut tersenyum. Dia mengenal siapa Rony dan bagaimana cara kerja pria di hadapannya. “Kapan kamu akan melancarkan rencanamu?” tanya Margaret dengan pandangan antusias.
“Secepatnya,” desis Rony dengan wajah kejam, “karena aku juga sudah tidak sabar unuk mempersuntingnya. Aku akan menunjukan kepada Surya bahwa takdir memang menyatukan kita. Sekeras apa pun dia mencoba memisahkan, tetap saja dia akan kalah,” imbuh Rony sinis.
_____
__ADS_1