
Alice tengah berada di depan ruangan di mana Rika tengah memperjuangkan hidupnya. Sesekali matanya menatap ke arah pintu dan kembali bergerak gelisah. Sampai suara langkah seseorang mendekat ke arahnya.
“Alice, bagaimana dengan kondisi Rika?” tanya Randy yang baru saja datang. Matanya sudah memancarkan kekhawtiran karena baru saja menerima kabar kelahiran anak keduanya.
Alice menatap ke arah Randy dan segera bangkit. “Rika sedang ada di ruang bersalin. Sudah lama dan belum keluar juga,” jawab Alice dengan rasa kahwatir.
Randy menghela napas perlahan dan mengangguk. Matanya menatap ke arah ruang bersalin, di mana istrinya tengah berjuang. Ada penyesalan dalam hati ketika dia membiarkan Rika berjuang seorang diri.
Tuhan, selamatkan mereka, batin Randy dengan penuh harap.
Menit demi menit terlewati, membuat dua orang yang hanya bungkam dengan pemikirannya merasa berdebar dalam penantian. Sampai ruangan yang terlihat mencekam terasa mereda setelah tangis bayi terdengar. Randy menatap ke arah Alice dan menghela napas lega.
“Anakku sudah lahir,” adu Randy ketika Alice ikut menatapnya.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka, menghadirkan seorang suster yang tengah menggendong bayinya.
“Tuan Randy?” tanya suster tersebut dan langsung mendapat anggukan.
Randy mendekap erat bayi yang baru saja diserahkan, membuat Alice yang ada di sana hanya diam dengan mata mengamati. Hatinya seakan tercubit melihat fakta di hadapannya. Apa kelak aku bisa mendapatkan pria yang sangat mencintaiku seperti Randy mecintai Rika?, batin Alice dengan setitik air mata yang mulai mengalir.
Alice menghapus air matanya pelan dan mengucapkan selamat untuk Randy. Matanya masih memandang sahabatnya yang tengah dalam keadaan suka cita.
“Aku harap kelak aku bisa mendapatkan suami sebaik dirimu, Randy,” gumam Alice yang memilih menjauh, menenangkan dirinya yang kembali dirunduk dalam kesedihan. Mengabaikan sosok lain yang datang dari arah berlawanan.
_____
Bara melangkah menyusuri lorong menuju ke ruangan Rika berada. Dia baru saja menerima kabar mengenai kelahiran anak kedua dari kakaknya. Setelah ditemukan, dengan perlahan dia mulai memutar knop pintu, melihat Rika dan Randy yang tengah berbincang.
“Bara. Masuk,” kata Rika dengan suara lembut.
Bara mengangguk perlahan dan segera menutup pintu. Kakinya mulai melangkah ke arah Rika yang tengah berbaring bersama bayi kecil yang terlihat menggemaskan. Hingga senyumnya terukir memperhatikan malaikat kecil yang kembali hadir.
__ADS_1
“Bukankah dia menggemaskan, Bara?” celetuk Rika sembari menatap ke arah anaknya yang masih terlelap tidur.
Bara hanya mengangguk dan menatap Rika lekat. “Iya. Dia memang menggemaskan,” jawab Bara dengan nada suara kembali datar.
Rika tersenyum lembut dan menatap ke arah Braa. “Lalu, kapan kamu mau memiliki bayi mungil seperti ini?” tanya Rika yang memang sengaja memancing Bara.
Bara yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap ke arah Rika lekat. Mulutnya baru terbuka dan akan mengatakan sesuatu, tetapi Rika jauh lebih dulu menyela.
“Aku tahu kamu masih malas memikirkan mengenai pernikahan dan sebagainya, tetapi ada hal yang harus kamu ingat, Bara. Selamanya, kita tidak akan pernah bisa berjalan sendiri. Kamu harus maju dan memulai kehidupan yang baru,” ujar Rika menasihati Bara yang sudah berhati batu.
Bara menatap ke arah Rika dan kembali terdiam ketika Rika melanjutkan ucapannya.
“Aku tahu jika kamu membenci mama, Bara. Aku juga merasakan hal yang sama. Tetapi, ada hal lain yang harus kamu tahu. Apa Alice yang menyuruh mama meninggalkan kita? Bukan, kan? Lalu, kenapa kamu marah dengannya? Kenapa kamu menghukum dia untuk hal yang tidak dilakukan sama sekali?” oceh Rika dengan suara lembut.
“Rika. Aku ras....”
“Mau sampai kapan kamu menghukumnya, Bara? Sampai kapan kamu akan menyakiti dia yang kamu cintai?” sela Rika dengan cepat, “aku harap kamu mau menurunkan sedikit egomu itu. Sebelum dia yang kamu cintai pergi.”
Rika menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Alice tadi datang ke rumah dan mengatakan bahwa dia akan ke Paris. Dia akan tinggal di sana, entah sampai kapan. Dia menyerah untuk membuatmu kembali kepadanya,” jawab Rika dengan wajah serius, “bahkan kamu tahu? Dia yang mengantarku ke rumah sakit dan menunggu hinga bayiku lahir.”
Bara terdiam. Hatinya masih terus berkecambuk tiada henti. Sampai usapan lembut membuatnya tersadar dari lamunan yang mulai tidak terarah. Ada rasa takut akan kehilangan Alice, tetapi ada rasa lain yang seakan mengurungnya dalam ego yang terlalu tinggi.
“Kejar dia, Bara. Dia adalah gadis baik. Tidak sepantasnya kamu memusuhi dia. Kejar dia atau nantinya kamu menyesal,” tegas Randy yang mulai gemas dnegan sikap Braa yang masih plin plan.
Matanya menatap Rika, seakan meminta pendapat kakaknya. Sampai anggukan kecil terliat dari arah wanita tersebut.
“Kejar dia. Jangan buat kamu menyesal karena telah menyiakannya,” tambah Rika dengan tatapan menenangkan.
Bara yang mendengar tersenyum kecil dan mengangguk. Kakinya mulai melangkah, setengah berlari ke arah pintu dan segera keluar. Tangannya merogoh saku celana, mengambil ponsel dan segera menghidupkannya. Jemarinya mulai menekan salah satu aplikasi dan memunculkan salah satu titik yang membuat Bara tersenyum tipis.
Bara mulai melangkah ke arah yang sudah ditunjukan dengan cepat. Bahkan, dia sudah mengabaikan tatapan dari para suster yang melihatnya aneh. Dia memang terlihat seperti orang kesetanan karena melangkah tanpa memperhatikan sekitar. Dia mulai takut kehilangan wanita yang dicintainya.
__ADS_1
“Tunggu aku, Alice,” gumam Bara dan segera keluar rumah sakit. Matanya menatap gadis yang sejak tadi menjadi pusat pikriannya.
“Alice,” teriak Bara ketika Alice baru membuka pintu mobil.
_____
“Alice.”
Alice yang mendegar namanya disebut segera membalikan badan, menatap ke asal suara. Di ujung tangga, matanya melihat Bara yang sudah melangkah ke arahnya, membuat Alice mengurungkan niat untuk masuk dan memilih menunggu pria yang tengah melangkah semakin dekat dengannya.
Kenapa Bara ke sini, batin Alice merasa tidak enak.
Alice masih sibuk dengan pikirannya ketika Bara dengan cepat mendekap erat. Alice langsung tersentak dengan mata yang semakin melebar.
“Bara,” cicit Alice maish tidak menyangka dengan perlakuan pria di depannya.
Bara menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Maaf karena selama ini menyakitimu. Maaf,” ujar Bara dengan suara lirih. Mengabaikan banyak pasang mata yang melihat keduanya
Alice yang mendengar hanya tersenyum kecil dan mengelus pelan punggung pria yang dicintainya. Tidak ada ucapan yang keluar dari bibir keduanya sampai Bara melepaskan pelukan dan menatap Alice lekat.
“Please don't go, stay here with me,” pinta Bara lirih. Matanya menatap ke arah Alice yang masih saja diam.
Alice tersenyum tipis, tetapi ada raut kepedihan yang terukir jelas di wajahnya. Sampai sebuah kecupan ringan mampir di pipinya, membuat Alice semakin merona karena rasa malu. Matanya menatap sekitar dengan pandangan mengamati. Takut jika ada yang melihat kelakuan Bara yang tanpa malu menciumnya di depan umum.
“Jangan pergi. Aku akan datang ke rumah dan melamarmu. Aku ingin kita melanjutkan apa yang sudah pernah kita mulai,” tegas Bara dengan wajah serius. “Aku mencintaimu, Alice.”
_____
Loha semuanya. Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa berikan like, comment dan juga tambah ke daftar favorit. Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Wedding With My Lecturer”. Berikan like, comment dan juga tambah ke daftar favorit. Ditunggu kehadirannya dan see you next chapter sayang. 😘😘
_____
__ADS_1