
Alice menghela napas kasar ketika selesai melakukan rapat. Hari ini dia begitu banyak kesibukan sampai tidak sempat bertemu dengan Bara. Padahal, dia sangat merindukan pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya.
Setelah mengatakan begitu banyak hal kepada sekretarisnya, dia segera menuju ke ruangan Braa, tetapi di sana kosong. Tidak ada Bara di ruangannya membuat Alice mengerutkan kening heran.
“Bara ke mana?” tanya Alice kepada diri sendiri.
Alice segera menutup ruangan kekasihnya dan menghentikan salah satu karyawan, wajahnya mulai menunjukan ketegasan dengan penuh kewibaaan.
"Kamu tahu di mana Bara?” tanya Alice denganbserius.
“Tidak, Bu. Saya tadi melihat Pak Bara keluar dari gedung. Sekrang satu jam yang lalu.”
Alice yang mendengar hanya mengangguk mengiyakan. Dia segera melangkah dengan wajah bingung. Pasalnya, Bara tidak mengatakan apa pun kepadanya. Dengan cepat, dia mengambil ponsel di saku blazernya da segera menghubungi kekasihnya. Nihil. Karena nomor Bara tidak aktiv, membuat Alice kembali merasa heran dan penasaran.
“Tumben banget Bara gak aktiv,” gumam Alice dengan wajah mulai berpikir. Dia tidak mengetahui banyak hal mengenai kekasinya, membuat Alice merasa buntu.
Alice menghela napas kasar dan siap melangkah, tetapi matanya menatap seorang gadis yang sangat dikenalnya. Bella. Keningnya berkerut heran melihat wanita tersebut melangkah ke arah ruangan Bara.
Bella, mau ngapain dia?, batin Alice dengan rasa penasaran.
“Hai, Alice,” sapa Bella dengan senyum tipis. Dia masih menahan luka di bibirnya karena ulah Ryan yang selalu saja berbuat semaunya.
“Bella. Ada perlu apa kamu ke kantorku?” tanya Alice merasa penasaran.
Bella menghentikan langkah dan menatap Alice lekat. "Aku mencarimu, Alice,” jawab Bella dengan wajah tenang.
“Mencariku?” ulang Alice dengan kening berkerut heran, “memangnya ada perlu apa kamu mencariku?” Alice menatap Bella dengan mata menyipit. Dia benar-benar penasaran karena Bella tampak begitu serius.
__ADS_1
Bella hanya menahan tawa karena wajah Alice yang terlihat begitu serius. Namun, nyatanya itu terlalu sulit karena Alice yang ternyata lebih serius darinya. Dengan cepat, dia segera tertawa keras dan menatap ke arah Alice dengan tangan memegang perutnya erat.
Ini anak kenapa?, batin Alice dengan pandangan bingung. Pasalnya, Bella baru saja menatap serius dan sekarang dia tertawa keras. Dasar gila.
Bella menghentikan tawanya dan menatap ke arah Alice dengan bibir menahan tawa. “Kamu itu kenapa terlalu seirus, Alice? Aku bahkan hanya mau mengantarkan berkas dari perusahaanku saja,” celetuk Bella membuat Alice menghela napas kasar.
Alice segera meraih map yang diberikan Bella dengan cepat. Wajahnya benar-benar menunjukan kekesalan. Padahal dia bilang jika tidak masalah jika dia bertemu Bella. Tetapi, nyatanya, Alice masih merasa kesal ketika melihat Bella di depannya.
Bella menghela napas perlahan ketika melihat wajah Alice yang masih saja sinis dengannya. Sampai akhirnya, tawanya mereda dan menatap Alice dengan pandangan lekat. “Jangan cemburu denganku, Alice. Aku tidak ada perasaan apa pun dengan Bara. Sekarang aku sudah memiliki kekasih dan aku bahagia dengannya,” ucap Bella dengan senyum tipis. Dia hanya membohongi Alice mengenai hubungan yang dikatakan bahagia olehnya.
“Aku melakukan hal kemari nhanya supaya kalian bisa sadar dengan perasaan masing-masing. Aku harap kalian akann bahagia,” lanjut Bella dengan senyum tulus.
Alice yang mendengar merasa bersalah dengan hal tersebut. Matanya menatap Bella yang sudah melangkah meninggalkannya. Rasanya kini dia mulai menyesali sikap tidak baik kepada wanita tersebut.
Apa selama ini aku memang sekejam ini, batin Alice penuh penyesalan.
Alice baru akan mengejar Bella ketika dering ponselnya terdengar. Dengan cepat dia mengambil ponsel dalam kantung blazernya dan menatap ke arah layar yang sudah menyala. Bara. Dengan cepat dia mulai mengangkat panggilan tersebut.
“Alice, kamu di mana?” tanya Bara dari seberang panggilan.
“Aku di kantor. Aku mencarimu, tetapi tidak ada,” jelas Alice dengan wajah kesal, “kamu itu sebenarnya di mana?”
“Aku ada di suatu tempat. Kamu bisa tolong aku di sini? Aku terjebak masalah,” sahut Bara membuat Alice semakin panik.
Alice membelalak tidak percaya dan mulai gusar. “Aku akan datang. Kamu kirimkan alamatnya sekarang.”
“Baik. Aku kirimkan.”
__ADS_1
Alice segera mematikan panggilan dengan wajah yang mulai panik. Dengan cepat dia menuju ke lantai dasar menuju ke arah parkiran. Dengan setengah berlari, dia mulai melangkah cepat, mengabaikan sapaan dari semua karyawannya.
Alice masuk ke dalam mobil dan terdengar dering pesan masuk. Jemarinya segera membuka pesan yang dikirim Bara dan segera menuju ke arah yang dimaksud.
“Ini anak kena masalah apa sih,” gerutu Alice dengan wajah cemas. Rasanya dia tidak akan bisa tenang sebelum melihat bahwa Bara baik-baik saja.
_____
Bara tersenyum manis menatap tampilan di hadapannya. Dia memang sengaja membuat kejutan untuk Alice kali ini. Dia sengaja mematikan ponselnya dan membuat Alice merasa gelisah. Apalagi setelah mendapat kabar bahwa dia terkena masalah, dia yakin Alice pasti sudah begitu tidak sabar utuk datang.
“Aku harap kamu suka dengan ini, sayang,” gumam Bara sembari menatap cincin yang ada di tangannya. Dia sengaja membelinya sepulang dari kantor Surya.
Bibirnya mulai mengukir senyum yang tidak pernah ditunjukan kepada siapa pun sejak dulu. Tetapi, sejak mengenal Alice dalam hidupnya, Bara merasakan ada warna lain yang mulai hinggap. Wajahnya tidak sedatar dulu lagi. Apalagi jika dekat dengan Alice dia merasa ada banyak hal indah terjadi padanya.
“Entah kenapa, aku selalu merasa bahagia denganmu, Alice. Aku rasa aku benar-benar sudah gila karena mencintaimu teramat sangat,” ucap Bara denga tawa kecil.
Bara menghela napas perlahan dan duduk di bangku yang sudah dihias. Matanya menatap tatanan taman yang sengaja dipesan olehnya. Sampai tidak lama kemudian, matanya menatap Alice yang sudah datang dengan wajah panik.
Bara menatap Alice yang ada dihalaman cafe dengan senyum tipis. Setelah Alice masuk ke dalam, seorang pelayan segera membimbing Alice menuju ke lokasi yang dimaksud. Selain itu, seluruh pelayan juga tahu mengenai kejutan Bara kali ini.
Bara bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah pintu masuk. Ketika Alice baru membuka pintu, Bara segera menatap dengan pandangan lembut. Bibirnya mengembangkan senyum manis menatap kekasihnya.
“Bara,” panggil Alice dengan wajah bingung. Pasalnya, seluruh taman kaca dihias dengan begitu indah saat ini.
Bara tersenyum dan menatap Alice lekat. Perlahan, jemarinya mulai meraih tangan Alice dan menggenggamnya erat. Tanpa aba-aba, dia segera memasukan cincin yang sudah dibeli di jari manis milik kekasihnya.
“Bara, apa ini?” ucap Alice dengan wajah berkerut ketika melihat cincin melingkar di salah satu jemarinya.
__ADS_1
“Aku berniat melamarmu, Alice. Aku pernah mengatakannya, tetapi aku tidak pernah memberikan keseriusan. Jadi, sekarang aku bertanya lagi denganmu, Alice. Will you marry me? Kamu mau hidup selamanya denganku? Mencintai dalam suka dan duka. Hanya denganku sampai maut memisahkan.”
_____