Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 74_Sosok yang Kembali


__ADS_3

“Terima kasih sudah mengantarku sampai rumah,” ucap Dara sembari menatap ke arah Dave lekat. Bibirnya masih mengulas senyum tipis ke arah Dave yang juga tengah menatapnya. Mengamati wajah ramah Dave yang terasa berbeda.


Apa dia tidak mau mengatakan hal yang sama lagi?, batin Dara dengan pandangan penuh harap.


Dave yang mendengar mengangguk perlahan. “Sama-sama, Dara. Kamu pergi bersamaku. Jadi, aku sudah semestinya mengantar kamu pulang, kan? Lagi pula aku yang membuatmu menjadi pulang malam. Maafkan mama yang terlalu bersemangat menyambutmu. Dia sepertinya sangat senang dengan kehadiranmu,” sahut Dave dengan tawa kecil, mengingat seperti apa hebohnya sang mama ketika melihat Dara.


Dara yang teringat dengan tingkah mama Dave hanya mengangguk perlahan dan mengulas senyum tipis. Dia merasa senang karena mama Dave yang sangat baik dengannya. Membuat Dara melupakan masalahnya sejenak. Dia memilih berusaha membahagiakan diri dengan caranya.


Dave menghentikan tawanya dan mengembuskan napas perlahan. Matanya menatap ke arah Dara yang masih tersenyum manis didekatnya, membuat Dave terdiam dan mengamati wajah Dara lekat.


Aku rasa dia mudah sekali mengembalikan mood, batin Dave merasa tenag. Setidaknya dia tidak melihat wajah masam Dara seperti tadi pagi.


“Dara,” panggil Dave, membuat Dara menatap ke arah pria tersebut. “Maaf kalau sikap mama tadi malah membuatmu tidak nyaman. Aku juga tidak pernah berpikir kalau mama bisa bersikap seperti itu dengan orang yang baru saja ditemuinya.”


“Tidak,” jawab Dara dengan gelengan pelan. “Aku malah suka dengan sikap mama kamu, Dave. Mama kamu itu baik banget. Mungkin lain kali aku akan datang ke sana lagi,” ucap Dara dengan penuh semangat.


Dan mamaku tidak sebaik mama kamu, Dave. Andai dia adalah mamaku, aku akan sangat bahagia, batin Dara dengan tatapan lekat.


“Kamu mau main ke rumahku lagi?” ulang Dave dengan pandangan tidak percaya.


“Tentu saja. Aku mau mengobrol banyak dengan tante Renita,” jawab Dara dengan penuh semangat. “Apa tidak boleh?” tanya Dara.


Dave yang mendengar mengulas senyum tipis. “Tentu boleh. Mama akan sangat suka dengan ini, Dara.”


Dara mengangguk perlahan dan mulai merapikan tasnya. “Aku rasa aku harus segera masuk rumah atau kamu tidak akan cepat pulang,” celetuk Dara dengan tawa kecil.


Dave hanya tersenyum dan menatap Dara yang sudah keluar. Dara melambaikan tangan yang langsung dibalas oleh pria tersebut. Matanya menatap ke arah mobil Dave yang mulai berlalu, hingga tidak terlihat kembali.

__ADS_1


Dara segera melangkah ke arah rumah sederhana di depannya. Perlahan, tangannya segera memasukan kunci dan siap melangkah masuk. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan seseorang di belakangnya. Membuat Dara segera membalik badan dan menatap dengan pandangan dingin.


“Jam segini baru pulang. Berapa tarifmu ketika menjual tubuhmu, Dara,” celetuk sang papa membuat Dara menatap geram.


Pria gila ini lagi, batin Dara kesal.


_____


“Aku tidak menyangka jika mama bisa sangat dekat dengan Dara. Aku pikir mama akan menanyakan hal aneh yang akan membuat Dara terpojok,” gumam Dave sembari mengemudian mobil. Matanay menatap ke arah jalanan di depannya.


Aku rasa Dara memiliki caranya sendiri, batin Dave dengan tawa kecil.


Dave mulai melintasi jalan yang terlihat sepi di depannya. Mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun, baru beberapa meter saja, mobilnya sudah terhenti mendadak ketika seseorang berhenti tepat di depannya.


“Apa dia mau mati,” gerutu Dave dengan perasaan kesal. Dia segera melepaskan sling bad dan keluar. Mengaabikan jika nantinya ada orang yang berniat jahat dengannya.


Dave mengerutkan kening heran ketika melihat wanita yang tidak bergerak sama sekali di depannya. Perlahan, Dave mulai melangkah dan mendekati wanita tersebut. Apa dia mati, pikir Dave panik.


“Hey, kamu kenapa?" tanya Dave sembari menyentuh pelan pundak wanita tersebut, membuat sang pemilik tersentak seketika.


“Jangan mende....”


“Bella,” potong Dave dengan pandangan tidak percaya. Matanya mengamati Dara yang terlihat berbeda di depannya. Pakaian sederhana dan tanpa alas kaki sama sekali.


“Kamu kenapa?” tanya Dave masih merasa terkejut. Bahkan, dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Bella dalam keadaan seperti saat ini.


Bella segera bangkit dan melangkah ke arah Dave. Dengan cepat, dia memeluk tubuh pria tersebut erat. “Bawa aku pergi, Dave. Bawa aku pergi,” ucap Bella dengan tangis terisak.

__ADS_1


Dave mengerutkan kening bingung. Dia bahkan hanya diam tanpa mengatakan apapun. Perlahan, Dave menarik Bella, membuat pelukan wanita tersebut terlepas seketika. “Kamu bisa ceritakan dulu apa yang terjadi? Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi denganmu. Lalu di mana Ryan?” ucap Dave dengan tatapan lekat.


Bella menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya menatap ke arah semak yang ada di dekatnya dan kembali menatap Dave lekat. “Bawa aku pergi dulu, Dave. Aku akan menceritakan di jalan,” sahut Bella dengan pandangan cemas.


Dave hanya mengangguk perlahan dan menyuruh Bella masuk ke dalam mobil. Dave segera meninggalkan tempat tersebut ketika Bella sudah masuk. Mengabaikan seorang pria yang baru saja keluar dari semak dengan tatapan lekat


_____


“Jadi, dia bertemu dengan pria bernama Dave itu lagi? Dia juga yang membawa Bella pergi dari rumah ini?” tanya Ryan dengan tatapan lekat. Matanya menatap anak buah yang sudah berdiri dengan kepala tertunduk.


Ryan mulai melangkah mendekati pria tersebut dan segera melayangkan tinju. Rahanganya sudah mengeras mendengar kabar kepergian Bella dari kediamananya.


“Bangun,” perintah Ryan sembari menatap ke arah anak buah yang baru saja mendapat pukulannnya.


Ryan kembali melangkah dan segera melayangkan pukulan yang sama. Berulang kali sampai pria tersebut hanya diam dengan tangan memegang perut. Ryan segera mendekap dan menarik kerah pakaian anak buahnya, mentap dengan pandangan tajam.


“Bawa Bella kembali dan aku akan memaafkan kalian. Aku tidak mau tahu, apapun yang akan kalian lakukan nantinya. Aku hanya peduli dengan Bella yang harus ada dalam gengamanku,” tegas Ryan dengan wajah serius. Tangannya melepaskan genggamannya dan membiarkan sang anak buah pergi.


Ryan menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya menatap ke arah pintu yang mulai tertutup. Bahkan, tangannya masih mengepal sempurna dengan emosi yang kian meningkat.


“Sialan kamu, Bella. Kamu bahkan belum melunasi hutang kedua orang tuamu dan kamu pergi?” gumam Ryan dengan pandangan bengis. “Aku akan membawamu kembali dan memberikan siksaan yang lebih dari sebelumnya, Bella. Aku akan membalasmu,” lanjut Ryan dengan desisan kecil.


_____


Yeheyyy akhirnya Kim bisa up juga. Eh, jangan dimarah dulu ya gegara Bella kembali. Jangan timpuk Kim pakai telur ya. Kasihan, katanya dia kangen kalian hehe.


Selama membaca sayangku. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Salam sayang dari Kim buat kalian semua. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2