
Dara berdecih kesal ketika menunggu seseorang yang sudah diutus Alice untuk menjemputnya. Beberapa kali matanya mengamati suasana sekitar. Hanya ada ilalang dengan rumah yang berjarak cukup jauh. Jangankan mencari bengkel disaat jam malam seperti saat ini, mencari seorang yang baik dan mau menolongnya saja sudah terasa sangat sulit.
“Alice, ke mana orangnya,” gumam Dara dengan perasaan kesal. Tangannya sudah dingin dengan keringat karena rasa takut yang sudah mulai menjalar.
Dara menarik napad dalam dan mengembuskannya perlahan. Berulang kali dia mencoba menghubungi Alice, tetapi tidak mendapat jawaban. Rasanya dia ingin mengumpat sahabatnya yang tidak cekatan dalam hal ini.
“Kenapa lama sekali,” ucap Dara mulai merasa takut. Pandangannya mengamati sekitar. Sesekali menatap ke arah belakang, takut sosok astral berada di belakangnya.
Rasanya aku menyesal harus ke rumah sakit terlebih dahulu, batin Dara mulai terlihat cemas. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat dia harus bermalam di tempat asing seorang diri. Tanpa cahaya. Hanya ada suara jangkrik yang seakan membuatnya menjadi semakin tidak karuan.
“Tenang, Dara. Bukankah Alice sudah menyuruh montirnya datang? Jadi, jangan cemas. Kamu akan segera pulang dan bisa tidur dengan nyenyak,” ucap Dara seorang diri.
Dara masih asyik dengan lamunanya ketika seseoang mendekati mobilnya, mengetuk kaca di dekatnya dan mengintip ke dalam.
“Aaaaa,” teriak Dar sembar menuauh dari kaca di sbeelahnya. Matanya mais menatap pria yang tidak pergi dari sebelahnya.
“Pergilah, jangan ganggu aku. Aku mohon,” ucap Dara dengan air mata yang sudah menggenang.
Dara diam, mengamati pria yang ada di sebelahnya. Seakan mengatakan sesuatu yang membuat Dara diam seketika, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh seseorang di luar. Hingga matanya menatap tulisan yang sengaja diketikan di layar ponselnya.
Apa benar anda teman Alice?
Dara yang membacanya tersenyum dan segera membuka kaca mobil. Matanya mengamati pria di depannya dengan pandangan lekat.
“Kamu Dara?” tanya Dave dengan nada lembut, membuat Dara yang melihat terdiam seketika.
Tampan, batin Dara tidak munafik.
_____
“Kenapa dia semua suka sekali menyiksaku? Aku bahkan ingin cepat pulang dan sampai rumah. Sekarang, aku masih harus menyusul gadis yang tidak aku kenal sama sekali,” gerutu Dave dengan mata mengamati jalanan. Terlebih, Alice tidak juga mengirinya nomor dan juga foto.
Dave mencoba fokus dengan jalan gelap di depannya. Tidak mengabaikan burung yang sesekali lewat di depannya. Hanya beberapa lampu jalan yang mencoba menerangi jalanan yang sedang dilewati. Ditamah dengan suasana sepi yang benar-benar membuat Dave mengumpat kesal.
__ADS_1
Dave menepikan mobil ketika dia melihat mobil berhenti tepat di depannya. Mungkin itu Dara, pikir Davr yang langsung turun dan mendatangi mobil di depannya.
Dave mengetuk pelan pintu di dekatnya dan mengerutkan kening heran. Di dalam seorang wanita sedang menatapnya dengan tatapan takut. Membuat keningnya mengerut dalam.
“Hey, kamu sahabat Alice?” tanya Dave tidak sadar jika kehadirannyalah yang mengusik gadis di dalam.
“Aku berniat menjemputmu karena Alice yang menyuruh,” ucap Dave lagi. Namun, dia menatap hal bebeda ketika menatap Dara yang masih saja takut. Dave berdecak pelan dan mulai mengeluarkan ponselnya. Tangannya sibuk mengetik sebuah pesan yang langsung ditunjukan kepada Dara.
Apa benar anda teman Alice?
Lama Dave menunggu, hingga matanya menatap ke arah Dara yang sudah telihat lebih nyaman. Pintu mobil juga mulai terbuka dan menampilkan wajah ketakutan Dara.
“Kamu Dara?” tanya Dave dengan pandangan lekat. Matanya mengamati kediaman Dara yang terasa berbeda.
“Hey, kamu Dara?” tegur Dave sembari menepuk pelan pundak Dara, membuat gadis tersebut menatap dengan rasa terkejut.
“Eh, iya. Kamu siapa?” tanya Dara dengan wajah bingung.
“Aku Dave. Alice menyuruhku menjemputmu,” jawab Dave dengan pandangan wajah ramah.
Montir? Dave yang mendengar terkekeh kecil dan menatap Dara dengan senyum kecil, tahu apa yang ada di pikiran polos gadis di depannya. “Hey, nona. Memangnya ada montir menjemput seseoang dengan pakaian serapi ini?” tanya Dave dengan pandangan mengamati.
“Mungkin saja. Kamu sedang ke pesta dan Alice menyuruhmu,” jawab Dara dengan tatapan polos.
Dave terkekeh kecil dan mulai menegakan badan. Tangannya meraih kunci Dara dan membuka pintu di dekat Dara. Perlahan, Dave memiljh mengulurkan tangan dan menatap Dara dengan lembut.
“Sayangnya, tebakanmu salah. Aku Dave Wijaya, temannya Alice. Dia menyuruhku menjemputmu. Dan ya, jangan takut karena aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu,” jelas Dave dengan jelas, membuat Dara semakin terpesoa dengannya.
“Kamu bisa mempercayaiku, Dara. Aku berjanji akan megantarkanmu sampai rumah” ujar Dave meyakinkan.
“Lalu mobilku?” tanya Dara bingung.
“Beosk akan ada montir yang datang dan membenarkannya. Sekarang mereka sudah pulang dan bengkelnya tutup. Jadi, kamu tidak masalahkan kalau harus meninggalkanya?" tanya Dave.
__ADS_1
Dara mengulas senyum tipis dan meraih tangan Dave. “Baiklah, Tuan Dave. Aku percaya,” ucap Dara yang memilih keluar dan membawa tas bawaannya. Meninggalkan mobilnya di tempat tersebut.
Jadi, ini Dave Wijaya. Pria yang sempat dijodohkan dengan Alice, gumam Dara sesekali menatap Dave yang tidak menatapnya sama sekali.
_____
Alice menggeliat ketika terasa ada sesuatu yang mengganggu tidurnya. Perlahan, matanya terbuka. Namun, sesaat kemudian matanya kembali memejam ketika sinar matahari mengenai matanya.
“Apa tidurmu terlalu nyenyak, sayang?”
Alkce yang mendengar tersentak. Matanya menatap ke asal suara dan segera membaik badan. Tepat di mana Bara tengah menatapnya dengan tampilan berbeda. Hanya mengenakan kaos yang menunjukan lekuk tubunya dan juga celana pendek yang terasa pas di badann. Matanya masih asyik memperhatikan suaminya hingga sebuah kecupan singkat terasa di bibirnya.
“Kamu harus segera bangun, sayang. Sekarang sudah siang,” ucap Bara dengan suara lembut.
Alice yang mendengar mengulas senyum tipis dan menatap Bara lekat. Ingatannya kembali berputar, mengingat bagaimana tingkahnya semalam dan sangat berbeda. Terlalu liar dan tidak terkendali. Itulah yang ada di benak pikiran Alice saat ini, membuat pipinya mulai bersemu merah.
“Kmau mengingat kejadian semalam?” celetuk Bara seperti para normal. Dia mulai menatap ke arah Alice yang sudah bersemu merah di dekatnya.
“Kmau bisa mengingatnya nanti, sayang. Sekarang kamu harus mandi dan sarapan. aku sudah meyiapkannya di luar,” jelas Bara sembari memberikan kecupan ringan di kenig Alice.
“Kamu memasak?” tanya Alice dengan wajah terkejut.
Bara mengangguk. “Jelas saja aku memasak, sayangku. Bagaimana tidak? Ustiriku bahkan terlambat bangun hari ini,” ujar Bara dengan tawa kecil.
“Maaf,” cicit Alice dengan rasa bersalah.
“Tidak masalah,” ucap Bara yang langsung meraih tubuh Alice dan menggendong etneng. “Besok kamu masih bisa memasak untukku, sayang. Sekarang lebih baik kamu mandi dulu. Aku sudah menyiapkannya.”
“Aku bisa mandi sendiri, Mas,” ujar Alice malu dengan tubuh polosnya.
“Tidak perlu, aku masih bisa memandikanmu, sayang,” tolak Bara dengan senyum penuh makna. “Mungkin nanti kia bisa mengulang apa yang kita lakukan semalam,” bisiknya menggoda.
“Bara!” teriak Alice dengan wajah merah. Namun, Bara hanya tertawa dan membawa masuk istrinya.
__ADS_1
*****
Selamat membaca semuanya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Jangan lupa juga baca carita Kim yang berjudul “Wedding with My Lecturer” dan “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili untuk tahu info cerita Kim dan updatenya. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh.