
“Hari ini kau pergi dengan Bara, sayang?” tanya Surya sembari menguyah makanannya.
“Iya, Pa. Kami mau mencari gaun pernikahan,” jawab Alice dengan wajah santai.
“Kamu yakin tidak mau memesannya saja?” imbuh Galuh dengan pandangan mengamati.
Alice menggeleng dan mengulas senyum. “Alice mau cari saja, Ma. Lagi pula butik mana yang mau mengerjakannya dalam waktu satu minggu? Alice akan lebih nyaman jika pernikahan ini dilangsungkan tepat pada waktunya.”
“Baiklah, jangan pulang malam, ya? Ingat, kamu itu calon pengantin,” jelas Galuh sembari mengelus pelan punggung tangan anaknya.
“Dan bilang dengan Bara. Suruh tunggu sampai hari H. Jangan berbuat macam-macam atau papa akan beri dia hukuman,” ujar Surya dengan wajah serius.
“Papa. Apaan sih,” protes Alice dengan wajah memberengut kesal.
Surya hanya tetawa kecil dan menatap anaknya lekat. “Papa cuma gak mau punya cucu sebelum kalian sah, sayang.”
“Lagian siapa yang mau begituan?” ujar Alice dengan wajah memerah.
Suara klakson terdengar di depan rumah, membuat Alice langsung menatap papanya lekat. “Sudah, aku mau berangkat sama Bara dulu,” ucap Alice dengan wajah memerah. Dia masih merasa malu setiap mendengar kalimat yang terasa begitu vulgar untuknya.
Surya hanya terkikik geli ketika melihat anaknya yang sudah berpamitan. Matanya masih menatap lekat hingga bayanganan Alice sudah tidak lagi nampak.
“Papa ini buat anak sendiri malu,” gerutu Galuh dengan senyum tipis.
Surya mulai mengalihkan pandangan dan menatap Galuh santai. “Biarkan saja, sayang. Lagi pula sepertinya baru kemarin kita gendong dia. Sekarang sudah mau menikah saja,” jawab Surya dengan wajah menerawang.
Galuh yang mengerti menggenggam tangan suaminya erat dan mengulas senyum menenangkan. “Sudahlah, jangan pikirkan hal itu. Sekarang kamu makan dulu sarapannya. Nanti keburu terlambat ke kantor.”
“Ah, iya,” jawab Surya yang langsung membuyarkan lamunanya. Dia memilih kembali melanjutkan sarapannya dengan suasana tenang.
_____
“Ini tempatnya?” tanya Bara ketika melihat sebuah toko butik dengan banyak sekali gaun pengantin. Matanya menatap ke seluruh ruangan dan tidaj menemukan pakaian dengan model lain.
“Iya. Ayo masuk,” jawab Alice sembari menggandeng tangan Bara. Menautkan jemarinya.
__ADS_1
Keduanya mulai melangkah, memasuki butik khusus gaun pernikahan yang cukup terkenal. Sampai seorang pegawai mulai mendatangi dengan senyum manis.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya sang pegawai dengan wajah ramah.
“Bisa tunjukan kami koleksi gaun pernikahan yang baru?” ucap Alice dengan wajah berbinar.
“Mari ikut saya, nona.”
Alice segera melangkah, mengikuti kemana sang pegawai akan membawanya. Sampai langkahnya mulai menaiki satu per satu anak tangga di butik tersebut. Hanya beberapa tangga, hinga matanya mulai dimanjakan dengan ratusan gaun indah.
Alice mulai menatap ke arah satu per satu dengan pandangan takjut. Hingga pilihannya jatuh pada gaun berwarna putih tanpa lengan dan bermodelkan kemben, salah satu yang menarik perhatiannya.
“Bara, aku rasa aku sudah menemukan pilihanku,” ujar Aluce dengan senyum sumringah.
Bara yang sejak tadi ikut menatap seisi ruangan segera mengalihkan pandangan dan menatap Alice dengan tatapan lekat. “Kamu bisa mencobanya, sayang.”
Alice mengangguk dan segera melangkah ke arah pakaian yang dingikan. Bara yang merasa penasaran segera menatap mengikuti langkah Alice, mengamatinya lekat. Namun, senyumnya mulai menghilang ketika Alice mulai memegang gaun yang diinginkannya. Perlahan, dia mulai melangkah menuju ke arah Alice yang masih dengan semangat mendengar penjelasan dari pegawai butik tersebut.
“Kamu mau itu, sayang?” tanya Bara dengan pandangan lekat.
“Aku tidak suka,” tolak Bara dengan segera, membuat Alice yang bersemangat menjelaskan langsung diam dan menatap kr arah Bara lekat.
“Apa, Bara?”
“Aku menolaknya, sayang. Aku tidak mau kamu pakai gaun itu di pernikahan kita nanti. Aku mau, kamu memilih pakaian lainnya. Aku benar-benar tidak suka dengan pakaian yang kamu pilih,” ujar Bara dengan wajah serius, membuat pegawai yang berada di dekatnya hanya menunduk dan tidak mau ikut campur.
Alice hanya diam dengan wajah menunjukan kekesalannya. Kakinya segara melangkah menuruni tangga dan menuju ke arah lain. Dia memilih menyendiri di taman yang sudah disediakan di dalam butik, meresapi kekesalan karena ulah calon suaminya.
“Sayang,” panggil Bara dengan decakan kecil. Matanya menatap Alice yang sudah tidak lagi terlihat. Dengan cepat, dia mulai menuruni anak tangga dan melangkah mendatangi kekasihnya.
Matanya menatap Alice yang masih duduk dengan posisi membelakanginya. Bara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Inilah saatnya Tuhan menguji kesabaranmu, Bara. Tahan emosi,” gumam Bara yang mulai melangkah mendekati Alice.
_____
“Sayang,” panggil Bara dengan suara lembut, hal pertama yang dilakukan dan hanya kepada Alice.
__ADS_1
Alice yang masih menitikan air mata langsung menghapusnya pelan. Dia masih merasa begtiu kesal dengan ulah Bara yang langsung menolak keinginannya. Rasanya dia mulai kesal dengan tingkah Bara yang tidak mengertinya sama sekali. Sampai sebuah pelukan terasa dari arah belakang. Merasakan tangan Bara yang mulai mendekapnya erat.
Bara mengulas senyum tipis dan mulai mencium pipi Alice, menatap kekasihnya dari arah samping. “Kamu marah?” tanya Bara dengan suara lembut.
Alice hanya diam, tidak menanggapinya sama sekali. Rasanya dia benar-benar ingin mengacak wajah Bara yang terasa tidak bersalah sama sekali. Sampai ciuman ke dua mulai singgah di pipinya kembali, membuat pertahanan Alice mulai melemah.
“Kamu marah sama aku?” ulang Bara masih dengan suara begitu lembut.
Alice menghela napas kasar. “Iya,” jawab Alice singkat.
“Kenapa?” tanya Bara seakan tidak membuat kesalahan sama sekali.
“Karena kamu gak mengertiku, Bara. Aku cuma mau pakai gaun itu dan kamu langsung menolaknya? Memangnya kenapa?” ucap Alice mengungkapkan semua kekesalannya.
Bara mengulum senyum dan mulai melepaskan pelukannya. Kakinya melangkah dan berhenti tepat di depan wajah kekasihnya. Perlahan, dia mulai mengecup singkat kening Alkce, berpindah ke kedua pipi dan bibir. Tidaj ada hisapan atau bahkan lumatan, hanya sebuah ciuman singkat yang cukup membuat Alice tercengang.
Bara menghentikan langkahnya dan menatap Alice lekat. “Maafkan aku, sayang. Aku hanya tidak mau kamu mengenakan pakaian yang terlalu terbuka. Aku lebih suka kamu dengan pakaian tanla memperlihatkan tubuhmu. Aku mau, hanya aku yang melihtanya. Itu sebabnya aku tidak menyukai pakaian itu,” jelas Bara menahan egonya yang siap meledak.
“Apa?” Alice hanya menatap Bara dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia bahkan tidak pernah memikirkannya sama sekali.
“Kalau begitu sekarang kita masuk lagi, ya? Kita coba pakaian yang kamu pilih. Jika itu yang kamu mau, aku akan setuju dengan semua pilihanmu,” imbuh Bara dengan senyum tipis.
Alice mencegah tangan Bara yang sudah menariknya dan mengajak melangkah masuk. Matanya menatap ke arah Bara yang sudah memperhatikannya dengan penuh tanya. Perlahan, dia mulai mendekap Bara dengan erat. Kali ini, dia merasa bersalah dengan pikirannya mengenai Bara
“Maaf,” cicit Alice dengan suara lirih.
“Sudahlah. Ayo masuk dan kamu mencoba pakaiannya. Aku akan menyetujuinya, sayang,” kata Bara dengan wajah riang.
Alice mengulas senyum tipis dan mulai menggeleng. “Aku akan pilih pakaian yang lebih tertutup. Bukannya aku harus memberikannya kepadamu nantinya,” ujar Alkce dengan senyum tipis.
Bara hanya mengulas senyum tipis dan mengangguk. Jarinya mulai saling bertautan dan melangkah memasuki butik bersama dengan Alice, mengabaikan tatapan yang sejak tadi mengamatinya.
_____
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke favorit kalian ya. Jangan lupa juga baca cerita Kim yang lain dengan judul “Wedding with My Lecturer” dan “Wedding Drama 2” ya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke favorit kalian. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan semuanya.
__ADS_1