Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 89_Benar Cinta


__ADS_3

“Dara, bangun, nak. Sudah siang,” panggil Renita pelan. Sudah beberapa kali dia memanggil Dara dan tetap tidak mendapat jawaban. Di tambah Dave yang tidak terlihat sejak pagi, membuat Renita menghela napas perlahan.


Renita menatap ke arah pintu kamar Dara, membuatnya terpaksa harus melangkah mendekat. Hingga dia sampai di depan pintu Dara yang masih tertutup rapat. Tangannya mulai mengetuk pintu Dara pelan, mencoba mengusik ketenangan pemilik ruangan. Namun, hasilnya sama saja. Tidak ada jawaban sama sekali dari arah Dara.


“Apa Dara sudah berangkat ke kantor,” gumam Renita dengan kening berkerut bingung.


Perlahan, tangannya mulai memegang gagang pintu dan membukanya. Mendorong pelan, hingga matanya menbelalak. Menatap pemandangan yang tidak dapat di percaya. Di depannya, Dave tengah berbaring bersama dengan Dara, membuat Renita mempercepat langkah dan berdecak pelan.


“Disuruh tahan sebentar saja tidak bisa? Dasar anak muda sekarang,” gumam Renita dengan gelengan kecil.


Renita berdehem kecil, mencoba menormalkan suara. Setelah dirasa pas, Renita menatap keduanya lekat. “Kalian mau sampai kapan tidur terus? Gak ada niat buat bangun?” ucap Renita dengan suara meninggi.


Dara dan Dave yang tengah berbaring di ranjang mulai menggeliat. Merasa terganggu dengan teriakan sang mama yang tepat berada di sebelahnya. Membuat kedua matanya terbuka.


Dave mengamati sekitar dan berhenti ketika melihat sang mama yang berdiri di sebelahnya. Berusaha menelan saliva pelan. Mati aku, batin Dave dengan senyum canggung. Mengamati wajah sang mama yang sudah menatapnya lekat.


“Kamu lupa kamar, Dave?” tanya Renita dengan suara tajam. Dave yang mendengar tersenyum kecil dan memilih duduk, membuat Dara menatap ke asal suara dan membelalak kanget.


“Mama,” gumam Dara dengan pandangan lekat. Dia merasa tidak enak hati dengan wanita di depannya.


Renita mengabaikan Dara dan tetap menatap Dave lekat. Mencoba meredam perasaan kesal karena tingkah sang anak. “Kamu benar-benar membuat mama semakin pusing, Dave,” ucap Renita lirih. Tangannya memijat pelan kepalanya yang langsung berdenyut sakit.


“Ma, Dave hanya menemani Dara saja. Tidak ada yang lain,” ujar Dave menjelaskan. Matanya menatap ke arah Renita dengan pandangan cemas. Takut sang mama menjadi kepikiran dan sakit.


“Iya, Tante. Kita hanya tidur dan tidak melakukan apapun,” tambah Dara merasa tidak enak hati.


Renita yang mendengar hanya diam. Mengamati dua insan yang tengah menatapnya lekat. Hingga hembusan keras terdengar, membuat Dave dan Dara semakin tidak tidak enak hati. Meresapi kesunyian yang tiba-tiba saja menyerang.


“Baiklah,” ucap Renita tegas. “Mama sudah mengambil keputusan. Kalian akan menikah dua hari lagi,” tegas Renita membuat Dave dan Dara menatap tidak percaya.


“Apa?” teriak keduanya bersamaan.


“Iya. Mama tidak mau kalau nantinya kalian akan tidur bersama lagi. Mama akan suruh Vinda menyiapkan semuanya,” ucap Renita tidak mau diganggu gugat.

__ADS_1


Dara yang mendengar langsung diam. Menatap Renita yang mulai menjauh dengan pandangan resah. Dia takut kalau nantinya Dave akan menyesal menikah degannya. Apa ini hal yang benar, batin Dara merasa tidak yakin.


“Dara, kamu baik?” tanya Dave membuyarkan lamunan wanita di dekatnya. Sejak tadi dia mengamati wajah Dara yang terlihat bingung.


Dara yang mendengar menatap Dave dan mengangguk pelan. “Aku baik. Hanya saja....” Dara menghentikan ucapannya dan menatap Dave lekat.


“Hanya saja apa?” tanya Dave tidak sabar.


“Hanya saja, aku takut kalau nanti kita menikah, kamu akan menyesal menikah denganku,” jawab Dara lirih.


Dave yang mendengar terkekeh kecil dan mulai menarik Dara dalam dekapannya. “Jangan pikirkan hal itu, Dara. Aku tidak menyesal denganmu. Aku malah berterimakasih karena kamu sudah membuat pekerjaanku menjadi mudah,” ucap Dave santai.


“Pekerjaan?” ulang Dara mulai mendongak dan menatap Dave lekat. “Memangnya pekerjaan apa?”


“Mencari jodoh,” sahut Dave dengan tawa kecil.


“Dave,” tegur Dara dengan bibir memberengut kesal. Matanya menatap ke arah Dave yang hanya tertawa kecil di dekatnya. Hingga dia merasakan ciuman kecil di puncak kepala.


Dave melepaskan ciumannya dan menatap Dara dengan senyum tipis. “Aku mencintaimu,” ucap Dave lirih.


_____


Alice melambaikan tangan ke arah Michael dan rombongan yang mulai keluar dari pekarangan rumahnya. Menatap dengan senyum bahagia. Hingga dia mulai menghentikan lambaian dan menghela napas pelan.


“Aku harap anakku tidak akan sedingin Mikail,” ucap Alice dengan tawa kecil. Kakinya mulai melangkah ke arah rumah dan menutup pintu pelan. Hingga dering ponsel mulai menghentikan langkah. Dengan cepat, dia mengambil ponsel di saku celana dan menatap dengan kening berkerut.


“Dara? Kenapa dia menghubungiku?” tanya Alice dengan diri sendiri.


Alice mulai mengangkat panggilan dari sahabatnya, sembari melangkah ke arah dapur. “Halo, Dara. Ada apa?”


“Hai, Alice. Bagaima kabarmu?” tanya Dara dari seberang panggilan.


“Aku baik. Kamu bagaimana?” ucap Alice kembali fokus membersihkan dapur.

__ADS_1


“Aku baik. Aku hanya merindukanmu. Sejak kamu menikah, aku tidak pernah bertemu denganmu, Alice,” sahut Dara dengan suara lirih.


Alice yang mendengar terkekeh kecil dan menghentikan aktivitasnya. “Kamu rindu denganku? Aku rasa aku harus terus menghilang agar kamu terus saja merindukanku,” kata Alice dengan tawa renyah.


Dara yang berada di seberang tertawa, membuat Alice mengerutkan kening. Seakan mendengar hal berbeda dengan suara sahabatnya. Membat Alice terdiam dan langsung berhenti tertawa.


“Dara, kamu ada masalah?” tanya Alice paham dengan sikap Dara. “Aku tahu kamu sedang ada masalah. Kamu bisa ceritakan denganku, Dara.”


Diam. Alice tidak mendapat jawaban apapun. Hingga terdengar helaan keras dari arah Dara, membuat Alice semakin yakin dengan apa yang dipikirkannya.


“Aku bingung, Alice,” ucap Dara dari seberang. “Aku bingung karena dua hari lagi aku akan menikah.”


“Apa? Kamu akan menikah?” ulang Alice dengan mata membelalak. “Kamu akan menikah dengan siapa?”


“Dave,” jawab Dara membuat Alice semakin terdiam. “Maaf aku tidak mengatakannya denganmu. Awalnya kami hanya mencobanya saja. Aku tidak pernah berpikir akan mampu sejauh ini.”


“Lalu?” sahut Alice dengan santai. “Aku senang akhirnya kamu mendapat pria baik untuk menjadi suamimu.”


“Apa kamu yakin dia baik?” tanya Dara dengan penuh rasa bimbang.


Alice bergumam yakin. “Aku percaya dia akan membahagiakanmu, Dara. Dia pria baik dan bertanggung jawab. Kalau tidak, kenapa dia akan menikahimu? Aku rasa Dave benar mencintaimu dan aku harap kamu mulai mempercayai itu.”


“Dara, kehidupan itu mulai berputar. Jadi, aku mohon mulailah untuk mempercayai orang lain. Jangan pikirkan hal buruk dulu. Kamu harus fokus dengan apa yang akan kamu raih.”


Alice masih akan melanjutkan ucapannya ketika suara bel rumahnya terdengar. Membuatnya harus mengakhiri percakapan dengan Dara. Perlahan, dia mulai melangkah ke arah pintu rumah dan membukanya pelan. Membuat Alice menatap tamu di depannya dengan mata membelalak.


“Kamu,” ucap Alice tidak percaya.


_____


Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.


Jangan lupa juga baca cerita Kim berjudul “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.

__ADS_1


Untuk kalian yang suka cerita tamat, Kim punya dua cerita tamat yang bisa kalian nikmati dengan judul “Wedding Drama” dan “Wedding with My Lecturer”. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan berikan vote untuk cerita Kim.


See you next chapter😘😘


__ADS_2