Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 72_Kebahagiaan Kecil


__ADS_3

Dara terdiam. Dia bahkan tidak menatap ke arah Dave sama sekali. Sepanjang perjalanan, mulutnya tetap terkunci rapat. Menikmati hening yang diciptakan olehnya. Dia merasa malu dengan pria yang tengah fokus dengan jalanan.


Dave melirik ke arah Dara dan memilih menepikan mobil. Hal yang membuat Dara terkejut dan mendongak. Matanya menatap ke arah Dave lekat. Bahkan, keningnya sudah berkerut heran.


“Ada apa? Kita belum sampai di kantor,” ucap Dara dengan pandangan bingung.


Dave menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. Pandangannya sudah beralih dan menatap ke arah Dara dengan ekpresi santai. “Kenapa kamu diam? Bukannya kamu suka bercerita pajang lebar? Kenapa sekarang diam?”


Dara yang mendengar menatap Dave cangung. Rasanya ada perasaan tidak enak mengingat seluruh kebaikan Dave. Bukan, tepatnya sifat Dave yang baik dan terkesan sempurna. Membuatnya merasa tidak pantas untuk bersanding dengan pria di dekatnya


“Ada yang mau kamu jelaskan? Mengenai pria yang mengaku ayahmu?” ucap Dave tanpa mengalihkan pandangan.


Apa aku harus menceritakan semuanya, batin Dara mulai ragu.


“Aku tidak memaksa, Dara. Namun, aku akan selalu mendengarkan ceritamu jika kamu membutuhkan tempat untuk berbagi,” ujar Dave dengan senyum sumringah.


Dara menatap Dave dengan wajah beprikir. Rasanya aneh ketika menceritakan hal pribadinya dengan orang lain. Bahkan, dia belum mengenal Dave lebih dalam. Perlahan, Dara menarik napas dalam dan mengembuskanya perlahan. Meyakinkan bahwa tidak masalah menceritakan masalah dengan Dave, pria yang notabennya adalah kekasihnya, meski hanya masa percobaan.


“Dia ayah tiriku,” putus Dara tepat ketika Dave hendak menjalankan mobil.


Dave segera menghentikan aktivitasnya dan menatap Dara lekat. Merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Dara.


“Dia menikah dengan ibuku ketika aku memasuki bangku sekolah menengah atas. Awalnya aku bahagia dia menjadi papaku. Dia baik dan selalu memanjakanku. Dia memberikan apa saja yang aku mau. Aku bakan merasa dia bukan papa tiriku, tetapi papa kandung. Sampai tragedi itu terjadi. Dia datang ke kamarku dan melakukan hal yang tidak aku harapkan. Dia memperkosaku,” jelas Dara dengan air mata mengalir. “Setelah itu, aku memilih pergi dari rumah dan enggan bersamanya. Aku takut untuk dekat dengan pria. Aku takut mereka melakukan hal yang sama.”


Dave yang mendengar mulai terdiam. Matanya mengamati Dara lekat. Kali ini, dia melihat sosok rapuh yang tidak pernah dilihatnya sama sekali. Rasanya aneh ketika melihat Dara tidak seceria biasanya.


“Aku mengerti jika kamu mau memutuskanku, Dave. Kamu berhak mendapat wanita yang baik,” celetuk Dara dengan senyum tipis. Mencoba menyembunyikan kesedihannya.


Dave mengembuskan napas kasar dan menarik Dara mendekat ke arahnya. “Kita jalani berdua ya. Aku juga bukan orang baik. Aku juga sudah berulang kali melakukan kesalahan. Kita sama, Dara. Aku juga pernah merasa kecewa dengan seorang wanita yang menjadi kekasihku. Dia meninggalkan trauma tersendiri untukku.”

__ADS_1


“Tetap....”


“Aku enggan dibantah, Dara. Aku mau tetap melanjutkan hubungan ini. Ya, aku tahu aku belum mencitaimu, tetapi bukankah kita berjanji akan berlajar bersama? Aku juga akan mengenalkanmu dengan mamaku hari ini,” jelas Dave dengan enteng.


“Kamu yakin?” tanya Dara merasa bimbang.


Dave mengangguk pelan dan melepaskan genggam tangannya. “Baiklah. Sekarang kita harus berangkat sebelum kita mendapat masalah,” ucap Dave sembari menjalankan mobil.


Dara yang mendengar hanya mengulas senyum tipis, menatap ke arah Dave dengan lekat. Tuhan, jika aku berharap pria ini menjadi suamiku, apa kau terlalu berlebihan dan serakah, batin Dara.


______


Alice menghela napas kasar ketika baru sampai di penginapan. Matanya menatap ke arah pantai yang terhampar luas di depannya. Bibirnya mulai menyunggingkan senyum tipis, menyaksikan di mana dia berada saat ini.


Alice yang sedang asyik melamun tersentak kaget ketika sebuah tangan mendekapnya dari belakang. Namun, ketika dia menyadari Bara yang ada di belakangnya, Alice menghela napas lega dan memilih mengelus lengan Bara yang ada di pinggangnya.


“Apa kamu suka, baby?” tanya Bara tepat di telinga Alice. Matanya menatap wajah istrinya dari samping, mengamati senyum manis yang sudah ditunjukan.


“Kamu mau lebih lama di sini?” tanya Bara membuat Alice terdiam dan mengerutkan kening bingung.


Alice menatap ke arah Bara dengan pandangan penuh tanya. “Maksudnya?”


“Kalau kamu suka, mungkin kita bisa membeli rumah di dekat sini saja,” jelas Bara dengan santai. Hal yang membuat Alice tertawa kecil.


Tangannya menepuk lengan Bara pelan, menghentikan tawa dan menatap Bara lekat. Alice melepaskan tangan Bara dan memilih berbalik, menatap suaminya dengan jarak yang semakin dekat. Perlahan, dia mulai mengalungkan tangan dan menatap Bara yang menariknya mendekat. Memisahkan jarak yang sudah tercipta.


“Aku tidak mau tinggal di sini, sayang. Aku mau tetap pulang dan bekerja bersama denganmu,” jawab Alice dengan bibir dimanyunkan.


“Kamu yakin?” tanya Bara.

__ADS_1


Alice yang mendengar menganguk. Dia mulai berjinjit dan mendekat ke arah Braa. Tanpa aba-aba, dia mulai mengecup bibir Bara singkat. Namun, belum juga dia menjauhkannya, Bara lebih dulu menahan tengkuknya. Perlahan, Bara mulai ******* bibir yang ada didepannya. Satu tanganya digunakan untuk menahan tengkuk Alice dan tangan yang lain memegang pinggang istrinya. Mencoba memperdalam ciumannya.


Alice hanya diam, membiarkan Bara melakukan apa yang dimau. Sampai akhirnya, Bara melepaskan kulumannya dan menatap Alice yang tengah mengatur napasnya.


“Aku rasa aku akan memulainya sekarang, baby. Kamu yang memancingku,” bisik Bara sembari memberi jilatan di bagian belakang telinga.


“Bara,” cicit Alice merasakan hal aneh karena tingkah Bara.


Bara hanya diam, mengulum senyum tipis. Dengan cepat, dia mulai menarik Alice dan meletakan istrinya di ranjang besar. Matanya mengamati wanita yang hanya diam dengan wajah memerah. Perlahan, Bara mengusap wajah Alice dan mengulas senyum tipis.


“Kamu malu? Bukankah kita pernah melakukannya berulang kali?” ucap Bara dengan bibir menahan tawa.


“Bara,” cicit Alice masih saja gugup. Jantungnya bahkan berdebar dengan sangat keras.


“Tenanglah, sayang. Aku tidak akan menyaktimu,” ucap Bara sembsri menunduk. Dia mulai meraih bibir Alice dan melumatnya kembali. Merasakan bibir semanis madu yang selalu menjadi candunya.


Alice hanya diam, memilih mengalungkan tangan di leher Bara. Matanya memejam, merasakan jemari yang mulai dengan licah melepaskan kancing pakaiannya. Dia tahu, ini memang tugasnya dan dia berhak memberikan semua untuk Bara.


Bara melepaskan kulumannya dan menatap Alice lekat. “Kamu lelah?” tanya Bara sebelum melanjutkan keinginannya.


“Lakukan saja, Mas. Aku tidak masalah,” jawab Aljce dengan senyum tipis.


Bara yang mengerti mengangguk dan mulai mendeketaan tubuh dengan Alice. Alice hanya mampu menahan semua yang dilakukan pria tersebut. Hingga Bara menyatukan tubuhnya. Alice hanya mampu memejam dan menerima tusukan demi tusukan, sampai keduanya mencapai puncaknya. Terdiam merasakan gelombang yang baru saja datang.


“Aku mencintaimu, sayang. Aku harap akan ada bayi kecil dalam keluarga kita,” ucap Bara dengan senyum penuh kepuasan. Alice hanya mengangguk lemah dan mendekap Bara erat.


Aku juga berharap hal yang sama, Mas, batin Alice mulai memejamkan mata.


______

__ADS_1


Udah buka gaes, boleh dongs yang beginian 🤣🤣🤣


Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan like dan comment. 😘😘


__ADS_2