
Dave melangkah memasuki kantor Michael dengan pandangan datar. Tidak ada senyum seperti hari sebelumnya. Kini, wajahnya terlihat tegang dengan sorot mata menunjukan keseriusan. Sampai pintu besi di depannya mulia terbuka. Dengan segera dia mulai melangkah masuk dan kembali tertutup dan kembali terbuka.
“Pagi, Pak Dave,” sapa salah satu karyawan dan tidak mendapatkan jawaban, membuat sang karyawan tersebut mengerutkan kening bingung.
Hal yang saat kain terjdi dengan para karyawan lain yang memberikan sapaan pagi. Tidak ada yang dujawabnya sama sekali. Membuat semuanya langsung dia dengan mata mengamati. Jika saja hal tersebut dilakukan oleh pimpinan mereka yang terkenal tegas dan jarang tersenyum. Hal tersebut tidaklah menjadi masalaj. Namun, saat adalah Dave, pria yang selalu bersikap baik dengan karyawan di kantornya.
Dave menghentikan langkah ketika matanya mentap Michael yang tengah bersama dengan Vinda. Dengan segera dia melangkah mendekat ke arah sahabatnya tersebut, membuat Michael menatap dengan pandangan bingung.
“Apa?” tanya Ael ketik Dave hanya diam di tempatnya.
“Apa benar Bella keluar dari perusahaan?” Dave balik bertanya. Kali ini dengan tatapan serius.
Michael mengagguk mengiyakan. “Dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tiga hari lagi. Dia mengatakan bahwa orang tuanya menyuruh dia pulang ke rumah dan aku sudah menyetujuinya. Ada masalah?”
Dave berdecak kesal dan meninggalkan Micahel dengan seribu pertanyaan.
“Apa Bella cntik? Apa Dia lebih cantik dari Rensi?” tanya Vinda yang saat itu ada dalam dekapanya.
“Tidak juga,” jawab Michael santai dan mendapatkan cubitan kecil dari istrinya.
_____
“Ada yang mau kamu jelaskan denganku, Bella?” tanya Dave ketika baru saja sampai di depan ruangannya.
Bella yang saat itu tengah duduk di meja kerjanya mendogak, menatap Dave dengan pandangan bingung. Bahkan, saat Dave duduk di kursi berseberangan dengan mejanya. Bella masih menatap Dave penuh tanya.
“Maksudnya, Pak?” tanay Bella dengan suara sopan.
Dave menarik napas panjang dan mengebuskannya perlahan. “Aku tahu, ini pasti karena pria yang selalu menyakitimu itu, kan? Dia menyuruhmu untuk keluar dari perusahaan ini,” jelas Dave dengan penuh keyakinan.
“Apa ini karena aku?” imbuh Dave dengan penuh penyesalan.
Bella yang mendengar terkekeh kecil. Matanya menatap Dave tanpa beban sama sekali. “Kenapa harus karena Bapak? Tidak, Pak. Saya keluar memang karena Ryan menyuruhku keluar. Namun, itu bukan karena Bapak. Jadi, Bapak tenang saja," jawab Bella dengan wajah riang.
Dave diam seketika. Matanya menatap ke arah Bella yang sudah menjadi partner kerjanya selama beberapa bulan. Terlihat lemah meski selalu saja menunjukan sisi bahagia. Membuatnya merasa terenyuh setiap mengingat perjuangan hidupnya.
__ADS_1
“Bella,” panggil Dave dengan tatapan lekat, membuat Bella kembali menatapnya. “Kenapa kamu tidak meninggalkannya saja? Dia sudah sangat menyakitimu.”
Bella tersenyum dan menatap arah Dave dengan sepenuhnya. “Karena bagsimana pun dia adalah kekasih saya, Pak. Dengan atau tanpa cinta. Nyatanya, saya memang harus hidup dengannya, sampai dia membuangnya sendiri,” jawab Bella dengan pelan.
“Kala begitu, kenapa tidak menbuatnya membuangmu?”
Bella menari napas dalam dan mengembuskanya perlahan. “Saya sudah mencoba melakukannya dan hasilnya nihil. Dia masih tetap mempertahankan dan sekarang saya pasrah. Saya hanya akan menerima bagaimana jalan hidup saja.”
“Maaf, Pak. Tetapi saya rasa saya harus menyelesaikan semuanya sebelum pengganti saya pergi. Permisi,” ucap Bella membuat Dave yang sejak tadi diam mulai tersadar. Matanya menatap Bella yang sudah bangkit dan siap pergi dari hadapannya.
“Bella, bagaimana jika kamu hidup denganku? Tinggalkan dia dan mulailah bersamaku,” ucap Dave dengan lantang. Mengabaikan jika saja ada karyawan lain yang akan mendengarnya.
Bella hanya diam dan memejamkan mata sejenak. Sampai senyum tipis di bibirnya mulai terukir. Namun, dia memilih kembali melangkah tanpa harus menatap Dave yang masih menunggu jawabaanya. Aku akan mengingat kalimat itu, Pak, batin Bella.
______
Kamu bahagia?
Alice yang menatap sederet kalimat singkat di depanya hanya mengulum senyum dengan wajah penuh kebahagiaan. Pandangannya beralih menatap ke arah cincin yang sudah melingkar di jadinya. Rasanya, dia masih tidak percaya jika Bara benar melamarnya.
Suara pesan masuk membuat Alice kembali menghentikan tawanya dan menatap ke arah benda pipih di hadapannya. Bara. Dengan segera dia mulai membuka psan dari kekasihnya.
Jangan cuekin, sayang atau aku akan pegri ke rumahmu saat ini juga.
Alice bedecak heran dengan tingkah Bara yang benar jauh berbeda. Dulu, ketika awal melihat pria tersebut, Bara hanya seperti patung hidup. Jarang bicara, tidak memiliki ekspresi sama sekali.
“Aku kira dulu dia itu zombie,” ucap Alice dengan tawa kecil.
Suara ponsel kembali terdengar. Kali ini sebuah panggilan masuk dari kekasihnya, membuyarkan lamunan Alice.
“Halo, Bara,” sapa Alice yang memilh mengangkat pangilan.
“Kamu mengabaikan pesanku, sayang,” gerutu Bara dari seberang, “apa kamu tidak suka denganku?”
“Aku suka,” sahut Alice dengan cepat. “Aku sangat suka. Sampai aku sendiri bingung harus membalas apa untuk peranyaanmu, Bara.”
__ADS_1
“Terus, untuk apa kamu menelfonku? Hanya untuk menanyakan itu?” tanya Alice bergatian.
“Aku merasa rindu denganmu. Jadi aku pikir saat mendengar suaramu, rinduku akan sedikti terobati. Itu sebabnya kau menelfon,” jawab Bara tanpa merasakan beban sama sekali.
Bluussh. Alice segera mengipas wajahnya dengan tangannya. Dia merasa wajahnya sudah memerah karena ucapan Bara. Sampai akhirnya, dia memili mematikan panggilan dan segera menenggelamkan wajanya di antara kedua bantal di ranjangnya. Senyumnya bahkan sudah terukir, tidak memikirkan apa yang akan dikatakan Bara mengenai panggilannya yang tiba-tiba mati.
“Gila. Jantungku,” keluh Alice sembari menyentuh dadanya yang mulai bergemuruh. Sampai rasa bahagianya muai tidak terbendung. Alice berteriak keras, mengabaikan sekitarnya. Sampai pintu kamarnya terbuka menghadirkan wajah Galuh yang menatap bingung.
“Mama,” panggil Alice dengan canggung. Dia baru merasakan malu setelah ada yang melihat tingkah memalukannya.
“Sepertinya anak mama sangat bahagia malam ini,” ujar Galuh yang segera masuk ke dalam kamar anaknya.
“Ada yang terjadi?”
Alice menggeleng pelan dengan bibir dihiasi dengan senyum. “Gak, Ma. Alice
cuma..." Alice berhenti sejenak, memikirkan jawabnya untuk pertanyaan mamanya.
Galuh yang mulai paham hanya mengulas senyum dan melangkah mendekati anaknya. Mengelus pelan puncak kepala Alice pelan. “Sudah, jangan coba cari alasan. Mama tahu kok bahagianya karena apa.”
Alice yang mendengar mengulum senyum dan menatap Galuh yang memilih duduk di dekatnya. Matanya menatap Galuh yang saat itu sudah menatapnya lembut.
"Ada apa, Ma?” tanya Alice merasa penasaran.
Galuh menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahahan. Tangannya sudah mengenggam kedua tangan Alice dengan penuh kehangatan. “Sayang, kamu sebentar lagi akan menikah denganya. Sebagai mama kamu, mama ingin mengatakan, jadilah istri yang baik. Jadilah ibu yang baik. Mungkin mama gak pantas mengatakannya, tetapi jangan pernah tinggalkan suamimu apa pun masalahnya.”
“Ma,” ucap Alice tahu apa yang ada di pikiran mamanya.
Galuh hanya mengulas senyum tipis dan mengembuskannya perlahan. “Dan sebagai mama Bara, mama minta sabar dalam menghadapinya. Dia itu anaknya keras, gak mau dengar pendapat. Terlebih, jangan pernah sakiti dan buat dia kecewa. Mama minta bahagiakan dia dan jangan pernah ingatkan dia dengan kejadian masa lalu. Buat dia percaya dengan cinta, sayang.”
Aluce yang mendengar segera mendekap Galuh erat. “Aku tidak akan pernah meninggalkannya. Alice akan membahagiakan dia, Ma. Alice janji.”
_____
Selamat membaca sayang Kim. Jangan lupa like, comment dan tambah ke favorit. Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Wedding with My Lecturer” dan “Wedding Drama 2”. Jangan lupa like, comment dan tambah ke favorit kalian ya. Kim gak akan bosan mengingatkan kok hehe
__ADS_1
Untuk mengetahui informasi cerita baru kim dan juga update cerita, kalian bisa follow akun instagram kim di @kimm.meili. Selamat membaca, see you next chapter dan jangan lupa jaga kesetan semuanya.