Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 27_Cemburu


__ADS_3

Alice melangkah memasuki gedung apartemen Bara dengan senyum lebar. Pagi-pagi dia sudah bersiap dan siap menjemput Bara. Sebenarnya semalam dia tidak bisa tidur karena membayangkan akan pergi bersama dengan Bara, meski hanya sebagai tugas kantor. Namun, dia bersyukur karena papanya memilih Bara untuk mendampingi.


Alice menekan bel yang ada di depan pintu apartemen Bara dan diam sejenak, menunggu sang pemilik membukakannya. Tidak lama berselang, pintu terbuka, menampilkan Bara yang masih acak-acakan. Rambut basahnya belum disisir sama sekali.


“Alice,” panggil Bara dengan mata menatap bingung, “ini masih jam tujuh dan kamu sudah datang?” tanya Bara merasa heran. Bukankah Surya mengatakan akan menjemput pukul tujuh lebih tiga puluh menit? Masih kurang tiga puluh lima menit lagi.


Alice yang tadinya hanya diam dan mengamati wajah Bara kembali tersadar dan tersenyum. “Iya. Aku memang suka datang lebih awal,” jawab Alice berbohong. Padahal dia hanya ingin bersama dengan Bara jauh lebih lama.


Bara mengangguk datar dan mulai berbalik masuk ke dalam. Alice mengikuti Bara dan tanpa menunggu ajakan pria tersebut. Meski sedikit kesal, Alice duduk di sofa ruang utama dan menatap Bara yang sudah menuju ke arah dapur.


“Alice, kamu mau minum apa?” tanya Bara dengan suara lantang.


Alice membalik badan dan menatap Bara lekat. “Aku gak mau minum. Kita bisa minum di jalan,” kata Alice santai.


Bara yang melihat Alice hanya diam dan membuatkan satu cangkir kopi susu. Setelah selesai, dia segera melangkah menuju ke ruang utama dan bergabung degan Alice.


Alice yang awalnya tersenyum mengerutkan kening heran karena Bara menyeruput minuman yang tadi diawa olehnya. “Bara, kenapa kamu minum itu?” tanya Alice mulai penasaran.


Bara yang tengah menyeruput minumannya menatap Alice dengan pandangan datar. “Ya karena ini minumanku. Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu mau minum di jalan saja?” celetuk Bara membuat Alice diam.


Bara hanya tersenyum tipis melihat wajah jutek dari gadis di hadapannya. Entah mengapa, rasanya menyenangkan ketika melihat Alice yang tengah merajuk. Ada hal lain yang terasa berbeda.


Apa aku benar mencintaimu? Tetapi, apa kamu bisa menerimaku dan tidak akan meninggalkanku? Aku masih takut kalau akhirnya terjadi lagi, Alice, batin Bara dengan rasa bimbang yang berkecambuk.


_____


Bella merenggangkan tangan dan menghirup udara segar yang langsung menyapa ketika dia turun dari mobil. Penginapan di sebelah pantai adalah hal terbaik yang pernah Bella bayangkan. Namun, itu hanya khayalan sampai pada hari di mana dia berada di tempat indah yang saat ini ada di hadapannya. Dia bisa melihat lautan luas yang terbentang dengan pemandangna menakjubkan.


“Bella, bawa masuk kopermu ke dalam.”

__ADS_1


Bella yang mendapat teguran menatap Dave yang sudah siap dan menarik kopernya. Dia melangkah lebih dulu dan meninggalkan Bella yang masih asyik mencari barang yang dibawanya. Ya, Michael memang mengutus Dave dan juga Bella di acara sosiaslisasi antar pengusaha.


“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita dengan seragam rapi di balik meja. Senyumnya masih saja terukir manis.


Dave melangkah menuju ke meja resepsionist dan mengumbar senyum manis. “Pagi, Mbak. Saya Dave Wijaya, utusan dari Tuan Michael Aditama,” ucap Dave memperkenalkan diri.


“Oh, baik, Tuan. Akan saya cek terlebih dahulu,” ujar sang resepsionist dengan ramah dan langsung mencari data di komputer. Setelah selesai, dia menatap ke arah Dave dengan senyum yang masih awet terpasang. Tangannya meletakan kunci ke arah Dave.


“Ini kunci anda, Tuan,” ucap wanita tersebut membuat Dave mengerutkan kening bingung.


“Hanya satu?” tanya Dave dengan wajah bingung. Mana mungkin dia tidur dengan Bella di satu kamar?


“Iya, Tuan. Dari pihak penyelenggara memang hanya menyediakan satu kamar untuk tiap perusahaan,” jelas wanita tersebut dengan nada suara yang masih sama.


“Apa masih ada satu kamar lagi yang kosong?” tanya Dave dengan wajah antusias.


“Maaf, Tuan, tetapi tidak ada kamar yang tersisa lagi.”


Michael kurang ajar, geram Dave merasa atasannya memang sedang menjebaknya.


_____


“Wuooww, indah banget,” ucap Alice ketika baru saja turun dari mobil dan melihat hamparan pantai tidak jauh dari penginapan.


Bara yang tengah membantu menurunkan koper hanya menatap Alice datar dan langsung menarik dua koper melewati gadis tersebut. “Ayo masuk. Kamu masih bisa menikmatinya lagi nanti,” ucap Bara dengan suara tegas.


Alice yang melihat Bara melangkah cepat dengan dua koper di tangan segera berlari dan menyusul pemuda tersebut. “Bara, biar aku yang bawa. Itu, kan, koperku,” ucap Alice sembari merebut koper di tangan Bara.


Bara menghentikan langkah dan menatap Alice datar. “Sudah, biar aku saja yang bawa. Sekalian.”

__ADS_1


Alice yang mendengar tersenyum dan mengikuti langkah Bara yang membawanya masuk. Senyumnya terukir indah bahkan selama perjalanan. Bara menghentikan langkah ketika sampai di meja resepsionist.


“Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?” tanya wanita yang sama dengan yang menyambut Dave.


“Kami utusan dari Tuan Surya Pranata,” jawab Bara dengan wajah datar.


Wanita tersebut mengangguk dan mencari kunci yang tersisa. Setelah di rasa sudah ditemukan, dia segera memberikan kunci tersbut. “Silahkan, ini kunci ruangan anda.”


“Hanya satu?” tanya Alice ketika melihat kunci yang diberikan hanya satu ruangan.


“Iya, Nona. Pihak penyelenggara memang hanya menyediakan satu ruangan untuk tiap perusahaan,” jelas wanita tersebut ramah.


Alice menghela naps dan menatap Bara yang masih tampak santai. Dia sendiri bingung, kenapa Bara bisa sesantai itu bahkan ketika akan tidur berdua dengannya.


Jangan-jangan dia mau macam-macam lagi, batin Alice merasa tidak enak.


Bara tersenyum tipis dan menatap Alice menenangkan. “Aku bisa tidur di sofa dan kamu di ranjang. Tenang saja, aku tidak akan pernah macam-macam denganmu,” ucap Bara mengerti kekhawatiran Alice.


Alice mengangguk dan percaya dengan ucapan Bara. Keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam lift menuju kamar. Hanya butuh waktu satu menit dan keduanya langsung keluar.


“Ini kamar kita?” ucap Alice sembari menatap pintu bertuliskan sama dengan nomor kunci yang dibawa.


Bara mengangguk dan memasukan kunci. Tangannya mulai membuka pintu dan siap masuk. Namun, baru saja mereka akan masuk, sebuah panggilan menghentikan langkah keduanya.


“Bara.”


“Alice.”


Keduanya menatap ke asal suara dan melihat Dave tengah berada di sana, bersama dengan Bella yang sudah tampak bahagia. Tanpa aba-aba, Bella segera berlari dan mendekap tubuh Bara erat. Membuat Alice yang saat itu tengah tersenyum hanya diam dengan mata terpaku.

__ADS_1


Siapa sebenarnya gadis ini, batin Alice merasa cemburu.


_____


__ADS_2