
Alice meremas pelan jemari yang sudah saling bertautan. Sejak kembali ke rumah orang tuanya dan memasuki kamar, dia hanya diam. Bahkan, ketika Bara mengatakan akan ke kamar mandi, dia hanya diam dengan wajah yang berubah cemas.
Perlahan, Alice menarik napas dan membuangnya pelan. Beberapa kali dia mengulang hal yang sama. Berharap jika degup jantungnya mulai berfungsi dengan baik. Hal yang sejak tadi membuatnya merasa tidak nyaman sama sekali.
Bara baru saja membuka pintu kamar mandi dan menatap Alice yang tengah duduk di pinggir ranjang. Kakinya mulai melangkah menuju ke arah istrinya berada dan duduk di dekat Alice yang hanya diam, mulutnya kembali bungkam, membuat Bara menatap dengan kening berkerut dalam.
“Sayang, kamu ada masalah?” tanya Bara sembari mengelus pelan puncak kepala Alice.
Alice yang sejak tadi melamun tersentak kaget dan mulai mengalihkan pandangan ke arah Braa berada. “Kamu sudah selesai, Mas?” Alice malah balik bertanya dengan wajah terkejut.
“Iya, aku sudah selesai dari tadi,” jawab Bara dengan mtaa menatap Alice lekat. “Kamu ada masalah?” ulang Bara.
“Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu,” jawab Alice pelan.
Bara mulai membenarkan duduk dan menatap Alice lekat. “Jadi, apa yang kamu pikirkan? Apa itu tentang aku?” tanya Bara penuh rasa percaya diri.
Alice menatap Bara yang sudah memainkan kedua alis dan tertawa kecil. Sesekali menutup mulut agar suaminya tidak merasa tersinggung. Namun, Bara yang mendengar malah tersenyum dan menarik Alice agar nyaman dalam dekapanya.
Alice yang merasakan dekapan Bara langsung terdiam dan menatap suaminya lekat. Apa yang dia lakukan? Dia tidak marah aku menertawakannya?, batin Alice merasa bahwa Bara sudah banyak berubah.
“Aku suka kamu tertawa, sayang. Setidaknya, aku merasa lega karena kamu terlihat baagia bersamaku,” ucap Bara lirih. Tangannya masih sibuk mengelus pelan rambut lurus milik Alice.
“Jadi, apa yang kamu pikirkan sampai kamu melamun terus sejak kita kembali? Apa aku membuat kesalahan?” tanya Bara dengan suara lembut.
Alice menggeleng pelan dan mendongak, menatap Bara yang juga menatapnya lekat. “Aku selalu bahagia denganmu, Mas. Kamu bahkan tidak pernah membuatku sedih sama sekali. Hanya saja, aku sedang terpikirkan banyak hal,” jawab Alice lirih.
“Kalau begitu, apa yang sejak tadi mengganggu pikiranmu?” selidik Bara.
“Aku takut kalau nanti ke dokter, hasilnya aku tidak hamil. Aku takut membuatmu, mama dan papa menjadi kecewa,” cicit Alice yang langsung menyembunyikan wajanya di dada bidang milik Bara.
__ADS_1
Bara terdiam. Bibirnya mulai tertarik dan membentuk senyum tipis. Tangannya segera beralih ke arah dagu Alice dan mendongakan kepala istrinya. Matanya menatap ke arah wanita yang sudah berhasil memikat hatinya. Perlahan, dia mendekatkan bibir dan meraup lembut bibir Alice, membuat wanita tersebut menutup mata dan menikmati ciuman sang suami.
Alice masih menikmati ******* yang diberikan Bara, sampai ciumannya mulai terlepas. Membuat matanya kembali membuka dan menatap Bara yang sudah tersenyum ke arahnya.
“Jangan takut dengan itu, sayang. Aku tidak masalah jika memang hasilnya belum positif. Aku masih cukup kuat untuk membuatmu hamil,” ucap Bara dengan jemari menghapus pelan sisa salivanya.
Alice mendengus kesal, membuat Bara tertawa kecil. Dia kembali mencium bibir Alice dalam. Alice bakan sudah meletakan tangannya di leher Bara dan menutup mata untuk menikmati hisapan yang diberikan sang suami.
Aku beruntung memilikimu, batin Alice dengan senyum tipis.
_____
“Dara, kenapa kamu diam?” tanya Dave ketika laju mobilnya terhenti tepat di depan kantor Dara.
Sejak keluar dari rumah, dia hanya memperhatikan Dara yang tidak membuka mulut sama sekali. Dave sendiri tetap diam, sengaja membiarkan Dara yang biasanya mampu mencarikan suasana, sampai dia berada di depan kantor wanita tersebut.
Dara yang ditegur menatap Dave dan mengulas senyum tipis. “Tidak ada apa-apa, Dave,” jawab Dara lirih
“Tidak,” sahut Dara cepat. “Aku siap untuk hidup denganmu. Hanya saja....” Dara menghentikan ucapannya dan menatap Dave ragu.
“Hanya saja apa?” tanya Dave tidak sabar.
“Hanya saja, aku tidak yakin mama kamu bisa menerimaku ketika tahu bahwa aku pernah berhubungan dengan ayah tiriku,” ucap Dara lekat. Sejak mendapat pinangan dari Dave, hanya itu yang terus menganggu pikirannya.
“Kenapa kamu memikirkan itu? Aku rasa mama tidak masalah sama sekali,” jawab Dave santai.
Dara yang mendengar menatap Dave dan mengembuskan napas pelan. “Itu menurutmu, bukan menurut mama kamu, Dave. Aku yakin, mama kamu jelas menginginkan wanita baik untuk anaknya,” kata Dara dengan wajah memelas, “bukan sepertiku,” lanjut Dara lekat.
Dave menatap Dara lekat. Tangannya mulai terulur dan meraih jemari Dara. Meremas lembut, membuat Dara menatapnya tidak kalah serius.
__ADS_1
“Kamu percaya denganku, kan?” tanya Dave dengan wajah serius dan mendapat anggukan dari arah Dara. “Kalau kamu percaya denganku, aku harap kamu juga percaya bahwa kita akan melewati semuanya bersama. Aku sudah berjanji dan aku tidak akan pernah mengingkarinya.”
Dara mengulas senym tipis dan mengangguk pelan. Entah apa yang dilakukan Dave, tetapi perasaannya benar-benar berbeda. Dia merasa yakin dengan apa yang dikatakan Dave. Hingga matanya menatap Dave yang mulai mendekat dan berhenti ketika keduanya hanya berjarak satu senti.
“Dave,” cicit Dara dengan pandangan lekat. “Kamu mau apa?”
“Aku mau cium kamu, boleh?” tanya Dave dengan wajah penuh harap.
“Ap – apa?” Dara yang ditanya langsung gugup. Matanya menatap Dave dengan pandangan lekat. Sampai Dave semakin mendekatinya, membuat Dara memejamkan mata erat.
Dave yang melihat mulai mengulum senyum karena tingkah Dara. Sampai dia mulai menjatuhkan ciumannya di puncak kepala Dara, membuat wanita tersebut membuka mata dan menatapnya lekat.
“Aku akan mencium bibirmu ketika kamu sudah siap dengan itu, Dara. Aku tidak mau memaksamu seperti pria waktu itu. Aku masih cukup memiliki hati untuk selalu menjagamu sampai hari pernikahan,” ucap Dave dengan pandangan serius.
Dara yang mendengar mulai menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk senyum. Dengan cepat, dia segera mendekap Dave erat, membuat Dave tersentak kaget. Hingga Dara melepaskan pelukannya dan berganti memberikan ciuman di pipi Dave singkat. Ciuman yang mampu membuat Dave tidak kalah terkejut.
“Aku mencintaimu,” ucap Dara yang langsung keluar dari mobil Dave.
Dara melangkah menuju kantor dengan langkah lebar, sesekali berlari kecil. Dia bahkan tidak menatap ke arah mobil Dave yang masih diam di depan kantornya. Mengamati hingga wanita tersebut masuk ke dalam bangunan megah di depannya.
“Jika seperti ini terus, aku rasa aku akan sangat mencintainya,” gumam Dave yang mulai menjalankan mobil dan berlalu pergi.
_____
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa like, commnet, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.
Jangan lupa juga baca cerita Kim berjudul “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, commnet, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.
Untuk kalian yang suka cerita tamat, Kim punya dua cerita tamat yang bisa kalian nikmati dengan judul “Wedding Drama” dan “Wedding with My Lecturer”. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan berikan vote untuk cerita Kim.
__ADS_1
See you next chapter😘😘