Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 94_Hari Bahagia


__ADS_3

Dara menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum tipis. Mengamati wajah bahagia yang sejak tadi sudah dipancarkan olehnya. Mencoba menghalau degup jantung yang terus saja bertalu keras.


Tenanglah, Dara. Kamu hanya harus mengikat janji dengan Dave dan tidak lebih, batin Dara menenangkan perasaannya. Sampai pintu di sebelahnya terbuka, membuat Dara mendongak dan menatap Alice lekat.


“Hai, Dara,” sapa Alice dengan senyum ramah. Kakinya terus melangkah dan mendekati Dara yang sudah menghela napas pelan.


“Aku kira siapa,” gumam Dara dengan senyum tipis. Mencoba menghilangkan wajah tegang dan cemas yang sudah menjadi satu.


“Kenapa memangnya?” tanya Alice sembari duduk di dekat Dara.


Dara hanya menggeleng pelan dan mengulas senyum tipis. Menyembunyikan perasaan aneh yang terus saja menghampirinya. Alice yang mengerti hanya tersenyum kecil dan meremas pelan jemari sahabatnya. Membuat pandangan wanita di dekatnya beralih.


“Aku tahu kamu sedang cemas dan juga tegang,” ucap Alice dengan senyum menenangkan.


Dara menghela pelan dan mengangguk pelan. “Aku takut terjadi hal buruk dan acara ini menjadi gagal, Alice. Aku takut Herman akan menggagalkan rencana pernikahanku,” jelas Dara dengan wajah takut.


“Jangan berpikir aneh, Dara. Papa kamu itu sudah merestui dan Dave juga tahu seperti apa papa tirimu. Jadi, aku yakin mereka sudah mempersiapkan semuanya,” sahut Alice mencoba menenangkan.


Meski begitu, aku tetap merasa tidak nyaman dan takut. Aku takut kalau memang akhirnya aku harus gagal menikah dan bahagia, batin Dara meragu.


“Jangan cemas. Aku yakin Michael akan melindungi kalian semua,” ujar Alice meyakinkan.


Dara menatap Alice ragu. Namun, melihat senyum dan wajah penuh percaya diri sahabatnya, dia hanya mengangguk pelan. Yakin dengan apa yang dikatakan Alice dengannya.


Aku harap begitu, batin Dara penuh harap.


“Jangan banyak berpikir, Dara. Kamu akan menikah. Seharusnya kamu terlihat bahagia dan tunjukan semua kepada semua orang,” kata Alice sembari memainkan kedua matanya.


Dara terkekeh kecil melihat tingkah Alice yang mencoba menghiburnya. Membuat rasa tegang yang sejak tadi melanda membuyar seketika. Sampai pintu ruangannya kembali terbuka, menghadirkan Bara dengan wajah santai.


“Sayang, acara sudah mau dimulai. Kamu bisa mebawa Dara keluar,” ucap Bara sembari mendatangi Alice.

__ADS_1


Alice mengangguk pelan dan bangkit. “Anggap saja aku wakil dari keluargamu.” Alice mengulurkan tangan dengan senyum menawan. Mengabaikan Bara yang menatapnya lekat.


Dara mengangguk pelan dan meraih uluran tangan Alice. Dia kembali melangkah dengan gaun yang sudah dipersiapkan. Keluar dari ruangan yang sejak tadi mengurungnya. Hingga matanya menatap seisi tamu yang menatapnya lekat. Namun, fokusnya hanya berpusat dengan Dave yang sudah berbalut jas hitam dan tengah menatapnya lekat.


“Alice, aku tegang,” bisik Dara sembari meremas pelan genggaman Alice.


“Jangan tegang. Rileks saja. Anggap ini hanya pertemuan rapat, Dara,” ujar Alice dengan bibir mengulas senyum.


Dara hanya mendengus kecil dan menatap Alice kesal. Sampai langkahnya terhenti tepat di depan Renita yang sudah berbalut kebaya berwarna hijau, menambah kecantikan wanita yang semakin menua.


“Alice serahkan sahabat Alice dengan Tante,” kata Alice sembari meletakan telapak tangan Dara di tangan Renita.


“Terima kasih, sayang,” jawab Renita dengan senyum manis. Tangannya segera menggenggam jemari Dara dan menuju ke arah tempat Dara akan melangsungkan pernikahan.


Alice yang melihat menghela napas pelan dan menatap haru. Sampai sebuah dekapan di pinggangnya dirasakan, membuat Alice menatap ke arah sang pelaku dan semakin mengulas senyum.


“Akhirnya mereka mendapatkan cintanya, Mas,” cicit Alice dengan tatapan lega.


Alice terkekeh kecil dan melingkarkan tangannya di bagian pinggang Bara. Dia memilih meletakan kepalanya di bagian lengan suaminya pelan. Dan aku selalu bersyukur dengan itu, batin Alice.


_____


Herman menatap seisi ruangan dengan pandangan lekat. Mengamati satu per satu sudut yang membuat senyumnya mulai mengembang sinis. Sampai Dara mulai memasuki gedung pernikahan, melangkah bersama dengan Renita menuju ke arah Dave berada.


Kenapa masih diam? Kenapa tidak ada pergerakan, batin Herman yang mulai merasa ragu. Pasalnya, anak buah yang sudah disiapkan tidak ada di gedung tersebut.


“Ke mana mereka? Bukannya mereka seharusnya sudah ada di sini dan bertindak saat ini juga,” gumam Herman dengan tangan mengepal kesal.


Ini pasti ada yang salah, terka Herman dalam hati.


Herman baru akan mengalihkan langkah dan menghubungi anak buahnya. Namun, gerakannya terhenti ketika Michael datang di dekatnya. Menunjukan wajah penuh kebahagiaan yang membuat semakin muak.

__ADS_1


“Senang anda bisa datang ke acara Dave dan Dara, Tuan Herman,” ucap Michael sopan. Bahkan, dia sudah mengulas senyum yang bahkan tidak pernah ditunjukan kepada siapa pun.


Herman mengulas senyum tipis dan mengangguk pelan. “Tentu saja aku harus datang, Michael. Aku harus menyaksikan pernikahan anakku. Ya, meski dia hanya anak tiriku,” jaawab Herman tidak kalah ramah. Mengabaikan hatinya yang sejak tadi mengumpat karena kehadiran Michael yang tidak tepat waktu.


Herman menatap ke arah Dara dan Dave yang sudah mulai bersama. Membuat wajah tenangnya mulai berubah sinis. Aku harus menggagalkan pernikahan mereka. Apa pun caranya, batin Herman.


Herman berniat membalik badan dan meninggalkan ruangan tersebut, tetapi lagi-lagi Michael menghentikannya, membuat Herman menghela napas pelan.


“Mau ke mana, Tuan?” tanya Michael tanpa rasa bersalah sama sekali.


“Aku harus ke toilet sebentar, Michael. Aku merasa seperti ingin buang air kecil,” jawab Herman dengan senyum tipis. “Maklum, sudah tua,” imbuh Herman ketika Michael hanya diam dan menatapnya lekat. Berusaha meyakinkan pria yang berada tepat di sampingnya.


“Tuan tidak mau menunggu sampai acara selesai dulu? Sepertinya mereka akan melangsungkannya segera,” ucap Michael mencoba menghentikan gerak Herman. “Masa iya anda mau melewatkan putri yang sudah anda anggap anak sendiri melepaskan masa lajangnya. Aku yakin, Dara akan sangat bahagia kalau anda menyaksikannya.”


Herman berniat menolak apa yang Michael katakan. Matanya kembali mengamati sudut ruangan dan tersenyum sinis karena ada beberapa orang yang berdiri membawa senjata. Membuatnya menatap Michael dan tersenyum tipis.


Herman memilih duduk dan menatap Dara yang mulai melangkah bersama Dave. Aku akan memilikimu, Dara. Aku pastikan tidak ada pria lain yang mendekatimu. Sampai Dara dan Dave mengikat janji di depannya. Membuat matanya membelalak dengan tangan mengepal.


Apa yang mereka lakukan? Kenapa hanya diam saja, batin Herman mulai cemas.


“Jangan cemas, Tuan. Dave akan menjaga Dara dengan baik. Termasuk saat resepsi,” bisik Michael dengan senyum misterius.


Herman yang mendengar segera menatap ke arah Michael dengan pandangan terkejut. “Maksudnya?” tanya Herman dengan tatapan bingung.


Michael mengalihkan pandangan dan mulai menatap Herman dingin. “Dia akan menjaga istrinya dari semua orang yang berniat menggagalkan rencana pernikahannya. Anda paham dengan itu?” desis Michael dengan tatapan sinis.


Herman masih menatap bingung dengan ucapan Michael. Mengamati wajah yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Sampai matanya melihat gerakan tangan Michael, seolah memberikan tanda.


“Lihatlah sekeliling anda, mereka bukan anak buah yang anda tugaskan menggagalkan pernikahan ini. Mereka anak buah saya,” tegas Michael membuat Herman semakin membelalakan mata.


Sialan, batin Herman dengan rahang mengeras.

__ADS_1


_____


__ADS_2