Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 95_Malam Mendebarkan


__ADS_3

Sebelum membaca Kim ingatkan. AREA 21+ meski setengah. JADI, HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. JANGAN MAKSA MEMBACA DAN PROTES ADA ADEGAN SEPERTI INI. PLEASE.


🥀🥀🥀


Dara mengembuskan napas pelan ketika pesta pernikahannya sudah berakhir. Dia tidak menyangka acara yang Dave berikan sangat meriah . Pasalnya, keluarga Dave mempersiapkan pesta tersebut secara dadakan.


Aku rasa aku memang wanita paling beruntung karena bisa tinggal di tengah keluarga sepeti keluarga milik Dave, batin Dara sembari menyusuri tempat tinggal barunya. Mengulas senyum tipis yang menunjukan kebahagiaan.


“Dara, kamu mau ke mana?” tegur Renita yang ada di belakang.


Dara yang baru saja sadar mulai menatap ke asal suara, mendapati Renita tengah menuju ke arahnya. Membuat Dara diam dan menunggu wanita tersebut behenti di depannya.


“Kamu mau ke aman?” ulang Renita karena Dara tidak juga menjawab ucapannya.


“Dara mau masuk kamar, Ma,” jawab Dara dengan tatapan santai. Tidak ada kecurigaan sama sekali dari jawabannya.


Renita membuang napas keras dan meraih jemari menantunya. “Sini ikut mama,” ujar Renita pelan.


Dara yang mendengar hanya diam. Dia memilih melangkah bersama dengan Renita yang tengah duduk di kursi roda. Menuju ke arah lain yang semakin membuat keningnya berkerut dalam.


Kita mau ke mana, batin Dara penuh tanya.


Renita menghentikan langkah tepat di depan pintu kayu dengan ukiran simple di ujungnya. Perlahan, dia membuka pelan pintu tersebut, menghadirkan sebuah ruangan dengan hiasaan bunga di dalamnya.


“Sekarang kamu sudah menikah dengan Dave. Jadi, kamu juga harus tinggal di kamar yang sama dan mama sudah siapkan kamar kalian,” jelas Renita dengan tatapan bahagia.


Dara yang mendengar mulai menelan saliva serat. Kini, degup jantungnya mulai berdetak cepat. Ditambah dengan hiasan di atas ranjang yang membuatnya semakin tidak karuan.


Astaga, aku lupa kalau sekarang aku harus tidur dengan Dave, batin Dara.


“Mama harap kamu akan kuat menghadapi tingkah Dave yang terkadang tidak karuan ya, Dara. Dia memang suka menjadi orang yang tidak jelas sama sekali. Namun, mama yakin, dia adalah suami yang baik untukmu. Dia akan mebahagiakanmu,” ujar Renita dengan senyum tipis.


Dara yang mendengar ikut tersenyum dan mengangguk pelan. “Dara pasti akan sabar dan akan bersama Dave, Ma. Terima kasih karena sudah mengizinkan aku masuk di dalam keluarga Mama,” sahut Dara dengan suara melembut.

__ADS_1


Renita hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Masuklah. Dave akan segera kembali. Mama juga mau masuk ke dalam kamar. Rasanya mama capek karena seharian tidak melakukan apa pun,” ucap Renita.


Dara hanya mengangguk mengiyakan. Melihat Renita yang mulai membalik badan dan melangkah ke arah lain. Sedangkan dia, dia hanya berada diambang pintu dan menatap kamar di depannya.


Dara menarik napas dan mengembuskannya. Berulang kali melakukan hal tersebut untuk menghilangkan degup jantung yang tidak beraturan. Mencoba menghilangkan perasan nervous yang entah sejak kapan tinggal di dalam dirinya.


Kamu harus tenang, Dara. Jangan lakukan hal aneh yang akan membuat Dave membencimu, batin Dara penuh kehati-hatian.


Dara menghentakan napas keras dan berniat masuk. Namun, langkahnya terhenti karena dekapan yang mulai hinggap di pinggangnya. Membuatnya tersetak kaget dan menatap ke arah sang pelaku dengan wajah terkejut.


“Kenapa masih diambang pintu, sayang? Kamu tidak mau masuk?”


_____


“Kenapa masih diambang pintu, sayang? Kamu tidak mau masuk?”


Dave yang sudah mendekap Dara mulai menatap istrinya dari samping. Sejak tadi dia hanya mengamati dari kejauhan. Sampai dia memutuskan untuk mendekati Dara dan mendekap dari belakang. Membuat Dave mengulas senyum tipis, menahan tawa karena ulah istrinya.


Dave terkekeh kecil dan mendekap istrinya erat. “Kenapa? Memangnya kamu pikir aku siapa?” tanya Dave berusaha menggoda istrinya.


“Bukan siapa-siapa,” jawab Dara sekenanya. Dia enggan mengatakan apa yang dipikirkannya kali ini.


Dave hanya menatap santai istrinya dan mengulas senyum tipis. Perlahan, dia melepaskan dekapan dan menatap Dara lekat. Dia mulai melangkah ke arah sang istri dan meraih jemari Dara pelan. Mulutnya masih bungkam dan memilih melangkah masuk. Membimbing istrinya dan langsung menutup pintu.


Astaga, jantungku kenapa, batin Dara ketika Dave menuju ke arah ranjang di tengah ruangan.


Dara menatap ranjang dengan hiasan bunga di atas dengan degup yang tidak beraturan. Sampai Dave menghentikan langkah dan menatap Dara dengan tawa tertahan. Membuat Dara mengerutkan kening heran.


“Kenapa wajahmu memerah, Dara?” tanya Dave dengan tawa kecil.


“Hah, merah?” ulang Dara dengan perasaan bingung.


Dave hanya mengangguk pelan dan kembali melangkah. Dia membawa Dara ke arah cermin di kamarnya, menunjukan seberapa memerahnya wajah sang istri. Dara yang melihat hanya diam dengan perasaan semakin malu, merutuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Astaga, kenapa aku bisa seperti kepiting rebus, batin Dara dengan wajah yang tidak karuan.


Dave mulai menghentikan tawa dan mendekap Dara kembali. Membuat istrinya lagi-lagi tersentak kaget dengan kelakuannya.


“Kamu tetap cantik, sayang,” ucap Dave sembari meninggalkan ciuman di bagian leher Dara.


Dara hanya diam merasakan ciuman yang diberikan Dave. Dia hanya meremas kain batik yang dijadikan setelan bagian bawah. Merasakan kecupan berulang yang kian dalam. Sampai Dave menjauhkan kepala dan menunjukan bekas merah di bagian leher Dara.


“Kamu tahu? Aku beruntung mendapatkanmu,” ujar Dave kembali berbisik. Namun, kali ini dia mulai mengusap pelan bagian belakang telinga Dara, membuat wanita tersebut menggelinjang merasakan geli.


“Dave,” cicit Dara ketika Dave tidak menghentikan ulahnya sama sekali.


Dave yang masih asyik menyesap daun telinga Dara hanya bergumam pelan. Tidak menghiraukan apa yang akan dikatakan istrinya. Meski sesekali dia menatap wajah Dara yang sudah tidak karuan.


Perlahan, Dave mulai menghentikan gerakan dan melepaskan dekapan. Dia langsung membalik tubuh Dara, membuat istrinya menatap sepenuhnya.


“Malam ini kita sudah sah menjadi suami istri, Dara. Jadi, boleh aku melakukannya?” tanya Dave.


Dara yang mendengar semakin dibuat malu. Pasalnya, dia tidak pernah mendengar sesorang meminta izin dengannya saat hendak melakukannya. Hingga dia mulai menatap wajah penuh harap dari suaminya.


“Tetapi pelan-pelan,” ucap Dara dengan perasaan was-was.


Dave mengangguk pelan. “Aku akan melakukan dengan hati-hati,” sahut Dave dengan perasaan yakin. Dia segera mendekap Dara.


Dave mendongakan kepala Dara dan langsung menyatukan bibir. Merasakan rasa manis yang ada di mulut sang istri. Dara yang menerima hanya diam dan pasrah. Menerima hisapan dan juga absen di bagian mulutnya. Sesekali mengikuti gerakan Dave yang bermain di bagian lidahnya.


Dave mulai melepaskan kulumannya ketika Dara mulai kehabisan napas. Menatap bibir Dara yang kian membengkak karena ulahnya. Perlahan, dia mulai menggendong Dara menuju ke arah ranjang di dekatnya dan menidurkan istrinya pelan.


“Dave,” cicit Dara ketika Dave menatapnya lekat.


Dave yang mendengar tersenyum kecil dan kembali menyatukan bibirnya. Aku harap malam ini akan ada benih yang tertanam di rahimmu, Dara. Aku sangat berharap, batin Dave.


_____

__ADS_1


__ADS_2