Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 70_Paket Honeymoon 2


__ADS_3

Surya menghela napas perlahan ketika menatap pintu apartemen Bara yang masih tertutup rapat. Dia yakin, kedua penghuninya masih tetap tidur. Sejak dua puluh menit yang lalu dia sudah menekan bel dan tidak ada jawaban sama sekali, membuat perasaannya semakin kesal.


“Aku rasa mereka masih tidur di jam sesiang ini, sayang,” gerutu Surya dengan tatapan kesal. Matanya menatap ke arah jam tangan yang menunjukan pukul delapan pagi. Membuatnya berdecak heran.


Sejak kapan mereka bangun sesiang ini, batin Surya heran. Membuatnya menghela napas kasar.


Galuh yang mendengar hanya terkekeh kecil karena melihat tingkah suaminya yang tidak sabar sama sekali. “Sabar, Mas,” ucap Galuh sembari mengelus pelan pundak suaminya.


Surya menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia mulai menatap istrinya dan mengangguk pelan. “Aku masih tetap sabar, sayang. Buktinya aku masih berdiri di depan pintu apartemen yang tidak juga terbuka,” ucap Surya dengan tatapan kesal.


Galuh hanya tersenyum kecil dan menatap ke arah Surya dan kembali mengetuk pintu apartemen anaknya. Berulang kali dan berharap agar Alice segera bangun dan membukakan pintu untuk keduanya.


Sedangkan di dalam kamar, Alice baru saja membuka mata dan menatap Bara yang ada di dekatnya. Menatap dengan pandangan memuja ke arah suaminya yang masih terlelap. Hingga sebuah senyum mulai terbit di bibir manis miliknya.


Alice menghela napas perlahan dan berniat turun dari ranjang, tetapi terhenti ketika sebuah tangan mendekap dari belakag, membuat Alice menatap ke arah sang pelaku.


“Mas, kamu sudah bangun?” tanya Alice dengan suara manis.


Bara masih memejamkan mata dan mengangguk pelan. “Kamu mau ke mana, sayang? Kenapa gak bangunin mas?” tanya Bara dengan suara serak.


“Aku pikir Mas gak mau bangun cepat. Itu sebabnya aku bangun sendiri dan gak bangunin Mas,” jawab Alice dengan pandangan lekat. Dia memilih kembali berbaring dan merasakan dekapan Bara yang semakin erat.


“Kamu gak mau bangun, Mas?” tanya Alice tanpa menatap ke arah Bara sama sekali.


“Sebentar ya sayang. Mas masih mau tidur sebentar saja,” jawab Bara.


Alice hanya mengangguk patuh dan membiarkan Braa memeluknya erat. Sampai dering ponsel membuyarakan ketenangan di dalam ruang kamar. Dengan cepat dia mulai meraih benda pipih di dekatnya dan mengangkat panggilan dari papanya.


“Halo, Pa,” sapa Alice dengan suara khas bangun tidur.

__ADS_1


“Kmau baru bangun, sayang?” ucap Surya dri seberang pangilan.


“Iya. Ada apa, Pa?”


“Papa mama ada di depan pintu paartemen kamu sejak tiga puluh menit yang lalu. Jadi, bisa buka pintunya sekarang, sayang?”


“Apa? Kenapa Papa gak telfon Alice dari tadi,” protes Alice dengan mata yang terbuka lebar. Dengan cepat dia melepaskan dekapan Bara dan melangkah turun, membuat suaminya menatap dengan pandangan bingung.


“Papa sudah telfon dar tadi, sayang. Kamu bisa cek.”


“Maaf, Papa, Alice tidak mendengarnya. Sekarang Alice akan segera keluar,” ucap Alice sembari mematikan panggilan.


Bara yang melihat Alice mengenakan piyama yang sejak tadi teronggok segera menatap dengan pandangan bingung. “Siapa, sayang?” tanya Bara yang mulai bangkit dan duduk bersandar dengan ranjang.


“Papa datang, Mas. Papa menunggu di luar sejak tadi,” jawab Alice.


Bara yang mendengar langsung membelalak dan turun dari ranjang. Dia mulai mengenakan pakaian dan mengikuti Alice yang mulai melangkah keluar kamar.


_____


Galuh yang mengerti tatapan suaminya menghela napas perlahan dan menatap putrinya. “Mama gak suruh masuk, sayang?” tanya Galuh dengan suara lembut.


Alice yang tersadar menatap mamanya dan mengulas senyum tipis. Keduanya mulai memberikan jalan untuk Galuh dan juga Surya yang mulai memasuki apartemen. Surya menatap sesisi ruangan yang tertata rapi, membuat kepalanya mengangguk pelan.


Surya segera duduk di sofa ruangan dan menatap ke arah Bara lekat. “Kamu tidak mau pindah ke rumah papa, Bara? Papa memiliki satu rumah yang sudah lama tidak digunakan dan hanya dibersihkan setiap hari. Papa akan sangat senang kalau kamu mau menempatinya,” ucap Srya dengan penuh pengertian. Bahkan, Alice yang mendengar langsung tersenyum karena ucapan papanya.


Ternyata papa juga mulai menyukai mas Bara. Semoga papa juga tidak membenci Rika lagi, batin Alice yang tengah membuat minuman di dapur.


Bara yang mendengar menggelrng perlahan dan menatap Surya lekat. “Tidak perlu, Pa. Bara akan membeli rumah untuk kami tinggali setelah uangnya sudah cukup saja,” jawab Bara dengan suara sopan.

__ADS_1


“Kamu menolak pemberian papa?” celetuk Surya dengan nada tidak suka.


Bara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya mulai menunjukan wajah serius ke arah Surya. “Maaf, Pa. Bara tidak bermaksud menolak. Bara hanya mau memberikan semua yang terbaik untuk Alice. Bara hanya mau bekerja keras agar Alice tahu suaminya bisa bekerja keras untuk kebahagiaannya,” jelas aBra dengan penuh percaya diri.


Surya yang awlanya kesal segera menghela napas perlahan. Emosinya mulai menghilang dan terpaksa mengangguk pelan. “Papa tahu itu. Tetapi, kalau kamu membutukan bantuan, kalian bisa hubungi papa saja.”


“Pasti,” sahut Alice yang baru datang dengan tiga cangkir berisi kopi. Dengan perlahan dia mulai meletakan di meja dan memiih duduk di dekat Bara.


“Jadi, Papa ada perlu apa datang ke apartemen Alice?” tanya Alice penasaran.


Surya segera menatap ke arah tas kerjanya dan mengambil sebuah amplop. Perlahan, dia mulai menarik dan meletakannya di atas meja. Membuat Bara dan Alice yang ada di sana saling memandang satu sama lain.


“Pa, ini apa?” tanya Alice dengan pandangan bingung.


“Ini tiket liburan untuk kalian selama satu minggu. Kalian bebas ke mana saja dan papa yang akan menbayarnya. Anggap saja ini sebagai kado pernikahan kalian berdua,” jelas Surya dengan wajah sumringah.


“Apa?” teriak Bara dan Alice secara bersamaan.


“Tetapi besok kita sudah harus mulai bekerja, Pa,” ucap Bara dengan tatapan lekat.


“Papa akan memberi izin untik kalian sampai kalian pulang nanti,” jawab Surya dengan santai.


Bara dan Alice terdiam. Keduanya saling memandang dengan perasaan bingung. Sampai sebuah deheman keras membuat Alice dan Bara mengalihkan pandangan, mentaap Surya yang sudah menatapnya lekat.


“Kali ini papa tidak mau menerima penolakan apapun dari kalian. Papa juga mau mendapat cucu secepatnya, Nak,” ucap Surya dengan senyum penuh arti. Membuat Bara dan Alice hanya pasrah dan mengangguk mengerti. Membuat Surya tersenyum penuh kemenangan.


Menolak juga tidak ada gunanya. Tetap saja dipaksa, batin Alice dan Bara bersamaan.


Galuh yang mendengar hanya menatap suaminya dengan decakan kesal. Dasar mas Surya, kebiasaan, batin Galuh.

__ADS_1


_____


__ADS_2